Pulau Kematian

Pulau Kematian
Aoi dengan dendamnya


__ADS_3

Setiap purnama ia selalu mendengarkan seruling dari Tebing Hatternya, akan tetapi ia tidak pernah bertemu dengan si peniup seruling yang merdu.


Ia selalu senang mendengarkan suara seruling itu, sayangnya hanya setiap purnama seruling itu menggema ke seluruh pulau.


Membuat semangatnya kembali menyala, ia selalu mencarinya. Ia hanya melihat sekelebat bayangan seorang berpakaian merah di Tebing Hatter.


Di seberang tebingnya si peniup seruling meniup serulingnya di atas jurang yang paling tinggi. Di kala bunga berwarna lila sedang bermekaran indah di musim kemarau.


Bayangan si peniup itu bak seorang bidadari berpakaian merah dari kayangan. Ia sendiri pun tidak tahu bagaimana negri dongeng tersebut.


Akan tetapi bagi Aoi, ia merasa telah berada di negri dongeng dan sudah begitu lamanya.


Aoi melalui hari-hari dengan berperang dengan tentara, Aoi tidak tahu sejak kapan para tentara itu datang. Ia hanya tahu dan mencari Kenji, sisanya ia tidak peduli.


Bayangan Kenji di malam itu begitu membuat jiwanya marah, Hutan Bambu di bagian dalam telah menjadi rumah para ninja.


Mereka membangun rumah bergaya rumah di pedesaan Jepang. Persis rumah yang pernah ia huni dengan keluarganya di Hutan Bambu sebelum malapetaka itu.


Kini, di umurnya yang ke-17 tahun ia mulai memahami jika ayahnya dan semua penghuni kampung juga yang berada di lembah hatter adalah orang-orang yang membangun tembok dan kastil di tengah keempat wilayah di pulau.


Aoi telah menyusuri pulau berjalan sepanjang tembok, hanya saja ia tidak pernah masuk ke dalam Hutan Kegelapan.


Ia sangat ingin ke sana, hanya saja kawanan srigalanya tidak pernah mau. membuat ia takut tersesat di dalam hutan, Aoi masih saja kembali pulang dan pergi ke dalam Hutan Bambu mencari Kenji.


Namun, kegagalan dan kegagalan lagi yang ia temui. Ia bersembunyi mengintai para ninja berlatih shuriken, kunai, dan pedang.


Mereka juga berlatih ilmu gaib yang mereka lakukan, Aoi menerapkan segala yang ia lihat di ceruk tebingnya.


Sehingga ia mampu menguasai semua ilmu ninja yang ia curi diam-diam, Aoi mulai lihai membunuh tentara di dalam diamnya.


Menyuruh semua kawanan srigalanya untuk bersembunyi, ia tidak ingin kawanannya mati. Ia tidak ingin kehilangan keluarganya yang berharga, baginya merekalah yang paling berharga.


Ia bersembunyi di balik semak lembah hatter memburu kawanan tentara yang sedang berjalan mencari sesuatu


Ia menarik satu demi satu musuhnya dan menggantung di pohon-pohon dengan seutas tambang atau akar pohon.

__ADS_1


Ia menulis pesan di dalam bahasa Jepang.


"Berikan Kenji, kepadaku!" pesan yang tertulis dengan darah musuhnya.


Ia menggantung musuhnya di pohon tanpa rasa ampun, ia mengingat setiap jeritan semua orang. sehingga hukuman yang ia berikan terlalu ringan,


bila di bandingkan kepahitan yang dirasakan Irsan, Ibunya, dan semua orang malam itu.


Pedang samurainya memiliki kekuatan yang jahat, semangkin tinggi dendamnya semangkin tajam pedangnya berkilau.


Bahkan, ia memburu semua ninja menancapkannya di pohon-pohon bambu di sekitar bekas kampungnya. Pesannya selalu sama, ia tidak bisa menulis selain Bahasa Jepang.


Walaupun ia bisa Berbahasa Indonesia, tetapi ia tidak mengenal abjad Indonesia.


Ia hanya mencari Kenji yang menggunakan bahasa Jepang, dan ia yakin musuhnya adalah seseorang yang pandai Berbahasa Jepang.


Aoi tidak tahu, jika ia sangat ditakuti di Pulau Kematian oleh Alberto. Ia hanya ingin Kenji bukan Alberto, Aoi tidak mengenal Alberto.


Ia hanya mengenal Kenji yang membunuh seluruh desa dan keluarganya di malam purnama kelam itu.


Aoi hanya mendengar mengenai Balian Si Golok Hitam, ia mendengar para ninja membicarakannya.


Namun, ia tidak Pernah bertemu dengan Balian yang berhasil merubuhkan kastil di bagian utara. Walupun banyak hetter lama mati.


"Aku jadi bingung, hatter lama ... memang ada hatter baru?" ujarnya memakan daging burung puyuh di ceruk tebingnya.


Di sebelahnya kawanan srigalanya menyantap puyuh mentah dengan darah yang masih tersisa di moncong mereka.


"Kalian jorok sekali, aku bilang makan yang sudah aku panggang!" dengusnya kesal.


Si putih srigala tuanya hanya memutar arah saja, membelakangi Aoi memakan burung puyuhnya.


Begitu juga dengan kawanan srigala lain meninggalkan Aoi, mereka makan dengan lahapnya di dalam lingkaran mereka.


Aoi hanya diam, ia merasa kesepian bila kawanannya merajuk. Ia sedikit geli melihat darah dari mulut srigala mengingatkannya akan malam kelam itu.

__ADS_1


Ia juga mendengar nama Mano si beeluf berpakaian putih yang jago menggunakan senjata tentara. Selain itu, ia mendengar Si Elang Beeluf berpakaian merah pemilik pulau beeluf.


Aoi termenung menantap lembah di bawahnya, ia mulai berpikir. Ia tidak sendirian di pulau gila itu.


"Aku ingin bertemu dengan Balian Si Golok Hitam, Mano Si Beeluf Gila, dan Yahmen Si Elang Beeluf. Aku ingin mengajak mereka memburu si penguasa kastil.


"Aku yakin ketiga orang itu juga dendam dengan mereka, aku hanya ingin membunuh Kenji. Sialan, itu harus mati. Tujuh tahun, sudah!" umpatnya kesal.


Ia terus setiap hari berlarian ke sana kemari bersama kawanannya, lolongan srigala mampu ia dengar dan Aoi pun mampu membuat lolongan srigalanya.


Mereka menjadi satu kesatuan yang kuat, ia juga mengurus anak-anak srigala. Ia senang jika salah satu kawanan srigala lahir, ia merasakan jika keluarganya semangkin banyak.


Ia tidak pernah merasakan kesepian lagi. Namun, ia sangat ingin berbicara dengan orang-orang.


Ia terus memburu ninja dan tentara, menggantung mayatnya di mana pun ia membunuhnya.


Ia tidak peduli, jika mayat mereka membusuk memenuhi pulau. Ia hanya ingin para ninja menyerahkan Kenji kepadanya.


Ia terus menyusuri Hutan Bambu, berusaha untuk mengacau di kawasan ninja. Ia tidak menyerang secara terang-terangan karena ia tidak ingin kawanan srigalanya mati.


Pada akhirnya apa yang ia nanti menjadi kenyataannya, ia menyeberangi gurun. Berlari mengejar badai.


Ia tidak menyangka ia melihat segerombolan ninja sedang mengejar seorang beeluf berpakaian merah.


Aoi melihat beeluf muda itu sedang membawa sekeranjang sayuran, ia sudah terluka di kakinya darah menyembul di balik pakaian merahnya.


Di saat salah seorang ninja melemparkan shurikennya dan mengenai bahu si wanita. Membuat keranjang sayurannya terjatuh, si ninja ingin mencabulinya.


Aoi teringat kepada ibunya, ia merasa marah. Oedangnya di tangannya seakan bergetar ingin meminum darah musuhnya.


Aoi menerjang musuhnya, memenggal kepala si ninja hingga darah membasahi gurun.


Aoi melihat sekilas ke arah beeluf, "Cepatlah, pergi!" perintahnya.


Si beeluf wanita, berusaha untuk berdiri menyeret tubuhnya dan menjauh. Aoi memandang para ninja, ia menghunuskan pedangnya menyerang ninja.

__ADS_1


"Ayo, lawan aku! Jangan hanya dengan wanita kau beraninya, bedebah!" ujar Aoi.


__ADS_2