Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pulau tak bertuan


__ADS_3

Para pion dan beeluf berdampingan bekerja sama membuat kano, Rani memberikan minuman kepada semua orang.


Ia memberikan dengan penuh senyuman dan keceriaan, sebaliknya ia bersikap ogah-ogahan saat memberikannya kepada Kevin.


Kevin hanya terdiam termangu, Kabir menepuk bahu Kevin. "Sabarlah, nanti juga ia akan percaya kepadamu!" ujar Kabir.


Kevin hanya tersenyum, ia melihat Kirana begitu manisnya menyeka keringat yang membanjiri dahi Kabir dengan penuh kasih.


Mona masih saja mengganggu dan bertengkar dengan Hendro saat keduanya membalurkan sejenis getah damar untuk melapisi sekuruh badan kano agar kuat.


Keduanya saling memunggungi dan bertemu saat keduanya berlaga pinggul hingga keduanya kembali beradu mulut dan saling mengejek juga tertawa.


Semua orang hanya menggelengkan kepala, mereka selalu memahami lasangan yang satu itu selalu saja perang mulut.


Akan tetapi sedetik kemudian Mona sudah menyandarkan kepalanya di bahu Hendro kala lelah, perut Ayesha sudah kelihatan semangkin menonjol.


Heru begitu bahagianya walaupun di hatinya ia sedih, ia tidak mengetahui di mana putrinya Nisa berada.


Yahmen dan Mano juga membantu suami mereka mengerjakan kano, Darmanto dan Marta membuat dayung bersama Zai dan Sukuna.


Toto dan Will belajar melubangi kano, dengan tubuh besar dan gempalnya Toto secepat kilat menebang beberapa pohon.


Nara sibuk membantu para wanita beeluf memasak sesuatu di tungku batu, mereka begitu antusiasnya.


Elang di angkasa menguik mengitari pulau, Yahmen melihat elangnya begitu ribut memberitahukan sesuatu.


Yahmen hanya memandang tanpa bicara sepatah pun, sebaliknya ia berusaha untuk bersemangat.


Pada akhirnya semua kano telah siap untuk digunakan, semua pion dan beeluf bergandengan tangan dengan oasangannya.


Memandang hasil kerjaan mereka, semuanya merasakan sebuah ketakjuban yang luar biasa.


Mereka tidak menyangka secepat itu mereka membuat kano yang sangat kuat, Yahmen melantunkan sebuah kidung kepada alam sebagai ucapan terima kasihnya.


Senja bergulir, setelah makan malam. Mereka menggotong 3 buah kano ke tepian pantai, yang sedikit terjal yang jauh dari pelabuhan.

__ADS_1


Trio mekanik telah menembakkan lasernya untuk melubangi tembok pembatas yang dibuat oleh Alberto di sepanjang tepian pulau.


Mereka menggotongnya kano ke tepian pantai, semua pion di tambah Kevin, Sukuna dan Rani sudah di tepian pantai.


Yahmen menembangkan sesuatu kidung lainnya, melepas kepergian 3 kano menuju pulau tak bertuan.


Mereka melengkapi tubuh mereka dengan senjata, air laut tiba-tiba bergulung dan meninggi.


Semua orang begitu takjubnya, "Apakah ini fenomena alam ataukah karena kidung Si Sepuh Yahmen!" ujar Darmanto.


Ia bersama Marta, Junaid, Nara, dan Will sudah mulai mendayung dengan mudahnya di antara karang yang melintang.


Kabir, Kirana, Mona, Hendro dan Heru di dalam satu kano.


Sedangkan Kevin, Sukuna, Zai, Rani dan Toto di kano lainnya.


Mereka berlahan tetapi pasti mulai mendayung di kano, mereka menembus di celah bebatuan karang tanpa penerangan apa pun, hanya mengandalkan sebuah cahaya bulan sabit.


Mereka terus menyusuri lautan yang tak bertepi di antara celah karang, mereka bersyukur ombak melancarkan mereka seakan membawa mereka dengan mudahnya.


sebongkah do'a dan pengharapan untuk semua orang yang pergi, mereka berharap semuanya kembali dengan selamat.


Kano yang mereka tumpangi meliuk-liuk di antara ombak yang menghempas, mereka sampai di tepian pantai yang menjorok ke tebing. Mereka menyembunyikan kano mereka, di antar bebatuan karang.


Semuanya bersyukur tidak adanya tembok pembatas di sepanjang pulau tak bertuan, sehingga memudahkan mereka menyelinap.


Mereka mencoba untuk berusaha menyelinap dan tidak menimbulkan suara, gaungan heli masih berputar pulang-pergi entah dari mana dan mendarat ke pulau tak bertuan.


Kabir memandang pulau kematian yang terlihat suram dan mengerikan di seberang, hanya tembok pembataslah yang terlihat bak gundukan pekat di kejauhan.


Mereka memasuki pulau tak bertuan begitu mudahnya, "Terlalu mudah! Sangat mengerikan" ujar Hendro ia begitu was-wasnya.


Ia takut dengan segala kemudahan yang mereka dapati, "Seperti bukan milik Alberto, mengapa ia begitu longgar di dalam memberikan perlindungan pulaunya?


"Seperti bukan dia, apakah dia sudah mulai melemah?" tanya Darmanto.

__ADS_1


Heru menarik senjata lasernya bersiaga, ia takut akan banyak hal. Semua orang mengeluarkan senjata lasernya, mereka semangkin memasuki hutan lebat tetapi tidak selebat hutan kegelapan yang angker.


Mereka masih bersembunyi di balik pepohonan, melihat para tentara hatter mayat berjalan berkelontangan dengan senjata yang mirip laser di tangannya bersiaga.


Mereka melihat tentara sekelas si leher beton yang berbaris, heli menurunkan kargo-kargonya. Si leher beton beserta tentara lain mengangkut kargo.


Memasukkannya ke dalam rumah besar, yang berdinding mirip stainles dan krom yang berkilau ditimpa cahaya.


Mereka masih mengawasi, di salah satu heli mereka melihat salah saru jendrak dari tanah air yaitu Balian yang memiliki nama yang sama dengan Tetua Balian yang sudah renta.


Ia dengan tampang bongsornya dan cerutu mahal yang terselip di bibirnya masuk ke dalam bangunan putih stainles.


Semua orang melakukan gerakan hormat, "Sial! Si berengsek inilah, yang merekomendasikanku untuk menjadi pengawal. Ia juga yang membuatku membusuk, di sini!" umpat Heru kesal.


Darmanto dan Marta terkesiap, "Berarti kita sudah ditipu olehnya, aku juga!" ujar keduanya.


Pion yang lain tidak mengetahui semua hal, karena mereka adalah orang-orang sipil, berbeda dengan Ketiganya yang berasal dari korps yang sama yaitu AL.


Junaid menggenggam erat senjatanya, ia tidak menyangka atasannya sendiri yaitu Karjo di Kapolri turut ambil bagian, ia berjalan turun dari heli lain di belakang Balian sang jendral licik.


Keduanya saling berangkulan dan tertawa, tidak berapa lama petinggi-petinggi negara asing bermunculan. Sukuna terdiam ia pun sudah dijebak oleh seorang ketua yakuza di negaranya salah satu kakak dari Yamada.


Kevin terkesiap meliahat atasannya, "McQuin? Sial! Dia yang menjebakku di perbatasan Scotlandia" ujarnya.


Semua orang kini menyadari banyak hal, semua kehidupan mereka sudah diatur dan direncanakan oleh atasan mereka.


Perjuangan dari sebuah ketulusan untuk membela negara mereka dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Semua merasakan kepediahan di sana, dendam itu semangkin jelas.


Mereka bingung harus berbuat apa, untuk sesaat mereka merasakan suatu dejavu dan keterkejutan dan kepahitan. Mereka melihat begitu banyaknya orang-orang rakus di sana, kemungkinan belum semuanya berkumpul.


Sebuah gaungan sirene alarm bergema, para pion tidak tahu apa yang telah terjadi. Semua tentara di depan mereka berlarian bersiaga, Will melihat ke arah pepohonan yang mereka pegang.


Mereka menyentuh suatu yang sengaja mereka pasang hingga mereka tidak membutuhkan tembok.


Sehingga Alberto mengetahui jika adanya penyusup yang datang, "Jangan sentuh pohonnya!" teriak Will.

__ADS_1


Semua orang menarik tangan dan menjauhi pohon, mereka beringsut menjauh dan berpencar.


__ADS_2