Pulau Kematian

Pulau Kematian
Tentang sebuah rasa


__ADS_3

Hujan semangkin deras membasahi bumi, Kabir mengintai dari dalam kayu yang gerowong. Ia masih mendekap Kirana di sisinya,


napas Kirana yang teratur dan kehangatan tubuhnya membuat Kabir sedikit lega.


Ia berharap Kirana segera siuman, paling tidak ia tidak selalu was-was jika musuh mendekat.


Kabir memandang wajah Kirana, segenap rasa yang begitu membuncah di nalurinya bergetar, "Ingin rasanya, aku memberikan cinta kasih dan menyelamatkannya. Aku sangat menyukai senyumanmu .... " batin Kabir.


"Ibu, aku harap Ibu dan Dede baik-baik saja! Aku pasti pulang," lirihnya.


Setiap tetes hujan benar-benar mewakili semua perasaan yang dirasakan oleh Kabir, kerinduannya akan ibu dan adiknya.


Semuanya benar-benar membuat hidupnya semangkin sedih, ia tidak bisa membayangkan bagaimana cemasnya ibu dan adiknya.


Ia pun teringat dengan semua temannya yang di gurun, "Apakah mereka semua selamat?" batin Kabir.


"Hmm .... " suara rintihan Kirana, ia membuka matanya memandang ke sekitarnya.


Kirana berlahan melihat sesosok yang teramat sangat ia rindukan akhir-akhir ini, "Kabir?" lirih Kirana.


Ia mengulurkan tangannya ingin menyentuh wajah Kabir, "Apakah kita selamat? Atau sudah berada di dunia lain lagi .... " ucapnya mencoba memandang ke sekitarnya.


Ia selalu saja mendapati berbagai hal kejutan yang tidak terduga, di sepanjang perjalanan hidupnya akhir-akhir ini. Semenjak ia menginjakkan kakinya di Pulau Kematian,


segalanya telah berubah Kirana yang dulu bukanlah yang sekarang, dulu ia begitu lugu dan polosnya. Kini ia menjadi wanita yang sedikit lincah bertempur dan menggunakan senjata,


bila dulu ia teramat takut dengan darah namun sekarang, ia sudah berulang kali bermandikan darah di sekujur tubuhnya. Ia pun telah berulang kali melenyapkan nyawa manusia.


"Alberto, kampret itu ... benar-benar telah mengubah kita menjadi seorang monster," cicit Kirana. Ia menatap ke dalam retina Kabir,


ia melihat berewok Kabir dan kumisnya sudah memenuhi semua dagu hingga lehernya dan antara bibir dan hidungnya.


Kabir sangatkah berbeda, ketika mereka awal kali bertemu, seingat Kirana,


"Kabir sangat tampan dan klimis dan mempesona, setiap mata memandang. Berbeda dengan Kabir yang sekarang ia sangat garang dan menakutkan walaupun tidak mengurangi ketampanannya .... " batin Kirana.


Kirana mencoba melihat sekelilingnya, ia sangat takut. Jika pikirannya hanyalah berisikan tentang Kabir.


Ia mendapati sebuah ruangan gelap yang sempit yang hanya muat untuk mereka berdua, ia melihat guyuran hujan di depannya yang terlihat dari celah di depannya.


Kirana mencoba memegang kepalanya yang sedikit berdenyut, "Kirana, ini di dalam sebuah batang kayu. Bagimana perasaanmu?" tanya Kabir sedikit khawatir.


"Aku hanya ... sedikit pusing saja, apakah kita terpisah jauh dari mereka?" tanya Kirana.


"Aku pun tidak tahu, apa yang mereka alami. Aku harap semuanya selamat seperti kita," balas Kabir.

__ADS_1


"Amiinn! Aku harap semua pasokan listrik Alberto Kuro hancur lebur tidak tersisa," lirih Kirana memandang hujan yang masih membasahi dedaunan.


"Apakah kita akan bermalam di sini?" tanya Kirana. Ia sedikit jengah berduaan sengan Kabir, ada sedikit rasa berbeda di hatinya.


Kirana merasakan ada sesuatu hasrat liar yang mulai bergelora di tubuhnya, bila ia selalu berdekatan dengan Kabir.


"Sepertinya, begitulah! Tidak ada tempat yang nyaman untuk berlindung selain di sini. Semuanya hanya semak pendek dan gurun," Kabir memandang ke arah Kirana.


"Terima kasih, telah menyelamatkanku." Kirana menatap wajah Kabir.


"Kewajibanku menyelamatkanmu, aku tidak mau ... kehilanganmu. Apalagi tidak melihat senyummu. Sayangnya ... aku tidak menemukan kaca matamu," Kabir berusaha membelai wajah ayu Kirana.


Desir mesra menjalar di sekujur tubuh Kirana, ia merasakan suatu sensasi berbeda. Kala jemari Kabir membelai wajahnya,


entah dorongan apa yang menyebabkan ia pun mrmejamkan matanya. Ia begitu menikmati sentuhan jemari Kabir.


Kabir memberanikan diri mengec*p lembut bibir Kirana dengan lembut, Kirana pun membalasnya dengan perasaan sepenuh hatinya.


Alunan gemercik air hujan yang masih menetes di daunan, bagaikan suara lembut alunan musik klasik yang menghantarkan ci*man mesra keduanya.


Mereka begitu menikmati sentuhan tabrakan bibir mereka, hingga tiada lagi yang tersisa. Mereka ingin memberikan sesuatu kebahagiaan di balik semua penderitaan, mereka ingin menikmati waktu yang tersisa.


Keduanya mengakhiri kemesraan kecupan mereka, keduanya saling memandang dan tertunduk malu-malu.


"Kirana, maukah engkau menikah denganku?" tanya Kabir tanpa basa-basi lagi.


"Terima kasih! Aku ingin kita mengalahkan Alberto Kuro, dan bebas dari penjara Pulau Kematian ini. Bila kita bebas, maukan kita langsung menikah?" tanya Kabir kembali.


Ia seakan-akan ingin memastikan bahwa semua ini bukanlah mimpi indahnya saja,


"Tentu saja, aku akan menikah denganmu! Mintalah aku kepada Naniku," ucap Kirana malu.


Rona merah menyembul dari kedua belah pipi Kirana, Kabir begitu gemasnya. Ia menoel sedikit pipinya dengan ujung jemarinya.


"Itu pasti, sayang!" janji Kabir.


"Akhgg, ayang!" ucap Kirana. Wajahnya semangkin merah semerah kepiting rebus, keduanya benar-benar tertawa bahagia.


Mereka lupa dengan semua penderitaan yang menghadang di depan mata, cinta benar-benar mampu menghipnotis semua luka dan derita yang mereka rasakan.


Untuk sejenak mereka melupakam kepahitan hidup mereka, hujan di luar mulai berhenti menyisakan tetes yang masih saja berjatuhan di antara dahan dan daun.


Matahari sudah mulai tenggelam, di dalam gua. Darmanto sudah mulai siuman dari pingsannya, ia melihat Marta tertidur di sisinya dengan menggenggam tangannya,


ia memandang wajah Marta dengan penuh senyuman dan kasih sayang. Ia begitu senangnya, Darmanto pun membalas genggaman tangan Marta, mere*as lembut tangan Marta.

__ADS_1


Ia tidak ingin membangunkan tidur Marta, ia melihat gurat kelelahan yang membayang di wajah cantiknya.


Ketangkasan Marta sebagai Kowal tidak mengurangi wajah cantik dan anggunnya,


juga kelembutan miliknya.


"Marta bak suatu paket lengkap di McDonal," batin Darmanto. Ia begitu inginnya melahap paket McDonal, ia sudah rindu salah satu makanan junkfood itu.


"Apakah aku sudah jatuh cinta kepadamu, aku harap kamu juga merasakan apa yang aku rasakan, Marta cantik .... " lirih Darmanto.


Darmanto melihat ke sekeliling gua yang hanya sedikit pencahayaan, dari senjata laser mereka, yang diletakkan jauh di tengah gua.


"Mungkin mereka menghindari cahayanya akan memantul ke luar gua, hingga anak buah Alberto Kuro tidak menemukan keberadaan kami." Darmanto membatin.


Ia melihat Nara yang tidur berdampingan dengan Junaid, dengan posisi saling memunggungi dengan senjata di tangan mereka.


Darmanto melihat Mona dan Hendro tidur saling menyandarkan kepala, dengan posisi duduk di dinding batu di tengah ruangan.


Ia juga melihat Heru, Zai, Toto, dan Will tidur beserak di sudut gua dengan senjata di pangkuan mereka.


Darmanto mencari ke sekeliling gua, ia tidak melihat Kirana dan Kabir. Ia mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum ledakan beruntun di gurun,


"Apakah Kabir dan Kirana tidak selamat?" lirih Darmanto. Ia begitu terpukulnya mengingat semua kejadian tersebut, ia tidak ingin sesuatu terjadi kepada Kabir dan Kirana.


Sementara heli masih saja terus berputar-putar di gurun tepat di atas gua mereka, semua pion terbangun. Mereka mengeratkan senjata di tangan mereka masing-masing,


mereka menunggu segala sesuatu yang akan terjadi, namun heli menjauh dari atas gua mereka.


Semua pion sedikit bernapas lega, mereka berusaha untuk bergerak sedikit. Walaupun tidak benar-benar bergerak seluasa biasanya,


mereka masih takut, jika sebenarnya para anak buah Alberto Kuro masih berkeliaran di sekitar gurun.


Mereka diam tidak bergeming, entah berapa jam mereka merasakan pasir-pasir dari atas dinding gua, mulai berjatuhan di atas kepala mereka.


Heru menunjuk ke arah atas dinding gua, semua saling menganggukan kepala. Mereka merasa kali ini Alberto Kuro bukan hanya mengirimkan sepuluh atau 20 anak buahnya,


melainkan entah berapa batalyon yang ia kerahkan. Ia benar-benar murka, mungkin ia tidak bisa mengakses ke dunia luar. Karena pasokan listrik yang sudah mereka sabotase,


para pion mulai bersiap-siap, mereka bergerak berlahan mulai menyebar ke penjuru gua. Mereka melakukannya untuk menghindari sesuatu, bom atau apa pun yang akan dilancarkan oleh anak buah Alberto Kuro.


Namun anak buah Alberto Kuro tidak melakukan apa pun, "Kemungkinam mereka tidak tahu mengenai gua ini?" Hendro berujar dengan bahasa sandi dengan tangannya.


Seakan ia berbicara dengan orang tuna wicara, "Aku rasa, begitu! Hanya saja, kita harus tetap waspada. Bagaimanapun pulau ini milik Alberto Kuro," jawab Heru.


Ia berusaha untuk mengingatkan semua para pion agar tidak melonggarkan kewaspadaan mereka, ia sangat mengenal siapa Alberto Kuro yang sangat picik dan kejam itu.

__ADS_1


Mereka terus saja bersiaga dengan senjata mereka, berharap tidak ada kemungkinan yang akan terjadi. Mereka masih menunggu, dengan harap-harap cemas. Apakah ada yang akan datang menyerang mereka?


__ADS_2