Pulau Kematian

Pulau Kematian
Golok menghitam akibat darah


__ADS_3

Semalaman mereka berada di dalam gua untuk menempa senjata mereka.


Mereka tidak menyadari jika keluarga mereka di Lembah Hatter telah dibantai oleh hatter baru ciptaan Alberto Kuro.


Tangisan dan darah menggelegar di sana, tiada tersisa dari perkampungan di Lembah Hatter.


Balian merasakan kesunyian malam purnama itu begitu mencekamnya, suara seruling menyayat hati.


Mereka selalu saja mendengar suara seruling entah dari mana asalnya, setiap purnama mengalunkan lagu sedih dan kepedihan.


Namun, menenangkan dan membawa kesejukan juga harapan baru untuk menapaki kehidupan keesokan harinya.


Semua orang selalu menantikannya di setiap purnama. Lolongang srigala membelah malam yang semangkin mencekam.


Balian ke luar dari balik air terjun ia menatap bayangan-bayangan hitam berkelebat, ia kembali masuk ke balik air terjun. Mencoba untuk mengintip di balik keremangan cahaya purnama.


Mereka berbicara di dalam Bahasa Jepang, Balian mengerti sedikit karena Koichi mengajari bahasa itu. Ayahnya mengajari Bahasa Urdu dan ibunya mengajari Bahasa Indonesia.


Balian selalu mudah menyerap setiap bahasa dan belajar apa pun.


"Aku sudah membunuh seluruh Klan Samurai di Hutan Bambu. Para hatter baru membunuh Klan Hatter lama. Alberto ingin mengubah struktural semua orang," ujar seseorang.


"Apakah kau telah membunuh Koichi dan seluruh keluarganya? Termasuk putranya?" tanya seseorang.


"Sudah! Aku sudah membunuh mereka," jawab salah satunya dan melesat pergi.


Balian jatuh terduduk, ia tidak menyangka jika Koichi dan keluarganya sudah meninggal.


Balian lari ke dalam gua, "Woi! Ayo, kita pulang. Sepertinya telah terjadi pembantaian di Hutan Bambu, kita harus menyelamatkan keluarga kita!" teriak Balian.


Ke-12 sahabatnya bergerak mengambil senjata mereka yang masih menyala dari letupan magma.


Mereka tidak peduli akan panasnya, membungkus gagangnya hanya dengan kulit harimau dan beruang yang mereka curi dari rumah Pardhan ayah Balian.


Mereka berlari secepat kilat ke Lembah Hater.


Mereka berputar arah melalui jalan-jalan setapak yang mereka buat, untuk mencapai air terjun agar cepat dan mudah tanpa harus melalui Hutan Bambu.


Mereka melihat orang-orang aneh berusaha untuk membunuh klan mereka. Dari kejauhan mereka mendengar teriakan dan tangisan kaum mereka.


Balian dan kedua sahabat wanita di sisinya semangkin kencang berlari. Berusaha secepat kilat menembus semak perdu bunga kuning dan merah.


Senjata mereka masih merah menyala, membakar sebagian stepa rumput kering.


Membuat api semangkin menjalar, mereka tidak peduli,

__ADS_1


ke-10 teman prianya berusaha sekuat tenaga mengikuti ketiganya.


Sesampainya di sana mereka mencari rumah masing-masing. Akan tetapi, mereka hanya menemui mayat kedua orang tua mereka dan adik atau abang mereka.


Balian terjatuh terduduk, ia melihat mayat ibunya dan adiknya saling peluk bersimbah darah.


Balian memeluk keduanya dan menangis, ia berlari mencari ayahnya.


Ia melihat ayahnya sudah menjadi potongan-potongan. Balian semangkin murka, ia mendengar teriakan di rumah salah satu sahabatnya Rasna.


Balian berlari dengan goloknya yang ia seret, api semangkin menjalar di mana-mana.


Balian melihat Rasna sedang bertarung dengan 5 pria hatter Penuh tato tanpa mengenakan baju bagian atas.


Balian menerjang dan membabatkan golok papannya. Darah memercik di goloknya membuat asap putih kebiruan mengepul.


Ia terus membantu Rasna membantai kelimanya.


Golok dan pedang Rasna berubah menjadi sedikit kehitaman dan berbau terbakar.


Mereka tidak peduli, mereka terus mengejar para hatter. Keduanya berlarian ke rumah Sanna, membantunya di sana.


Pada akhirnya mereka berkumpul di suatu lapangan di depan api yang sudah mengelilingi mereka dengan kumpulan hatter.


"Masih ada anak-anak lagi!" teriak hatter yang lain. Mereka datang bergerombol dengan senjata mereka.


Ke-13 anak remaja itu tidak gentar sedikit pun. Mereka masih menghunuskan senjata mereka yang masih menyala.


Tempahan senjata mereka belumlah sempurna. Namun, mereka tidak peduli. Kemarahan dan darah muda mereka mendidih.


"Ayo, maju!" teriak Rasna dengan derai air matanya. Ia melihat ibunya mati dengan mengenaskan.


Di dalam lingkaran api mereka melawan para hatter. sebagian hatter berada di luar lingkaran api.


Mereka terkekeh geli, memandang keadaan anak remaja yang terkepung api. Akan tetapi, semangat mereka masih membara dan mereka tidak takut di dalam semua itu.


"Senjata kalian belum, sempurna! Hahaha" teriak Ketua Hatter mengejek mereka.


Rasna yang sudah muak langsung melompati api dan memenggal Ketua hatter. Balian dan ke-11 orang sahabatnya terkesiap.


Di saat kengerian dan keberutalan Rasna, Balian melihat Rasna terkepung dan para hatter ingin mengeroyoknya.


Balian pun dengan gilanya melompati api dan memenggal hatter yang mencoba untuk menusuk Rasna dari belakang tubuhnya.


Satu demi satu semua anak remaja itu berlompatan memenggal musuh mereka. Entah berapa lama mereka bertempur hingga hatter yang lumayan jumlahnya mati.

__ADS_1


Rasna terjatuh terduduk, ia seakan telah mati dengan rasa dan kehampaan pada dirinya. segalanya menjadi hening.


Meraka hanya duduk termangau menatap di kedua tangan mereka yang penuh dengan darah dan sekujur tubuh mereka penuh luka.


Mentari mulai berpendar di ufuk timur, Balian mendengar keributan ke arah mereka.


Ia menarik tangan Rasna, "Ayo, kembali ke gua! Aku takut mereka membawa bala bantuan yang lebih banyak."


Balian menyeret Rasna, mereka berlarian kembali menembus kobaran api yang masih menyala.


Balian memandang ke belakang, rumah mereka pun sudah mulai terbakar, ia tidak tahu bagaimana lagi untuk menguburkan kedua orang tua dan seluruh orang.


Suara heli semangkin mendekat. Ke-13 orang tersebut dengan penuh luka mencoba bertahan, dan memasuki air untuk mrnghilangkan jejak darah dan masuk ke dalam gua.


Mereka masuk di dalam gua dan pingsan, kehabisan tenaga dan penuh luka. Darah memenuhi tubuh mereka dan terus merembes menjadi kubangan di antara ke-13 orang tersebut.


Mereka tidak menyadari seorang beeluf berpakaian merah berkerudung dan seorang pria. Memasuki gua, membubuhkan obat di sekujur tubuh mereka.


"Sepuh, kasihan sekali mereka! Apakah kita tidak membawa mereka ke Menara Pasir?" tanyanya.


"Tidak usah, Muti. Mereka akan berkembang dengan sendirinya dan menjadi diri sendiri. Mereka sedang mencari jati diri mereka," ucap Sepuh Rayan.


Keduanya terus membubuhkan obat, dan memasukkan sejumput madu hutan di dalam mulut masing-masing.


Setelah dirasa cukup, keduanya pergi meninggalkan gua. Namun, Balian menangkap kaki si Sepuh.


"Siapa, kalian?" tanya Balian lemah.


Sepuh Rayan berjongkok dan tersenyum, "Berjuanglah dan bertahanlah untuk, hidup! Pimpinlah kaummu yang tersisa, kelak kita akan bertemu.


"Namaku Rayan, dan dia adalah Muti!" balas Rayan. Ia menyapu kepala Balian, membuat Balian tertidur.


Keduanya meninggalkan gua dan pergi mengitari Hutan Bambu yang sudah hancur lebur.


"Klan ini juga sudah hancur tak tersisa, Sepuh!" ujar Muti bersedih.


Rayan hanya memandang ke sisa kehancuran dan api yang masih melahap sisa rumah-rumah Klan Samurai.


"Ada seseorang yang masih tersisa. Suatu saat nanti ia akan bangkit, Muti! Ayolah, biarlah semuanya menjalani kehidupan mereka. Sesuai takdir yang sudah digariskan," balas Sepuh Rayan berjalan.


Muti berlarian mengikuti Sepuh Rayan, ia melihat sekilas ke arah rumah anak pria seumuran dengan Yahmen.


Anak kecil itu selalu saja mengejar mereka, ia tersenyum,


"Aku harap, anak itulah yang selamat!" batin Muti.

__ADS_1


__ADS_2