Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pernikahan Para Pion (Tamat)


__ADS_3

Dua bulan kemudian, setelah pernikahan indah Darmanto dan Marta.


Di musim kemarau yang indah di Pulau Beeluf. Di antara bunga-bunga lila di tebing hatter, yang menjulang di hadapan makam Aoi dan Yahmen.


Dan bunga-bunga kuning dan merah di lembah. Di antara sungai yang mengalir rendah dan jernih di antara bebatuan berkilau.


Di antara rumah Balian dan Mano beserta 50 anaknya. Berjejer pesta meriah dengan bangku-bangku dari anyaman bambu buatan beeluf.


Dihiasi bunga-bunga, 10 kursi yang terbuat dari anyaman bambu berjejer dengan sederhananya.


Namun, sangat indah dan mewah, semua tamu undangan hadir dengan pakaian merah dan putih. Duduk dengan teraturnya, anak-anak berlarian membawa bunga lila, merah, dan kuning.


Berbaris berjajar 9 orang pion di tambah Kasumi berdiri dengan indahnya di dalam balutan pakaian merah mereka berbaris menuju altar ijab kabul.


Dengan penghulu Sepuh Rayun yang masih sehat walaupun telah renta. Kini, wajahnya tidak ada lagi dicat hitam dan tidak memakai pakaian hitamnya.


Ia persis seperti kembarannya Sepuh Rayan. Kirana, Mona, Nara, Sukuna, dan Kasumi berjalan berlahan dituntun para orang tua dan walinya.


Kirana didampingi Naninya, Sukuna didampingi Mano, Kasumi didampingi Ayesha, Nara didampingi Ibunya, dan Mona didampingi Yura.


Mereka mengapit pengantin wanita memasuki altar pernikahan para suami dengan pakaian merah bersulam emas duduk di depan para ayah dan wali mereka.


Acara sakral ijab kabul begitu indah dan khidmatnya. Semua orang berdo'a dan bergembira.


Mengucapkan selamat kepada semua pengantin. Mereka begitu bahagianya disiarkan secara langsung melalui layar monitor peninggalan Alberto.


Menyelesaikam game yang tertinggal. Mereka ingin menyampaikan kepada dunia, kebenaran dan kebaikan akan selalu menang di atas segalanya.


Malam purnama yang indah turun, mereka telah berganti pakaian dengan pakaian beeluf merah dengan bunga di atas kepala sang pengantin wanita.


Menari di sana dengan iringan seruling anak-anak beeluf melantunkan lagu indah milik Yahmen dan semua orang beeluf.


Mereka menari beeluf dengan pasangan mereka masing-masing.


Mona dan Hendro masih saja saling menginjak kaki dan tertawa juga bertengkar.


"Gaunmu terlalu panjang, sayang!" ujar Hendro sebal ia harus berhati-hati agar tidak menginjak pakaian istrinya.


"Masa aku pakai rok, mini?" balas Mona kesal.


"Mau panjang atau pendek nanti juga aku, lepas!" balas Hendro tidak sabaran.


"Dasar, omes!" balas Mona keki dan senang keduanya tertawa.


Hendro menggendong Mona seperti anak kecil, di saat keduanya menari.


Kabir dan Kirana menari dengan indahnya dari semua orang, mereka benar-benar menikmati tarian beeluf dan saling memeluk di bawah cahaya lampu dan purnama.


Kasumi dan Will malu-malu menari dan berpegangan tangan. Namun, Will yang rada gesrek langsung saja menarik pinggang Kasumi untuk merapat ke arahnya.

__ADS_1


Zai masih saja terpesona di saat Sukuna menari ala geishanya. Membuat sesuatu di bawah sana bangkit dan ingin ke luar dari sarangnya.


Sukuna terus saja menggodanya. Akhirnya Zai meraih istrinya di dalam pelukan indah mereka.


Nara dan Junaid menari ala dewa perang khas Papua. Keduanya tertawa dan gembira.


Marta menarik Darmanto untuk menari begitu juga Ayesha dan Heru. Keduanya menarik Balian dan Mano untuk menari bersama mereka.


Toto dengan bangganya mengajak Aisyah istrinya yang hamil besar menari di sana.


Kali ini ia tidak sibuk makan seperti dulu, ia lebih dewasa dan atletis juga tampan.


Mereka menari dengan indahnya, Mano menangis begitu juga Balian saat mereka saling memandang dan berpelukan.


Keduanya mengingat saat pernikahan mereka bersama dengan pasangan Aoi Si Srigala Tebing Hatter dan Yahmen Si Elang Beeluf.


Semuanya sama persis, membuat kenangan itu kembali lagi.


"Yahmen, Aoi, lihatlah! Kami bahagia di sini. Aku harap kalian pun bahagia di, sana!" ucap Mano.


Ia memandang makam pasangan cinta sejati di tebing sana dengan pualam putihnya yang diberikan pemerintah untuk mengenang keduanya.


"Keduanya adalah pasangan, hebat! Allah akan menjaga, mereka." Balas Balian memeluk istrinya yang masih menangis.


Mano melihat bayangan pasangan Yahmen dan Aoi mengawasi mereka di langit dengan kawanan srigala Aoi.


Merasakan jika sahabatnya bersama dengan mereka disana menikmati segala kebahagiaan. Kemerdekaan dan kebebasan mereka adalah warisan para pejuang yang telah mengorbankan nyawa di medan tempur.


Mereka melewati acara demi acara dengan meriahnya.


Saling tertawa bahagia, melupakan segala kepahitan yang pernah ada.


"Aduh, perutku!" rintih Aisyah. Memegang perut bundarnya,


"Ada apa, sayang?" teriak Toto.


Tarian terhenti seketika semuanya merubungi Aisyah dan Toto, "Aisyah mau, melahirkan!" teriak Nara, "bawa ke rumah, sakit!" perintah Nara.


Toto langsung membopong istrinya berlari, semua pion berlari mengikuti Toto ke RS.


Semuanya seperti kejadian saat mereka melepaskan diri dari tentara Alberto.


Sesampainya di sana, Nara menyingsingkan lengan baju pengantinnya untuk menolong Aisyah melahirkan.


Se-jam kemudian suara tangisan bayi melengking, Toto begitu lemasnya. Semenjak tadi ia begitu gelisah, semua orang tidak pernah melihat Toto begitu gelisah.


Semua orang menghibur dan menepuk pinggangnya, "Kalian tahu! Lebih menegangkan menghadapi istri yang sedang melahirkan. Dari pada menghadapi kaki tangan, Alberto!" ujarnya lemah.


"Benarkah?" tanya Hendro. Ia semangkin mengeratkan genggaman tangannya kepada Mona.

__ADS_1


"Kalian, akan merasakannya. Suatu saat, nanti. Saat ini, giliranku!" cengirnya.


Nara ke luar dari ruang bersalin membawa seorang bayi mungil yang digedong tertidur di lengannya.


"Selamat, seorang bayi telah lahir. Seorang putri dari Bapak Toto Amfriono dan Ibu Aisyah. Pukul 21.00 dengan-" kata Nara terpotong saat semua orang merubungi sang bayi.


"Wah cantik!"


"Hebat kamu, To!"


"Besok kita besanan, ya?"


Suara-suara bergema, Toto menangis bahagia memandang karyanya dan Aisyah. Semua orang mengucapkan kata selamat.


Toto melakukan kewajibannya yaitu menqomatkan putrinya.


"Ayo, siapa namanya?" tanya Kabir.


"Yahmen! Namanya adalah Yahmen. Untuk mengenang kita pernah di sini bersamanya. Aku harap. Kelak, bila ia dewasa. Ia akan seperti Yahmen."


Toto melihat Putrinya dengan tatapan bangga, semua orang mengamininya.


Acara malam pertama para pion gagal, mereka menemani Toto.


***


Setiap tahunnya mereka berkumpul di Pulau Beeluf. Untuk bersilaturahmi dengan semua pion, beeluf, hatter, dan Suku Hideng.


Mereka membawa semua keluarga kecil mereka. Mengajari kepada keturunan mereka, arti sebuah persahabatan dan persaudaran.


Mengajari kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Kekompakan selalu menghasilkan keberhasilan.


Cinta dan kasih sayang adalah pondasi utama dari semuanya.


Semua pion bahagia dan bangga akan segala persahabatan mereka.


Mengajari kasih sayang sesamanya para pion masih sering berlarian di seluruh wilayah pulau untuk mengenang segala perjuangan mereka.


Kini, Pulau Kematian telah berubah damai, indah, tentram, dan juga kaya. Semuanya berkat perjuangan dan persaudaraan yang tiada tandingnya.


———————Tamat——————


" Terimakasih, buat semua reader yang masih setia menemaniku menyelesaikan cerita fiktif ini. Semua cinta dan kasihku untuk kalian semua.


Untuk putriku, Shelby, Abdul muis, Suwandi, Nurhayati, dan semua sahabat di grup sharing author is the best.


"Thanks so much. I love u"


jangan lupa mampir di karya twrbaruku : I Can Live without You

__ADS_1


__ADS_2