
Happy Reading! Semoga semuanya baik-baik saja, jangan lupa tinggalkan jejak dukungan, like, komen, hadiah, dan vote. Terima kasih selamat membaca!
--------------------------------------------------------
Para pion dan beeluf masing-masing berlarian menyelamatkan diri, Mona masih menoleh ke belakang. Ia melihat ledakan yang sedikit aneh menurutnya,
"Apa yang terjadi, sebenarnya?" tanyanya. Ia begitu penasaran, "Entahlah, sayang! Paling tidak, kita bisa kabur. Aku sudah sangat lelah, andaikan tidak ada ledakan itu. Aku rasa kita sudah menjadi mayat," balas Hendro.
Mona melihat ke arah dua orang wanita beeluf yang berlari bersama mereka, "Apakah kalian baik-baik, saja?" tanya Mona di sela larinya. Keduanya menganggukkan kepala, "Kami baik-baik, saja!" jawab salah satunya.
Wanita ini tidak pernah membuka cadarnya, ia selalu saja menutupinya. Mona penasaran, "Mengapa wanita ini tidak pernah membuka cadarnya? Apa yang ia sembunyikan?" batin Mona.
Jiwa keponya meronta-ronta, hanya karena kelelahanlah yang membuatnya mengurungkan niatnya. Untuk menggali lebih dalam lagi, mereka masih terus berlari. Kini, mereka sudah lebih kencang berlari dari seekor puma sekali pun.
Semuanya karena tuntutan keadaan, yang membuat mereka mau tidak mau harus belajar dengan alam. Mereka menempa jiwa dan raga mereka lebih kuat, lebih berani, lebih mandiri, dan tegar menjalani semua kekerasan hidup mereka.
Di Pulau Kematian, mereka hanya punya satu kesempatan bertahan atau menyerah, hidup atau mati. Kekuatan adalah kemenangan, kelemahan adalah kematian, akan tetapi mereka masihlah memiliki rasa persaudaraan dan jiwa yang murni.
Mereka selalu berusaha untuk menjadi seorang manusia yang memiliki rasa kekeluargaan dan tanggung jawab, bukan menjadi seorang Iblis yang tidak berperasaan. Mereka berusaha untuk memenuhi hakikatnya, sebagai manusia yang lebih baik dan sempurna dari ciptaan Tuhan yang lainNya.
Mereka terus berlari mencari tempat yang aman, walaupun mereka sudah menyusuri setiap sudut pulau. Mereka hanya berputar di sekitar pulau saja, seperti katak di dalam tempurung tidak mampu ke mana pun.
Mereka berlari mengikuti langkah kaki mereka menembus hutan, tanpa sebuah tujuan yang pasti. Mereka hanya tahu menyelamatkan diri di sela-sela pertempuran, mereka sendiri pun hanya berputar-putar di sekitar pulau.
__ADS_1
Mona melihat beberapa buah yang bisa dimakan, keempatnya berhenti dan mengambilnya secepat kilat dan memakannya sambil berlari. Berusaha mengganjal perut saja, untuk bertahan hidup.
Sementara Kabir yang terluka di punggung Will berayun-ayun digendongan Will, di belakang mereka Kirana berlarian dengan memegang senjata lasernya. Berlarian melompati semua semak, mereka terus saja berlari.
Setelah dirasa cukup mereka menghentikan larinya di sebuah tepian sungai, mereka meminum air untuk mengilangkan dahaga. Kirana mengambil air dengan sebuah daun yang dibentuk seperti sebuah kerucut dan memberikan ke mulut Kabir.
Ia teringat obat kapsul yang diberikan Nara, "Will, kamu masih punya kapsul obat pemberian Nara berwarna hijau?" tanya Kirrana. Will merogoh sakunya, ia melihat beberapa kapsul di dalam sebuah bungkusan plastik yang sengaja mereka curi di dapur Alberto.
Kirana mengambil yang warna hijau, memasukkannya ke dalam mulut Kabir dan memberikannya air melalui mulutnya sendiri. Will melihatnya dan memalingkan muka, wajahnya merona malu.
Ia teringat akan seorang kekasihnya di dunia nyata, ia sangat merindukannya. Ia tidak menyangka dirinya akan terdampar di sebuah pulau mengerikan. Akan tetapi, ia masih bersyukur bertemu dengan semua orang yang berhati malaikat.
Ia tidak bisa membayangkan bila ia harus bersama kelompok hatter yang barbar, bersama ninja yang selalu patuh, dan bersama beeluf yang ditindas.
Ia masih bersyukur bisa hidup dengan segala kemampuannya, Will sudah menangkap 3 ekor ikan berukuran sedang, "Aku akan mencari, kayu bakar!" ucap Mona. Ia merasa tidak enak kepada Will,
"Tidak usah, Kiran! Kemarikan lasermu. Sayangnya, aku sudah kehilangan laserku. Bila kita kembali ke gurun, aku akan kembali mencuri laser lagi!" balas Will.
Ia meletakkan ikan di atas sebuah batu pipih, kemudian ia mengotak-atik senjata laser dan menembakkan ke arah ikan. Seketika semburan api ke luar dari moncong senjata, langsung memanggang ikan dan masak secepat kilat.
Kirana begitu takjubnya memandang semua itu, "Wah, hebat sekali! Lalu ledakan tadi di Hutan Kegelapan, apa yang telah kau lakukan?" tanya Kirana penasaran.
Will menyudahi acara memanggang ikannya, dia memberikan kepada Kirana seekor, dan menyimpan didaun lebar untuk Kabir. Keduanya makan dengan lahapnya,
__ADS_1
"Aku, Zai, dan Toto. Sudah menandai disetiap gagang senjata adalah nama kita masing-masing, tidak ada yang bisa menggunakannya selain yang punya nama dan kami bertiga," ucap Will,
"Kami memodifikasi beberapa molekul senyawa dari laser, dengan bantuan Zai yang montir dan kau tahu walaupun Toto seorang pengusaha antar jemput jasa penitipan kilat. Sebenarnya ia seorang Insinyur mesin, jadi Toto di bagian mesin, Zai montir, dan aku hacker yang hebat, hahaha," Will terkekeh,
"saat mencuri di kastil, aku sudah menghack semua bahan-bahan yang digunakan oleh Crabs si Pecundang.
Toto mencuri beberapa senyawa kimia si Crabs di laboratorium, Zai mencuri alat-alat yang dibutuhkan, dan kami merakitnya di laptop. Rumah kita yang paling nyaman di pulau ini adakah gua itu," sambung Will.
Kirana mencerna semuanya,
"Lalu mengapa bisa meledak, begitu?" tanya Kirana. Will tersenyum, "Awalnya kami hanya mencoba saja, bagimana jika senjata laser ciptaan si Kepiting itu dimodifikasi sedemikian rupa. Menyesuaikan dengan kebutuhan kita di sini,
"Senjata laser itu begitu luar bisa, tidak memiliki peluru tapi tidak habis untuk menembak. Crabs benar-benar jenius, kami hanya mencoba-cobanya saja. Jiwa molekul senyawa bahan laser dicampur dengan senyawa kimia yang kuat, aku tidak tahu apa namanya Toto yang paham."
Will masih mengambil sedikit demi sedikit ikannya,
"Bisa membunuh ribuan orang bila asapnya itu melekat ke tubuh yang mengandung darah, 'kan ga mungkin, kami melakukan uji coba kepada kita?" ucap Will.
Ia sudah menghabiskan ikannya, "Aku bersyukur itu berfungsi, hanya saja ..., aku masih khawatir adakah yang memahami teriakanku? Saat aku mengatakan, 'Para pion dan beeluf kabur!' aku takut mereka tidak selamat, selain Zai dan Toto yang memahaminya." Will menatap ke depan dengan rasa penyesalan.
"Kami, tidak sempat memberitahukan semua fungsi laser kepada semua pion, karena terburu-burunya kita pergi. Dan selalu saja ada pertempuran," ucap Will.
"Aku yakin semua dari kita selamat, kau tidak usah cemas!" ucap Kabir. Keduanya melihat ke arah Kabir yang berusaha duduk dari tidurnya, semua lukanya sudah tertutup kembali.
__ADS_1
Kirana begitu senangnya langsung berhamburan memeluk Kabir, membuat Will membuang pandangannya kembali. Ia bagaikan sebuah anti nyamuk di antara mereka, "Syukurlah, engkau selamat sayangku!" ucap Kirana di pelukan Kabir.
Kabir mengelus punggung kekasihnya, "Aku, baik-baik saja! Semua ini berkat, trio mekanik!" balas Kabir. Keduanya melepaskan pelukannya dan bersemu merah merona, mereka malu melihat Will yang menghadap ke sungai beraliran deras.