Pulau Kematian

Pulau Kematian
Sahabat sejati


__ADS_3

Sukuna kembali mengulurkan tangannya, ia berusaha untuk fokus. Ia membayangkan bagian yang dimaksud oleh Zai, "Iya, terus ke bawah, Una!" ucap Zai.


Sukuna mengikutinya, walaupun hati keduanya bergetar. Berlahan Sukuna mengikuti arahan dari Zai dan nalurinya, benar saja ia menemukannya.


Dengan perasaan camour aduk, ia memasukkan tangannya ke selipan saku Zai, ia mengambil secuil alat yang dimaksud. Berlahan ia menariknya dan memberikan kepada Zai,


Zai menerimanya dan membuka borgolnya ia berhasil. Ia berhasil melepaskan dirinya, secara berlahan ia mengulurkan tangannya ke bekakang punggungnya membuka borgol milik Sukuna.


Kemudian ia beralih ke tangan Toto, Will, dan Rani, "Berpura-puralah, kira masih terikat. Aku akan ke sebelah menyelamatkan para wanita beeluf," ujar Zai,


"kalian merapatlah. Jangan ada, celah. Aku tidak ingin mereka curiga dan mengetahuinya," sambung Zai.


Keempatnya mulai merapat dengan tangan masih memegang tiang, Zai merosot ke bawah dan melompat ke bawah.


Bruk!


Ia mendarat dengan posisi duduk, ia diam beberapa menit. Ia nenunggu, "Apakah para ninja mengetahui gerakanku?" batin Zai.


Ia merasakan sakit tepat di bagian belakang tubuhnya yang biasa ia gunakan untuk duduk, "Hadeh, nasib bokongku sial sekali, hari ini? Tadi diraba Sukuna, kini terhempas di tanah. Masih mendinh dibelai, Una!" bisiknya.


Sukuna sudah menahan geram dan malu, tetapi ia berpura tidak mendengarnya. Ketiga sahabatnya terkikik geli, Zai berusaha menahan sakitnya. Ia berlari ke arah wanita beeluf, mencoba keberuntungannya.


Zai merangkak di antara tumpukan kayu yang banyak dan setinggi 3 meter, ia merayap bak cicak. Ia mendekati para wanita beeluf, "Diam dan jangan, bersuara!" bisiknya.


Para wanita beeluf saling menganggukan kepalanya, menandakan mereka memahami maksud Zai. Mereka membeku dan berdebar melihat ke arah rumah Yamada, berharap dan berdo'a mereka tidak menyadarinya.


Zai merayap mendekat, "Berpuralah tetal terikat, tunggu aba-aba dari kami. Untuk melompat dari sini, karena kita harus menyelinap. Kita tidak memiliki senjata, apa pun!" sambung Zai.

__ADS_1


Ia berdiri menggunakan tumpuan lututnya, membuka borgol kelimanya. Kemudian ia kembali merayap dan bergabung dengan keempat temannya yang masih berpura-pura terborgol,


mereka memasang mata mereka dengan tajam, mereka mampu melihat menembus dinding rumah dan melihat beberapa ninja sedang bergelantungan di dahan-dahan pohon bak seekor monyet.


Merka terus mencari dan menghitung jumlah mereka kesemuanya, tetapi mereka belum mendapati celah yang pas.


***


Sementara Kabir dan Kirana, melihat monitor virtual di angkasa. Mereka saling pandang dan saling menganggukan kepala, mereka berlari membelah gelapnya malam menuju ke arah Will dan kesembilan teman mereka yang terikat.


Mereka tidak ingin membuang-buang waktu, mereka takut tidak bisa menyelamatkan kesepuluh temannya. Mereka berlari sejencang-kencangnya, tidak lagi memperdulikan ranjau.


Mereka membantai siapa pun yang menghalangi niat mereka, menyelamatkan kesepuluh sahabatnya. Mata mereja begitu awas menembus pekatnya malam, melihat semua musuh yang bersembunyi di balik pohon, batu, di atas dahan, bahkan ranjau yang tertanam di tanah.


Suatu keberuntungan dipihak mereka, Kirana dan Kabir terus berlari. Mona dan Hendro juga berlari ke tempat Will dan sahabat nereka, begitu juga dengan Marta,


Kesemuanya terpisah, akibat serangan heli. Mereka menuju ke tempat Will dengan arah 5 mata angin yang mereka sendiri pun tidak menyadarinya. Mereka hanya percaya bahwa sahabat mereka pun akan melakukan hal yang sama bila mereka berada di posisi kesepuluh sahabat mereka.


Kabir dan kawan-kawan hanya ingin menyelamatkan sahabat seperjuangan mereka, tiada seorang pun yang ingin meninggalkan sahabat mereka di tengah pertempuran. Mereka ingin keluar bersama dan mati pun bersama di Pulau Kematian, walau apa pun yang terjadi.


Kabir dan Kirana sudah mendekati rumah yang digunakan, untuk menyekap para sandera dan sahabat mereka. Keduanya melambatkan langkahnya, bersembunyi di balik pepohonan. Mereka menatap ke sekitarnya dan di atas pohon,


Kabir melihat dua orang ninja sedangb tertidur di salah satu dahan pohon. Kabir melemparkan sangkurnya begitu juga Kirana, kedua ninja tersebut jatuh ke tanah tewas seketika.


Keduanya menyeret jasad mereka dan menyembunyikan ke balik semak-semak, melucuti semua senjata. Kabir dan Kirana mengambil samurai dan gas beracun, Kirana mengambil kunai dan shuriken juga.


Kabir hanya melihatnya dengan bingung, "Aku penasaran, siapa tahu berguna!" jawab Kirana. Kabir hanya tersenyum, ia tidak begitu suka dengan hal-hal remeh.

__ADS_1


Keduanya mengintai di atas pohon yang hanya berjarak 10 meter dari kelompok Will, mereka mencoba melihat ke dalam rumah. Mereka hanya mendapati beberapa ninja berpakaian perak dan seorang pria setengah tua yang memiliki garis luka di sekitar wajahnya dan memakai kimono.


Nara dan Junaid di sebelah selatan kelompok Will, mereka sudah menumbangkan beberapa ninja dengan jarum yang ia curi dari laboratorium Crabs. Ia melumurinya dengan obat bius dari ninja yang ia curi juga.


Nara dan Junaid menembakannya dengan laser yang sudah dimodifikasi trio mekanik, kini keduanya mengendap-endap mendekati Will dan kawan-kawan.


Di punggung keduanya sudah memanggul beberapa samurai yang akan mereka berikan kepada sepuluh teman mereka,


Mona dan Hendro pun sudah tiba di bagian utara rumah peristirahatan Yamada.


Keduanya bersembunyi di balik batu besar dan sulur pohon,


Ayasha dan Heru di bagian barat sudah melihat kesepuluhnya masih terikat dengan tenang dan selamat.


Sedikit kelegaan di hati Ayesha, "Percayalah, trio mekanik akan melindungi mereka. Aku percaya itu!" ujar Heru. Ayesha menganggukan kepalanya ia sependapat dengan suaminya,


Beberapa meter tidak jauh di bagian timur, Darmanto dan Marta pun sidah tiba. Keduanya bersembunyi di samping rumah Yamada hanya berjarak 1 meter, ia sudah menanam beberapa bom yang sempat ia ambil dari beberapa tentara gadungan yang telah mereka kalahkan di perjalanan menuju rumah Yamada.


Kelima pasangan itu menunggu saat waktunya tiba, mereka tidak ingin tergesa. Marta dan Darmanto yang sangat lihai berlari dan merayap karena keduanya Marinir, mengendap-endap ke arah tumpukan kayu bakar.


Will melihat keduanya, Marta menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Will dan lainnya diam dengan seribu bahasa, menanti apa yang akan dilakukan kedua sahabat mereka yang cerdik.


Marta merayap naik melalui tumpukan kayu bakar di bagian yang gelap, ia memberikan lima senapan m-60 yang berhasil ia curi. Will melambaikan tangannya dari samping pahanya, Marta tersenyum dan bergerak turun.


Darmanto memberikan lima senjata samurai dan kapak milik hatter kepada wanita beeluf, ia tidak tahu apakah wanita beeluf pandai menggunakan senjata. Makanya ia hanya memberikan senjata tajam.


Darmanto juga berjingkat turun dan kembali ke persembunyian awal, keempat pasangan yang mengintai dari tempat persembunyian mereka bernapas lega,

__ADS_1


"Mereka benar-benar TNI sejati, tidak percuma julukan mereka, Macan Asia!" ucap Kabir. Memandang pasangan tentara yang luar biasa pintarnya, menggunakan ketangkasan, kepintaran dan stategi perang.


__ADS_2