Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pertempuran yang menguras tenaga


__ADS_3

"Lawan aku, Yamada! Di mana kau sembunyikan Kasumi?" teriak Sukuna di dalam bahasa Jepang. Ia terus menyabetkan kedua samurainya, "Hahaha aku sudah bilang, aku telah menjualnya menjadi geisha!" jawab Yamada tersenyum puas.


Sukuna semangkin murka ia terus membabi buta menebas Yamada, "Sialan, kau Yamada! Di mana kau menjual adikku?" teriak Sukana.


Tebasannya mengenai lengan Yamada, darah mengucur di sela-sela pertempuran, "Katakan, Yamada! Sebelum aku membunuhmu!" ucap Sukuna.


Ia terus memutarkan samurainya mencoba menebas leher dan dada Yamada, "Aku, tidak tahu! Kalau pun aku beritahukan, kau tidak akan bisa menyelamatkannya Sukuna!" balas Yamada.


Sukuna memutar tubuhnya dan menancapkan pedangnya ke arah dada Yamada, tetapi Yamada lebih licik. Ia mengelak dan menyodokkan kaki kanannya, di antara selipan bakiaknya terdapat sebuah pisau yang tajam dan beracun.


Menghujam tepat ke tulang kering Sukuna, di saat Sukuna mulai sempoyongan hampir terjatuh namun, ia masih bertahan dengan bertopangkan samurainya yang ia tancapkan di tanah.


Darah mengucur deras dari tulang kering kakinya, Sukuna tidak lagi mampu berdiri karena racun menjalar di seluruh nadinya dengan cepat. Racun melumpuhkan semua urat sarafnya,


secepat kilat Yamada melompat ke arahnya, Yamada langsung menusuk perut Sukuna. Darah menyembur dari luka Sukuna kala Yamada menarik pedangnya, begitu juga dengan mulut Sukuna memuntahkan darah segar.


Dengan sisa tenaganya Sukuna menarik samurainya dan menancapkan pedangnya ke leher Yamada, "Aku akan membawamu ke neraka, Yamada!" lirih Sukuna.


Ia ambruk ke tanah, sedangkan Yamada berdiri dengan membungkuk. Lehernya tertancam pedang Sukuna di tanah seperti, sebatang pohon yang sedang disanggah.


Lelehan air mata menetes di kelopak mata Sukuna, Nara berlari ke arah Sukuna berusaha menghentikan pendarahannya dan menaburkan serbuk putih dan menyemprotkan botol obat miliknya, "Bertahanlah, Una! Kita akan mencari, adikmu!" hibur Nara.


Di antara darah yang menyembur di perut Sukuna, Nara berusaha untuk menyelamatkan sahabatnya tetapi ia lupa akan keselamatannya sendiri. Sebuah samurai melayang ke arahnya, seorang ninja melompat ingin menebas leher Nara, akan tetapi Tring!


Ayesha melemparkan tongkatnya ke arah ninja hingga ninja terjatuh beberapa depa ke samping, dengan tongkat Ayesha menembus pinggangnya.

__ADS_1


Ayesha menarik tongkatnya yang sudah dimodifikasi oleh trio mekanik, ia kembali memutar tongkatnya seperti boomerang yang bisa kembali lagi kepada si pemiliknya.


Ayesha berlari mendekati Sukuna dan Nara, "Bertahanlah Una, kumohon! Jangan pergi!" teriak Ayesha. Ia masih berdiri membelakangi Nara dan sukuna, Nara mencoba segala cara untuk menyelamatkan sahabat barunya.


Ayesha berusaha melindungi keduanya, ia memanggil semua ular dengan ilmu sihirnya di setiap sudut Pulau Kematian bak seorang pawang ular. Semua ular merayap mematuk para ninja dan hatter, ia juga mulai menebas ninja yang berhasil membunuh ularnya dan ingin melukai Nara dan Sukuna.


Mona masih saja membabi buta di samping Hendro mereka menebas para hatter, "Mengapa mereka begitu, kuatnya?" tanya Mona terengah. Ia sudah mengerahkan semua tenaganya tetapi ia masih saja tidak bisa,


menembus barisan hatter yang menghalangi mereka. Keduanya ingin membantu para sahabat di depan mereka, yang sedang bertarung melawan ninja. Keduanya melihat sahabat mereka sudah kewalahan karena banyaknya barisan ninja.


Mereka ingin menghabisi dan membantai para ninja, "Entahlah Mona, sayang! Aku sendiri pun tidak tahu mengapa mereka begitu kuatnya. Akh, aku memiliki ini?" ujar Hendro menunjukkan bebrapa granatnya.


Mona mendekati Hendro dan mencium bibir kekasihnya, "Aku akan melamarmu Hendro, sayang! Ayo, lakukan!" ajak Mona. Hendro yang begitu terperanjat akan kejutan yang diberikan Mona, ia hanya terpaku memegang bibirnya dan memandang Mona.


Mona menelengkan kepalanya bingung mencerna kata-kata Hendro, "Woi, dasar omes! Aku bilang lakukan itu, maksudnya lemparkan, bomnya!" teriak Mona di samping Hendro.


"Oh, bom ini ya? Hehehe, maaf terbawa suasana," jawab Hendro. Ia langsung melemparkan granatnya ke arah para hatter yang masih berusaha mendekati Hendro dan Mona, mereka sedikit mundur ketakutan saat melihat rentengan bom berbentuk granat di tangan Hendro.


"Nih, makan!" ujar Hendro. Melemparkan bomnya ke berbagai penjuru di mana para hatter berada, ledakan membuat para hatter tunggang langgang terpecah.


Membuat Mona dan Hendro berlari menembus pertahanan hatter mereka masih saja menebaskan pedang mereka kepada hatter yang berniat menghalangi mereka menuju ke arah sahabat mereka yang sedang melawan para ninja.


Keduanya membantu Will, Zai, Toto, dan para beeluf yang masih tersisa. Zai begitu senangnya melihat pasangan super heboh, "Akh, aku kira kalian tidak datang!" ucap Zai.


Ia tersenyum senang, "Kami terjebak oleh hatter, di sana!" jawab Hendro. Ia menunjuk asap yang mengepul akibat ledakan granatnya, "Hai, Toto! Apakah kau merindukan sepiring lontong sate?" tanya Mona. Toto menoleh ke arah Mona tersenyum, "Banget, Mon!" jawabnya riang.

__ADS_1


Mereka tertawa senang, "Ayo, habisi mereka semua. Agar kita bisa ke luar dari pulau gila ini," tukas Hendro.


Mereka membentuk lingkaran saling memunggungi, mereka langsung nenebas dengan mudah semua ninja yang mencoba mendekat.


Kirana dan Kabir berusaha untuk saling melindungi dan memunggungi, keduanya menangkis tebasan ninja.


Matahari sudah semangkin tinggi, pertempuran juga belum usai.


Perut mereka sudah keroncongan butuh diisi, tenaga pun sudah mulai melemah sementara para ninja dan hatter masih saja tidak ada habisnya.


Di angkasa semua orang yang berada di dunia lain, masih dengan bahagianya menonton semua pertempuran seakan sedang menonton sebuah film. Kabir dan semuanya sudah mulai melemah, tenaga mereka sudah berkurang drastis dari kemarin mereka belum makan.


Mereka sudah ingin menyerah mati saja, Kabir sudah berulang kali terkena sabetan pedang begitu juga dengan Darmanto, Kirana sudah berulang kali berusaha melindungi Kabir tetapi ia sendiri pun sudah kewalahan.


Tiba-tiba Will, melompat menerjang seorang ninja yang ingin menancapkan samurainya ke arah Kabir, Will menusukkan samurainya tepat ke dada ninja hingga tewas.


Ia menyemprotkan botol obatnya kepada Kabir yang telah terluka, "Bertahanlah, Kabir!" ucap Will, "aku pinjam senjata lasermu!" sambungnya.


Kabir hanya menganggukan kepalanya, Will mengotak-atik senjatanya dan ia menembakkan ke udara. Sebuah asap ke luar dari senjata lasernya semua menjadi tertutup kabut,


entah bagaimana caranya Will memanggul Kabir dan menarik lengan Kirana menjauh, "Pion dan beeluf, kabur!" teriak Will. Semua pion dan beeluf kabur, Zai menggendong Sukuna, Nara, Ayesha, Junaid, Heru berlarian meninggalkan lokasi pertempuran.


Darmanto, Marta, Toto, dan wanita beeluf bernama Rani berlari menembus hutan hutan di bagian timur yang tidak berkabut.


Mona, Hendro, dan dua orang wanita beeluf menembus hutan di bagian selatan. Mereka menjauh, dan benar saja kabut berubah menjadi sebuah ledakan membunuh semua hatter dan ninja.

__ADS_1


__ADS_2