
Mereka terus berjalan kembali berulang-ulang di daerah itu, akhirnya mereka sampai ke dalam gua air terjun. Will langsung mengambil laptopnya memasukkan chipnya ke USB, ia mempelajarinya dalam 1 jam.
Sementara yang lain membersihkan diri, menangkap ikan, dan memanggangnya. Mereka masih menunggu sisa pion yang lain, tidak begitu lama kelompok Heru, Ayesha, Sukuna, Zai, Nara, dan Junaid sampai.
Mereka melihat Sukuna masih lemah, tetapi wajahnya sudah mulai cerah kembali. Mereka segera membersihkan diri dan memakan ikan bakar, "Sudah bagaimana keadaan, Sukuna?" tanya Kabir.
Ia melihat Sukuna masih lemah, Zai membaringkannya di salah satu sudut gua di atas sebuah batu pipih. Ayesha dan Rani mendekat, mereka mencoba menyuapi ikan bakar ke mulut Sukuna.
Nara berusaha untuk memberikan kapsul obatnya, Zai hanya melihat dari tempat duduknya. Ia merasakan kasihan dan entah mengapa ia merasa sebuah ikatan batin kepada Sukuna, padahal mereka baru saja bertemu di pulau ini.
Namun, Zai merasa mereka sudah lama bertemu. Zai berusaha menepis segala hal di pikiran aneh yang mulai mengganggunya, ia berusaha untuk mengingat tunangannya di kampung. Akhirnya ia beranjak mencari Will dan Toto yang sedang melihat ke laptop, mereka saling pandang dan mulai berkasak-kusuk.
Mereka mengedarkan pandangan, "Kelompok Hendro yang belum kembali," ucap Kirana lirih. Ia merasakan sedikit rasa cemas dan was-was, Nara menyentuh pundak Kirana menepuknya dengan lembut.
Kirana hanya mampu menggenggam tangan Nara mereka saling tersenyum dan mendekatkan kepala mereka, "Percayalah, Mona akan baik-baik saja!" hibur Nara.
Walaupun jauh di hatinya, ia pun merasakan sebuah kecemasan yang luar biasa. Berulang kali mereka berdua berjalan dan menunggu di balik air terjun, berharap keduanya akan segera pulang.
Suara gemercik air yang dipijak beberapa orang terdengar dari balik air terjun, Nara dan kirana mengeratkan pegangan senjata mereka. Keduanya mencoba untuk mengintai, mereka bergerak bersembunyi di samping kanan-kiri pintu gua.
Hendro, Mona, dan kedua wanita beeluf memasuki gua. Kirana dan Nara menurunkan senjata mereka, keduanya merangkul Mona dengan kegembiraan.
Mona berkata, "Apakah kalian merindukanku?"
__ADS_1
Nara dan Kirana tersenyum bahagia, "Pasti! Ga ada pasangan heboh, ga seru!" jawab Kirana.
Hendro tersenyum menanggapi obrolan para gadis, ia terus memasuki gua. Nara masih saja bertanya dengan kecerewetannya,
"Mengapa kalian begitu lama sampai di, sini?" tanya Nara.
Mona berada di antara keduanya, "Kami melihat para hatter yang aneh, begitu sulit mengalahkannya. Anehnya ia bisa mendengar suara, walaupun kita hanya berbisik!" jawab Mona.
Kirana mematap Mona, "Apakah hatter itu memakai lempengan besi di kedua pelipisnya?" tanya Kirana. Ia ingin meyakinkan, apa yang dimaksud oleh Mona adalah hatter yang berjenis sama. Mereka pun kewalahan saat bertarung dengan mereka, sebuah ketakutan yang ia rasakan saat bertarung dengan para hatter yang berbeda.
Mona hanya menganggukkan kepala, kedua wanita beeluf sudah masuk ke dalam gua mencari Ayesha dan semua kelompoknya, Hendro sudah berkumpul dengan Kabir, Darmanto, Heru, dan Junaid.
Mereka saling berbicara banyak hal dan tertawa, mencoba untuk menikmati hidup. Mereka kembali berjalan pelan menuju ke arah lorong lainnya mencoba mengintai keadaan kastil di bagian dapur Alberto,
mereka ingin mencoba mencuri senjata lagi nanti malam, dan mencari tahu apa yang sebenarnya direncanakan seorang Alberto.
Wil dan kedua temannya hanya terdiam, "Selain mengambil chip dari lempengan, agak sulit untuk membunuhnya, Crabs terlalu pintar!" jawab Will. Kesemuanya terdiam, mereka merasa bahaya kali ini terlalu berat,
"Apakah tidak ada cara lain yang akan kita gunakan? Kalian tahu mereka begitu hebatnya, apalagi senjata pun tidak mempan kepada mereka." Kirana memandang trio mekanik.
Keheningan terjadi, kali ini mereka seperti kehilangan sebuah harapan hidup. Ayesha mendekati Heru ia duduk di sisi suaminya, "Maksud kalian hatter yang bagaimana?" tanyanya.
Kabir dan Hendro menceritakan mereka bertempur dengan hatter yang memiliki kekuatan setengah robot, kening Ayesha mengerut berpikir keras. Ia mencoba mengingat banyak hal, Mona juga bercerita bahwa mereka pernah bertemu dengan hatter yang memakan daging manusia, "Apa?" pekik Ayesha terkejut.
__ADS_1
Ia tidak menyangka mutasi hatter begitu mengerikan, "Setahuku mereka tidak pernah memakan daging manusia, walaupun sebarbarnya kelompok mereka. Apakah sudah ada yang terjadi dengan kelompok mereka di ceruk tebing?" kata Ayesha.
Ia seakan bersuara seperti cicitan, ia seakan berbicara kepada dirinya sendiri. Ia memandang Sukuna dan ketiga beeluf lainnya, "Dulu kami pernah bertempur dengan para hatter, kekalahan dipihak hatter. Namun, kami hanya melawan hatter tingkat 1 sampai 3 saja," ucap Ayesha termenung,
"Kami tidak melihat dan tidak pernah bertemu hatter dengan level 4 dan 5, banyak orang bilang mereka sangat hebat. Akan tetapi Alberto menyiksa dan mengurung kami," sambungnya.
Ia merasakan getir yang teramat panjang di Pulau Kematian, "Kalau kalian bilang, mereka memakan daging manusia. Kemungkin itu hatter yang berbeda lagi, mungkin Crabslah yang sudah berbuat." Ayesha terdiam.
"Bagaimana jika kita ajak mereka bekerja sama untuk menumbangkan Alberto?" usul Kirana.
ayesha terdiam sesaat, "Aku tidak yakin mereka mau, mereka memiliki hak istimewa setelah ninja. Kami hanyalah pelengkap saja, hanya penjaga pasokan listrik dan di tempatkan di gurun karena mereka tidak ingin kami ke luar dari pulau ini," jawab Ayesha.
Kirana memandang Ayesha dengan banyak duka dan kesedihan yang telah dialaminya, ia sendiri tidak tahu bahwa suaminya pun berada di pulau tersebut.
Kirana mencoba untuk mengutarakan niatnya, "Bagaimana jika kita mengajak kaum beeluf bekerja sama?" tanya Kirana.
Ayesha memandang Kirana, "Andaikan bisa kami pun mungkin sudah lama bergerilya seperti kalian, sayangnya semua orang terlalu mementingkan diri sendiri. Tetapi mungkin, pasukan beeluf cadar merah ..., kemungkinan mereka mau. Bagaimana jika kita menyusup ke sana?" tanya Ayesha.
Para pion saling pandang, akhirnya mereka menganggukan kepala. Ayesha kembali memandang ke arah Sukuna, "Aku titip Sukuna, siapa yang ingin menyusup ke wilayah beeluf?" tanyanya.
Kirana, Mona, Marta, Nara, mereka mengacungkan jari telunjuknya "Hanya kami sajakah?" tanya Mona. Ia menyikut lengam Hendro, "Aku harus berpakaian apa?" tanyanya dengan menggaruk-garukkan kepalanya.
Ayesha dan Rani tersenyum, "Berpakaianlah seperti kami," jawab Rani sambil tertawa.
__ADS_1
Hendro merasakan suatu kengerian membayangkan hal itu, "Tidak bisakah aku berpakaian begini, saja?" tanyanya. Semua wanita beeluf menjawab dengan tegas, "Tidak!" ucap mereka serempak.
Hendro hanya menggaruk-garukkan kepalanya, seperti yang sudah disepakati mereka pun melakukan aksi mereka menyelinap masuk ke wilayah beeluf.