
Darmanto tidak peduli saat Junaid sudah mendekatinya dengan senjata sudah terhunus ke arahnya, "Diamlah, Junaid! Kau tahu, pria ini bukan Toto!
"Apakah kau tidak ingat kalian menemukan kami, aku yang telah lama bersama dengan Toto dan aku mengenalinya," bentak Darmanto.
Ia masih berang melihat tingkah Toto, "Tolong, aku! Darmanto sudah mulai gila," ucap Toto. Ia mengiba di sela rasa sakit dan darah yang masih mengucur,
"Tutup mulutmu! Tidak usah mengadu domba kami," teriak Darmanto,
Junaid tersentak, ia mengingat awal pertemuan mereka. Darmanto dan ketiga trio mekanik adalah teman lama Darmanto. Ia menatap ke arah Darmanto, "Baiklah, aku percaya! Lalu apa maksud semua ini?" tanya Junaid.
Ia melihat Toto kesakitan mengerang di bawah kaki Darmanto, Junaid masih saja belum mengerti, "Di mana pertama kali kita bertemu, Toto?" tanya Darmanto.
"A-aku ..., masa kau lu-lupa!" balas Toto. Darmanto tanpa belas kasih semangkin menggoyang-goyangkan pijakan kakinya di sangkur yang menancap di dada Toto,
"Kalau kau lupa berarti kau bukan Toto! Kau tidak usah menipuku," Hardik Darmanto.
"Apa maksud dari suitanmu, dan kau memanggil tentara Alberto kemari? Kau ingin membunuh Junaid yang sedang tidur, bukan? Di saat aku tidak ada,
"Kau juga berharap bila Junaid tewas, kau bisa membunuhku dengan begitu mudahnya. Kau memanfaatkan kesetiaan kami sebagai sahabat!" ucap Darmanto tegas.
Junaid menyimak dengan berlahan, "Bagaimana engkau tahu semua kronologisnya?" tanya Junaid bingung.
"Percayalah, Junaid! Dialah yang telah mengkhianati kita," ujar Toto. Ia mencoba membela dirinya,
Darmanto menatap Junaid, "Dari awal aku curiga kepadanya, bila ia Toto suaranya tidak berat, dan bila ia Toto ia pasti sudah mengajak kita ...," kata Darmanto,
"untuk menyerang para tentara tanpa berniat meninggalkan musuh begitu saja."Darmanto masih menatap lekat Toto, ia penuh dengan kebencian dan amarah.
Darmanto berjongkok membalikkan tangan kiri Toto, "Kau bukan Toto, karena kau tidak memiliki luka bekas samurai di sepanjang tanganmu!" ucap Darmanto.
"Siapa yang mengirimmu?" hardik Darmanto. Ia masih saja berusaha menyiksa Toto, "Kau tahu, aku berpura-pura mencari ikan. Akan tetapi, aku mengintai apa yang kau lakukan. Kau membunyikan suitan mulutmu," ujar Darmanto,
__ADS_1
"setelah itu, kau melumuri tubuhmu dengan sekantung darah dan kau berbaring di bebatuan. Dan ketiga tentara itu ingin membunuh Junaid yang tertidur, luar biasa!" ucap Darmanto.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan bergema memberondong keduanya Darmanto terkena tembakan di bahunya ia menarik tubuh Toto sebagai tameng,
Junaid menembakkan senjatanya ke arah semak, membabi buta berusaha dan berlari ke arah Darmanto. Keduanya berusaha bersembunyi, di balik bebatuan dengan tubuh Toto sebagai tameng.
Darah mengucur di bahu Darmanto pandangannya sudah mulai berkunang-kunang, ia ambruk bersama tubuh Toto.
Junaid masih terus menembakkan senjatanya, di sela-sela peluru yang terus menghujaninya. Ia berusaha untuk menarik tubuh Darmanto ke balik batu besar,
"Aagh!" teriak Junaid. Kala sebuah peluru menembus tangannya, membuat ia menjatuhkan senjatanya dan satu peluru lagi bersarang di bahu kanannya, ia pun amruk
Junaid hanya mampu memandang Darmanto, "Sahabat, selamanya .... " ia menutup matanya pingsan.
Kabir dan semua pion datang tepat, di saat para tentara mulai bergerak mendekati bebatuan, di mana Junaid dan Darmanto terkapar dengan darah sudah mengalir ke sungai.
Nara, Hendro, Ayesha, dan Marta bergegas berlari menuju ke arah Junaid dan Darmanto. Nara memasukkan beberapa kapsul ke mulut keduanya,
mereka berusaha menarik tubuh kedua sahabatnya, ke balik batu untuk mengeluarkan peluru dan menyemprotkan botol obat.
Nara dan Marta sudah berlinangan air mata, di saat keduanya mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuh keduanya dengan bantuan Hendro dan Ayesha.
Sementara Kabir, Kirana, Mona, dan Heru melindungi mereka dengan menembakkan laser dan berjaga, "Bersembunyi, aku yakin masih ada lagi tentara yang lain lagi."
Kabir menyuruh ketiga sahabatnya bersembunyi di balik bebatuan besar, untuk berjaga-jaga dan melindungi diri mereka.
Mereka berempat bersembunyi di balik bebatuan, di belakang punggung mereka para sahabat berusaha menyelamatkan Darmanto dan Junaid.
Heru memandang Toto, ia berusah mendekatinya ingin menarik mayatnya. Akan tetapi, berondongan peluru lain lagi bergema.
__ADS_1
Ayesha beringsut maju, ia mengiris sedikit darahnya dan membacakan sebuah mantra sihir yang ia pelajari di hutan kegelapan. Tiba-tiba kabut gelap dan hujan petir yang tiba-tiba datang, menyelimuti mereka membuat sebagai batas.
Akan tetapi, di wilayah mereka tetap kering. Semua pion memandang ke sekitar mereka, awan gelap menutupi sekitaran di balik dinding pembatas.
Para tentara berlarian tanpa mengetahui keberadaan mereka, Heru dan semua pion dengan mudah membunuh semua musuhnya.
Mereka tidak lagi mendengar suara tembakan, Ayesha kembali ke tempat Darmanto dan Junaid. Nara, Marta, dan Hendro sudah mengeluarkan 4 butir peluru dari tubuh keduanya, semprotan botol obat mulai bereaksi.
Heru mencoba mendekati Toto menyentuh nadinya, ia terduduk sedih. Kabir dan yang lain mendekati, Heru menggelengkan kepalanya semua orang terduduk dengan sebuah tatapan hampa dan kesedihan yang dalam.
Ayesha melantunkan sebuah kidung aneh yang sulit dicerna oleh kata dan logika, dari sebuah bahasa kuno. Ia mengambil tabung bambu kecil yang terselip dari balik bajunya,
memberikan sejumput madu hutan ke mulut Darmanto dan Junaid ia terus menyanyikan kidung anehnya.
Keajaiban terjadi lagi, gumpalan asap putih membungkus keduanya seperti kain kafan.
Ayesha terus bernyanyi, semua pion melihatnya dengan sebuah tatapan terpesona, mayat Toto berubah menjadi pria lain lelehan silikon di wajahnya pun mencair.
Semua orang terkesiap melihat mayat di depan mereka bukan Toto, Ayesha masih saja terus bernyanyi. Semua orang menjadi diam melihat kelanjutannya, Ayesha sudah berubah menjadi wanita berambut perak.
Heru terkesiap ia sudah tidak mengenali istrinya lagi, ia sudah melihat orang asing di sana yang sedang bernyanyi bersimpuh di antara tubuh kedua sahabatnya.
Kidung selesai dilantunkan, ia mulai terkulai lemah. Heru secepat kilat menangkap tubuh istrinya yang sudah berubah menjadi wanita berambut putih, walaupun wajahnya masih tetap cantik bahkan, lebih cantik lagi.
Ia hanya merasakan sebuah kesedihan di balik nyanyian kidung yang dilantunkan istrinya, sebuah perjuangan untuk sahabat-sahabatnya.
Ayesha hanya terkulai lemah, Nara memberikan sejumput madu hutan miliknya ke dalam mulut Ayesha. Ia mengingat pesan sesepuh Yahmen yang berkata,
"Bila ada yang terluka berikanlah sejumput madu hutan ini," Nara secepat kilat memberikannya. Ia hanya berharap sebuah keajaiban ada di sana,
Berlahan tubuh Ayesha mulai berwarna sawo matang, rambutnya sudah kembali menjadi hitam legam kembali. Ayesha sudah berubah menjadi dirinya lagi, "Terima kasih, Nara!" kata Ayesha.
__ADS_1