Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pertemuan pasangan gila


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, bahkan tahun pun sudah berganti. Balian sudah melihat Aoi semangkin lihai dan bringasnya.


Ia selalu saja membunuh ninja, Balian dan kelimpoknya selalu memperhatikan Aoi dengan diam-diam.


Berusaha melindungi dan menjauhkannya dari bahaya, setiap ada yang berusaha untuk membunuh Aoi. Kawanan srigala dan kelompok Balian melindunginya.


Membunuh si oenyusup, bahkan srigala putih dan Balian saling memahami. Jika mereka melindungi orang yang sama.


Kawanan srigala tidak oernah mengganggu kelompok Balian begitu juga sebaliknya, mereka memahami wilayah masing-masing dan berdiri membunuh musuh yang sama.


"Kemungkinan, putra Koichi dendam dengan ninja. Sehingga ia terus membabi buta membunuh ninja," ujar Balian melihat dari atas dahan.


"Aku rasa, yang membunuh keluarga dan klannya. Adalah pasukan ninja yang sekarang di Hutan Bambu. Apakah kau ingin mengajaknya bergabung?" tanya Rasna.


"Tidak! Biarlah ia dengan kawanannya. Awasi, saja dia! Jangan sampai terluka," balas Balian memejamkan matanya berdiri di atas dahan.


Balian memiliki keahlian yoga yang luar biasa sehingga ia mampu berdiri di mana pun.


Ujang dan Sanna sedang berpacaran di bawah pohon dengan memanggang burung. Sahabat mereka yang lain sibuk mengasah pedang hitam mereka dan tiduran di sela-sela semak.


Palki kekasih Rasna, berlarian ke arah mereka. Balian dan Rasna melompat turun dari dahan pohon,


"Aku melihat Kakek Tua dan cucunya sedang bertarung di gurun, dengan tentara baru.


"Aku rasa, heli tadi malam itu sibuk mengangkut tentara baru." Lapor Palki dengan napas memburu, Rasna memberinya minum dari tempat minum yang mereka ambil dari tentara.


Balian tetap bersikukuh memakai bambu sebagai tempat minumnya, "Aku tidak akan memakai milik bajingan, itu!" ujarnya.


Walaupun ia tidak melarang sahabatnya mengambil pakaian atau makanan maupun senjata dari musuh mereka.


Namun, Balian tetap akan pendiriannya. Mereka saling oandang, "Ayo, kita bantu mereka!" teriak Balian.


Semua orang berlarian, Sanna mengambil juntaian ikan yang ia panggang dan membaginya kepada sesama sahabatnya.


"Makan, dulu. Agar kuat membunuh, musuhmu!" teriak Sanna.


Semuanya memakan ikan dan berlari menuju gurun pasir, mereka sering ke gurun bila malam melalui terowongan air terjun untuk memutuskan pasokan listrik dan membuat kekacauan lainnya.


Mereka melihat pria tua dan cucunya juga seorang wanita beeluf berpakaian putih sedang menghadapi sekitar 50 orang tentara yang berusaha untuk membunuh mereka.


Balian melihat di sekitar mereka telah berjatuhan tentara, Balian melihat hatter berlari ingin membantu tentara.


Balian menarik golok hitam di punggungnya dan melemparkannya ke arah 5 orang hatter yang berlari ke arah pertempuran, kepala mereka menggelinding ke tanah.

__ADS_1


Salah satu hatter berusaha untuk menarik golok hitam yang menancap di gurun, tetapi ia tidak berhasil menariknya.


Balian dan semua sahabatnya menerjang mereka, pertempuran tidak lagi mampu terelakkan.


Balian biasa membantai musuhnya tanpa bicara begitupun dengan sahabatnya, mereka tidak pernah mengampuni kaki tangan Akberto.


Jauh di samping mereka ketiga beeluf masih bertempur dengan tombaknya. Seorang wanita beeluf berpakaian putih merebut senjata tentara m60-nya. Ia langsung menembak tentara dengan mudahnya.


Balian terkesiap melihat kepintaran dan kelincahan wanita berambut panjang di depannya.


Selama ini ia hanya mengenal Rasna dan Sanna yang dianggap adiknya yang begitu lihai. Ia tidak pernah melihat wanita lain selain keduanya dan beeluf yang bersama Si Kakek Tua.


Balian benar-benar terkesiap, seorang hatter hampir membunuhnya, jika tidak wanita berpakaian beeluf putih menembak tepat kepala musuhnya di belakang punggung balian yang tinggi.


Wanita itu meluncur tepat di antara kedua kaki balian dan langsung menembak hatter.


Balian hanya mampu menelan salivanya, ia tidak menyangka wanita itu begitu cantiknya.


Balian masih memperhatikan wanita cantik itu langsung berdiri dan kembali mengambil tombaknya melesat membantu kedua beeluf di depannya.


"Kalau kau berniat membantu. Jangan mempersulit, keadaan!" teriak si wanita tepat di depan Balian.


"Beh!" batin Balian mendidih. Ia tidak menyangka ada seorang wanita yang merendahkan kelihaiannya.


Para tentara dan hatter berlarian mundur. Akan tetapi, Balian dan wanita beeluf putih itu mengejar mereka dengan golok dan tombak di tangan keduanya. Terus membantai mereka di tengah gurun hingga tiada yang tersisa.


Tinggal seorang hater yang masih berdiri dan melawan keduanya. Balian dan si wanita saling membahu dengan gilanya mereka bersaing ingin membunuh si hatter.


Si hatter tersudut dan terjatuh dengan kedua lututnya, Balian ingin memenggal kepalanya tetapi dihalangi si wanita.


"Mengapa?" tanya Balian.


"Jangan begitu mudah, membunuhnya! Mereka saja melukai dan membunuh kita dengan siksaan. Bagaimana jika mereka juga merasakannya?" balas wanita beeluf.


"Akh, itu membuang waktu dan tenaga! Kau bisa menghemat waktu." Balian menatap Si perempuan.


"Tidak bisa! Dia, milikku!" teriak si wanita.


"Tidak, dia milikku!" balas Balian. Keduanya saling nertengkar, si hatter berusaha berlahan-lahan merayap ingin kabur.


"Jangan kabur kau, sialan!" teriak keduanya.


Tombak si wanita menembus jantung dan golok Balian memenggal kepalanya.

__ADS_1


Keduanya saling pandang dan menjauh satu sama lain. Sementara ke-12 sahabat Balian, Muti, dan Sepuh Rayan duduk memakan buah-buahan yang diberikan Muti di oase.


Mereka menantikan Mano dan Balian yang masih bertengkar. Kemudian keduanya dengan berlawanan arah datang ke arah mereka.


"Hai, aku Rasna!"


"Hai, aku Sanna!"


"Hai, aku Palki!"


Semua sahabat Balian memeperkenalkan diri kepada wanita beeluf yang angkuh dan dingin itu.


"Hai, semua! Aku Mano," balas Mano tersenyum.


Deg!


Jantung Balian terhenti seketika, ia merasakan detaknya semangkin hilang. Balian memegang jantungnya tanpa sadar.


Berharap ia masih hidup. Ia tidak menyangka senyuman wanita bernama Mano itu, mampu membuat dunianya terhenti seketika.


Ia merasakan gurun berubah menjadi sebuah kesejukan seketika. Muti mengulurkan buah hutan berwarna kuning mirip mangga, ia langsung memakannya tanpa mengupas kulitnya.


Semua orang memandang Balian dengan keherananan, semua orang tahu jika kulitnya terasa masam.


Akan tetapi, Balian tidak peduli baginya semuanya terasa manis saat ia melihat senyuman Mano.


Muti dan semua orang tersenyum kecuali Mano yang mencebikkan bibirnya.


"Sepuh kami berterima kasih, karena telah menolong dan merawat kami dulu. Begitu juga dengan, Kakak!" ucap Rasna.


Palki menyentuh bahu Balian, membuatnya tergagap.


"Eh, a-anu. I-iya. Sa-saya mewakili klan saya mengucapkan ribuan, terima kasih!" kata Balian terbata-bata.


Balian sedikit malu ia tidak pernah segugup itu.


"Maafkan, ketua kami. Ketua Muti dan Sepuh Rayan! Ia tidak pernah melihat wanita, selain kami adiknya. Jadi harap maklum, saja!" ucap Rasna.


Balian mengetok kepala Rasna dengan selentikan jarinya.


Sepuh Rayan tersenyum, "Ayo, Ikutlah dengan kami ke Menara Pasir!" ajak Rayan.


Balian dan semua sahabatnya mengikuti Sepuh Rayan dan Muti juga Mano. Di sepanjang jalan Mano dan kedua adik angkat Balian berbicara banyak hal.

__ADS_1


Balian dengan diam-diam mencuri-curi pandang ke arahnya.


__ADS_2