Pulau Kematian

Pulau Kematian
Gugurnya sepasang legenda


__ADS_3

Balian menangis ia tidak menyangka akan kehilangan saudara, teman, adik. Ia tidak menyangka semua yang ia miliki telah dirampas begitu cepatnya dari sisinya.


Alberto begitu mengerikan di dalam hidupnya, merampas segala yang ia miliki. Balian membaringkan tubuh Rasna.


Ia ingin membantai semua musuh yang telah mengambil nyawa saudara-saudaranya.


Sanna dan Mano berdiri di samping keduanya meneteskan air mata. Mereka tidak menyangka begitu sedihnya kehilangan persaudaraan ketiga belas mereka.


"Rasanya baru kemarin kita berlarian di Pulau Beeluf, mengarungi semua wilayah dengan tawa dan luka juga tangisan serta harapan,


"Kini, semuanya harus hancur dan tiada lagi yang tersisa selain mereka berdua dan anak-anak mereka," lirih Balian.


Mano mengulurkan tangannya menyentuh pundak suaminya, ia merasakan segala perih dan tangis itu. Akan tetapi, musuh di depan mereka masih terus maju menyerang.


Mano menggunakan sihirnya untuk melindungi orang di sekitarnya. walaupun dengan kerentaannya ia tak lagi sanggup untuk bertahan lama melindungi semuanya.


Paling tidak memberikan kesempatan untuk yang terluka mengobati luka mereka. Namun, Nara masih begitu lemahnya terbaring jauh di rerumputan.


Hendro sudah mulai kembali ke medan tempur, berbeda dengan Nara yang masih harus memulihkan tulangnya di bawah perlindungan Ayesha.


Balian, masih mengingat setiap detil kenangannya bersama saudaranya.


Mengarungi kehidupan yang mengerikan yang telah dilakukan oleh seorang Alberto Kuro.


Sanna memeluk Balian dengan segenap duka dan tangisnya. Balian memeluk Sanna dengan penuh kasih sayangnya.


Namun, Balian harus mengingat jika ia harus bertanggung jawab akan anak-anak dari saudaranya.


"Sanna, jika aku yang mati. Aku mohon, uruslah semua anak-anak keluargamu. Jangan beda-bedakan mereka," pesan Balian kepada Sanna.


Sanna tercekat, ia merasa gamang. Ia tidak ingin terpisah dari ke-12 saudara dan suaminya. Ia tidak sanggup mengarungi segalanya.


"Tidak Kakak! Kakaklah yang harus bertahan, aku tidak akan sanggup melakukannya. Aku mohon," balas Sanna


Ia sudah kehilangan suaminya Ujang. Ia tidak akan mampu mengarungi segalanya sendirian.


"Kau masih memiliki Mano. kumohon, bertahanlah!" ujar Sanna.


Ia meraih pedang hitamnya yang ia tempa sejak ia kecil.


Melompat menerjang musuhnya.


Membabat semua musuh dengan dendamnya. Sanna luar biasa hebat, dengan tubuhnya yang sudah mulai menua.


Sanna telah melahirkan selusin anak lelaki dari rahimnya, ialah yang paling memiliki banyak anak dari 13 persaudaraan singa hatter.


Ia masih sekuat banteng di tengah pertempuran. Balian berlari membantu Sanna, adik dan sahabat satu-satunya yang masih tersisa.

__ADS_1


Keduanya bak singa yang kelaparan di tengah pertempuran, mereka saling membahu seperti saat mereka masih kanak-kanak, remaja, dan dewasa.


Di mana keadaanlah yang memaksa mereka untuk mengangkat senjata mengusir orang yang membantai keluarga mereka.


Mano berusaha untuk membagi kekuatannya melindungi semua orang.


Balian, Sanna, dan Mano ketiganya bertempur dengan leluasanya membelah musuhnya dengan segala cara dan upaya.


Kevin, Rani, Sukuna, dan Trio mekanik juga Junaid ikut bergabung membantai pengawal khusus dari Alberto.


Binatang-binatang berhamburan dari dalam gedung berlarian menyerang semua orang tanpa pandang bulu, semuanya mencoba untuk membunuh binatang tersebut.


"Gunakan pedang hatter robot!" teriak para pion.


Semua beeluf dan Suku Hideng langsung berjumpalitan ke arah mayat-mayat hatter robot. Untuk mengambil pedang laser milik hatter,


dan langsung menebaskan ke arah binatang dan pasukan Alberto. Mereka tidak menyangka jika pedang itu begitu luar biasanya.


Mereka berusaha agar tidak tercakar maupun tersobek oleh taring binatang yang menyerang mereka.


***


Sementara Yahmen dan Aoi juga para beeluf merah menyerang tentara dan sudah menembus gedung. Akan tetapi, mereka tidak menemukan Alberto.


Mereka melihat Kabir, Marta, Heru, dan Darmanto. Sedangan bertarung dengan pengawal khusus.


Pasukan Yahmen kembali mencari Alberto. Mereka menghancurkan semuanya.


Balian, Sanna, Mano dan beberapa pion dan Suku Hideng masih tersisa berusaha untuk mengumpulkan mayat sahabat mereka.


Di saat merka berkumpul sebuah bazoka kembali menghantam kerumunan mereka. Namun, Yahmen dengan kekuatannya mengahalanginya dan melontarkannya ke lautan.


Ia sudah muntah darah dan terduduk dengan lemasnya di pangkuan suaminya. Mereka melihat Alberto menaiki heli untuk kabur.


Kabir dengan secepat kilat berlari dan melompat ke arah plat besi di kaki heli, trio mekanik menembak baling-baling heli. Membuat heli berputar dan menabrak gedungnya sendiri.


Ledakan beruntun di sana. Semua orang berlari mencari mayat Alberto.


Namun, mereka melihat hanyalah Alberto palsu.


Mereka begitu kesalnya, mereka kembali menyusuri gedung.


Elang Yahmen, Mano, dan Ayesha menguik di angkasa menuntun ke suatu tempat


"Sialan itu berada di, sana!" teriak Ayesha.


Semua orang berlarian ke sana, benar saja di pelabuhan yang lumayan luas, Alberto dan pasukannya sudah mulai berlarian di pantai ingin menaiki kapal pesiar.

__ADS_1


Trio mekanik menembak kapal pesiar hingga meledak.


Alberto dikelilingi Joe dan semua pengawal khususnya.


Alberto memandang Yahmen, Aoi, Balian, dan Mano. Ia merasa begitu menderitanya.


Ia tidak menyangka di sisi Yahmen ada orang-orang yang baik dan setia kawan membantunya.


Berbeda dengannya yang mengandalkan uang yang ia miliki. Semua pion bergerak menyerang para pengawal khusus.


"Serang, mereka!" teriak Joe.


Kabir melompat ke arah joe. Menebaskan pedang dengan bengisnya. Joe berusaha untuk menangkis setiap serangan, berusaha untuk melindungi nyawa mereka.


Yahmen dan ketiga ketua mendekati Alberto. Menebas semua pengawal yang berusaha untuk melindungi Alberto.


Kabir dan semua pion masih terus bertempur dengan sekuat tenaga. Yahmen dan ketiganya berhasil mendekati Alberto.


"Mau lari ke mana kau, bajingan?" teriak Yahmen.


"Kau harus, mati!" umpat Balian.


"Akhirnya, kami berhasil mengusir kau berengsek!" teriak Aoi.


"Sudah hajar saja bajingan, ini!" teriak Mano.


"Hahaha coba saja kalau kalian, bisa!" umpat Alberto.


Keempatnya membantai Alberto, dengan kebengisan dan dendam yang membara.


Keempatnya dengan mudah mengalahkan Alberto. Keempatnya menghujamkan pedang mereka menbus tubuh Alberto.


Alberto meregang nyawanya, di tangan keempat musuh bebuyutan karena ulahnya sendiri. Begitu juga dengan Joe dan semua pengawal.


Namun, sebuah tembakan laser menghujam ke arah keempatnya dari arah hutan di atas mereka. Aoi melindungi Yahmen dengan segenap rasa cintanya.


Yahmen mendorong Mano dan Balian ke sisi kanan mereka. Keduanya yang tekena hantaman tembakan laser dari atas undakan tebing di atas pantai


Yahmen melontarkan tombaknya ke arah tebing dan ledakan terjadi di sana. Suara teriakan dan jeritan orang yang berada di sana.


Kabir, Darmanto, Junaid dan Heru juga Hendro berlari ke arah ledakan. Mereka ingin mengetahui siapa mereka.


Sesampainya di sana, mereka melihat tombak Mano menghujam tubuh Alberto yang ke sebuah pohon. Menewaskan Alberto dan semua sekutunya.


Sekutu yang masih selamat ingin melarikan diri. Semua pion memburu dan membunuh mereka tanpa sisa.


Aoi dan Yahmen saling berpelukan meninggal dengan jatuh terduduk.

__ADS_1


"Yahmen! Aoi!" teriak semua orang tertegun.


Semua orang menjerit memanggil nama keduanya. Mereka berlari berusaha untuk menyelamatkan keduanya.


__ADS_2