Pulau Kematian

Pulau Kematian
Kebaikan Hati Pasangan Gila


__ADS_3

Balian dan sahabatnya memasuki Menara Pasir di sana mereka bertemu para beeluf dan Yahmen. Beeluf bercadar si peniup seruling.


Semua rahasia mulai terkuak. Mereka saling bertukar cerita dan kisah di balik kisah mereka. Semuanya memiliki dendam kepada satu orang yaitu Alberto.


Balian dan sahabatnya sering berkunjung ke Menara Pasir. Mereka semangkin kuat menyerang Alberto di berbagai kesempatan.


Kekuatan mereka semangkin membesar apalagi, sebagian sahabat Balian menikah dengan beeluf merah.


Rasna dan Sanna pun meminta izin kepada Balian untuk menikah. Balian memandang kedua sahabatnya yang sudah ia anggap adiknya.


Mereka semua sudah menemaninya bertahun-tahun lamanya membantai musuh-musuh mereka.


Palki menikahi Rasna dan Ujang menikahi Sanna keempat sahabat kecilnya.


Akhirnya mereka menemukan biduk cinta mereka. Balian tidak tahu harus bagaimana? Ia tidak pernah melihat orang menikahkan adiknya.


Dulu pun sewaktu mereka memasuki Pulau Beeluf semua orang datang dengan pasangan mereka.


Jiwa mereka semuanya polos, Balian menemui Ketua Muti dan Sepuh Rayan, ia meminta tolong untuk menikahkan sahabat-sahabatnya.


"Sepuh, tolong nikahkan adik saya dengan sahabat saya juga. Mereka saling mengasihi!" ucap Balian.


Sepuh Rayan tersenyum, "Baiklah, bawalah mereka kemari!" ucap sepuh Rayan.


Balian begitu bahagianya, ia berlari meninggalkan Menara Pasir dan kembali ke gua air terjunnya. Memberikan kabar gembira kepada semua sahabatnya.


Sebagian sahabatnya sudah tinggal di Menara Pasir yang menikahi gadis beeluf, walaupun mereka masih sering berkumpul membunuh musuh mereka.


Keesokan harinya, Balian membawa keempat kawannya yang akan ia nikahkan, kedua wanita teman sepermainannya.


Kini, kedua gadis cantik di depannya telah ia anggap sebagai adiknya.


Balian tidak tahu harus memberi apa. Ia tidak memiliki uang, ia juga tidak memiliki emas permata atau apa pun.


Ia bingung harus memberikan kenangan apa kepada kedua adiknya. Ia tahu, kedua sahabat pria yang menikahi adiknya tidak mempermasalahkan uang ataupun pemberian pihak wanita kepada si pria.


Namun, ia ingin memberikan suatu kenangan kepada adiknya.


Ia termenung di dahannya yang tinggi. Ia ingin memberikan sesuatu. Namun, ia tidak tahu apa.


Ia melihat Mano berjalan berlarian menembus Hutan Bambu. Berlari dengan kecepatan penuh, Balian memperhatikannya.


Di kedua belah tangan Mano, ia membawa sesuatu. Ia baru saja mencuri dari kastil Alberto.


Balian melompat turun mengikuti Mano, ia melihat Mano membawa buntelan di tangannya dan memberikannya kepada Sanna dan Rasna pakaian yang bagus.

__ADS_1


Balian bersyukur ia sendiri pun tidak berpikir akan hal itu.


"Ya Tuhan, aku tidak pernah berpikir mereka akan menikah dengan pakaian lusuh dan compang-camping penuh noda darah." Balian membatin dan bersedih.


Ia melihat kedua adiknya begitu bahagia dan girangnya, memeluk Mano. Saat Mano meninggalkan kedua adiknya, Balian melesat mengejar Mano.


Mano memutar tubuhnya dan menarik pedang di punggungnya, karena ia melihat Balian ia menyarungkan kembali pedangnya.


"Ada apa kau, mengikutiku?" tanya Mano dengan kasarnya.


Balian memandang wanita di depannya, ia selalu saja. Salah tingkah dan akhirnya bibirnya kelu setelah itu ia pun akan meracau.


Sehingga pertengkaran kembali lagi terjadi di antara mereka. Balian bingung harus memulainya dari mana.


"Kalau kau tidak mau bicara aku akan, pergi!" ujar Mano.


Hati kecil Mano selalu salah tingkah bila bertemu dengan Balian. Matanya setajam mata srigala,


belum lagi tampangnya yang tinggi besar dengan seluruh tubuh dipenuhi bulu. Berewoknya sudah menutupi separuh wajahnya.


"Tu-tunggu dulu! Aku, aku ingin memberikan hadiah untuk kedua adik perempuan dan sahabatku yang ingin menikah, kau tahu. Aku tidak mengetahuinya.


"Apa yang pantas aku berikan kepada mereka berempat. Jika sahabatku yang lain, mereka hanya memintaku untuk membawa kulit harimau atau pedang.


"Sedangkan keempat orang ini, mereka hanya menginginkan do'a dariku. Tetapi, Rasna dan Sanna adakah adikku. Aku ingin memberikan hadiah atau apalah!" ucap Balian cepat.


Mano memandang Balian, ia tidak menyangka di balik sikap dingin dan keras kepalanya ia memiliki kasih sayang yang besar.


"Apakah kau ingin mengikutiku untuk mengambilnya?" tanya Mano.


"Apa?! Maksudmu mencuri di kastil Alberto? Tidak! Aku tidak menginginkan apa pun dari sialan itu. Apalagi, untuk kuberikan kepada keluargaku!" teriak Balian.


"Aku tidak mengajakmu, mencuri! Aku ingin megajakmu ke suatu tempat," ucap Mano.


Balian memandang Mano dengan curiga, tetapi ia tidak punya pilihan. Ia malu bila bertanya kepada Ketua Muti maupun Yahmen.


Balian yakin keduanya akan senang membantunya, tetapi ia merasa nyaman bersama dengan Mano yang sama gilanya dengan dirinya.


"Baiklah!" balas Balian.


Keduanya berlarian menyeberangi oase, dan sampai ke pohon gerowong.


Mano mengajaknya masuk, Balian begitu terkesimanya. Ia tidak menyangka di balik pohon gerowong ada sebuah kampung secara sihir.


Keduanya memasuki sebuah sungai deras dengan aliran air jernih. Mereka melihat kilauan berpendar dari dalam sungai.

__ADS_1


"Apakah itu, emas?"tanya Balian tidak percaya.


Mano menganguk, "Ayo, mendulang! Untunglah Sepuh Rayan dan Ketua Muti menutup daerah ini dengan sihir. Jika tidak Alberto sudah menguasainya.


"Akan banyak nyawa yang akan melayang," jawab Mano.


Keduanya mendulang dengan bantuan selembar kain, mereka mendulang dan meleburnya.


"Bagaimana kau bisa mengetahui semua ini?" tanya Balian.


"Aku tidak terlahir di sini. Nasib yang membawaku kemari. Kakek dari Ibuku memiliki toko emas, sebelum Ayahku menikah dengan Ibu Tiriku yang kejam." Mano memandang ke arah Balian,


Mano membuat dua pasang kalung, 2 buah cincin, 2 buah gelang dan 2 pasang anting-anting untuk kedua adiknya dengan motif yang sama.


Ia membuat sebilah belati dari emas untuk Mano.


"Balian, aku harap kau berjanji. Untuk tidak mengatakan semua ini kepada siapa pun. Katakan saja kita mencurinya.


"Aku tidak ingin perpecahan di antara beeluf dan semua orang, karena benda berharga ini. Kita tidak tahu. Apakah ada musuh di antara kita yang memihak kepada Alberto.


"Kau tahu, kebayakan beeluf bukanlah asli, yang asli hanya Ketua Muti, Yahmen, dan Sepuh Rayan. Biarlah semua ini terkubur bersama dengan kita." Mano memaksa Balian untuk berjanji,


"Baiklah, Aku Balian Kapoor akan berjanji dan bersumpah tidak akan mengatakan kepada siapa pun hingga maut menjemputku!" janji Balian dengan sepenuh hati.


Kemudian Mano mengajak Balian pergi ke Menara Pasir lagi, "Mano!" panggil Balian.


Mano menoleh ke arah Balian, "Aku tidak tahu. Apakah ini pantas? Aku ingin memberikan ini kepadamu sebagai ucapan, terima kasihku!" ujar Balian.


Ia memberikan belati emas mungilnya ke tangan Mano, dan berlari meninggalkannya.


Mano hanya terbengong dan tersenyum mengejar Balian.


"Si Kulkas ternyata memiliki sisi yang lembut juga," batin Mano.


Keesokan paginya Menara Pasir begitu heboh, mereka mengadakan pesta. Orang-orang berpakaian cantik, Mano sudah menenun pakaian hitam kesukaan Balian.


Mano memberikannya, "Pakailah ini, dan jangan lupa cukur cambang dan kumismu. Kau mengerikan, sekali!" perintah Mano.


Balian hanya terkesima di rumah pohon bagian asrama putra.


Ia memandang pakaian indah yang diberikan Mano,


dengan sulaman berwarna emas. Mirip pakaian salah satu adat di ujung Pulau sumatra.


Balian mandi dengan cepatnya, memakai pakaian dan celana panjang yang diberikan Mano. Ia mencukur habis kumis dan jambangnya.

__ADS_1


Palki dan Ujang dan semua orang terpesona, ia begitu tampannya. Ambah memandangnya dengan penuh takjub dan terpesona.


Balian sedikit kikuk menjadi pusat perhatian semua orang.


__ADS_2