
Tiba-tiba heli berputar menjauhi pulau, semua orang sedikit lega sebaliknya mereka masih menggenggam erat senjata mereka.
Mereka masih takut jika semua itu adakah hanya intrik pengalihan ketenangan sementara, mereka terdiam di tempat tidak tahu harus berbuat apa pun.
Mereka berusaha untuk menguasai kekecewaan mereka kembali ke hutan kegelapan, mencoba merenungi dan mengikuti jalan pikiran seorang Alberto Kuro.
Namun, tiada seorang pun yang tahu apa yang dipikirkan olehnya begitu pun tujuannya. Sehingga ia melakukan semua itu,
mereka masih saja terkurung di Pulau Kematian tanpa adanya sesuatu yang mampu mereka banggakan dan lakukan lagi.
Mereka mencoba memahami arti semua itu, sesampainya di tanah tak kasatmata semua orang duduk dan membasuh wajah mereka.
Semua orang hanya diam, suara elang Yahmen menguik membelah angkasa bersamaan dengan elang Ayesha, dan Mano.
Yahmen, Ayesha, dan Mano memandang ke angkasa. Si elang menukik tajam, mendarat di lengan masing-masing tuannya.
Ketiganya berbicara dengan elang masing-masing dengan bahasa yang sulit dimengerti, pada akhirnga ketiga elang terbang menjauh kembali ke angkasa.
Ayesha, Mano, dan Yahmen berpandangan. Seakan-akan ketiganya sedang bertelepati, "Si putih berkata, ' Alberto memiliki benteng lain di luar pulau ini, tidak jauh dari pulau ini ada pulau tak bertuan.
"Dia telah membangun tempat yang luar biasa di sana, dengan tentara mayatnya dan para tentara yang sesungguhnya,' aku tidak tahu kita harus bagaimana lagi?" ujarnya.
Semua orang berkasak-kusuk dengan suara sepelan mungkin, "Apakah pulau itu jauh dari sini Sepuh?" tanya Darmanto penasaran.
Yahmen menatapnya, "Aku tidak tahu, aku tidak pernah ke luar dari pulau ini sejak kecil. Semua karena Alberto," balasnya.
Semua orang hanya diam, "Bagimana cara kita melawannya? Apakah kita harus selalu seperti orang gila yang selalu menanti ia menyerang kita kembali?" ketus Kabir.
Kesemuanya tidak tahu harus berbuat apalagi, suara hembusan angin menerpa wajah mereka menawarkan suatu kesejukan.
"Pulau tidak bertuan? Apakah pulau itu yang berada tidak jauh dari sini?" tanya Kevin. Semua orang memandangnya, mereka hampir lupa dengannya yang ikut di antara mereka.
Kevin merasa terpojok dengan semua mata yang memandangnya seakan-akan ia adalah penjahat yang disusupkan oleh Alberto Kuro di antara mereka.
__ADS_1
Yahmen memandang tajam ke arahnya, "Dari mana asalmu, Nak?" tanya Yahmen. Ia melihat suatu kebaikan yang terpancar dari auranya, "A-aku, dari Scotlandia Madam!" ujarnya.
Yahmen diam ia tidak tahu di mana Scotlandia, seumur hidupnya ia hanya tahu bertempur untuk mempertahankan diri.
Demi untuk membebaskan pulau dan melindungi semua orang sebisa dan semampunya, walaupun nyawa taruhannya.
"Apakah semua tentara berasal dari luar negri ..., makdudku apakah kalian dengan suka rela ikut kemari?" tanya Hendro.
Kevin memandang semua orang, "Tidak, semua! Sebagian karena suka rela dengan iming-iming harta dan kedudukan, sebagian lagi seperti aku karena hukuman kesalahanku," jawabnya.
"Sewaktu kemari kau melalui, jalur apa?" tanya Kirana.
Mereka masih memandang wajah Kevin yang bule bermata biru, kulitnya seputih susu dan rambutnya semerah daun para di kala musim gugur.
Kevin sangat tampan, ia satu-satunya orang bule di antara mereka yang hampir seluruhnya orang Indonesia asli dari berbagai klan.
Hanya beberapa orang dari Jepang, seperti Sukuna, Aoi dan beberala samurai yang masih bertahan hidup dan beberapa hatter dari negara-negara tetangga Indonesia.
Kevin sedikit malu dan tergagap, ia malu menjadi orang yang asing dan berbeda dari semuanya. Apalagi ia awalnya berasal dari kubu musuhnya,
"Tetapi aku tidak tahu, nama pulau itu. Di daerah sini, banyak pulau tetapi hanya pulau ini yang terbesar dari beberapa pulau lainnya.
"Jika benar itu Pulau tak bertuan, tidak begitu jauh dari sini. Hanya saja, tidak bisa dilalui kapal karena terlalu terjal dan banyaknya batu karang. Kemungkinan hanya pakai heli atau kano," ujar Kevin.
Semua orang diam, "Apakah kalian yakin pria ini bukan mata-mata Alberto?" ucap Rani. Ia sedikit curiga ia takut jika semua ini jebakan, "Tidak!" jawab Heru dan kabir serempak.
Rani melihat keduanya, "Bagimana kalian bisa begitu yakin?" tanya Rani. Ia masih saja tidak percaya, "Aku bersamanya beberapa Minggu di kastil dan aku bisa memahaminya, Rani."
Kabir menatap Rani, "Aku melihatnya menyelamatkan Kabir, sementara tentara yang lain tidak akan bersusah payah untuk itu!" tukas Heru.
Rani terdiam begitu juga dengan semua orang, "Baiklah, jika menurut kalian ia bukanlah mata-mata," kata Rani ia menoleh ke arah Kevin,
"Tapi ..., aku akan selalu mengawasimu! Bila perlu aku akan membunuhmu, kalau kau macam-macam!" ujar Rani.
__ADS_1
Ia memandang tajam ke arah Kevin, yang dipandang hanya diam saja. Ia tidak tahu harus berkata apa, wanita cantik di depannya mengerikan seperti induk harimau yang siap menerkap siapa pun.
Sedikit getar aneh menyusup di hati Kevin, di saat mata keduanya bertatapan. Kevin mengawasi bola mata bening yang begitu indahnya dengan mata sebulat kacang kenari.
Yahmen dan para tetua tersenyum, ia memandang dengan tatapan mengerti jika Kevin sedikit terpesona dengan Rani yang sedikit buas.
"Baiklah, sebaiknya kita istirahat dulu! Nanti kita pikirkan bagaimana cara kita pergi ke pulau," ucap Yahmen menenangkan semua orang.
Satu demi satu semua orang pergi ke rumah pohon masing-masing, Kevin bingung harus bagaimana.
Rani masih saja mengawasinya dengan tatapan tajam dan penuh curiga, "Wanita ini ... Seakan-akan aku adalah penjahat yang mengerikan!" batinnya.
Ia ingin beranjak pergi, "Hei, kau! Mau ke mana?" tanya Rani. Ia berdiri dengan anggun dan gagahnya, "Aku memiliki nama, bukan hei!" balas Kevin.
Ia berlalu, "Tunggu dulu, tidak sopan. Aku sudah tua dan kau harus menghormati yang lebih tua!" cetus Rani.
Kevin membalikkan tubuhnya memandang ke arah Rani, ia meneliti keseluruhan dari Rani,
"Apakah kau berumur di atas 30-an? Jika iya, aku akan memanggilmu kakak, jika tidak tolong, hormati aku yang sudah 30 tahun" tukas Kevin sedikit sebal.
Rani terdiam, "Busyet! Tua amat nih, bule!" batinnya. Ia merasa sedikit malu ia masih berumur 23 tahun, "Aku sudah hampir 40 tahun!" tukas Rani bengis.
Ia sedikit keras kepala dan tidak ingin tunduk kepada Kevin, ia melangkah di depan Kevin.
Kevin hanya mengikutinya terdiam tidak banyak berbicara,
hanya saja ia masih penasaran dengan umur Rani, "Apakah kau sudah menikah?" ujarnya.
Ia penasaran juga, "Sudah, dan aku sudah memiliki 5 orang anak," balas Rani asal.
Ia malas berbasa-basi dengan bule kampung dan aneh, bermata biru yang indah bak lautan di luar tembok.
Begitu damai dan tenang, sebaliknya mampu menenggelamkan seluruh kapal dan hati seseorang.
__ADS_1
"Apa?! Hatiku tidak akan tenggelam ke lautan, hanya memandang matanya!" batin Rani. Ia semangkin kesal menatap Kevin, yang ditatap semangkin bingung.
Ia merasa tidak melakukan kesalahan apa pun, "Sial, baru berapa menit di sini. Aku sudah menemukan penunggu pulau yang cantik tapi sadis!" umpatnya di dalam Bahasa Scotlandia.