Pulau Kematian

Pulau Kematian
Sebuah Kano


__ADS_3

Kevin mengikuti Rani menaiki tangga rumah kayu, "Mengapa kau mengikutiku?" tanya Rani keheranan.


Kevin juga bingung, "Mengapa aku mengikutinya?" batinnya.


Ia melihat ke sekelilingnya, "Maaf aku tidak tahu harus ke mana?" jawabnya jujur.


"Hah! Ini rumah wanita, kamu pergilah ke sebelah sana. Di sana bagian pria yang masih lajang!" ucap Rani.


Ia menunjukkan sebuah rumah di pohon besar, di seberang jalan tepatnya di seberang pohon beringin. Di mana biasa mereka berkumpul, menikmatu makan dan pesta juga banyak hal.


Kevin terburu-buru turun dan melompati 2 anak tangga sekaligus, ia sangat malu sekali harus mengikuti Rani ke pondoknya.


Senja telah datang, Kabir, Darmanto, Hendro, Junaid, dan Kevin berlari meninggalkan tanah tak kasatmata. Mereka berusaha ke luar dari pulau kematian menuju ke arah pulau tak bertuan.


Mereka hanya menyusuri sekitar pantai mereka hanya melihat sebuah pulau di seberang Pulau Kematian, dari balik karang mereka melihat heli lalu lalang ke dalam pulau.


Membawa banyak kargo di setiap heli dengan bantuan tali yang tergantung, "Sepertinya Alberto banyak memasukkan kargo-kargo." ujar Hendro.


Mereka tidak bisa mendekat karena luasnya lautan tak bertepi, mereka hanya mengawasi dari pantai Pulau Kematian saja.


Mereka hanya memandang dengan ownuh pertanyaaan,


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Junaid.


Mereka masih mengawasi semuanya, "Tempatnya juga sangat terjal, kita tidak memiliki satu heli pun" sambung Hendro.


Semua orang terdiam, "Bagaimana jika kita membuat kano?" tanya Darmanto.


"Kano? Aku sama sekali tidak pandai membuatnya?" balas Kabir. Daerah asalnya adalah pegunungan hingga ia tidak memerlukan sebuah kano pun,


"Aku bisa membuat kano sederhana," ujar Junaid dan Kevin.

__ADS_1


Mereka saling pandang, "Wah, hebat! Kita punya satu hobbi" ujar Junaid. Keduanya tersenyum, hanya sesama prialah yang memahami arti senyuman yang mereka maksud.


Malam sudah mulai turun, senja sudah hilang, mereka mencoba untuk mengendap-endap meninggalkan pantai di balik batu-batu karang yang terjal.


Mereka kembali berlari pulang, mereka melihat 3 buah heli menuju ke arah Pulau Kematian. semua orang kembali bersembunyi, mereka melihat semua tentara turun dari heli lengkap dengan senjata.


Mereka mengitari kastil memeriksa banyak hal, mereka melihat banyak mayat yang sudah tidak utuh dan tidak merasakan sedikit kasihan pun,


Mereka bukan datang untuk menguburkan, mereka seperti mencari sesuatu di sela mayat para tentara yang masih malang melintang di sana, karena para pion pun tidak memiliki kesempatan untuk menguburkannya.


untung saja para beeluf dan pion telah menguburkan mereka walaupun di beberapa lubang yang sama, sebagian dari tentara.


Mereka hanya mengawasi para tentara, heli masih berputar di atas kepala mereka. Hendro ingin menembak heli,


Kabir memegang tangannya dan menggelengkan kepala, "Tidak usah! Biarkan saja, biar mereka menganggap kita mati. Hingga memudahkan kita menyerang kembali ke Pulau tidak bertuan," ucap Kabir.


Hendro menurunkan senjatanya, ia memahami maksud Kabir. Mereka hanya memandang para tentara sibuk membongkar puing-puing reruntuhan kastil seperti mencari sesuatu,


Para pion segera berlari secepat kilat mengikuti semua kelakuan para tentara, sesampainya di dalam. Mereka melihat terowongan yang sangat panjang dan bersih dengan lampu-lampu listrik.


Tempat yang sangat nyaman, mereka bersembunyi di balik rak-rak yang berisi penuh dengan buku dan chip dan disket. Para pion tidak memahaminya, yang memahami adalah trio mekanik.


Mereka melihat layar-layar monitor dan mereka melihat banyak layar monitor besar. Mereka melihat singgasana Alberto yang sering mereka lihat kala Alberto di layar monitor,


mereka hanya memandang si tentara mengambil sesuatu dari dalam brankas, ia mengeluarkan sebuah koper. Secepat kilat Kabir menikamkan sangkurnya membunuh si tentara,


ia mengambil koper dan memberikan kepada Darmanto.


Mereka secepat kilat ke luar dari gua persembunyian Alberto dan berlari menembus stepa dan masuk ke gua air gerjun.


Mereka terengah dan membuka koper, "Bagimana jika kita bawa ke tanah tak kasatmata?" tanya Junaid.

__ADS_1


"Jangan, aku takut jika semua ini jebakan. Sayangnya salah satu trio mekanik tidak ada disini, jika ada. Kita akan mengetahui isinya?" ujar Darmanto.


"Rusa Nakal!" teriak Hendro, si rusa langsung datang, "Pergilah panggil trio mekanik kemari jika mereka tidak mau culik saja mereka!" perintah Hendro sesuka hatinya.


Si rusa langsung menghilang, Kevin begitu terkesiap dan termangu, ia tidak menyangka di zaman yang serba modern ia akan melihat sebuah mahkluk astral dan aneh.


Akan tetapi, dulu ia pernah mendengar rumor jika Pulau Kematian di wilayah Hutan Kegelapan memiliki sesuatu makhluk yang tidak kasatmata. Mereka mengatakan penunggu atau danyang pulau.


Ia hanya tertegun diam. Berselang beberapa waktu, si rusa dan kedua temannya datang membawa trio mekanik yang sedang terguncang-guncang di punggungnya akibat si rusa menculiknya saja.


Ketiganya melompat turun, "Ada apa ini?" tanya Will. Darmanto memberikan koper kepada ketiganya, "Dari mana kalian mendapatkannya?"


Semua pion menceritakan banyak hal kepada trio mekanik, mereka semuanya mengangguk kemudian membuka koper mereka hanya melihat bebrapa surat ditulis secara manual dan sisanya penuh dengan chip dan disket, mereka sudah memeriksa dengan teliti dan tidak ada yang mencurigakan.


Mereka kembali ke tanah tak kasatmata secepatnya, mereka tiba saat makan malam. Mereka menyantap makan malam dan berbicara banyak hal tentang yang mereka lihat, "Kami akan membuat kano esok hari, Sepuh!" ujar Kabir.


Yahmen melihat ke arahnya, "Kami ingin menyelidiki ke pulau tak bertuan, walaupun kita selamat kita tidak bisa bebas, kita masih terpasung di sini. Apalah arti dari kemenangan semu ini," ujar Kabir.


Yahmen dan semua orang memahaminya, ia pun merasakan saat ia masih muda hingga detik ini. Ia merasa tidak memiliki sebuah kebebasan untuknya menghirup udara pagi yang indah di gurun,


menyentuh embun kala pagi di stepa atau berlarian di hutan bambu kala sore hari menangkap burung puyuh.


Semua itu tidak pernah ia lakukan karena keterpasungan oleh Alberto,


ia tersenyum dengan manisnha memandang suaminya dan tetua Balian, "Aku pembuat kano yang luar biasa," ucap Balian.


"Aku akan memilih kayu yang terbaik untuk membuat kanonya," ujar Aoi.


Keesokan harinya mereka seoakat membuat beberapa kano, Aoi menebang pohon yang sangat kuat semua pion membantu melubangi kayu, Kevin, Junaid, dan Balian melubangi kayu dengan cekatan, para wanita menyediakan makanan dan minuman.


Semuanya bekerja sama membuar kano, mereka melicinkannya membuat dagungnya. Satu buah kano bisa mengangkut 4 orang dewasa, mereka membuat kano sebanyak-banyaknya.

__ADS_1


Di dalam seminggu mereka berhasil membuat 30 buah kano, mereka masih melihat heli beroutar-putar seakan mencari-cari keberadaan para pion.


__ADS_2