
Aoi hanya mendengarkan suara seruling yang sedih dan menyayat hati. Entah dari mana, suara alunannya begitu menggetarkan jiwanya.
Cahaya purnama sebagai saksi kesedihannya di malam purnama yang kelam, ia telah kehilangan kedua orang tuanya.
Kawanan srigala hanya duduk dan melihat sahabat mereka seekor srigala yang sedang terluka akibat tusukan samurai Aoi.
Aoi merasakan iba dan kasihan, "Aku akan menolongmu, sebagai gantinya. Kau jadi sahabatku!" ucap Aoi.
Entah keberanian dari mana ia melakukannya, suara seruling itu membuatnya menjadi sedikit berani. Ia mendekati srigala meletakkan samurainya,
kaingan lemah srigala mirip dengan seekor anjing yang pernah ia selamatkan di salah satu sudut jalan di Osaka di Jepang kala ia pulang dari sekolahnya.
Ia pernah melihat tetangganya Pak Mahmud mengunyah tumbuhan untuk mengobati Irsan. Ia meraih tumbuhan yang berada di sekitarnya, Mengunyahnya dan terasa pahit.
Ingin rasanya ia muntah, tetapi ia menahannya dan membalurkan ke mata srigala, mengoyak kembali kimononya hingga kedua kimononya sudah tidak berlengan lagi.
Ia membungkusnya, ia tidak tahu harus bagaimana. Teriakan masih terdengar dari kejauhan dan kemudian hening, ia takut bila berada di alam terbuka.
Seekor srigala menarik juntaian kimononya seakan mengajak ia pergi. Aoi membawa samurainya mengikuti kawanan srigala menaiki Tebing Hatter.
Bersembunyi balik ceruk, ia melihat di bawah tebing kerusuhan juga terjadi.
Orang-orang berlarian, ninja dan orang-orang aneh terlihat membantai mereka.
Aoi bersembunyi di balik ceruk tebing hanya memperhatikan.
Ia masih ingin mengetahui apa yang terjadi, suara seruling tidak terdengar lagi.
Berganti teriakan di lembah di bawahnya. Rumah-rumah terbakar, orang-orang berlarian dan diburu. Aoi hanya melihat dengan kesedihan,
ia tidak menyangka bukan keluarga dan kelompoknya saja yang mengalami tragedi mengenaskan.
Akan tetapi, seluruh orang di pulau itu merasakan kesakitan dan ketakutan. Aoi merasa menggigil, ia lupa bagaimana rasanya kehangatan. Jeritan terus menyayat dan bergema di benaknya.
"Kenji, lihat saja! Aku akan membunuhmu!" batin Aoi berulang-ulang bak sebuah mantra. Ia melafazkan dan mencengkram erat gagang samurainya yang berkilau.
Srigala di sisinya ikut melihat semua kekacauan yang terjadi. Aoi tidak sedikit pun memejamkan mata, ia melihat semuanya.
__ADS_1
Pagi datang menjelang, seseorang pria dari heli turun menyuruh anggotanya mengangkut semua mayat dan entah mau di bawa ke mana, Aoi ingin pergi melihat ibunya.
Namun, saat ia beranjak seekor srigala putih menggigit ujung kimononya.
"Lepaskan, aku ingin melihat ibu dan Ayahku!" teriak Aoi.
Namun, srigala tidak membiarkan Aoi melangkah. Aoi jatuh berlutut di depan srigala,
"Aku mohon, biarkan sekali saja. Aku melihat Ibu dan Ayahku, hiks hiks" ia menangis dan memohon.
Srigala melepaskan gigitan kimono Aoi, srigala mengulurkan kaki depannya memukul bahu Aoi. Seakan-akan ia ingin menghibur Aoi, ia melihat srigala menundukkan punggungnya.
Srigala yang besar itu merunduk, "Apakah aku harus naik ke punggungmu?" tanya Aoi tidak percaya.
Namun, srigala memaksanya dengan menarik ujung Kinomo Aoi membuatnya jatuh ke punggung srigala.
Semenit kemudian srigala dan beberapa ekor yang lainnya berlarian menuruni ceruk tebing dan berlari ke arah Hutan Bambu, mereka bersembunyi di balik semak.
Tentara dan ninja mengangkat ibu dan seluruh orang di Hutan Bambu. Aoi mengenali semua orang salah satunya Irsan, Pak Mahmut, dan semua orang ditumpuk menjadi satu dimasukkan ke dalam heli.
Mereka membakar rumah-rumah, Aoi melihat mayat ibu dan ayahnya di antara tumpukan mayat. Aoi ingin ke luar dari persembunyiannya
Ia hanya mampu melihat mayat kedua orang tuanya dan seluruh orang dari kampungnya di Hutan Bambu terbang ke angkasa dibawa helikopter.
Ia melihat seorang pria sekitar kurang lebih berumur di bawah 30 tahun dengan gagahnya mengatur semuanya.
Ia tertawa-tawa senang, ia melihat Kenji. Darahnya kembali mendidih, tetapi ia tahu. Ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan mereka, hingga ia mengurungkan niatnya untuk melawan mereka.
"Suatu saat nanti, jika aku sudah kuat. Aku akan membalaskan dendam kedua orang tua dan seluruh orang kampungku!" lirihnya.
Ia menangis di punggung srigala, memeluk kehernya. Srigala hanya diam saja dan menyandarkan kepalanya ke tubuh Aoi.
Aoi berjalan menyusuri rumah dan kampungnya yang sudah menjadi bara api, sisa dari pembakaran dan asap yang masih terlihat.
Aoi duduk tersungkur di salah satu ayunan bambu di depan rumah yang masih tersisa, dan sisa darah yang memercak di sekitarnya di rerumputan.
Aoi menangis lagi, di sekitarnya 5 ekor srigala besar berwarna abu-abu dan putih menemaninya. Melolong panjang, seakan mewakili perasaannya.
__ADS_1
Hujan seketika datang mengguyur pulau, membersihkan sisa pembakaran dan darah. Tiada lagi yang tersisa dari sebuah kehidupan.
Aoi berlari ke arah Tebing Hatter bersama dengan srigala di belakangnya.
Ia mencurahkan amarah dan tangisnya di bawah guyuran hujan, ia begitu menderitanya tidak ada yang terisa lagi dari sebuah kehidupan dan temannya.
Ia seorang diri bertemankan dengan srigala, ia berlari menaiki ceruk tebing dan terus berlari.
Sejak saat itu Aoi selalu bermain dengan samurainya berlatih dan memburu binatang untuk dimakan, awalnya ia bingung bagaimana menyalakan api.
Lambat laun ia memahami cara melagakan batu ke dedaunan kering hingga ia berhasil membakar ikan dan daging. Sehingga ia tidak perlu makan daging mentah dan buah lagi.
Tahun demi tahun ia lalui, ia hanya bertemankan dengan kesepian dan dendamnya. Berlarian mendaki tebing dan menyeberangi gurun mengejar badai,
tetapi ia tidak pernah berhasil menggapai badai pasir itu bersama srigalanya dan melihat sisa rumahnya di Hutan Bambu.
Ia hanya mengingat setiap kenangan karena semuanya telah dipenuhi oleh rerumputan liar, terkadang ia duduk disisa rumahnya.
Berharap kehangatan kedua orang tuanya memeluknya, sayangnya hanya kawanan srigalalah yang masih menemaninya.
Memeluknya di dalam kehangatan tubuh srigala jika malam tiba ia tidur. Srigala selalu mendekap erat tubuhnya, ia terus bermimpi malam yang kelam itu.
Di mana teriakan dan tangisan serta darah menghantuinya.
Begitu pun dengan bayangan Kenji, yang selalu membuat amarahnya semangkin dalam.
Setiap ia terjaga ia selalu berlatih pedang di dalam ceruk gua. Ia mulai memahami kekuatanlah ya g menang.
Srigala banyak mengajarinya bertahan hidup di alam terbuka, berlarian, kesetiakawanan, dan berkelahi secara bergerombol.
Pada usianya yag ke-15 tahun, untuk pertama kalinya ia membunuh tentara dengan bantuan srigalanya.
Ia terus menghantui semua tentara Alberto dan ia tidak mengetahui semua itu adalah ulah Alberto.
Aoi hanya mencari Kenji, ia benar-benar dendam akan Kenji.
Namun, ia belum juga menemui Kenji.
__ADS_1
Ia sudah menyusuri setengah pulau, hanya Hutan Kegelapanlah yang belum ia masuki srigalanya sedikit enggan memasukinya.
Mereka selalu menarik baju Aoi. Ia tidak menggunakan kimono lagi, melainkan mencuri pakaian yang yang dipakai tentara dan ninja setiap ia membunuh mereka.