Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pergi bersepuluh kembali hanya bertujuh


__ADS_3

Mona tersenyum mendapati Hendro di sisinya, tanpa banyak membantah ia mundur ke belakang kekasih hatinya. Ia menyarungkan samurai dan merogoh botol obatnya, ia menyemprotkan sedikit dan menanti sekitar 20 menit.


Mona mengawasi semua teman yang bertarung di depannya, ia merasakan ada sesuatu di atas mereka sebuah drone. Ia meraih senapan lasernya yang terselip di punggung kirinya, ia langsung menembak drone berkeping-keping.


Ia marah, "Sialan, Alberto benar-benar memahami semua ilmu teknologi. Padahal pasokan listriknya sudah kami hancurkan," batin Mona kesal.


Ia melihat seorang ninja di sudut pertempuran tanpa turun tangan, di tangannya Mona melihat sebuah hand phone. Ia memperhatikan segala gerak-gerik si ninja ia sepertinya terus berbicara melalui hand phonenya.


Mona berlahan beringsut memutar jalan, ia langsung berada di belakang sang ninja dan memenggal lehernya hingga kepalanya menggelinding di tanah.


Mona mengambil hand phone milik musuhnya, ia mendengarkan seseorang dengan menggunakan bahasa Jepang yang tidak dimengerti oleh Mona.


Ia teringat akan Sukuna, ia merekam setiap kata yang terucap dari seseorang. Dari negeri anta berantah yang ia sendiri pun tidak bisa memastikan, dari mana si penelepon berada. Kemudian ia mematikan ponsel dan mengantonginya, Mona kembali melihat sekitarnya.


Di tengah pertempuran ia melihat Kirana dan Kabir begitu gesitnya, dengan cara memunggungi menghabisi semua musuh mereka, hingga tumpukan mayat bergelimangan dengan darah membasahi tanah.


Ia melihat 4 orang wanita beeluf saling membahu menghabisi segerombolan ninja, wanita beeluf begitu lihainya memainkan tombak mereka. Ia melihat kekasihnya dengan gagahnya, menghabisi ninja disekitarnya dengan beradu pedang dan taekwondonya.


Mona melihat Sukuna wanita yakuza itu begitu keren memainkan samurai di tangannya, ia benar-benar berpengalaman dengan samurai. Sehingga samurai bagaikan sebilah tongkat kayu berayun di tangannya.


Mona mengagumi kepiawaian Alberto menemukan orang-orang yang luar biasa di seluruh belahan dunia, mengumpulkannya dan menjadikan semuanya menjadi budak untuk sebuah kesenangan dan menambah pundi-pundi kekayaannya.


Ia melihat Zai kesulitan melawan para ninja, Zai kurang gesit di dalam bertarung. Ia lebih gesit menjadi seorang montir, Mona menangkis sebuah kunai yang hampir melukai punggungnya.

__ADS_1


Ting! Suara dentingan kunai dan pedang menyadarkan Zai, ia menoleh ke belakangnya mendapati Mona telah menyelamatkannya.


Zai bersyukur semua sahabatnya adalah orang yang baik dan setia kawan, "Makasih, Mon!" ucap Zai lega. Namun, belum sempat ia tersenyum sebuah kunai lain hampir saja menembus lehernya.


Andaikan Mona tidak mendorong tubuh Zai dengan sebelah kakinya, hingga membuat Zai jatuh terjerembab, "Monaa! Untung saja tunanganku tidak sesadis dirimu," umpat Zai kesal. Ia bangkit dari jatuhnya, ia sudah melihat Mona kembali membantai musuhnya.


Zai hanya menggeleng-gelengkan kepala, "Apakah Hendro akan kuat bertahan memiliki isti seperti, Mona?" tanya Zai tanpa sadar.


Ia ngeri membayangkan bila Mona menjadi istrinya, akhirnya pertempuran pun usai. Pihak pion masih di atas angin, mereka terengah menatap nanar barisan darah yang sudah menutupi rerumputan di sekitar mereka.


3 wanita beeluf meninggal, mereka berusaha menguburkannya dengan layak, memanjatkan doa dengan kepercayaan masing-masing.


Mereka melanjutkan perjalanan, yang tersisa adalah Kabir, Kirana, Mona, Hendro, Zai, Sukuna, dan wanita beeluf yang ditolong Kabir yang bernama Riana. Mereka tinggal bertujuh membelah hutan bambu, mereka bergerak secepat mungkin menghindari malam.


Mereka berjanji dengan kelompok Heru, mereka akan bertemu di sebuah gua terjal di mana pertama kalinya mereka bertemu, Darmanto, Will, Zai, dan Toto.


melompati semua aral melintang. Berusaha untuk menghindari ranjau darat, suara heli semangkin jelas terdengar. Mereka bersembunyi di balik pepohonan yang rimbun, membiarkan beberapa heli menjauh.


Mereka kembali berlari, hari sudah mulai senja. Hutan Kegelapan sudah mulai terlihat, ketujuhnya memutar jalan melalui celah sungai dangkal berair jernih di mana mereka dulu membantai kelompok hatter.


Mereka mencium aroma daging dibakar, mereka bersembunyi di balik pepohonan. Mereka mengamati kawanan hetter sedang memanggang daging, di samping mereka terlihat potongan-potongan tubuh manusia.


"Huek!" para wanita sudah memuntahkan sebagian isi perut mereka, "Gila, mereka memakan manusia?" ujar Kirana dan Mona serempak.

__ADS_1


"Orang hatter, adalah orang bar-bar yang tidak bermartabat. Lagian di pulau ini, jarang ditemukan binatang. Mereka lebih suka mencari yang praktis saja," ujar Sukuna.


Mereka beringsut menjauhi kawanan hetter yang berjumlah sekitar 30 orang, dengan berbagai macam tato dan tindikan disekitar tubuh mereka.


Mereka beringsut menjauh dengan mengendap-endap, Zai menginjak ranting kayu di tanah, kretakkk! Ia terdiam di atas pijakannya. Para hatter memiliki penciuman dan pendengaran setajam anjing liar, mereka beramai-ramai berdiri dan terdiam mendengarkan suara.


Para pion terdiam dengan waktu yang lama, salah seorang hatter berjalan maju mendekati asal suara. Di mana Zai sedang berdiri, Kabir sudah mengeluarkan senjata lasernya ia merasa lelah bila harus bertempur lagi.


Tenaganya sudah terkuras habis menghadapi para ninja, belum lagi berlarian sepanjang perjalanan tanpa hentinya. Ia melihat keenam sahabatnya pun sudah merasakan hal yang sama, seorang hatter mendekat berusaha membaui mereka.


Ia menebas-nebas rerumputan dengan sebilah golok panjangnya, para pion menahan napas mereka. Namun, semuanya sudah siaga dengan senjata laser di tangan. Keberuntungan berpihak kepada para pion, seekor burung puyuh terbang menjauhi kelompok Kabir.


Si hatter tersenyum senang, "Hanya seekor burung, tolol!" ucapnya. Ia kembali ke kelompoknya yang sedang mengitari api unggun, dengan memanggang seonggok daging manusia.


Kabir dan kelompoknya menunggu sedikit lama, ketika para hatter mulai menari-nari dengan bahagianya. Mereka menari bersama beberapa wanita dari kelompok mereka yang hanya menggunakan 2 lembar pakaian menutupi anggota tubuh yang perlu tutupi saja.


Para pion mulai beringsut berlahan satu per satu menjauhi kelompok hatter, sekitar 20 meter dari hatter mereka berlarian menembus pekatnya malam tanpa cahaya.


Zai mengingat guanya, mereka sampai dengan selamat. Di dalam gua mereka melihat Heru, Ayesha, Nara, Junaid, Marta, Darmanto, Rani, Toto, dan 3 wanita beeluf.


Mereka saling pandang dan berpelukan, "Mengapa begitu lama?" tanya Heru. Ia memandang kesemuanya, Heru mengingat mereka bersepuluh berangkat dari gua air terjun dan kembali hanya bertujuh.


Ayesha terdiam bersama wanita beeluf lainnya, Sukuna dan Riana mendekati ketua mereka. Wanita beeluf saling peluk dan menangis, mereka seperti memiliki sebuah ritual untuk mengenang kematian dari kelompok mereka.

__ADS_1


Sukuna menyerahkan chip dari ketiga sahabatnya yang sudah tewas, Ayesha menerimanya dengan tangan gemetar. Ia mencium dan menyimpannya ke dalam kantongan serut yang terbuat dari kain yang dibuat dengan tergesa, para pion melihat kantungan serut milik Ayesha sudah hampir penuh.


Mereka memahami berapa banyak sudah teman mereka yang meninggal dunia, mereka melanjutkan sebuah ritual doa dengan agama dan kepercayaan masing-masing.


__ADS_2