
Mereka mencoba memakan sup daging asap unta yang sangat lezat, paling tidak hal itu adalah suatu kemewahan yang sangat luar biasa yang mereka dapatkan selama berada di Pulau Kematian.
Mereka mencoba untuk istirahat dengan nyamannya, suara deru badai beberapa jam sekali selalu menderu-deru di permukaan bumi. Suara ketukan terdengar di pintu, Ayesha mengambil senjatanya begitu dengan semua orang.
Namun, seketika Ayesha menurunkan senjatanya ia mengetuk-ngetuk dinding papannya, suara deritan pintu masuk terbuka.
Beberapa wanita beeluf memasuki guanya, "Ayesha!" ucap wanita setengah tua. Ayesha berhamburan berlari kepelukan wanita tua, yang sudah membuka cadarnya.
Mereka saling menangis dengan pilu, para pion terdiam hanya mengawasinya saja dengan senjata masih berada di tangan mereka masing-masing.
Mereka tidak tahu harus berbuat apa, para beeluf memiliki ssesuatu ritual yang aneh. Mereka selalu menumpahkan air mata mereka saat mereka bertemu ataupun kematian di salah satu anggota mereka.
Semua wanita beeluf sudah membuka cadarnya, dan saling merubungi satu dengan yang lain bak seekor semut kepada ratunya. Menangis dan mengisak sedih, dan mengalunkan nyanyian yang aneh.
Para pion tidak mengetahui bahasa apa yang mereka gunakan, seperti bahasa zaman dulu kala. Mereka sendiri pun tidak pernah mempelajari maupun mendengarnya, hanya selentingan cerita mengenai sebuah kisah kuno-kuno bahasa sansekerta.
Ayesha memperkenalkan wanita yang bernama Yura kepada semua pion, begitu juga sebaliknya. Para beeluf begitu senangnya merangkul pion wanita, tetapi begitu melihat Hendro mereka sedikit merasakan malu dan mencoba mencuri pandang.
Bagi beeluf itulah untuk pertama kalinya mereka melihat pria yang tidak memiliki tatapan hasrat yang mengerikan bak singa lapar kepada mangsanya. Apalagi wajah Hendro sangat tampan, kebanyakan beeluf adalah eanita muda dan belum menikah, kecuali salah satu suaminya ada yang menjadi pion.
Sehingga mereka juga harus mengalami nasib yang sama tragisnya di Pulau Kematian,
Hendro begitu tersanjungnya. Ia merasa orang paling tampan, di tengah kerumunan para wanita.
Akan tetapi, ia menyadari tatapan Mona mengerikan seakan ingin menelannya bulat-bulat. Membuat Hendro mengkeret di sisi Mona, ia lebih takut kehilangan permata hatinya.
__ADS_1
Dari pada ia mencoba bermain hati, "Jangan, macam-macam!" ancam Mona. Hendro hanya tersenyum, "Percayalah, kuakui aku tidak main hati hanya bersandiwara menjadi seorang ban*i" tukasnya tersenyum.
Mereka sudah duduk di bale-bale bambu, "Ayesha, apa maksudmu dengan membawa para pion kemari? Apakah kau ingin menghancurkan semua beeluf?" tanya Yura.
Ayesha memandang Yura salah satu tetua yang mengajarinya berbagai ilmu sihir dan ilmu bela diri, ia masih mengingat begitu rapuhnya dirinya. Saat Alberto menculiknya dan membuat ia bertahan hidup di tengah gurun, tanpa keahlian bertempur dan pengetahuan apa pun.
Selama hidupnya ia sangat dimanja oleh keluarga dan suaminya, ia bagaikan seekor domba yang tersesat di tengah srigala lapar.
Bila tanpa ditemukan Yura ia sudah mati, karena melawan sepuluh orang tentara yang mencoba memperkosanya. Ia hanya ingin mati setelah membunuh musuhnya, ia bertahan hidup hanya mengandalkan nalurinya saja untuk mempertahankan nyawa dikandung badan.
Ia terluka di bagian lengan dan kakinya, ia sudah tidak mampu untuk berjalan lagi. Dengan bersimbah darahnya dan musuhnya ia terkapar di tengah gurun panas, di mana burung-burung bangkai mulai berdatangan untuk berpesta akan memakan jasad mereka.
Ayesha lemah hanya mampu bertahan dengan do'a dan kenangan bersama suaminya Heru, saat itu ia begitu membenci Heru.
Ia berpikir suaminya telah kawin lari dengan wanita lain, hingga menelantarkannya dan putri mereka yang sedang diculik Alberto.
Di sanalah awal mulanya ia menjadi Ayesha si wanita Iblis bermula,
semua orang-orang beeluf dan tentara Alberto menjulukinya. Ia mampu menggunakan badai untuk kekuatannya dan memanggil ular-ular, ia sendiri pun tidak tahu mengapa ia bisa belajar ilmu sihir yang mengerikan itu.
Tetapi Ayesha tidak peduli ia ingin bertahan hidup, di tengah gurun dan di Pulau Kematian. Ia rela memilih jadi Iblis sekali pun untuk mempertahankan kehormatan dan harga dirinya sebagai seorang wanita dan seorang istri juga ibu buat Nisa serta anak didiknya.
Ayesha memandangi tangannya yang dulu halus lembut, kini tonjolan otot bisep dan urar-uratnya semangkin terlihat, akibat banyaknya ia bertempur ia sudah lupa menjadi wanita yang lembut.
Akan tetapi kini, ia sangat bahagia melihat suaminya sudah ada di pulau ini bersama para pion, ia bahagia ternyata selama ini praduganya hanyalah su'ujon semata.
__ADS_1
Ayesha masih memandang wanita tua di depannya, uban wanita itu sudah lebih banyak dari terakhir mereka bertemu di balik kerudung merahnya,
"Aku bertemu dengan suamiku bersama para pion, aku rasa sudah waktunya kita bersatu dengan para pion untuk menghancurkan Alberto Kuro, aku sudah lelah melihat semua adik-adikku mati satu per satu, Ibu!" jawab Ayesha.
Yura memandangnya dengan tatapan lembut seorang ibu, "Apakah kau yakin, kali ini kita berhasil?" tanya Yura.
Ia sudah berulang kali melakukan perlawanan, tetapi semuanya selalu gagal. Selalu saja ada pengkhianat dipihak mereka, maupun hatter yang begitu dendamnya kepada beeluf, juga para ninja yang memiliki kesetiaan yang sangat luar biasa kepada Alberto.
Yura memandang Ayesha, "Aku sangat yakin, aku sudah lelah. Hidup atau mati bagiku sama saja, bukankah bagi mereka yang sudah tewas tidak juga dapat bertemu dengan keluarga mereka yang disandera oleh Alberto?" ucap Ayesha,
"aku lelah, bila sampai kematian pun tidak mempertemukan kita dengan keluarga. Apalah arti semua kesetian dan pengorbanan kita selama ini?
"Jangan-jangan semua itu hanyalah gertakan Alberto, untuk membuat kita terpasung di sini!" sambung Ayesha.
Semua orang terdiam, suara hentakan kaki berderap sangat banyak di atas sana, "Apakah ada yang masih memiliki chip asli dari Crabs?" tanya Yura kepada semua orang. Para pion menggeleng, begitu juga beeluf.
"Bagaimana dengan senjata kalian?" tanya Yura. Semua orang memperhatikan senjatanya, Yura dengan ilmu gaibnya menerawang dan menemukan sesuatu di samurai milik Mona, "Kemarikan, samuraimu!" ucap Yura menunjuk Mona.
Mona begitu bingung, Ayesha menganggukan kepalanya, ia menyerahkan pedangnya. Yura membuka gagang samurai dan mendapati chip tersembunyi di sana.
Ia langsung mengambinya, "Bakar, ini!" lerintahnya, Kirana mengambil chip dan membakarnya dengan senapan laser. Derap kaki masih berputar di atas permukaan bumi, mereka bersiap-siap dengan senjata di tangan mereka.
Yura sudah memberikan samurai kepada Mona, "Samuraimu luar biasa ganas, hanya saja pemilik sebelumnya. Kemungkin kepala klan samurai, ia memiliki sebuah kepatuhan yang terlalu kepada atasannya.
"Berhati-hatilah, jiwamu akan menyatu dengannya! Bila kau terlalu banyak menumpahkan darahmu sendiri," ucap Yura.
__ADS_1
Ia masih memandang samurai milik Mona, dengan pandangan mengerikan.
Ayesha menghitung tepat hitungan ke-60, mereka mendengar deru angin badai pasir, membuat semua tentara pontang-panting berlarian menyelamatkan diri.