Pulau Kematian

Pulau Kematian
Malam kelam


__ADS_3

Aoi kecil selalu saja belajar pedang kayu dengan anak-anak seusianya, berlarian di semak-semak bambu tanpa takut dengan banyak hal.


Ia selalu penasaran dengan stepa di Tebing Hatter, tetapi mereka selalu mendengar rumor mengenai srigala.


Sehingga membuat nyali mereka sedikit ciut. Malam harinya, ayahnya pulang dengan wajah yang kusut dan ketakutan.


"Mayo, kemas semua barangmu! Bawa, seperlunya saja. Kita akan pergi malam ini juga," teriak Koichi.


"Ada apa, sebenarnya?" Mayo bertanya dengan kebingungan.


Walaupun ia berusaha untuk terus memasukkan semua barangnya ke dalam tas pakaian yang lebih kecil.


Aoi yang hanya diam tidak tahu harus berbuat apa, teriakan-teriakan di rumah sebelah membuat Aoi ketakutan dan berlindung di tubuh ibunya.


Koichi mengeluarkan samurainya, "Pergilah, dari pintu belakang terus ke Tebing Hatter. Temui, Pardhan.


"Ia akan menolongmu! Katakan, 'Kau, istriku!' selamatkan anak kita Mayo," ujar Koichi.


Koichi bergerak ke luar rumah, ia tidak ingin para ninja langsung masuk ke dalam rumahnya.


Koichi ingin mengulur waktu, agar istri dan anaknya selamat dan berhasil melarikan diri mencapai Tebing Hatter.


Aoi semangkin tidak mengerti di pelukan ibunya, "Koichi, ada apa sebenarnya?" Mayo masih bingung harus bagaimana.


"Pergilah, Mayo. Aku akan menyusul kalian, cepat!" teriak Koichi.


Mayo menyelempangkan tas kecilnya, dan menarik Aoi dari pintu belakang.


Aoi kecil melihat orang-orang masuk ke dalam teras rumah mereka ayahnya bertarung di sana.


Ia masih terus menoleh ke belakang, darah menyembur di dinding kertas rumah. Aoi melihat tetangga mereka pun mengalami nasib yang sama.


Darah menyembur di dinding dan teriakan orang-orang berlarian kesakitan dan sumpah serapah dan banyak hal terucap.


Mayo menarik lengan Aoi terus berlari menjauh dari Hutan Bambu, tetapi sayangnya di tengah perjalanan sebelum mereka sampai di perbatasan Hutan Bambu dan Tebing Hatter.


Beberapa ninja menghadang mereka, Mayo mendorong Aoi ke semak-semak.


Mayo mencoba melawan sekuat tenaganya, sebaliknya Mayo yang hanyalah seorang ibu rumah tangga harus kalah. Ia tidak memiliki kekuatan maupun kepandaian berkelahi,


Mayo terjerembab para ninja berusaha untuk memperkosanya. Wajah Mayo yang cantik mengundang hasrat mereka.

__ADS_1


Aoi melihat para pria itu ingin melakukan sesuatu kepada ibunya, mereka mengoyak yukatanya dan menarik tangan dan kaki ibunya.


Aoi tidak memahami apa yang ingin mereka lakukan kepada ibunya, ia hanya ingin menyelamatkan ibunya.


Naluri kelelakian Aoi mendidih melihat ibu yang ia cintai harus menderita dengan pukulan di wajah dan tubuhnya.


"Lepaskan! Lepaskan! Dasar kalian manusia kotor, bejat." Mayo berusaha melindungi dirinya, tetapi kekuatannya tidak sebanding dengan ketiga pria di depannya.


Di saat ibunya meronta-ronta berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman para pria, Aoi keluar dari persembunyiaannya.


Ia mengambil samurai yang panjang dan berkilau, langsung menebaskan ke pria yang memegang tangan dan kaki ibunya. Tiga pria langsung terkapar.


Darah menyiram di wajahnya yang mungil, "Aoii!" teriak Ibunya berlari memeluk Aoi kecil.


Aoi tidak memahami apa pun, yang ia tahu ibunya memuntahkan darah dari mulut dan darah merembes dari punggung ibunya.


"La-larilah, Nak!" ucap Mayo terjatuh di kaki Aoi. Aoi melihat kedua belah tangannya sudah berlumur darah, ibunya telah meninggal tertusuk pedang seorang ninja.


Ibunya telah menyelamatkannya dari kematian, dan sebagai gantinya ibunyalah yang meninggal.


Seorang ninja hanya memandangnya, "Hiduplah dengan kekuatanmu, bila kau ingin membalaskan dendammu carilah aku! Namaku Kenji!" ujar si ninja melesat melompati batang demi batang bambu.


Berharap ibunya bangun dari tidurnya, sebaliknya ibunya tidak mendengar teriakannya.


Suara-suara teriakan orang lain yang bernasib sama pun, masih terdengar dan ketakutan mewarnai Hutan Bambu.


"Ibu, bangun ibu! Aku takut," lirih Aoi. Tangannya sudah penuh darah ibunya ia berusaha untuk menutup darah yang mengalir.


Ia mencabut samurai yang menancapkan di punggung ibunya, ia melihat samurai itu. Dengan dendam, bayangan ninja yang bernama Kenji semangkin membuatnya marah.


Aoi mengoyak kimononya dan berusaha untuk membungkus luka ibunya, ia ingin menggendong ibunya tetapi ia tidak mampu.


"Jangan biarkan seorang pun selamat, bunuh semua samurai dan orang-orang pekerja di Hutan Bambu!" teriak seseorang.


Aoi tercekat, ia merasa nyawanya terancam. Ia mendengar suara dan teriakan kawan-kawannya yang baik dari samurai dan dari pengajian di sebelah rumahnya.


Aoi mengecup wajah ibunya yang penuh darah, "Ibu, maafkan aku. Aku tidak bisa membawamu, aku akan membalaskan dendammu!" ucap Aoi.


Ia berlari dengan samurai yang masih meneteskan darah ibunya menembus malam gelap, ia tidak tahu berlari ke mana.


Ia hanya tahu terus berlari, ia jatuh dan bangun. Bakiaknya sudah entah ke mana, kimononya pun sudah compang-camping akibat ia memotong lengan kimononya untuk luka ibunya.

__ADS_1


Ia terus berlarian, ia tidak lagi takut akan rumor hantu dan srigala.


Di tengah pelariannya, ia dikepung sekawanan srigala.


Mata srigala yang merah membuat nyalinya sedikit ciut, hanya saja bayangan ibunya yang meninggal di pelukannya. Membuat ia menghunuskan samurainya.


"Aku atau kau yang, mati! Aku tidak peduli. Ayo, serang aku!" teriaknya.


Seekor srigala melompatke arah dirinya, ia tidak tahu harus bagaimana. Aoi hanya mengandalkan instingnya,


ia menghunuskan pedangnya ke angkasa dan menusuk sebelah kanan mata srigala.


Srigala jatuh terkapar, Aoi hanya terduduk dengan diam.


Wajahnya yang penuh darah dan di kedua belah tangannya darah musuh dan darah ibunya bercampur menjadi satu.


Aoi hanya tahu, hidup atau mati. Baginya keduanya sama saja, ia tetap tidak memiliki siapa pun lagi di dunia ini.


Ia sendiri pun tidak tahu di negri antah berantah mana ia berada. Seketika jiwanya semangkin marah, ia ingin menuntut balas keoada Kenji.


Ialah penyebab segala kepahitan dan kegetiran hidupnya. Ia berusaha kuat dan berani, menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di depan matanya.


Lolongan srigala melengking, kawanan srigala yang lain pun berkumpul membentuk lingkaran.


Aoi sudah pasrah, ia ingin bersama dengan ayah dan ibunya. Ia berusaha untuk mencengkram samurainya dengan kedua belah tangannya yang mungil.


Selama ini ia hanya memegang pedang kayu. Namun, kini ia benar-benar memegang samurai.


Aoi berusaha untuk berdiri dan menghunuskan pedangnya.


"Ayo, serang aku! Bunuh, aku! Aku pun tidak ingin hidup sendirian tanpa ayah dan ibuku. ayo!" teriaknya.


Aoi dengan marah dan deraian air mata, anak 10 tahun itu hanya mampu marah dan menangis.


Ia merasa kehidupan tidak adil kepadanya. Namun, tidak seekor srigala pun yang mencoba untuk menyerangnya.


Mereka hanya berbaring dan bertumpu dengan kaki depannya melihat Aoi.


Aoi tidak tahu harus bagaimana, ia hanya berdiri dengan samurai dan darah di sekujur tubuh dan wajahnya.


Sebuah kidung lembut dari sebuah seruling membuat ia jatuh terduduk.

__ADS_1


__ADS_2