
Si tentara memandang Kabir, "Apakah kamu pernah bertemu dengan para pion yang hebat itu?" tanyanya. Kabir bingung harus menjawab apa, ia hanya menggelengkan kepakanya.
Seorang tentara lain datang, "Kalian jangan bicara, saja! Berjagalah yang benar," teriaknya sambil lalu. Kabir hanya melihat tampangnya, "Siapakah tentara, itu?" tanyanya.
Si tentara memandang Kabir, "Kau tidak mengenalinya, si Jordan! Ia sangat terobsesi ingin membunuh salah satu dari pion. Terutama si Kabir itu, aku malah berdoa agar si Jordan mati saat bertemu dengan si Kabir." si tentara memandang lurus ke depan.
Kabir pun hanya diam saja berdiri di depan pintu bersebelahan dengannya, ia tidak tahu harus berkata apalagi.
Ia hanya tahu, ternyata ada orang yang begitu terobsesi mengambil nyawanya.
Ia termenung, "Dulu, tiada seorang pun yang mengenal seorang Kabir anak desa dari pedalaman. Hanya karena seorang Alberto kini, ia diburu semua orang. Menyedihkan!" batinnya.
Kabir melihat Darmanto masuk ke dalam bersama beberapa pria berbaju jas serba hitam, lengkap dengan kaca mata memasuki ruangan. Kabir mengenali Darmanto dari nama yang tertera di baju tentaranya, bernama Liam.
Darmanto memandang sekilas, ke arah Kabir yang memakai nama di dadanya Sardi.
Suara hentakan pantopel dan PDL bergema di ruangan, Kabir melihat Heru ke luar dari ruangan.
Ia bersama seorang wanita berambut pirang berkaca mata, berbaju putih yang bergaya mirip Crabs di belakangnya. Kabir melihat Heru mengawalnya, dengan lirikan sekilas ke arah Kabir.
Keduanya hanya diam dan saling pandang tanpa suara, berusaha menjadi kaki tangan Alberto sebaik-baiknya.
Kabir belum melihat Junaid, ia sedikit khawatir dengannya.
Ia takut jika terjadi sesuatu, kepadanya. Walaupun Junaid juga sangat lincah di bidang bela diri tetapi di tengah-tengah harimau lapar kemungkinan sedikit sulit untuk ke luar hidup-hidup.
Sebuah keberuntunganlah mereka masih terus lolos dari semua hal yang mengerikan di pulau ciptaan Alberto, jika tidak mereka sudah menjadi salah satu hatter mayat maupun debu dari sisa pembakaran.
Setelah pergantian penjaga, Kabir melihat Junaid memasuki ruang makan, untuk mereka makan siang. Ia menoleh ke kanan-kiri membawa nampannya, seorang pria besar berleher beton menyenggolnya.
__ADS_1
Nasinya jatuh berhamburan, Junaid memandangnya dengan tatapan kesal. Akan terapi, ia berusaha untuk mengalah, mengingat tujuannya mereka datang ke dalam kastil.
Sehingga ia berusaha untuk tidak mencari keributan, yang akan membongkar kedok mereka. Ia tidak ingin, karena nila setitik rusak susu sekuali.
Ia pun hanya berlalu meninggalkan Si Leher Beton, tetapi Si Leher Beton menarik kerah bajunya dari belakang tubuhnya. Membuat Junaid sedikit terseret karena perbedaan ukuran bentuk tubuh, semua orang di ruangan terdiam.
Mereka seketika menghentikan acara makan mereka Kabir, Heru, dan Darmanto melihat dan berusaha bersiap jika sesuatu terjadi. Si Leher Beton yang hanya memakai pakaian kaus tanpa lengan, mendorong Junaid.
Akan tetapi, Junaid dengan lihainya tidak tersungkur, bagaimanapun ia inhin melindungi wajah tampan dan nyawanya.
Nara bisa membunuhnya bila ia terluka sedikit pun, ia sudah berjanji kepada kekasih hatinya untuk kembali dengan selamat. Junaid tidak ingin melihat Nara menangis sedih dari alam berbeda jika ia mati, seperti Akashi yang malang.
Ia berusaha untuk menghindari pertempuran, "Hei, anak sundel! Beraninya kau menabrakku?" kata Si Leher Beton.
Ia merasa baru kali ini ada seseorang anak baru yang berani menantangnya, biasanya segalanya langsung menghindarinya.
Semua orang berkasak-kusuk dengan gembiranya,
Hampir semua memilih Si Leher Beton, hanya Kabir, Darmanto, dan Heru yang memasang taruhan kepada Junaid.
Semua orang tertawa melihat kekonyolan ketiganya, "Tidak salah, memilih! Jangan menangis jika kalian kalah," teriak seorang bandar judi.
Ketiganya hanya diam dan mengosongkankan isi dompetnya dari si pemilik baju yang mereka curi dan bunuh, yang mungkin sudah menjadi pupuk kompos di salah satu rumput di pulau.
Junaid memandang ketiga sahabatnya dan membesarkan retina matanya, "Dasar dodol! Ngapain mereka ikutan, taruhan. Pakai namaku, lagi?" batinnya kesal.
Akan tetapi, ia merasakan kesenangan jauh di relung jiwanya. Ketiga sahabatnya percaya jika ia mampu mengalahkan Si Leher Beton, yang terkenal dan menjadi salah satu andalan Alberto.
Si Leher Beton langsung menarik kerah Junaid hingga kakinya terangkat 2 jengkal dari tanah, "A-aku tidak sengaja, aku minra maaf!" ujar Junaid berpura terbata.
__ADS_1
Si Leher Beton ingin melayangkan tinjunya, akan tetapi Junaid menundukkan kepalanya hingga Si Leher Beton hanya meninju kekosongan udara.
Ia semangkin marah, "Hajar! Hajar!" teriak semua orang mengepalkan tinju mereka ke udara. Seakan merekalah yang sedang bertinju di depan mereka, semuanya terus berteriak-teriak menjatuhkan mental Junaid.
Namun, Junaid bukanlah kaleng-kaleng benyali tempe. Ia malah tersenyum dan membuat gerakan kemayu di atas meja seakan ia baru saja memenangkan suatu kontes pragawati.
Ketiga teman mereka tertawa mengingat, saat Hendro menggunakan pakaian wanita beeluf di gurun dengan buntelan dadanya.
Darmanto, Heru dan Kabir hanya santai menghabiskan makan mereka. Sekali-kali melirik jika ada yang berbuat kecurangan kepada Junaid, mereka tetap waspada.
Junadi meninju mata Si Leher Beton hingga ia melepaskan cengkraman tangannya di kerah baju Junaid. Secepat kilat Junaid mendarat ke lantai dan menendang tulang kering Si Leher Beron hingga ia tererembab sempoyongan.
Junaid meninju rahangnya, kepala Si Leher Beton berputar ke kanan-kiri begitu cepat, membuat ia sedikit pusing ia mencoba untuk menguasai dirinya.
Si Leher Beton berusaha berdiri, "Grrhrh!" geramnya seakan ia seekor herder. Junaid bergidik memandang giginya yang tidak lagi normal. Si Leher Beton berlari ingin menyerang Junaid, memukulkan genggaman tangannya yang sebesar buah kelapa.
Junaid menghindar dengan berlari ke samping, pukulan Si Leher Beton mengenai meja dan membuatnya terbelah ringsek.
"Wah, gila! Di mana kau bisa membuat pukulan seperti itu?" ujar Junaid. Ia begitu mengaguminya, ia ingin memiliki kepalan seperti palu thor.
Si Leher Beton semangkin menggila marah, ia tidak menyangka ia dipermalukan di kandangnya sendiri. Ia langsung melompati Kabir bak katak menerjang sesuatu, "Wow, lompatanmu, keren!" ejek Junaid.
Ia menggunakan sebelah tangan kanannya dan berjingkat melomati tubuh Si Leher Beton, dan menaiki tubuhnya mencolok kedua matanya hingga darah menyembur dari kedua belah kelopak mata Si Leher Beton.
Membuat dia berteriak histetis, "Aakh! Aku akan membunuhmu cecunguk, sialan!" ujarnya.
Ia membabi buta dengan pukulannya, Junaid berlompatan ke sana kemari mendaratkan pukulannya.
Membuat Si Leher Beton akhirnya jatuh terkapar di tengah ruangan, sebelum ia jatuh kepalanya membentur meja dan lantai keras yang terbuat dari ubin lantai, ia berkelejotan dan pada akhirnya pingsan.
__ADS_1
Junaid melihat ketiga temannya berteriak menang dan mengambil duit mereka, semua orang terdiam.
Ketiganya melirik ke sebuah kamera di beberapa sudut ruangan, mereka berusaha untuk tidak terlalu kelihatan jika mereka bukan salah satu tentara.