
Para hatter berkelontangan maju dan menghunuskan pedangnya, para pion saling pandang, baru kali ini mereka merasakan tekad yang bulat untuk menjatuhkan Alberto.
Mereka hanya ingin kematian Alberto atau merekalah yang mati, mereka telah lelah di perbudak oleh Alberto.
Masing-masing saling menyerang mempertahankan nyawa, Kabir dengan mudahnya melompati musuhnya langsung memenggal kepala hatter.
Mona dan Nara saling bahu membahu menjatuhkan hatter dengan pedang yang panjang, dentingan pedang membuat hatter sedikit berjengit.
Para pion telah mengetahui semua kelemahan hatter robot sehingga dengan mudah menumbangkan mereka.
Sementara di luar gedung para tetua beeluf dan kaum hideng saling membahu menghancurkan tentara Alberto.
Yahmen dan Aoi bersama mengempur musuh. Akan tetapi, Alberto menyiapkan meriam untuk menghancurkan kelompok beeluf dan hideng.
Tentara Alberto menembakkan meriam hingga beberapa suku hideng dan beeluf tewas dengan tubuh bercerai berai. Yahmen, Mano begitu murkanya.
Keduanya menggunakan sihir mereka untuk mengalahkan tentara, setiap peluru dari meriam yang ingin menembak ke arah mereka di balikkan Yahmen kembali ke si penembak hingga ledakan beruntun di tempat si penembak meriam.
Keadaan semangkin kacau, para beeluf dan hideng kalah dipersenjataan. Apalagi, para pion dan hideng yang kuat terkurung di dalam.
Walaupun trio mekanik sudah menanam beberapa bom akan tetapi kekuatan Alberto dibidang tentara dan persenjataannya sangat lengkap.
Ayesha dengan kehamilannya mencoba untuk menggunakan kekuatannya membantu para ketua, Balian membunuh beberapa tentara dengan golok lebar miliknya yang baru ia tempah sedangkan golok yang lama ia berikan kepada Nara.
Pertarungan begitu sengitnya, mereka mencoba untuk menembus benteng gedung agar mampu masuk ke dalan gedung milik Alberto.
Yahmen memandang semua orang, ia tahu. Waktunya sudah tak banyak lagi, bagaimanapun inilah kesempatan mereka untuk mengusir mundur Alberto dan antek-anteknya.
***
Sebelum kepergian ke Pulau tak bertuan ....
Yahmen memandang elangnya yang selalu menguik di angkasa di seberang Pulau Kematian, ia tahu banyak hal yang terjadi di sana.
Elangnya mampu menembus ribuan km ke bawah melalui matanya yang sudah memiliki sebuah sihir.
__ADS_1
Elangnya selalu melaporkan setiap kejadian. Kini, ia tahu jika kembaran Sesepuh Rayan berada di Pulau Tak Bertuan.
Ia ingin membantu para pion dan Suku Hideng, walaupun ia tahu kekuatan mereka tidak cukup.
Ia termenung menatap senjatanya dan kembali memandang di balik lautan luas, rambutnya yang putih tergerai melambai tertiup angin sepoi lautan.
Bau garam menusuk hidungnya, ia tahu segalanya tak seindah waktu ia masih kanak-kanak.
Ia masih menanti kepulangan para pion dan dua orang beeluf, ia telah banyak kehilangan ia tak ingin kehilangan lagi.
Apalagi, ia tidak ingin kehilangan para pion yang baik hati. Yahmen masih menatap ke lautan dan gundukan hijau pulau di seberang.
Aoi melingkarkan tangannya di pinggangnya yang masih ramping, menopangkan dagunya di kepala istri tercintanya.
"Ada apa sayangku?" tanya Aoi.
Ia memahami kegundahan hati istrinya, wanita yang selalu terlihat tegar itu selalu saja mampu membuat segala kepedihan menjadi sebuah kegembiraan.
Walaupun hatinya sendiri selalu bersedih dan menangis, tetapi ia tidak pernah memperlihatkannya.
Yahmen memandang Aoi, menyentuh lembut pipi suaminya.
"Akh, mungkin sudah waktunya aku meninggalkan dunia ini, Aoi. Aku harap kelak bila aku tak lagi di sisimu, tolong ... Jagalah klanku!" ujar Yahmen.
Ia sudah melihat masa depannya, dan ia merasakan takdirnya sudah sampai pada batasnya. Kecuali mukjizat Tuhan Sang Pemilik segala-Nya.
Jantung Aoi terasa teriris ia tidak ingin kehilangan lagi permata hatinya, baru saja mereka bersatu rasanya ia tidak akan mampu untuk berpisah lagi dengannya.
Aoi semangkin erat memeluknya, "Aku pernah berjanji hidup dan matiku hanya bersamamu ...." lirih Aoi.
Ia mengingat 30 puluh tahun silam saat pertama kali mereka bertemu, tanpa sengaja di hutan bambu.
Sedari muda ia sudah tergila-gila dengan Yahmen hingga meninggalkan kelompok samurainya. Aoi masih mengingat kala ia bertempur dengan salah satu algojo Alberto yang semena-mena kepada kelompok samurainya.
Ia terluka parah melawan seorang ninja bernama Yamada yang masih muda dan tampan, ia terluka parah karena Yamada menyerangnya dengan trik liciknya.
__ADS_1
Pedang Yamada hampir saja menembus tengkoraknya jika tidak sebuah tombak menghantam pedang Yamada.
Seorang wanita dengan rambut hitamnya yang panjang dan tubuh semampai, kulit seputih susu juga wajahnya yang tertutup cadar dan berbaju merah menyelamatkannya.
Ia berdiri tepat di antara Yamada dan Aoi, "Pergilah sebelum kau, mati!" ucap Yahmen dengan dinginnya.
Aoi terkesiap mendengar suara Yahmen yang mendayu walaupun dingin.
"Hahaha, jadi kau Yahmen si beeluf penjaga pulau? Beruntungnya aku bisa membunuhmu, aku akan mendapatkan kenaikan pangkat dan uang yang banyak!" balas Yamada dengan girangnya.
Yamada menyerang Yahmen, dentingan pedang samurai dan tombak beradu, Aoi yang terluka di dadanya hanya mampu menonton pertempuran antara wanita berbaju merah dan Yamada berkimono abu-abu.
Aoi melihat wanita berbaju merah itu begitu luar biasa tangguhnya dan ilmu bela dirinya luar biasa, Yamada pun tidak kalah tangguhnya.
Sabetan samurai milik Yamada hampir saja menebas leher Yahmen, tetapi wanita berbaju merah itu meliukkan tubuhnya ke belakang hingga tebasan samurai Yamada tidak mengenai Yahmen.
Akan tetapi, tangan Yamada berhasil nenarik cadar wajah Yahmen hingga wajah Yahmen yang cantik terlihat. Saat Yahmen memutar tubuhnya berputar diselingi rambut hitam legamnya yang indah bak hujan.
Membuat Aoi dan Yamada terkesiap, Yahmen langsung menebaskan tongkatnya membuat luka di sepanjang wajah Yamada dan menembus dadanya.
Yamada jatuh terduduk di tanah, darah mengucur deras. Tentara Alberto menembak dari pinggir hutan bambu berlari ke arah Yahmen,
membuat Yahmen menarik Aoi dengan ringannya menyeberangi hutan bambu dari dahan ke dahan. Mereka seakan terbang di angkasa di tengah darah yang masih merembes Aoi masih melihat wajah Yahmen yang cantik.
Memandang lurus ke depan, "Cantik!" lirih Aoi sebelum ia jatuh pingsan.
Yahmen yang baik hati membawanya ke sebuah ceruk tebing di mana Balian dan Mano duduk di sebuah batu besar, Yahmen mengobati luka Aoi dengan tumbuh-tumbuhan yang ia gerus di bebatuan tebing hatter.
Menyuapi makan dan minum Aoi, mengurusnya dengan penuh kasih. Saat Aoi tersadar ia melihat seorang wanita di sisinya di sebuah batu tertidur dengan menumpukan kedua belah tangannya.
Aoi memandangnya dengan takjub, untuk pertama kali di sejarah hidupnya ia jatuh cinta.
Rambut wanita di sampingnya melambai tertiup angin senja, wajahnya sangat lembut dan teduh.
Tiada seorang pun yang menyangka ia sebuas harimau lapar di tengah pertarungan. Aoi menjulurkan tangannya menyentuh wajah di depannya, menyelipkan surai di telinganya.
__ADS_1