
Para wanita beeluf dan pion sudah berpakaian rapi sementara Hendro sudah kebingungan ia tidak begitu leluasa mengenakan pakaian wanita.
Berulang kali ia menarik-narik ujung kain yang membebat tubuhnya, "Sudahlah, dirimu sudah terlihat sangat luar biasa. Begitu, menggoda!" ucap Mona.
Ia menahan tawanya menjulurkan jari telunjuknya ke dagu Hendro, "Heni, sayang! Kamu begitu cantik dan menggodanya," goda Mona.
Semua orang tertawa membuat Hendro sedikit cemberut, "Kalau kalian terus mengejekku, aku tidak akan pergi!" ucap Hendro kesal.
"Jangan begitu dong, sayang! Aku tetap cinta kepadamu, muach!" ucap Mona dengan memberikan kecupan jarak jauh kepada Hendro.
Semburat merah muncul dikedua belah pipi Hendro, pada akhirnya Kirana, Mona, Nara Hendro, Marta, Ayesha, Rani, dan kedua wanita beeluf berangkat pergi melalui lorong gua sebelah kanan.
Mereka berjalan menyusuri gua dan ke luar melalui celah gua dari balik permukaan bumi dan berjalan secepatnya ke arah tengah gurun, "Suitt!" Ayesha membunyikan suitan dari bibirnya.
Beberapa ekor unta datang ke arah mereka, Ayesha dan beberapa wanita beeluf naik ke punggung unta. Para pion melihat dan mengikuti semua kelakuan para beeluf,
unta membawa mereka menyusuri gurun yang panas. Kembali Ayesha membunyikan suitan dari bibirnya seekor elang menukik pelan dan hinggap di lengannya.
Ia berbicara dengan seekor burung elang yang sangat besar, "Pergilah, dulu! Lihat keadaan di depan. Bila ada musuh yang mendekat, bersuaralah!" ucap Ayesha. Ia memberikan perintah kepada seekor burung elang,
si burung elang bercicit seakan ia mengerti perintah dari majikannya dan terbang tinggi. Terbang mendahului mereka, iring-iringan unta terus berjalan menembus teriknya matahari.
Ayesha melihat ke belakang ke arah para pion, "Berhati-hatilah, di depan kita adalah pos penjagaan perbatasan. Para tentaranya ..., " Ayesha terdiam,
"terkadang, kita menemui tentara yang sangat brutal dan sedikit melecehkan!" ucap Ayesh.
Ia memandang ke semua orang,
"Berhati-hatilah!" sambung Ayesha. Ia berusaha untuk memacu untanya sedikit cepat,
__ADS_1
Mereka terus berjalan, "Apa maksud dari perkataan Ayesha? Aku tidak mengerti bagaimana?" tanya Mona kepada Rani.
Rani menelengkan kepalanya, "Terkadang, di depan ada tentara Alberto yang selalu berbuat kurang ajar. Mereka terkadang melakukan, pelecehan! Berhati-hatilah!" jawab Rani.
Mereka menghentak perut unta dengan ujung tumit sepatu bot untuk berjalan cepat, suara burung elang terdengar berulang kali menjerit di angkasa raya. Ayesha melihat ke belakang punggungnya, "Bersiaplah!" teriak Ayesha.
Mereka mengendari unta dengan persiapan, Rani meletakkan pedangnya di pinggangnya. Para pion memperhatikan dengan seksama, para beeluf memasang cadar mereka dengan erat.
Menutupi separuh wajah mereka hingga yang terlihat hanya kedua belah mata mereka, para pion pun melakukan hal yang sama. Di depan mereka barisan para tentara sedang menunggu mereka, dengan menjaga sebuah gerbang.
Di sisi kanan-kiri jalan, para tentara Alberto berpakaian loreng hitam, lengkap dengan senjata m60 yang mereka sandang di selipan punggung dan tangan kiri mereka. Kedua tentara melambaikan tangan mereka,
mencoba untuk menghentikan para beeluf, Ayesha dan para beeluf turun begitu juga para pion yang selalu mengikuti gerakan mereka.
Para tentara memeriksa tubuh mereka satu per satu, akan tetapi para tentara Alberto begitu kurang ajarnya.
Mereka mencoba untuk menggeledah, akan tetapi mereka bukan hanya menggeledah tetapi menyentuh bagian-bagian tubuh sensitif para wanita. Sesuatu yang bukan seharusnya mereka pegang, para beeluf mencoba untuk diam dengan mengepal tangannya,
Akan terapi seorang tentara tidak mengacuhkan teriakan Ayesha ia masih saja mencoba untuk menggerayangi tubuh Kirana.
Tentara itu terlihat begitu berhasratnya menggeledah tubuh Kirana, wajah Kirana dudah merah padam menahan amarah ia sudah ingin menarik samurainya.
Namun, ia mencoba bersabar. Akhirnya semua wanita berhasil melewati pos penjagaan, terakhir pemeriksaan adalah Hendro, jantung Hendro sedikit ingin copot karena seseorang mencoba menggerayangi buntelan palsu di dadanya.
Ia ingin menjitak kepala si tentara, namun ia berusaha untuk menahan sabarnya. Si tentara memandang Hendro dengan tatapan curiga dan penuh hasrat, "Siapakah namamu? Bolehkah kita berkenalan?" tanyanya.
Si tentara masih saja memandang Hendro, "Aku suka bagian tubuh depanmu, yang padat!" ucapnya sambil menyeringai kurang ajar.
Hendro tersenyum, "Dasar, bodoh! Apakah kau tidak bisa membedakan, mana asli dan mana buntelan kain?" batin Hendro.
__ADS_1
Namun, Hendro bingung harus menjawab apa. Ia takut suara maskulinnya akan terlepas, "Akh, si Abang tampan! Bisa aja, sih! Namaku Hani, Bang!" ucapnya seakan ia wanita bertulang lunak yang begitu genit menggoda.
Mona dan para wanita hampir terjungkal mendengar suara wadam dari Hendro, hampir saja Mona ingin menjambak rambut Hendro. Akan tetapi ia urungkan, "Hani, ayo cepatlah! Tetua sudah menunggu kita!"teriak Ayesha.
Membuat para tentara menyudahi semua aksinya, mereka secepat kilat menaiki unta dan segera pergi.
Namun, tidak berapa lama suara teriakan menggema, "Berhenti! Hentikan, mereka!" ucap seseorang dari dalam tenda.
Para beeluf dan pion langsung menghentikan unta mereka, para tentara berbaris lari ke arah mereka dengan membentuk lingkaran mengepung semua beeluf dan pion. Para tentara menodongkan senjata ke arah mereka,
kesemua beeluf dan pion turun dan mengangkat kedua belah tangan mereka ke atas kepala, "Ada apa, ini? Bukankah kalian sudah memeriksa kami?" tanya Ayesha.
Seorang komandan batalyon menghampiri, "Kami diperintahkan untuk menangkap para pion dan wanita beeluf yang berkhianat!" ucapnya. Ia memperhatikan semua orang,
Ayesha berusaha bergerak ke depan, ia ingin melindungi semua orang di belakangnya yang merupakan tanggung jawabnya,
"Tapi kami sudah jelas-jelas beeluf dan bukan pengkhianat!" teriak Ayesha lagi.
Si komandan mendekati Ayesha menarik cadarnya, "Kau ingin berbohong, dengan jelas-jelas wajahmu terpampang di Hutan Kegelapan bersama para pion!" hardiknya.
Ia menarik sangkurnya ingin menikam ke perut Ayesha, tetapi Ayesha langsung dengan sigapnya menangkap tangan si Komandan. Ia memelintir tangan si komandan dengan kakinya menyodok jatuh salah satu kaki si komandan, Ayesha menarik lengan musuhnya hingga bunyi gemeretak dari tulang belukang tangan si tentara.
Ayesha dengan lihainya, merebut sangkur dari tangan musuhnya dan menghujam ke leher musuh hingga tewas seketika.
Mona langsung menghunuskan pedangnya ke arah tentara lain yang mencoba menghujam punggung Ayesha dengan sebuah pedang.
Dua tentara di belakang punggung Ayesha tewas, di bantai oleh Mona. Pertempuran pun tidak terelakkan, para tentara langsung menembaki mereka dengan timah panas.
Hendro menjatuhkan tubuhnya ke tanah tepat di sebelah mayat si komandan, ia mengambil granat dipinggang musuhnya dan segera melemparkan ke arah barisan tentara, hingga ledakan terjadi.
__ADS_1
Nara dan yang lainnya berusaha memenggal dan membunuh semua tentara Alberto, kedua wanita beeluf lainnya tertembak dan sudah meninggal, saat keduanya ingin melindungi Nara dan Kirana,
Kedua wanita beeluf meninggal dengan berondongan peluru di tubuh mereka, keduanya tersenyum saat jatuh di pangkuan Nara dan Kirana, "Berjuanglah, jangan sia-siakan pengorbanan kami! Selamatkan, keluargaku! Katakan aku mencintai mereka," ucap keduanya di sisa napas terakhir mereka.