Pulau Kematian

Pulau Kematian
Film pendek


__ADS_3

Mereka berusaha menjauhi semua pohon besar, "Sialan, Alberto! Si bajingan itu benar-benar licik!" umpat Mona.


Ia harus menghindari pepohonan, sementara para tentara Alberto sudah berkelontangan kembali mengejar mereka.


Mereka bersembunyi tetapi tidak berani menyentuh pepohonan, karena akan membuat dengung sirena semangkin bergema panjang.


Semuanya mencoba merunduk dan menanti, suara anjing pelacak menyalak mencari mereka dengan mengendus-endus.


Seorang tentara setengah robot hatter menembak ke arah Mona, duar! Membuat sebuah lobang di pohon, di mana ia berlindung di bawahnya ia sangat kesal.


Berlahan ia memutar dirinya mengendap ke belakang si hatter ia menembakkan lasernya ke tengkorak kepala si hatter menyebabkan isi kepalanya berhamburan.


Mona kembali bersembunyi derap langkah kaki semangkin bergema dengan kelontangan besinya. Ia mengambil senjata si hatter menyarungkan lasernya, ia mencoba mengangat senjata hatter yang lumayan berat.


Ia membaringkan tubuhnya di rerumputan mengintai, Kabir sedikit kesulitan untuk naik ke dahan pohon karena ia tidak tahu pohon mana yang tidak memiliki chip,


"Alberto sialan, bukan mobil atau sepeda motor saja yang memiliki chip remote control, pohon pun ia buat. Hadeh! Semangkin sulit," umpatnya.


Ia masih bingung harus bagaimana Si Leher Beton langsung memiting kepalanya menyelipkannya di selipan tangannya.


Si Leher Beton berusaha untuk membenturkan kepala Kabir ke salah satu pohon, Kabir melihat berapa langkah lagi si Leher Beton akan menabrakkan kepalanya.


Kabir sekuat tenaga mengangkat kakinya bertumpu kepada batang pohon dan memutar tubuhnya, hingga ia membalik keadaan menarik lengan si Leher Beton dan mematahkannya.


Bunyi krak! Di tangannya membuat ia menjerit melengking, Kabir tidak menyia-nyikannya mencabut sangkur Si Leher Beton dan menancapkannya ke lehernya.


Pada akhirnya ia jatuh tersungkur menggelepar meregang nyawa. Kabir terduduk memegang lehernya sedikit sakit, lebam bekas kepitan Si Leher Beton masih terasa.


Seorang tentara mayat menembakkan pelurunya ke arahnya untung saja Mona langsung mengokang senjata si hatter yang ia curi.


Duar! Tubuh si hatter nenjadi terlubangi di bagian perutnya, si hatter hanya melihat dan masih bergerak mencoba untuk menembak ke arah Mona.


Kabir langsung tersadar dan melemparkan sangkurnya ke pelipis tepat mengenai lempengan besinya. Kilatan percikan bunga api menyembul dari sangkur yang menancap di lempengan,

__ADS_1


membuat si hatter tersetrum tubuhnya bergetar dan ambruk ke tanah. Masing-masing pion berusaha berlarian menembus hutan yang belum pernah mereka lalui,


"Bedebah, kejadian ini terulang lagi seperti saat pertama kali di Pulau Kematian," ujar Heru.


Heru berlari bersama Marta dan Darmanto, di depan mereka Nara dan Junaid masih mencoba menyerang hatter yang terseok-seok mengejar mereka, "Senjatanya keren sekali! Aku mengingkannya?" seru Nara.


Junaid melihat Nara sudah berputar kembali ke arah hatter, mereka saling berhadapan. Junaid yang sudah berlari jauh melihat ke arah Nara, "Hadeh! Wanita terkadang menyulitkan?" umpatnya kesal.


Ia kembali lagi mengejar Nara, si hatter yang mengandalkan pendengaran dan penciumannya, dibuat kacau oleh Nara.


Ia menyentuh semua pohon di saat ia berlari membuat si hatter berputar mencari suara dengungan alarm, ia menembak membabi buta.


Nara dengan tubuh mungilnya secepat kilat meluncur di bawah kaki si hatter, menebas tangannya yang memegang senjata, tangan dan senjata jatuh ke tanah masih menembak.


Secepatnya Nara merebutnya sebelum jatuh dan mengarahkannya ke arah si hatter, hingga serpihan hatter berserakan. Sebagaian tubuh Nara penuh darah dan otak yang berceceran,


Junaid terkesiap melihat kekasihnya. Ia segera menarik tangan Nara, untuk berguling ke balik semak, akan tetapi malangnya mereka jatuh ke dalam sebuah lubang.


Sisa darah dan otak hatter masih saja menetes dari rambut dan tubuh Nara, "Seharusnya, kau di bawah saja. Bukan berada, di atasku!" sambung Junaid.


Ia ingin membalikkan tubuh Nara, "Sudah nikmati, saja! Dengar ..., mereka mendekat," bisik Nara tepat di telinga Junaid.


Bisikan Nara membuat sesuatu semangkin kacau di bawah tubuhnya, "Apa ini? Pistolmukah?" tanya Nara.


Ia menggesek-gesekkan tubuhnya, karena sesuatu di antara tubuh mereka ada yang menonjol. Membuat Nara tidak nyaman untuk berbaring di tubuh Junaid,


"Sial! Jangan bergerak. Diam saja, ia itu pistolku yang paling berharga!" ujar Junaid.


"Ooo ...," jawab Nara. Ia sendiri berpikir di dalam benaknya, "Dasar, Junaid aneh! masa naruh pistol di tengah kedua belah pahanya! Apa tidak, sulit?" batinnya.


Namun, ia berusaha untuk mengabaikan tonjolan itu, karena musuh semangkin mendekati mereka.


Derab langkah tentara berlalu di atas permukaan tanah semangkin menjauh, keduanya sedikit bernafas lega.

__ADS_1


Nara ingin berbicara, namun Junaid membungkam mulutnya dangan bibirnya. Membuat kedua bola mata Nara melotot, awalnya ia terkejut tetapi ia diam seketika.


Mereka saling pandang dan sama-sama membuang wajah, di atas parit, Kevin dan Rani menonton adegan mesra mereka dengan bertopang dagu.


Nara dan Junaid menoleh ke arah mereka dengan tatapan malu, "Akh, filmnya sudah selesai! Ga jelas endingnya!" ujar Kevin. Mengulurkan tangan menarik Nara, kemudian Junaid.


Rani tersenyum, "Bagaimana rasanya?" tanyanya penasaran. Nara melebarkan bola matanya, "Kamu coba saja sendiri nanti, jika sudah punya pasangan!" ujar Nara.


Ia berlari menjauh karena wajahnya sudah semerah senja menggenggam senjatanya.


Rani hanya bengong, "Aku cuman bertanya?" ujarnya tanpa rasa malu.


Junaid memandang Rani, "Bye, aku duluan!" ucap Junaid langsung menyusul Nara.


Kevin dan Rani berpandangan dan saling membuang wajah, "Memang kamu belum merasakan tabir, gitu? Trus anakmu 'kan sudah ada 5! Bagaimana caranya itu?" sindir Kevin.


Rani memandang Kevin, "Apa tabir?" tanyanya. Kevin memandangnya dengan ketidakpercayaan, "Tabir alias tabrakan, bibir!" jawabnya.


Rani sedikit malu dan berlari meninggalkan Kevin, "Woi!" teriak Kevin mengejar Rani. Di dalam hatinya ia tertawa, "Rasain, dasar tukang ngibul!" batin Kevin.


Rani semangkin kencang berlari, mereka berlari secara asal, hingga mereka berada di tengah-tengah kerumunan para tentara sekelas Si Leher Beton.


Keduanya terperanjat mereka berdua terjebak, "Sial? Gegara meninton film short time jadi begini, mana filmnya singkat lagi!" umpat Rani kesal.


Kevin menoleh ke arahnya, ia merasa lucu melihat wanita di belakang punggungnya, "Ya ampun, nih cewek! Bukannya mikirin nyawa yang mau melayang, malah mikirin adegan kecupan!" batin Kevin.


Ia terkekeh geli dan sedikit bangga, "Jika wanita lain, ia pasti berlari terbirit-birit. Kecuali ditunjukin duit baru mendekat, lha ini ...." batin Kevin.


Ia tidak habis pikir mengenai jalan pikiran Rani, "Jika kau penasaran, nanti kita buat setelah kita menyingkirkan mereka semua! Jika masih bernapas!" ujar Kevin.


Rani memandang Kevin, "Enak saja! Memang kamu pikir nih, bibir toilet umum. Sorry ya!" balas Rani ketus.


Kevin tersenyum, "Menyerahlah, bukankah Kau Kevin? Hei, Kevin! Kau membawa semua pion kemari, bagus!" ujar salah satu tentara.

__ADS_1


__ADS_2