
Akan tetapi kidungnya kali ini penuh dengan sebuah kesedihan, yang teramat dalam. Ia meneteskan air mata sebelum gerbang pintu masuk menghilang bersamaan dengan nyanyian pun berakhir.
Yahmen menatap kedua tunggul pohon yang menjulang, "Ya Allah. Semoga kami berhasil, kuserahkan mereka kepadamu di dalam perlindungan-Mu aamin!" ujarnya.
"Aaminn!" semua orang mengamininya. Yahmen memunggungi tunggul dan berjalan pulang. Ia masih menyalakan pendar cahaya dari telapak tangannya, keheningan hitam kegelapan semangkin menyeramkan.
Membuat bulu kuduk meremang, tiada seorang pun yang bersuara, semuanya diam dengan seribu bahasa. Berharap segalanya akan baik-baik saja dan kembali bersama kelak,
deru pesawat masih terdengar sekali-kali di kejauhan. Cahaya pendar dari bohlam kastil yang berputar di setiap sudut masih bergerak berpindah di setiap sudut pulau.
Mereka meninggalkan suatu tempat yang mistis di sana, Kabir memandang ke belakangnya. Ia tidak melihat apa pun yang ada hanya lah kegelapan dan pekatnya malam tanpa ada satu pun kehidupan di sana.
Bayang-bayang pepohonan besar yang menjulang tinggi hampir menyentuh langit dan dengan keangkuhan yang luar biasa.
Kabir sekilas melihat bayang-bayang kegelapan yang menyeramkan, "Kemungkinan bayangan pohon, itu sendiri yang membuat hutan ini semangkin menakutkan."
Kabir membatin seraya menyusuri jalan pulang dengan diam, "aku berharap kami pulang dengan selamat dan kembali bisa membuka pintu gerbang mereka, jika tidak? Entahlah!" sambung batinnya.
Mereka kembali pulang, mereka berkumpul di tanah tak kasatmata, duduk di bawah pohon beringin rindang dan meminum teh jahe.
Suasana tanah tak kasatmata begitu sepi, tiada kehidupan hanya sisa-sisa pesta pernikahan semalam yang masih terlihat.
Anak-anak yang biasanya mewarnai tempat berunah menjadi kesepian yang panjang, yang tinggal hanya beeluf yang siap berperang dan para pion.
Rumah-rumah pohon masih bercahaya akibat lampu teplok yang masih berkedip-kedip tertiup angin, suara jangkrik masih bercicit mendayu.
Kabir memandang semuanya, secuil rasa kehampaan dan kesedihan, "Karena Alberto semua orang menjadi kehilangan kasih sayang keluarga, dan harus berpisah!" ucapnya,
"bagaimana jika besok kita akan mulai menyerang kastil Alberto?" usul Kabir.
Ia sudah lelah jika terus-terusan menjadi buruan, kali ini ia ingin Albertolah yang akan menjadi buruan mereka.
__ADS_1
Semua orang menatap ke arah Kabir, "Apakah kita sudah kuat? Bukankah sekarang Alberto memasukkan tentara bayaran lagi!" ujar Hendro.
"Aku rasa kita bisa kita bergerak malam hari, kita gembur saja. Kita bergerilya," Darmanto menimpali. Ia memandang semua orang, "aku pun sudah lelah dengan semua ini," sambungnya.
Yahmen dan para ketua terdiam, "Aku rasa hal itu ada baiknya, apa salahnya kita mencobanya." Balian memandang semua orang, "kita tidak akan tahu, jika tidak mencobanya. Lagian kita tidak bergerak semua, kita bagi beberapa kelompok. Kita serang bersamaan, setelah kerusuhan terjadi secepatnya kita mundur."
Balian menambahkan, "Bagaimang beeluf penjaga listrik?" tanya Kirana. Mano tersenyum, aku akan mengutus Sukuna dan Rani menghancurkannya.
"Kita menyerang 4 pintu masuk kastil secara bersamaan, dan Sukuna menghancurkan beeluf penjaga listrik. Aku yakin di saat lampu padam, kita leluasa bergerak dan kabur!" ujar Mano.
Zai memandang Sukuna, "Aku akan membantu Sukuna, Ketua Mano!" ucapnya. Zai merasa ingin melindungi Sukuna, ia tidak ingin Sukuna membabi buta bertempur karena ingin menyusul kematian Akashi.
Semua orang tersenyum memandang Zai, mereka merasakan Zai telah jatuh cinta kepada Sukuna tanpa ia sadari.
Mona melirik ke arah keduanya tersenyum, "Ehm! Ehm, mengapa kau tidak bersama denganku saja Zai?" godanya.
Hendro tersenyum ia memahami Mona hanya ingin menggoda Zai, "Akh, dia ingin melindungi Sukuna. Ia takut Sukuna masih ingin mengejar kekasih hatinya ke nirwana, upsh!" kata Hendro sembari menutup mulutnya.
Ia menatap Sukuna dengan sebuah tatapan yang sulit untuk dikatakan dengan lisan, ia begitu mengagumi wanita mungil bermata sipit dan berambut panjang yang sedang memegang cangkir dengan kedua tangannya juga meniup teh jahe di bibirnya.
"Kalau cinta katakan, Bro! Jangan sampai ketikung disepertiga jembatan!" ujar Toto.
"Hahaha! Ingat tunangan di kampung, Zai!" celetuk Will.
Deg!
Jantung Zai serasa terhenti, entah mengapa ia melupakan tunangan cantiknya. Hari-hari bersama Sukuna mampu meluruhkan cintanya krpada Mira.
Keheningan terjadi, tiada suara. Deru heli masih terdengar sekali-kali mengitari pulau. Mereka menatap keremangan cahaya fajar menyingsing kala subuh telah datang.
Mereka berusaha merenda hari yang bahagia, semua berusaha berjalan pada takdirnya masing-masing. Kabir dan semua orang berusaha untuk memulai kehidupan dan perjuangan, setelah sarapan Kabir, Heru, Darmanto, dan Junaid pergi mengintai ke kastil melalui gua air terjun.
__ADS_1
Berlari secepat kilat membelah pagi, dengan sisa embun yang masih menetes di sela dedaunan. Mereka bergerak secepat mungkin memasuki gua air terjun, menyelinap pelan ke luar gua tepat di belakang kastil.
Memasuki dapur masak, dan membunuh 4 orang tentara dan memakai bajunya. Mereka ikut menikmati nasi ransum dari dapur suatu kemewahan yang luar biasa.
Mengikuti semua kegiatan para tentara hari itu, Darmanto berhasil mencuri beberapa topeng silikon dan memakainya begitu juga dengan ketiganya.
Membuat mereka dengan mudahnya membaur seperti yang selama ini Alberto lakukan kepada semua musuhnua. Kini, ialah yang akan menuai benih yang ia tabur.
Mereka terus masuk dan menyelinap ke setiap ruangan kastil, mencoba untuk mengukur setiap kekuatan yang mereka lihat mencoba mencatat di dalam hati.
Darmanto berhasil mencuri beberapa topeng lagi dan menyelipkannya di balik sepatunya, mengikuti latihan menembak dan berlatih oedang.
Akan tetapi mereka tidak berhasil menemukan di mana Alberto berada, "Aku tidak pernah melihat Tuan Alberto sejak, di sini!" lirih Kabir kepada teman tentara yang merupakan kaki tangan Alberto.
Ia mencoba untuk berbaur, si tentara memandangnya sekilas.
"Kau anak, barukah?" tanganya.
"Tidak, juga! Sudah hampir 2 bulan, tetapi tidak sekalipun aku melihatnya," jawab Kabir acuh.
Si tentara melihat Kabir berwajah asing, "Untuk apa kau melihat pria gila itu! Aku saja, kalau bisa akan ke luar dari sini.
"Sayangnya, petinggi di negaraku memihaknya. Membuat kami harus menandatangani kematian kami sendiri untuk sesuatu hal yang hanya demi keuntungan mereka," ujarnya.
Si tentara menerawang memandang ke depannya melihat semua orang sedang berlatih, "Apakah kalian tentara dari suatu negara?" tanya Kabir.
Ia begitu penasarannya, "Ya! Akan tetapi, kami melakukan sebuah kesalahan di kesatuan sebagai hukuman kami dibuang kemari. Aku tidak tahu, jika kesalahan ringan kami. Bisa berakhir, fatal!" ujarnya.
Kabir memahami kelukaan dan kebencian si tentara kepada atasannya, jiwa kemanusiaannya masih ada. Namun, Kabir sendiri pun tidak berani terlalu membuka diri.
Ia belum begitu yakin siapakah si tentara ini, "Aku lihat saja bagaimana ke depannya?" ucap Kabir.
__ADS_1