Pulau Kematian

Pulau Kematian
Terkepung


__ADS_3

Marta dan Mona saling pandang, keduanya jumpalitan kala boomerang datang menyerang keduanya. Mereka berusaha untuk melindungi nyawa mereka,


dari boomerang yang tidak sedikit pun memberikan kesempatan untuk mereka bernapas dan berdiri dengan baik.


Keduanya sudah merasakan kelelahan yang teramat sangat, mereka harus bersalto ke belakang pinggang mereka berulang-ulang bak adegan silat tempo dulu.


Mereka sendiri pun begitu heran mereka begitu lenturnya melakukannya, semua itu hanya karena ingin melindungi nyawa mereka,


hingga segala yang tidak pernah mereka bayangkan pun pada akhirnya mampu mereka lakukan. Semua itu, karena Alberto hingga mereka mampu menjadi apa yang Alberto inginkan.


Mona dan Marta benar-benar kesal, di saat keduanya jumpalitan mereka mencoba untuk mengetahui siapa penyerang mereka.


Nara melihat kesulitan kedua temannya hingga ia menarik goloknya, untuk menangkis serangan yang hampir saja mengenai pinggang Marta.


Nara melemparkan goloknya, "Aku serahkan kepadamu, Nara. Aku ingin mengejar dalangnya!" teriak Marta.


Nara menangkis boomerang dengan lebar goloknya, hingga boomerang menancap di salah satu batang pohon besar dan tidak bergerak lagi.


Ia melihat Mona masih berusaha untuk menghindari boomerang, Nara membantunya kembali. Ia menangkis dan melemparkan boomerang ke arah awal boomerang datang.


Boomerang menyerang seseorang yang bersembunyi di balik batang pohon hingga kepala si pemain boomerang menggelinding ke tanah, "Terima kasih, Nara!" ucap Mona.


Mona bernapas lega, melihat Nara berhasil. Ia langsung membaringkan tubuhnya di rerumputan, ia mengatur napasnya yang tersengal.


Sementara Marta melompat ke punggung si pemain boomerang lainnya, ia menancapkan sangkurnya tepat di leher musuhnya hingga mereka jatuh terjungkal ke tanah.


Marta begitu penasarannya kepada si pemain boomerrang yang memakai hoody, "Kau dari kelompok mana lagi, sih?" tanya Marta kesal.


Saat ia membuka hoody si mayat ia melihat wajah Darmanto, ia segera meringsut ke belakangnya, jantungnya hampir copot, "Pion, Darmanto!" panggilnya.


Tiada sinar yang berpendar dari punggung musuhnya, ia bernapas dengan lega. Nara dan Mona telah tiba di sisinya, "Ada, apa?" tanya keduanya.


Marta hanya menunjuk ke arah Darmanto palsu dengan monyongan bibirnya.

__ADS_1


Keduanya terkesiap, "Pion, Darmanto!" ucap keduanya. Mereka bernapas lega tiada sinar keperakan berpendar dari punggung Darmanto palsu.


Keduanya mengulurkan tangan untuk menolong Marta, ketika Marta meraih tangan kedua sahabatnya dengan tangannya.


Di saat ia ingin berdiri tetapi, tring! Boomerang lain hampir saja membunuh ketiganya. Jika tidak ada Darmanto yang melayangkan sangkurnya,


ke arah boomerang hingga membuat boomerang terpelanting jatuh. Akan tetapi, kembali lagi boomerang naik ke angkasa menyerang Darmanto.


Nara melemparkan goloknya hingga boomerang terbelah dua dan jatuh, Nara berlari secepat kilat ingin mengambil goloknya.


Namun, boomerang lain hampir saja menghantam lehernya.


Bila ia tidak menjatuhkan kedua kakinya lurus ke bumi, meluncur dan langsung menarik golok besarnya dan menangkis boomerang yang kembali menukik ke punggungnya.


Ketiga temannya hampir saja berhenti bernapas melihat semuanya, mereka bersyukur Nara begitu jagonya berkelahi sejago ilmu kedokterannya.


Nara kembali menghancurkan boomerang, mereka berempat berlari mengejar ke arah datangnya boomerang, berharap menemui siapa pun di pemiliknya.


Kabir dan yang lain kehilangan jejak mereka berempat, dan kembali mundur ke belakang. Untuk mengejar keempat sahabat mereka, "Ke mana, mereka?" tanya Kirana.


karena keempat sahabat mereka lari menuju tebing. Mengejar pemilik boomerang yang selalu menghentikan mereka, untuk meneruskan langkah mereka menuju Hutan Kegelapan.


Keempatnya kembali ke tebing hatter yang baru mereka hancurkan, "Sontoloyo, semua ini jebakkan!" teriak Darmanto. Ia semangkin kesal, mereka berempat bisa terjebak.


Di sekeliling mereka terdapat tebing batu yang lumayan tinggi mereka terkurung di tengah tebing, di atas mereka para pemakai hoody yang tidak lain adalah hatter tingkat 4 sudah mengepung mereka.


Para hatter membuka hoody mereka, memperlihatkan wajah-wajah para pion. Mereka adalah para pion palsu, "Kalian ingin membunuh kami? Hahaha sahabat kalian sendiri?" jawab salah satu pria dari atas.


Keempatnya hanya diam, mereka mengetahui di atas sana berjejer bukanlah teman dan bukan diri mereka sendiri, Mona melihat salah satu wanita yang memakai wajahnya dan berdandan seperti dia.


Ia memperhatikan bagian buntelan dada di tubuhnya dan tubuh kembaran palsunya,


"Woi, mengapa punyamu terlalu besar dan kedodoran begitu? Semua orang tahu, kalau itu bukan aku. Dasar dodol! Lain kali kalau mau meniru carilah, yang pas!" ucap Mona kesal.

__ADS_1


Ia sangat benci bila ada orang yang menirunya dan melecehkan bagian dadanya yang super duper jumbo, "Hahaha! Punyanya silikon, kali!" balas Marta.


Nara melihat ke arah kembaran Mona, "Wah! aku mau dong kayak gitu?" timpal Nara. Ia melihat miliknya yang hanya sebesar bola kasti,


Darmanto hanya menggaruk jambangnya dengan sangkurnya. Ia bingung harus berkata apa, ia hanya menikmati obrolan para wanita. Namun, mata jailnya melirik ke arah dada Marta dan kembaran Mona, "Apa yang kau lihat, Dar?" balas Marta.


Ia menyilangkan kedua tangannya yang memegang pedang dan sangkur di dadanya, "Hahaha! Aku hanya suka milikmu, Hendro yang suka super jumbo."


Darmanto keceplosan menatap Marta, secepat kilat ia menutup mulutnya dengan pergelangan tangannya. "Dasar, mata keranjang!" umpat Marta kesal.


Ketiganya tertawa para hatter kebingungan, mereka heran melihat musuhnya yang tidak takut malah membahas masalah buntelan dada.


Ketua hatter merasa marah dan dilecehkan, "Woi, serius sedikit dong? Apa kalian tidak takut mati!" teriaknya.


Keempat pion di bawahnya memandang ke atas, "Wei, siapa yang tidak takut mati tetapi mati tidak perlu ditakuti. Semua akan tiba waktunya, jika ajal sudah menjemput!" ujar Marta.


Si kembaran Mona memandang ke arah Mona, "Aku ingin membunuhmu, agar aku bisa menjadi artis dunia!" teriaknya.


Mona memandang ke arahnya, "Memang, kalian bisa bebas dari Alberto? Lihat saja! Kalian tidak lebih seperti seekor anjing yang terpasung," balas Mona.


Darmanto memandang kembaran Mona, "Wah! Kalau artisnya kayak kamu, cocoknya bintang film apa ya?" celetuk Darmanto.


Marta di sisinya langsung mencubit pinggangnya, "Aduh! Aduh! Yank, ampun. Aku hanya membayangkan saja," balasnya.


Membuat Nara dan Mona cekikikan di belakang mereka, keduanya tidak menyangka jika Darmanto yang pendiam dan dingin bisa bercanda jika ada Marta di dekatnya.


Keduanya saling pandang, "Kekuatan, cinta. Hahaha, ngeri! Kayak kamu sama Hendro," tukas Nara.


Keempatnya tertawa mereka mengingat setiap wajah sahabat mereka, "Apa boleh buat, jika aku mati di sini. Tolong! Katakan pada cintaku, 'Aku menantikannya, di surga!' tolong," ucap Nara.


"Aku juga! Siapa pun, yang selamat di antara kita. Katakan pada Si Beruangku, 'Aku, mencintaimu!' jangan lupa," timpal Mona.


Marta dan Darmanto saling pandang dan tersenyum, "Aku mencintamu!" ucap mereka serempak.

__ADS_1


"Akh, meleleh Makk!" ujar Mona dan Nara serempak. Sebelum keempatnya, menangkis serangan boomerang yang menghantam mereka.


__ADS_2