
Kabir dan Kirana melakukan pembunuhan secara diam-diam berulang-ulang dan bersembunyi di bawah permukaan air, mengintip kembali dari dalam air. Kegelapan malam sangat mendukung apa yang mereka lakukan, para ninja akhirnya tiada tersisa.
Keduanya mencoba ke luar dari dalam air dan mencoba untuk kembali ke rumah Yamada, akan tetapi belum lagi mereka sampai mereka sudah dihadang para hatter yang sudah bersiap ingin menangkap mereka, keduanya kalah jumlah.
Kabir dan Kirana saling pandang, "Apa yang harus kita lakukan?" tanya Kabir. Ia sudah merasa lelah Kirana mencoba berpikir sebentar, ia teringat akan kunai yang sempat ia curi dari tubuh para ninja yang sudah menjadi mayat.
Kirana melontarkan dua kunai sekaligus ledakan beruntun memecah para hatter yang berlarian menghindar, Kabir dan Kirana kabur meninggalkan hatter.
Mereka bersembunyi di salah satu dahan pohon, tetesan air dari baju mereka menetes menyentuh para hatter yang masih berlari mengejar mereka.
Seorang hatter melihat ke atas pohon, "Mereka di atas, pohon!" teriaknya.
Para hatter berlarian mengerubungi pohon, Kirana dan Kabir merasakan suatu kelelahan. Mereka saling pandang, salah satu hatter mengambil gergaji mesinnya dan mencoba untuk merobohkan pohon.
Saat pohon mulai rubuh Kirana melemparkan kunai terakhir dan ledakan kembali terjadi, keduanya berlari sekencangnya berusaha untuk menjauhi para hatter. Mereka bersembunyi di celah batang pohon dengan napas yang masih tersengal,
Kirana menyandarkan tubuh dan kepalanya, di batang pohon yang keras berusaha mengatur napas, keduanya saling diam. Keheningan terjadi, mereka memandang ke arah gemintang tertutup rimbunnya dedaunan,
"Aku, tidak tahu. Apakah kita akan selamat? Aku hanya minta, bila salah satu dari kita pergi duluan. Tolong, berjuanglah untuk terus hidup! Katakan pada Naniku, bahwa aku mencintainya!" lirih Kirana.
Ia sudah sangat kelelahan dan bosan dengan semua penderitaannya, ia merasa segalanya tidak ada akhir dan habisnya. Kabir hanya diam menatap kegelapan, "Kiran, bersabarlah. Kita pasti selamat, jangan menyerah! Demi aku," balas Kabir.
Tetes air mata merembes ke pipi Kirana, "Aku, sudah teramat lelah dengan semua ini? Entah sampai kapan?" ucap Kirana apatis.
__ADS_1
Kabir melingkarkan lengan kirinya, ia memeluk Kirana yang terisak di dadanya. Kabir memahami semua luka dan penderitaan Kirana, siapa pun pasti sudah ingin menyerah.
Setiap waktu mereka selalu dihadapkan akan sebuah pertempuran dan mempertahankan nyawa saja, mereka belum juga menyentuh dan berhadapan dengan Alberto.
Kini mereka pun tidak mendapatkan satu orang sandera, mereka seperti terjebak. Mereka hanya memiliki keinginan, untuk menyelamatkan para pion dan wanita beeluf kala fajar datang.
"Kirana, bila kita menyerah. Itulah yang sangat diharapkan oleh Alberti, ia pasti merasakan sebuah kemenangan. Tidakkah kau ingin melihat ia sama menderitanya seperti kita? Ayolah, sayang! jangan menangis," bujuk Kabir.
Kirana masih saja terisak, "Sayang, percayalah! Segala badai pasti berlalu, aku juga lelah, tetapi ..., sejak mengenalmu di sini.
"Aku memiliki kekuatan untuk terus bertahan dan keluar dari sini, aku ingin memiliki 4 orang anak bersamamu." Kabir merapatkan pelukannya,
"bertahanlah sayangku, kuatkan hatimu, kita harus mengalahkan Alberto. Apakah engkau mau ada Kirana dan kabir lain lagi, di sini?" tanya Kabir. Ia menyeka air mata Kirana, hatinya terasa sakit.
Kirana memandang Kabir kedua retinanya masih saja meneteskan air mata, Kabir menangkupkan kedua belah tangannya ke wajah Kirana, "Jangan menangis, hatiku terasa sakit!" ujar Kabir.
Kirana menggelengkan kepala ia mencoba tersenyum, ia menyeka air matanya. Mencium kedua belah tangan Kabir, "Maafkan aku! Aku ..., merasa sesak dan kesal!" jawab Kirana.
Kabir memeluk pujaan hatinya, "Sabarlah, kita semua pasti keluar dari neraka ini. Allah memiliki segalaNya, jangan menyerah kepada manusia seperti Alberto," tukas Kabir.
Keduanya saling melepaskan pelukannya dan saling merapatkan bahu mereka, saling berangkulan dan sebelah tangan mereka menggenggam senjata dengan eratnya, "Tidurlah sejenak, fajar nanti kita akan menyelamatkan Will. Aku yakin semua teman kita sudah menuju ke sana," hibur Kabir mengecup lembut kening Kirana.
Rambut pendeknya tergerai, tidak terkucir lagi. Kirana tertidur di bahunya, ia memandang wajah teduh kekasih hatinya. Ia bertekad akan membawa Kirana dan semua orang keluar dari neraka Alberto, "Aku akan membahagiakanmu, sayangku!" bisik Kabir.
__ADS_1
Kirana menggerakkan sedikit kepalanya, di bahu Kabir seakan sebuah bantal. Ia mencari kenyamanan dan kehangatan di sana, hati dan jiwa Kabir semangkin mengeras.
Ia semangkin marah kepada dirinya sendiri, ia merasa terlalu kecil dan lemah. Ia tidak mampu membawa kedamaian kepada kirana dan semua orang.
"Aku bukanlah seorang lelaki, bila aku tidak mampu membahagiakan orang yang sangat berarti di kehidupanku," batinnya.ia memandang gelapnya malam, "Gelapnya malam adalah suatu persinggahan, esok siang adalah sebuah harapan, semoga esok kami mendapatkan keajaiban. Ya Allah .... "
Kabir berjaga, di sisinya Kirana tertidur dengan pulasnya. Kini kepalanya sudah berbantal paha Kabir, sebelah tangan Kabir masih terus membelai lembut rambutnya yang sedikit coklat.
Matahari mulai bersinar di ufuk timur, ayam hutan jantan sudah mulai berkokok. Kabir membangunkan Kirana, "Apakah aku tertidur? Aku nyenyak sekali, terima kasih!" balas Kirana mengecup sekilas pipi Kabir.
Keduanya saling bertatapan penuh kasih sayang, "Ayo, sudah siap?" tanya Kabir. Kirana tersenyum, "Ayo!" balasnya.
Ia menyarungkan samurainya memeriksa semua senjata dan keduanya berlari menyusuri pagi, mengambil beberapa buah-buahan dan memakannya sambil berlari.
Seakan tiada waktu lagi, keduanya sudah mengendap mendekati rumah Yamada. Keduanya menunggu di depan mereka, keduanya melihat para ninja berpakaian merah, hitam, dan perak mulai berbaris.
Seorang pria berkimono dengan pedangnya berjalan ke luar rumah, "Yamada!" teriak Sukuna! Semua orang memandang ke arah Sukuna begitu juga dengan Yamada, "Hahaha, aku tidak menyangka wanita yakuza sepertimu masih mampu bertahan di sini?" ucap Yamada begitu sinisnya.
"Kau, kau dalang dari semua ini?" teriak Sukuna dari tiangnya. Ingin rasanya ia melompat menerkam Yamada hanya saja, ia ingat pesan semua sahabat pionnya. Ia harus bersabar, "Ke mana kau sembunyikan adikku?" teriak Sukuna penuh amarah.
"Kasumi begitu cantiknya, aku sudah menjadikannya seorang geisa. Dia pasti memiliki pelanggan yang cukup ramai antri di kamarnya!" jawab Yamada tertawa bangga.
Sukuna hampir saja terjatuh ke tumpukan kayu, bila tangan Will tidak menangkap tubuhnya, "Bersabarlah, Una! Jangan terpancing." ucap Zai.
__ADS_1
Air mata mulai menetes di pipinya, Sukuna membayangkan adik oeremouannya yang masih berumur 15 tahun. Yamada hanyalah seorang Yakuza saingan keluarganya, ayahnya telah mengalahkan Yamada karena ia melanggar aturan persekutuan yakuza, hingga Yamada dibuang.
Sukuna tidak menyangka Yamada bekerja sama dengan Alberto di pulau kematian, Yamada adalah orang yangnlicik dan memoerkaya dirinya sendiri dengan mengorbankan orsng lain.