
Kabir memandang ke arah Kirana, tersenyum malu. Kirana memberikan ikan bakar yang sudah dibungkus oleh Will, "Aku berterima kasih kepadamu, Will! Sudah menyelamatkanku," ucap Kabir.
Ia memulai memakan ikannya, Will merona malu. Ia merasa malu dan bangga karena hasil kerjanya dan kedua temannya begitu sangat dihargai,
"Bukankah, kau juga pernah menyelamatkanku! Kita saling menyelamatkan bukan balas budiku kepadamu, akan tetapi sebagai saudara. Tidak ada balas budi di antara keluarga,"ucapnya.
Will menatap Kabir dengan sebuah ketulusan, Kabir mengulurkan tangan kanannya membuat tos sesama pria. Hanya sesama prialah yang memahaminya, Kirana tersenyum di antara keduanya.
Ia merasa begitu beruntungnya di dalam semua ini, walaupun sakit dan perih semua perjuangan ini. Segalanya tidak sebanding dengan rasa persaudaraan dan keluarga yang ia dapatkan, setelah makan. Will mengajari Kirana dan Kabir cara menggunakan senjata laser mereka, "Kalian benar-benar, hebat!" teriak Kirana girang.
Will twrsenyum, "Bukan hanya aku, tetapi kami bertiga. Dan yang lebih jenius dari semuanya adalah si Kepiting," jawab Will dengan lugasnya.
Kirana masih saja tersenyum, "Kalian bertiga mememang, hebat!" celetuk Kabir. Ketiganya melanjutkan perjalanan mencari semua sahabat mereka, yang terpisah.
Sementara Darmanto, Marta, Toto, dan wanita beeluf bernama Rani, masih berlarian membelah senja. Mereka pada akhirnya berhenti di dalam hutan yang paling dalam dari Hutan Kegelapan, mereka terengah di antara sulur-sulur akar yang besar laksana berada di sebuah film Wonderland.
Keempatnya terengah dan mencoba duduk di salah satu sulur, mereka sudah terengah kehausan. Namun, tidak menemukan sebuah sumber mata air. Rani mengambil pisaunya dari balik sepatu botnya, ia menancapkannya ke sulur pohon, dari sulur pohon mengucur deras air bak sebuah keran air.
Mereka bergantian meminum air yang menyembur dari salah satu sulur pohon, kriuukk! Suara demo dari cacing di kampung tengah pun sudah mulai memberontak, mereka berusaha melihat di sekitar mereka apa yang bisa mereka makan untuk mengganjal perut.
Tetapi mereka tidak melihat buah apa pun, akhirnya Rani mencabut tumbuhan yang berada di kakinya. Ia menggali dan mendapati sebuah umbi berbentuk putih mirip dengan bengkuang, ia memakannya.
__ADS_1
Ketiganya melihat dengan tatapan takjub, "Apakah itu tidak, beracun?" tanya Marta. Rani hanya menggelengkan kepalanya menikmati umbinya, "Tidak, percayalah kepadaku! Malah bagus ini, seperti tumbuhan ginseng di Cina," jawabnya.
Ketiganya mencabut umbi yang serupa dan memakannya, "Rasanya sangat manis dan enak! Dari mana kamu tahu Rani?" tanya Toto penasaran.
Rani menelengkan kepalanya tersenyum, "Aku pernah tersesat di sini, sebelum Alberto menangkap Ibuku. Aku berhari-hari kelaparan, hingga tanpa sengaja pisauku menusuk sulur dan aku menemukan umbi ini," jawab Rani.
Ia mengenang masa sulitnya seorang diri di Pulau Kematian, saat pertama kalinya bertarung di pulau. Semua orang memandangnya dengan tatapan takjub, "Sudah berapa lama kau, di sini?" tanya Darmanto.
Rani memandang Darmanto, "Aku tidak tahu, aku tidak menghitungnya ..., mungkin sedikit lebih baru dari Ayesha. Saat aku sampai di sini dan direkrut oleh Alberto, aku sudah bertemu dengan Ayesha dia sudah beberapa bulan di sini. Dulu, kami tidak seperti kalian, yang memiliki rasa kekeluargaan dan saling melengkapi." Rani menatap ke arah semuanya,
"dulu kami berjuang dengan tangan dan darah masing-masing, hingga banyak yang tewas. Ada juga yang menjadi oengkhianat," ucap Rani.
Rani meminum air dari sulur kembali, "Aku hanyalah seorang Guru Ipa di SMP," jawabnya.
Marta memandang Rani, "Apa yang kau lakukan, hingga membuat Alberto marah?" tanya Marta.
Rani memandang Marta, "Aku tidak tahu, aku hanya mengadakan demo atas limbah pabriknya di kota kelahiranku. Setelah itu aku berada di sini," jawabnya lugas.
Semua orang terdiam, Alberto benar-benar menghabisi musuhnya dengan cara yang sungguh licik dan biadab. Mereka masih terus memakan umbi-umbian dan mencoba tersenyum, "Lalu, bagaimana cara Alberto menangkap Ibumu?" tanya Toto penasaran.
Rani memandang mereka dengan malas, ia malas bercerita kisahnya yang menyakitkan. Akan tetapi ia harus menceritakan sebuah kebenaran, "Alberto menangkapnya dan memperlihatkannya di layar monotor virtual, aku melihat mereka menyekap Ibuku, dengan tangan dan kaki terantai bandul besi. Bayangkan, Ibuku yang sudah renta berumur hampir 60 tahun, harus mengalami hal yang menyakitinya. Aku tidak tahu, apakah ibuku masih hidup?" ujar Rani.
__ADS_1
Air mata sudah mulai membayang di pelupuk matanya, "Berdo'a dan bersabarlah, Rani!" balas Marta menepuk punggung tangan Rani. Keduanya saling berangkulan, Darmanto, dan Toto hanya terdiam.
Suara heli mulai terdengar, layar monitor sudah lama hilang sejak ledakan terjadi. Toto sudah bercerita mengenai hal itu dan mengajari Marta dan Darmanto menggunakan senjata laser mereka, keempatnya meninggalkan hutan dan mencoba berjalan menyusuri hutan yang mulai semangkin gelap akibat malam telah datang.
Zai, Sukuna, Ayesha, Nara, Junaid, dan Heru berhenti di sebuah batas hutan dan tembok pembatas dengan lautan luas. Suara deburan ombak memecah karang terdengar di balik tembok yang tinggi, luka Sukuna sudah mulai merapat.
Namun, ia belum juga sadar dari pingsannya. Napasnya masih teratur, akan tetapi racunnya masih saja menggerogotinya. Nara sudah berusaha untuk mengobatinya, akan tetapi keterbatasan alat-alat dan obat-obatan. Hingga ia pun tidak mampu berbuat banyak, Ayesha memanggil ularnya untuk menghisap racun di tubuh Sukuna.
Sudah entah berapa banyak ular yang sudah mati di samping tubuh Sukuna, perjuangan semua ular itu tidak sia-sia wajah Sukuna sudah mulai berwarna tidak sepucat mayat lagi.
Junaid dan Heru juga Zai sudah memburu seekor kijang, mereka memanggangnya dengan senjata laser yang diajarkan oleh Zai, mereka mencoba makan dan secepatnya mencari tempat persembunyiaan.
Mereka mendengar suara klakson sebuah kapal dari balik dinding tembok, Heru dan Junaid berlari memanjat ke atas sebuah pohon tinggi. Mereka melihat dari atas pohon di pinggir laut tertambat sebuah kapal pesiar dengan bendera Indonesia dan sebuah bendera logo dagang milik Alberto mulai mendarat, seseorang sudah melemparkan jangkarnya.
Para ABK memikul karung-karung dan kotak-kotak, Heru dan junaid masih terus memandang ke arah mereka. Junaid yang marah, mengambil senjata lasernya dan membidik kapal pesiar.
Sebuah ledakan meluluh lantakkan kapal pesiar dan beberapa kapal, di dermaga yang tidak jauh dari persembunyian mereka. Keduanya turun secepat kilat meluncur dari atas pohon, Zai sudah menggendong Sukuna di balik punggungnya, mereka berlarian ke arah berlawanan dengan tempat persembunyian mereka.
Suara beberapa heli semangkin menggema di udara mondar-mandir berusaha untuk menyelamatkan, sesuatu dari kapal akan tetapi semuanya telah hancur dan mati sia-sia.
Jauh dari keberadaan Zai dan kelompoknya, Kabir, Kirana, dan Will melihat asap hitam dari sebuah ledakan nyala api dari kejauhan, "Apa yang sedang, terjadi?" tanya Will. Ketiganya saling pandang dan berlari ke arah asap yang terlihat
__ADS_1