Pulau Kematian

Pulau Kematian
Balian Si Golok Hitam Gila


__ADS_3

Kicauan burung mendayu indah, gemercik air terjun bagaikan kecapi merdu mengalun mengiringi mimpi yang panjang bagi Balian dan sahabatnya.


Seminggu sudah mereka terbaring di gua dengan tubuh bak kepompong. Mereka tidak menyadari wanita muda dan pria tua hilir mudik setiap waktu merawat luka mereka.


Pada hari ketujuh ke-13 orang itu tersadar. Mereka bergerak di dalam kepompongnya dengan berlahan, helain halus bak permen gulali itu memudar.


Balian dan sahabatnya saling pandang dan tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka jika mereka selamat di dalam pertempuran yang begitu mengerikan itu.


Kriuukk!


Suara perut mereka berbunyi, kesemuanya saling pandang dan berusaha untuk berdiri mencari ikan dengan mengendap-endap di sungai.


Mereka membawanya ke dalam gua dan membakarnya, mereka makan dengan diam.


Mengingat setiap kejadian demi kejadian yang telah mereka alami, "Aku merasa ada yang merawat kita," ucap Balian.


Palki menatap Balian, "Seorang Kakek Tua dan cucunya bukan?" balasnya.


Semua orang saling pandang, "Apakah benar rumor yang mengatakan, 'Jika Pulau Beeluf ini memiliki hantu? Dan suara seruling di malam purnama itu juga perbuatan mereka,' Mungkinkah?" tanya Ujang.


"Masa hantu bisa menginjak tanah?" balas Rasna.


Sanna hanya terkekeh geli, menakuti Ujang dengan membelalakkan matanya dan suara yang sedikit menyeramkan.


"Hahaha!" semua tertawa.


Sejenak mereka lupa akan kesedihan dan penderitaan mereka. Namun, sedetik kemudian mereka terdiam.


"Aku ...," ucap Sanna. Ia ingin mengatakan sesuatu, tetapi ia tidak mampu untuk megucapkanya.


Balian memandangnya, "Kita akan mengendap-ngendap ke lembah. Melihat bagaimana keadaan keluarga kita," balas Balian. Ia mengetahui apa yang akan diucapkan Sanna.


Sanna tersenyum, "Terima kasiah, Lian!" balasnya.


Mereka makan dengan cepat, ke luar gua dengan mengendap-endap dan berlari membelah Hutan Bambu.


Mereka memasuki lembah di mana mereka tinggal, mereka melihat tidak ada apa pun lagi.


Mereka melihat hanyalah sisa pembakaran dan tunas-tunas rumput yang mulai muncul beberapa senti dari tanah.


Mereka terdiam dari balik semak, mereka berlutut jatuh terduduk. Memandang semuanya.


Kenangan, mulai berlarian di benak mereka segala hal yang mereka rasakan di sana.


Bayangan anak-anak yang berlarian bermain layangan, saling mengejar di stepa luas. Kupu-kupu dan kumbang terbang mengitarinya.

__ADS_1


Kini, semuanya hanyalah tinggal kepedihan dan keheningan yang mencekam. Alberto benar-benar tidak meninggalkan segala sesuatu lagi kepada mereka.


Secuil kenangan yang semangkin menari dan menambah luka.


Ketiga belas sahabat itu berlari meninggalkan lembah hatter.


Kesemuanya berjanji di dalam hati untuk terus maju dan membalaskan dendam mereka.


Setiap hari mereka berlatih di dalam gua air terjun.


Setiap hati mereka selalu menyerbu ke ceruk-ceruk tebing hatter untuk membunuh para hatter, ninja, tentara, dan banyak hal.


Mereka tidak pernah lelah pagi, siang, sore, bahkan malam pun mereka selalu menyerbu semua musuhnya. Baik dengan api yang sengaja mereka lontarkan seperti obor.


Alberto pusing tujuh keliling menghadapi mereka, Balian Si Golok Hitam terus saja menyerang mereka.


Balian dan sahabatnya menyerang entah dari mana saja, mereka datang seperti angin. Ke-13 orang itu pun selalu saja merusak tembok pembatas.


Akan tetapi, masyarakat di pulau tidak banyak, karena sudah meninggal. Yang ada hanyalah kawanan Alberto.


Sementara yang tinggal adalah orang-orang yang penuh dendam, mereka tidak pernah berpikir akan ke luar dari pulau.


Tiada seorang pun yang memiliki pikiran untuk meninggalkan pulau. Mereka hanya ingin membalaskan dendam kepada musuh.


Mereka hanya berkutat di dalam pulau saja, terus bertempur dan bertempur lagi. Bayangan kehidupan di luar pulau sedikit pun tidak pernah mengusik hati dan pemikiran mereka.


Sedang berlarian memainkan pedang samurainya yang berkilauan tertimpa cahaya matahari, dengan kawanan srigalanya di tebing-tebing.


"Apakah itu putra Koichi Sama?" ujar Balian. Rasna dan Palki melihat anak yang berlarian itu.


"Usahakan anak itu menjauh dari bahaya, sepertinya hanya dia yang selamat dari Klan Samurai." Perintah Balian, ia terus memandang Aoi.


Balian ingin melindungi Aoi kecil anak dari Kepala Kontraktor yang membangun tembok pembatas di sepanjang pulau.


Aoi sedang bermain samurainya menebas bunga-bunga di depan ceruk tebingnya. Terkadang ia menaiki srigala putihnya menuruni tebing.


Balian tersenyum melihatnya, ia sangat merindukan kedua adik perempuannya. Air matanya berlinang.


Rasna dan Sanna melihatnya, "Kau rindu akan Muna dan Bajee?" tanya Rasna.


Balian hanya memganggukan kepalanya, "Anggaplah, aku dan Sanna adik perempuanmu!" balas Rasna dengan penuh kasih sayang seorang adik.


"Dan anggaplah aku calon suamimu!" ucap Ujang.


"Siapa juga yang mau menikah, denganmu?" balas Rasna.

__ADS_1


Rasna langsung menendangnya dengan pelan, membuat mereka tertawa. Balian tersenyum mereka masih mengintai di atas pohon tinggi.


Aoi sudah berlari dengan menyeret samurainya yang hampir sama besarnya dengannya. Sehingga samurai tanpa sarung itu selalu ia seret ke mana pun ia pergi.


Balian melihat Aoi kecil saling bergulingan dengan kimono tanpa lengannya di rerumputan lembah di balik bunga kuning bersama kawanan srigalanya yang selalu menjaga Aoi dengan diam-diam.


"Anak Koichi hebat, ia mampu menjinakkan kawanan srigala yang buas itu. Srigala Tebing Hatter!" ucap Balian.


"Mengapa kau tidak mengajaknya tinggal bersama kita saja?" tanya Rasna.


Balian memandang Rasna, "Kau tahu, kita selalu saja bertempur. Kasihan, anak itu! Biarlah srigala membesarkannya," balas Balian.


Mereka melihat iring-iringan hater baru ke arah pelabuhan, "Sepertinya mereka ingin mengangkut sesuatu?" ucap Palki.


Balian menatao.sekilas, "Ayo!" ajaknya sembari merosot trurun.


Semuanya berlari menjauhi pohon mengarah ke pelabuhan.


Para hatter dengan pongahnya berjalan dan tertawa cekikian dan melatunkan yel-yel mereka, dengan sebelah tangan mereka memeluk bahu pasangan mereka yang sama barbarnya.


Mereka menggunakan pakaian minim, membuat Rasna dan Sanna merasa risih.


Mereka terus mengintai. Tanpa aba-aba Balian yang gila langsung menyerang membabi buta menyerang semua hatter. Membunuhnya dengan cepat, dibantu oleh teman-temannya.


Mereka meninggalkannya begitu saja, "Alberto kau akan mati!" pesan yang ditulis Balian di tubuh hatter dengan ukiran goloknya.


Goloknya yang hitam semangkin hitam, begitu juga dengan senjata sahabatnya. Mereka terus menyeberangi pulau wilayah demi wilayah,


selain itu ke-13 orang itu membuat terowongan seperti tikus setiap malamnya membuat mereka mudah ke mana pun.


Balian tidak pernah mencuri di kastil Alberto ia hanya selalu membunuh dan membunuh melemparkan api dan kerusuhan lainnya.


Merusak semua alat laboratorium Crabs, membakar semua persediaan makanan dan dapur Alberto.


Menenggelamkan kapal pengangkut oersediaan dan tentara. Sehingga Alberto menjulukinua Balian Si Golok Hitam gila.


Sejak saat itu, Alberto menggunkan heli ia jarang menggunakan pelabuhan lagi.


Alberto menutup pintu pelabuhannya, karena semua kapal berhasil.disabotase olrh Balian.


Namun, Balian tidak pernah mencuri dan mengambil apa pun milik Alberto ia mengharamkannya.


Sehingha Alberto membuat cctv di setiap wilayahnya dan layar monitornya.


Ia sangat ketakutan dengan kegilaan Balian dan sahabatnya.

__ADS_1


Mereka selalu diam-diam mendatangi dan membunih mereka yang lelah, bak hantu di kegelapan dan siang hari.


__ADS_2