
Pulau Kematian kembali bernama Pulau Beeluf, untuk mengenang kembali semua perjuangan dan Suku Beeluf.
Sayangnya Yahmen yang asli berdarah beeluf telah tiada, ia tidak lagi bisa menikmati semua jerih payahnya.
Makamnya dan Aoi selalu diberi bunga-bunga oleh semua orang. Mano masih terus meniup seruling Yahmen setiap purnama.
Menembangkan sebuah lagu indah untuk alam, dan mengenang kedua sahabatnya yang gagah berani juga untuk para pejuang hatter dan samurai.
Selama beberapa minggu semua pion masih bersama di Pulau Beeluf bersama orang-orang dari pemerintahan.
Presiden Wijaya datang memberikan instruksi segala hal untuk pembangunan dan kemajuan pulau.
Sekolah, RS, listrik, jaringan telekomunikasi, dan banyak hal dibangun dengan baik di pulau.
Rumah-rumah dibangun.
Balian dan seluruh anak-anak pejuang hatter dibuatkan rumah besar yang mampu menampung ratusan anak.
Mereka dibangunkan rumah di lembah hatter, makam Yahmen dan Aoi yang berada di tebing hatter selalu dijaga oleh bayangan srigala.
Semua orang mengatakan itu adalah hantu srigala putih sahabat Aoi. Elang Yahmen masih terus berputar mengelilingi pulau dan bertengger di batu nisan Yahmen dan Aoi.
Terkadang elang Yahmen mendatangi rumah Ayesha, Yura, dan Mano. Menguik riang dan bermain dengan anak-anak.
Semua anak beeluf dan hatter mendapatkan pendidikan di bidang akademis dan agama. Semua orang memulai sebuah pekerjaannya. Bertani, nelayan, bertambang.
Heru diangkat menjadi seorang Walikota Beeluf. Ia benar-benar menjadi seorang walikota yang baik sesuai dengan janjinya kepada Almarhumah Yahmen.
Ia membawa nama Pulau Beeluf dan Suku Beeluf menjadi maju, Meang menjadi Walikota di Pulau Tak Bertuan.
Balian dan Mano ingin bahagia di masa tuanya dengan mengurus semua anak-anak yatim-piatu. Keduanya dibantu oleh Yura dan Sanna mengajari dan mendidik semua anak-anak.
Para guru dan dokter telah berdatangan dari berbagai daerah di Indonesia.
Pertambangan batu bara di Pulau Tidak Bertuan dioperasikan, begitu juga dengan tambang emas di Pulau Beeluf.
Kedua pulau maju dengan pesatnya. Ayesha melahirkan seorang putra yang mereka beri nama Aoi. Untuk mengingat samurai terakhir yang hebat di Pulau Kematian.
Pulau Tidak Bertuan pun mendapatkan kemajuan yang sama. Kemajuan semangkin pesat di sana.
Semua pion telah diberi bintang jasa dan mendapatkan pekerjaan yang layak.
Sukuna dan Kasumi telah pulang ke Jepang. Zai telah pulang ke Serawak-Malasya beserta keluarganya.
Will telah pulang ke lampung, ia mendapatkan pekerjaan menjadi salah satu informatika komputer di bidang keamanan negara di pemerintahan.
Kabir dan Hendro menjadi kepala pengawal presiden. Nara menjadi dokter di Pulau Beeluf ia benar-benar mendedikasikan kepiawaiannya di sana.
Mona menjadi seorang artis kembali, setelah asistennya menangis memeluknya. Dan meminta maaf akan segala perlakuannya selama ini kepada Mona, begitu juga dengan keluarganya di Bangkok.
Ia memerankan film yang berjudul Pulau Kematian bersama sesama artis Bangkok dan Indonesia.
Film Mona meledak di pasaran, semua pion menonton dan terkesima akan semua keheroikan mereka.
Mereka tidak menyangka jika mereka berhasil keluar dengan selamat dari Pulau Kematian.
Junaid menjadi Seorang Kapolri.
Semua pion tetap bertemu dan menjalin komunikasi bersama orang-orang beeluf dan hatter juga Suku Hideng.
Darmanto dan Marta menjadi seorang Jendral. Mereka menikah dengan Seragam AL mereka.
Para pion dan semua orang menghadiri pernikahan, Balian dan Mano dengan menggunakan pakaian indah yang dibelikan oleh Mona menghadiri pesta.
Mereka bersama dengan Ayesha, Heru, Yura mengendarai mobil. Yura dan Ayesha masih memakai pakaian berwarna merah.
Walaupun sudah mengikuti model kekinian. Warna merah menjadi simbol kebudayaan beeluf. Sering digunakan untuk acara-acara pernikahan dan perayaan.
Pernikahan Marta dan Darmanto sungguh luar biasa mewah. Dihadiri oleh orang-orang penting negara dan semua Suku Beeluf, Hatter, dan Suku Hideng.
__ADS_1
Marina bertemu dengan Nisa dan semua anak hatter dan beeluf. "Selamat menempuh hidup, baru! Nggak nyangka, ya! Jika Pulau Kematian menjadi ajang perjodohan," ujar Heru.
Darmanto dan semua orang tertawa menanggapi lelucon tersebut.
Semua orang sedang meminum jus dengan bahagianya.
Anak-anak beeluf dan hatter juga Suku Hideng berlarian tertawa.
Mereka menikmati makanan mewah yang belum pernah mereka makan. Bagi mereka semua itu adalah hal yang luar biasa nikmat dan indah.
Kebahagiaan mereka rasakan, Darmanto dan Marta saling menyilangkan tangan di pinggang masing-masing.
Mereka terlihat gagah dengan pakaian dinas mereka, "Akhirnya menikah juga ya, Bro!" ujar Toto. Menggandeng istrinya Aisyah yang sedang hamil besar.
***
Will datang dengan sendirinya ia masih terlihat dengan tampang urakannya mengendarai sepeda motor besarnya memasuki pelataran parkir pesta.
Di sana ia bertemu dengan Sukuna dan Kasumi, "Hai, Will!" teriak Sukuna. Will melihat dan berlari menyongsong sahabatnya.
Mereka langsung berangkulan dan tersenyum, "Hai, Kasumi! Kalian datang juga, ya?" tanya Will menyalami Kasumi.
Kasumi yang malu-malu mengintip dari balik punggung kakaknya. Kasumi begitu mengagumi Will dengan rambut gondrongnya. Ia sangat tampan walaupun urakan.
"Jelas, dong! Siapa pun di antara kalian yang menikah. Aku pasti, datang. Asal diundang!" balas Sukuna tertawa riang.
"Mana, Zai?" tanya Will melihat ke balik punggung Sukuna.
"Ia menaiki pesawat terakhir, ia terjebak. Ia bekerja di pemerintahan Malasya sekarang," balas Sukuna tersenyum manis.
Rani memakai gaun birunya dan Kevin bergandengan tangan keluar dari sebuah mobil.
"Hai, Will! sukuna! Apa kabar, Kasumi?" tanya Rani mereka saling berpelukan.
Mereka masih merasakan persaudaran yang begitu lekatnya. Mereka tidak bisa melupakan semua kepahitan dan perjuangan mereka di pulau
Kevin dan Rani sudah menikah di Pulau Kematian sebelum mereka pulang ke Skotlandia.
Sukuna menyentuh perut bundar Rani, "Kamu kapan, lagi? Mana Zai?" Tanya Rani.
Sukuna tersenyum, "Aku tidak, tahu!" balasnya lugas.
"Jangan kelamaan. Ntar disambar orang!" ejek Will.
"Halah, kamu saja belum tuh! Hayo, mana pasanganmu?" tanya Kevin meninju pelan bahu Will.
"Um, Kasumi. Maukah kau menjadi, istriku?" tanya Will.
Kasumi terlonjak kaget dari balik punggung kakaknya, "A-apa!" teriaknya kaget.
Ia tidak menyangka ia akan dilamar dengan cara gila Will. Namun, ia tahu semua itu hanya gurauan.
"Andaikan, beneran. Aku pasti, mau!" batin Kasumi sedikit sedih.
Ia masih menatap wajah Will yang masih bercanda dan tertawa dengan kakak dan sahabatnya.
"Jangan bercanda, Will! Aku nggak mau punya adik ipar, sepertimu!" teriak Sukuna.
"Hahaha. Memang aku pria jahat, begitu? Ayolah, Una. Aku akan menikahi Kasumi. Ya! Ya! Izinin, dong!" rengek Will.
Ia terus mengikuti Sukuna dan semua orang masuk ke dalam ruangan ballroom hotel.
"Nggak! Nggak!" balas Sukuna berteriak.
Kasumi di belakang Sukuna hanya diam dengan wajah merah menahan malunya.
Kirana datang dengan gaun indah berwarna gading bersama dengan Nara yang memakai gaun krem. Keduanya begitu anggunnya dengan mencepol rambut ikal dan keriting mereka.
Junaid, Kabir, dan Hendro memasuki ballrom dengan gagahnya memakai jas hitam mereka. Kelimanya bertemu, Nara langsung berhamburan mendekat kepada kekasihnya Junaid.
__ADS_1
"Benarkah kita akan menikah sekaligus?" tanya Junaid.
"Aku sih, Yes! Sudah nggak tahan, nih?" balas Hendro dengan cengirannya.
"Aku sudah mengurus segalanya dengan Kirana, Nara dan Mona! Tinggal kalian, bagaimana?" ujar Kabir.
"Aku ingin, pernikahan kita di Pulai Beeluf saja. Di musim kemarau di saat bulan purnama. Kalian tahu, di tebing akan berbunga indah.
"Lembah hatter akan penuh dengan bunga," ucap Kirana dengan mesranya.
Kirana sudah membuka biro praktek hukumnya. "Aku sih, Yes!" jawan Junaid dan Hendro bersamaan dan semua orang tertawa.
Mona berlari dengan gaun merahnya menghamori kelimanya. Nafasnya terengah, Hendro merangkulnya.
"Sayang, sekarang bukan zaman Alberto lagi. Tidak perlu, berlari!" ucap Jendro.
"Apakah aku sudah ketinggalan semua acaranya?" tanya Mona.
"Tidak!" jawab semuanya serempak dan mereka tertawa.
Masing-masing memasuki ballroom hotel dengan menggandeng pasangan mereka.
Semua orang memandang kepada keenam pion yang menjadi tonggak sejarah pertemuan mereka.
Mereka berenamlah yang membuat semua pion menjadi satu. Para pemuda dan pemudi tampan itu disambut hangat oleh semua orang. Mereka saling berangkulan.
Mereka saling sapa dan berbicara menikmati pesta indah. Balian dan Mano bergandemgan tangan, saling menyandarkan kepala mereka.
"Maukah kau menikah, denganku Kasumi?" tanya Will di podium melalui mikropon.
Sukuna terlonjak, ia tidak menyangka jika Will akan bermain-main dengan semua ini.
Sukuna sudah ingin berdiri. Namun, tangan Zai yang baru tiba meraih pinggangnya untuk duduk.
"Lihat, sajalah!" ujar Zai.
"Ta-tapi-" balas Sukuna yang langsung terdiam. Saat Zai meletakkan jemarinya di bibir Sukuna.
"Lihat, dan dengarkan saja. Kau tahukan? Jika Will tidak pernah bermain-main di dalam hidupnya!" balas Zai.
Rani, di tempat duduknya membeku. Ia tidak tahu apakah ini permainanan ataukah tipuan.
"Kalau kau serius. Aku, mau! Tetapi, jika kau main-main. Ke laut, saja!" umpat Kasumi.
Will dengan tangkasnya melompat dari podium berlutut si depan Kasumi dengan mengulurkan seutas cincin bermata biru kepada Kasumi.
"Aku serius! Di depan semua orang yang kusayangi dan kukagumi. Aku katakan, aku mencintaimu. Saat pertama kali, kau datang ke Pulau Beeluf menemui Kakakmu!
"Sekali lagi. Maukah kau menikah denganku Kasumi chan? Melahirkan anak-anakku kelak? Mengarungi kehidupan dengan suka dan dukanya?" tanya Will bersungguh-sungguh.
Kasumi terhenyak, ia tidak menyangka jika apa yang ia rasakan menjadi nyata.
"Aku mau! Tetapi, mintalah aku kepada, Kakakku!" balas Kasumi.
"Una, please. Izinkan aku menjadi adik iparmu. Aku bersumpah demi apapun. Jika aku benar-benar mencintai, adikmu!" pinta Will masih dengan berlutut.
Sukuna terperanjat, ia tidak menyangka jika salah satu trio mekanik akan menjadi ipar dan suaminya.
"Kasumi, semua berpulang kepadamu. Jika kau mencintai Will, aku merestuinya. Jika tidak aku tidak bisa berbuat apapun," balas Sukuna.
Ia tidak bisa memaksakan kehendak akan nama cinta. Sejatinya cinta adalah suatu hal yang tidak bisa dipaksa, memaksa, ataupun terpaksa.
"Aku mencintaimu, Will. Aku mau menjadi pendampingmu," ucap Kasumi tegas.
Will dan kasumi langsung berhamburan saling memeluk. Will menyelipkan cincinnya kepada Kasumi.
Semua orang bertepuk tangan dengan meriahnya. Mereka tidak menyangka segala rasa menjadi kebahagiaan di sana.
Darmanto dan Marta juga semua orang saling berpelukan.
__ADS_1