Pulau Kematian

Pulau Kematian
Intriks


__ADS_3

Ketiga tetua itu saling berpelukan dan menangis, kerutan di wajah dan tubuh tua renta mereka serta uban di kepala sebagai saksi bisu perjuangan dan kerasnya kehidupan yang sudah mereka lalui karena sadisnya seorang Alberto Kuro.


Mereka saling memandang dan tertawa, "Kau sudah sangat tua Aoi! Apakah kau tidak cukup makan yang banyak?" tanya Yahmen.


Ia membelai kerutan di wajah Aoi, "Semua itu karena aku sangat merindukanmu, Yahmen!" balas Aoi. Ia memegang jemari Yahmen di wajahnya, semburat merah mewarnai wajah renta Yahmen.


Semua orang yang hadir tersenyum dan tersipu malu, "Pantas saja Ketua Balian dan Tetua Mano tidak menikah, mereka tidak ingin bahagia di atas kesedihan sahabat mereka. Sementara ada sahabat mereka yang tidak menikah," ucap semua beeluf dan penduduk Hutan Kegelapan.


Yahmen memandang semua pion, "Apakah kalian baik-baik, saja?" tanya Yahmen. Semua pion tersenyum, "Kami baik-baik saja, Sesepuh!" jawab semua serentak.


Mereka berkumpul di sebuah bale kayu dan bambu di bawah pohon rindang, "Aku ..., di dalam pertemuan kali ini. Aku sangat bahagia bertemu dan berkumpul dengan semua sahabat lamaku,


"Dan aku meminta maaf atas semua perbuatanku di masa lalu, yang langsung menghukum kalian. Atas segala hal, yang tidak pernah kalian lakukan." Yahmen menatap ketiga sahabat tuanya,


"Sekarang, aku tahu semua itu adalah intrik dari Alberto. Di sini kita berkumpul, aku ingin kita bersatu bersama untuk menghancurkan Alberto Kuro. Apakah kalian setuju?" tanya Yahmen.


"Kami setuju!" jawab semua orang serempak.


Kesemuanya berbicara dan mengutarakan semua pendapat mereka, "Kita akan menyerang Alberto di empat wilayah pintu masuk kastil," jawab aoi.


"Empat pintu masuk?" tanya Kabir. Ia baru mengetahui bahwa ada 4 pintu masuk menuju kastil, "Iya, ada empat pintu masuk, timur, barat, utara, dan selatan. Kita harus mengalahkan para hatter di tebing terlebih dahulu," tukas Balian.


"Hatter sekarang adalah hatter palsu, kita harus melumpuhkan mereka dan kaum beeluf penjaga listrik. Selain itu, kita harus menghancurkan jaringan telekomunikasi milik Alberto," ucap Yahmen.


"Kita membutuhkan semua pion, sebaiknya kalian mencari para pion yang masih di luar sana. Aku takut mereka terjebak dengan tipu muslihat seperti yang Alberto lakukan kepada kami," kata Mano,


"apalagi, kita sudah mengetahui. Ia menggunakan topeng untuk mengelabui kita, aku tidak ingin para pion terpecah!" sambung Mano.


Semua orang terdiam, "Sebaiknya kalian para pion pergilah cari semua pion lainnya, sebagian biarlah berlatih di sini untuk menyerang ke sarang hatter dan beeluf juga ninja." Yahmen memandang semua orang


"Alberto juga menyewa beberapa serdadu bayaran, dari luar negeri. Aku yakin mereka bekerja sama dengan, orang luar!" ucap Kabir.

__ADS_1


Semua orang memandang Kabir, "Maksudmu, Nak?" tanya Balian.


Heru dan Kabir menceritakan semua yang mereka lihat di pelabuhan, "Dasar, biadab!" ucap Yahmen.


"Sebaiknya, segeralah cari semua pion. Kita harus berkumpul, di sini!" perintah Yahmen.


Keesokan paginya, Kabir, Heru, Kirana, Mona, Hendro, Nara, Ayesha, dan Marta kembali mencari sahabat mereka. Para pion melintasi gurun, dengan badai pasir yang menggulung di sekitar mereka.


Mereka menuju ke gua air terjun, dari kejauhan mereka melihat beberapa heli sedang hilir mudik di wilayah pantai. Mereka terus berlari,


Berusaha untuk menghindari pertempuran, mereka berusaha untuk tetap selamat agar memudahkan mereka menyerang kastil ke depannya.


***


Sementara Darmanto dan Junaid, masih menanti di dekat gua air terjun di mana beberapa tentara bayaran sedang berjaga. Darmanto dan Junaid melihat tentara Alberto tidak juga menjauhi gua mereka,


"Kalian lagi, apa?" ucap Toto. Ia sudah berada di belakang mereka, "Toto?" ucap Darmanto dan Junaid serempak, "Bagaimana dengan Zai, Will, dan Sukuna?"tanya Junaid.


Beberapa jam kemudian para tentara meninggalkan gua, ketiganya berusaha untuk mengendap-endap di antara semak-semak untuk menyelinap masuk ke dalam gua.


Namun, mereka masih melihat beberapa tentara Alberto di depan mereka hingga ketiganya mencoba mundur menjauhi gua. Ketiganya mencoba untuk beristirahat di balik bebatuan,


Junaid memandang ke arah Toto dengan tatapan curiga, "Bagaimana Zai dan Will bisa tewas?" tanya Junaid.


"Kami melawan para tentara dan mereka tertembak, aku sedikit jauh dari mereka semua!" jawab Toto. Ia sedikit malas berkata membuat Darmanto sedikit curiga, "Ada yang aneh, dengan Toto! Ia bukan seperti dirinya?" batin Darmanto.


Ia berdiri di antara ceruk batu di pinggir sungai, "Aku akan mencari ikan. Kalian, istrahatlah!" ucap Darmanto. Ia meninggalkan keduanya menyusuri tepian sungai bagian hilir.


Junaid merasakan sebuah kelelahan ia merasa mengantuk, "To, aku tidur dulu! Kalau ada apa-apa kamu teriak, saja!" ucap Junaid.


Ia mencoba untuk dudukdi antara batu yang menjorok, menyembunyikan dirinya untuk tidur dengan nyaman

__ADS_1


Toto mengawasinya dengan seringai yang sangat berbeda, beberapa menit dia menanti akhirnya Junaid tertidur.


Ia membunyikan suatu suitan, 3 orang tentara Alberto datang mengepung Junaid yang sedang tertidur, mereka mengacungkan senjata ke arah Junaid yang masih tertidur.


Toto berpura-pura berbaring berdarah, ia membaluri tubuhnya dengan sekantung darah. Ia berpura-pura berbaring di bebatuan, para tentara ingin memberondongkan senapan ke arah Junaid.


Breshhh!


Sebuah tembakan sinar laser membunuh 3 orang tentara yang ingin membunuh Junaid, hingga hancur lebur. Membuat Junaid terjatuh tersungkur karena ia begitu terkejut dari tidurnya,


ia melihat serpihan tentara, Junaid melihat Toto tidak jauh darinya sudah bersimbah darah. Junaid berlari ke arah Toto, akan tetapi sebuah sangkur terbang menancap ke salah satu dada Toto, "Aakggr!" jerit Toto.


Junaid terkesiap, ia melihat Darmanto ke luar dari balik semak dengan mengarahkan senjatanya ke arah Toto, "Apa yang kau lakukan, Dar?" tanya Junaid.


Ia begitu bingungnya melihat kedua sahabatnya saling membunuh, "Minggir, kau Junaid!" bentak Darmanto.


Junaid terkesiap ia tidak pernah melihat kemarahan yang begitu besarnya di mata Darmanto, "Kau gila! Dia Toto teman, kita?" teriak Junaid.


Darmanto hanya diam ia mengkokang senjata lasernya, "Siapa, kau?" bentak Darmanto menekan ujung sangkurnya di dada Toto dengan kakinya, "A-aku To-to!" jawab Toto terbata.


Darmanto semangkin dalam menginjak sangkurnya, darah menyembur dari luka Toto. Junaid mengambil senjata lasernya mengokang ke arah Darmanto,


"Hentikan Dar, apa yang kau lakukan? Aku akan menembakmu, bila kau menembak Toto. Biarkan aku mengobatinya!" ucap Junaid.


ia berusaha mendekati Darmanto dan Toto, "Katakan, siapa kau?" bentak Darmanto. Suaranya semangkin meninggi,


ia masih saja terus menekan sangkurnya yang sudah masuk ke seluruh dada Toto, "Hentikan, Dar! Aku bilang, Hentikan! Aku akan, menembakmu!" ancam Junaid.


Ia sendiri pun bingung mengapa Darmanto dan Toto berkelahi, "Ingat, kita sahabat. Jika ada yang salah, kita bicarakan baik-baik! Bukan begini?" kata Junaid.


Ia masih berjalan berlahan dengan mengarahkan senjatanya ke arah Darmanto,

__ADS_1


__ADS_2