Pulau Kematian

Pulau Kematian
Awal mula Pulau Kematian


__ADS_3

"Jadi, maksud tetua. Pulau ini dulunya memiliki penghuni?" tanya Ayesha.


Semua orang begitu ingin mendengarkan sebuah kisah di balik cerita sebuah nama yang mengerikan,


"Dulu, kami di sini sekumpulan orang yang terbelakang. Tidak pernah ada yang menyadari keberadaan kami, walaupun pemerintah sudah berulang kali melakukan yang terbaik!" ucap tetua Yahmen,


"Kami belajar bahasa Indonesia, kerajinan tangan, dan banyak hal. Sekolah-sekolah pun sudah ada sebenarnya, lalu .... "


50 tahun yang silam ....


Kicauan burung pagi begitu merdunya, para suami sudah membawa hasil tangkapan ikan mereka untuk dijajakan ke pulau sebelah dengan menaiki kapal motor kecil.


Pulau Beeluf begitu damainya, pulau yang memiliki 4 daerah yang luar biasa unik. Ada Hutan Bambu, yang penuh dengan beraneka jenis bambu berada di daerah itu.


Daerah Hutan Kegelapan yang sedikit angker dan memiliki banyak binatang buruan dan buas. Daerah Stepa yang sedikit lembah dengan mata air jernih dan air terjun di bukit-bukit terjalnya.


Dan Daerah Gurun, yang sangat luas dengan danau ase dan unta liar banyak mendiami gurun.


Orang-orang beeluf menganggap semua itu adalah hadiah dari Sang Pengasih kepada mereka.


Di sepanjang tepi pantai berpasir putih dengan deretan pohon kelapa, dua orang gadis kecil berumur 10 dan 12 tahun berlarian di sekitar pantai.


Mereka menantikan ayah mereka pulang dari pulau sebelah menjual ikannya, seorang pria muda turun dengan menenteng sekarung beras, belanjaan, dan keperluan sehari-hari.


"Ayah! Ayah!" teriak anak-anak berlari menyambut ayah mereka di tepi pantai, "Mari kami bawa, Ayah!" teriak anak perempuan yang lebih besar.


"Muti, bawa ini saja!" ucap pria muda yang bernama Bahale. Ia memberiakan se-plastik buah-buahan dan alat tulis, "Aku, Ayah?" tanya anak perempuan yang lebih kecil.


"Yahmen, kamu bawa ini saja!" ucap Bahale. Ia memberikan sekantung kecil plastik, berisikan permaian anak perempuan yang dilihat Bahale di pusat pasar di pulau sebelah.


Ketiganya berlarian tertawa di sepanjang pantai, mereka memasuki rumah di daerah hutan bambu yang dibuat menggunakan bambu dan kayu-kayu kuat dari hutan kegelapan, berbentuk rumah panggung.

__ADS_1


Penduduk di Pulau Beeluf merupakan penduduk yang sangat sedikit dan sudah memeluk salah satu agama yaitu Islam, jumlah penduduk tidak lebih hanya sekitar 100 orang. Mereka saling mengasihi dan menyayangi dengan 40 Kepala Keluarga.


Kehidupan orang-orang beeluf sangat nyaman, Bahale adalah ketua adat dari Suku Beeluf. Wajahnya sangat tampan, begitu juga dengan istrinya Mahani sangat cantik.


Mereka selain melaut juga bertani sayur-mayur, pagi yang indah itu dikejutkan dengan suara deru pesawat yang meledak di gurun.


Para warga berlarian ke arah gurun, mereka melihat kobaran api dan berusaha untuk memadamkan api dengan menimbunnya dengan pasir gurun. Mereka melihat sesosok pria yang sangat tampan dan masih muda tergeletak tidak jauh dari ledakan, "Ayo, kita tolong pemuda ini!" ucap Bahale.


Semua warganya menandu pria tampan yang sedikit mirip bule, para warga begitu antusiasnya menolong pria muda tersebut.


Mereka membawanya ke arah rumah Kepala Adat yaitu Bahale, semua para tetua mengobatinya dengan ramuan tradisional membubuhi ke dalam lukanya.


Mereka bergantian menjaga pemuda itu, seminggu kemudian pemuda itu terbatuk-batuk siuman dari pingsannya, "Di mana, aku?" lirih si pemuda.


Ia memperhatikan ke sekelilingnya sekumpulan orang-orang pedalaman yang memakai baju serba tertutup dan penuh kesopanan, dan terbuat dari kain-kain batik.


"Tenanglah, kamu berada di pulau Beeluf, siapa namamu, Nak?" tanya sesepuh Rayan sebagai ahli tabib dan dokter seadanya.


"Alberto, Alberto Kuro .... " jawab si pemuda. Muti membawa semangkuk bubur, ia menyuapinya dengan telatennya.


Ia juga mendapatkan rasa kepercayaan dan rasa simpati semua warga, akan tetapi kebaikan yang diperlihatkan Alberto merupakan sebuah kamuflase kejahatan sikapnya yang sesungguhnya.


Ia ingin menguasai seluruh pulau dengan segala sumber daya yang dimiliki pulau, "Aku akan menguasai pulau ini, aku akan menjadi pemiliknya!" batin Alberto.


Ia pamit pulang, para warga begitu sedihnya melepas kepergiannya, mereka melepasnya dengan menaiki sebuah kapal motor.


Para warga memberinya uang saku, makanan dan banyak kenang-kenangan dari warga beeluf yang baik.


Para beeluf masih melambaikan tangan di tepian lantai, mengiringi kepergian Alberto.


Pada malam harinya beberpa heli datang, mereka menurunkan tentara bayaran Alberto menerobos masuk ke rumah-rumah membunuh semua warga beeluf tiada yang tersisa.

__ADS_1


Para warga yang begitu polosnya hanya terheran-heran dan tidak memberikan perlawanan, Mahani menyembunyikan kedua putrinya ke dalam tempayan besar,


"Jangan bersuara, hiduplah untuk masa depanmu


Balaslah dendam ini sampai kematian, menjemputmu!" ucap Mahani. Ia menutup tempayannya dan mematikan lampu minyak.


Beberapa tentara menyeret Mahani dan ingin memperkosanya, mereka tidak tahu apa yang pria-pria itu lakukan kepada ibunya.


Akhirnya dengan sisa kekuatan Mahani, ia mengambil sangkur si tentara membunuh pria itu. Namun, malang baginya ia diberondong peluru, hingga meninggal menatap tempayannya.


Yahmen sudah ingin menjerit, akan tetapi Muti menutup mulutnya. Mereka hanya mampu melihat kekejaman tentara, membantai semua orang yang mereka kenal dan sayangi.


Keheningan terjadi, teriakan semua orang berubah menjadi kehampaan. Muti dan Yahmen berlahan menaiki bubungan rumah, mereka mengintip dari balik atap-atap nipah. Tubuh mereka yang kecil memudahkan mereka bersembunyi,


Ayahnya diseret ke tengah lapangan di depan rumah yang mereka gunakan untuk acara adat. Muti dan Yahmen melihat Alberto datang, mereka sudah sangat girang mereka berharap Alberto akan menolong mereka.


"Alberto, tolong selamatkan semua orang!" rintih Bahale.


Alberto berjongkok di depan tubuh Bahale yang sudah babak belur di tanah, ia menjambak rambut Bahale. Ia memandangi wajah Bahale yang sudah menolongnya, "Hahaha kalian adalah orang-ornag bodoh, aku benci orang polos dan bodoh!" ucap Alberto.


Ia lupa siapa yang telah menyelamatkannya dari kematian, "Jadi, kaulah yang membawa mereka?" tanya Bahale.


Alberto tersenyum dengan angkuhnya, "Aku ingin memiliki semua pulau ini, Dan kalian harus mampus!" hardik Alberto.


Bahale tersenyum, "Pulau ini akan menjadi kematianmu, kau tidak akan pernah berhasil! ucap Bahale sebagai sumpahnya.


Alberto murka, mencabut sangkur salah seorang tentaranya, dan menggorokkan ke leher Bahale.


"Hahaha, pulau ini adalah Pulau Kematian, orang-orang beeluf!" teriak Alberto.


Petir dan angin juga hujan saling menyambar, semua warga beeluf hilang tertelan air bah yang entah dari mana datangnya.

__ADS_1


Muti dan Yahmen bersembunyi, lari masuk ke dalam hutan Kegelapan. Di sana mereka bertemu sesepuh Rayan, yang tinggal nomaden.


Sesepuh Rayan dan kedua bocah itulah yang tersisa dari orang-orang beeluf aslinya, kedua bocah bercerita mengenai para orang tua dan semua orang yang sudah meninggal.


__ADS_2