Pulau Kematian

Pulau Kematian
Samurai yang mengerikan


__ADS_3

Para ninja berdatangan tak ada habisnya belum lagi mereka menggunakan jurus-jurus aneh yang hanya biasa mereka lihat di film-film. Salah satu wanita beeluf terkena sabetan pedang, karena kelelahan bertarung.


Seorang ninja langsung melesat menghunuskan pedangnya ke arah wanita beeluf yang sudah jatuh terduduk, dengan luka di bagian dadanya. secepat kilat Kabir melemparkan sangkurnya mengenai leher ninja, hingga ia jatuh terkapar meregang nyawa.


Rembesan darah membasahi bajunya yang hitam, wanita beeluf terkesima memandang ke arah Kabir. Ia merasakan sesuatu di hatinya, seakan ia merasakan suatu dejavu.


Ia jatuh cinta sedetik itu kepada Kabir, tetapi ia megingat Kabir memiliki hubungan dengan Kirana. Ia melihat Kirana sedang beradu pedang dengan 5 orang ninja dengan kegesitan yang luar biasa, Kabir mendekati si wanita beeluf, "Apakah engkau baik-baik, saja?" tanya Kabir.


Wanita beeluf itu terkesima melihat ketampanan wajah Kabir dan perhatiannya, ia begitu luar biasa baiknya. Tiada seorang wanita pun yang tidak akan tertarik kepadanya, "Aku baik-baik, saja! Terima kasih," balasnya.


Kabir meraba sakunya, memberikan botol obatnya. Ia menyemprotkan ke arah luka si wanita, "Menyingkirlah, selama 20 menit. Agar lukamu kembali menutup," ucap Kabir.


Ia secepat kilat meninggalkan wanita beeluf, ia berlari ke arah kekasih hatinya setelah mencabut sangkurnya dari leher musuhnya.


Kabir membantu Kirana, mereka saling membahu membantai para ninja. Kirana begitu bahagia bertarung di sisi Kabir, ia merasa dunia di depan mereka tidak terlalu mengerikan.


Ia mampu bertahan di pulau ciptaan Alberto, begitu juga dengan Kabir. Kiranalah yang mampu membuat ia bersemangat tetap bertahan hidup, dan ia ingin ke luar dari neraka yang mengerikan milik Alberto Kuro.


Mona sudah mulai kelelahan, ia merasakan tenaganya sudah mulai terkuras. Ia sudah mulai lengah, tiga orang ninja tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Mereka ingin menumbangkan salah satu pion dengan taruhan yang lumayan besar, Mona nomer dua setelah Kabir dengan nilai 10 M harga keberaniannya.


Mereka langsung menyerang Mona yang sedang mengatur napasnya, ia terkesima melihat tiga mata pedang langsung menghunus ke arah alat vital kehidupannya leher, jantung, dan pinggangnya.


Mona hanya pasrah dengan sebuah senyuman, ia tidak dapat menggerakkan tubuh dan segala indranya, ia hanya melihat siluet Hendro yang berlari ke arahnya dengan sebuket bunga.


Ia hanya merasakan kebahagiaan, tanpa merasa musuhlah yang mendekat yang akan merenggut nyawanya.


Ia merasakan suatu kelelahan dan rasa kepasrahan,

__ADS_1


akan tetapi wanita beeluf yang memiliki tato naga di sepanjang lengannya hingga ke seluruh tubuhnya langsung menerjang ketiganya dengan kecepatan laksana ular.


Membuat kesadaran Mona kembali, "Berhati-hatilah, mereka menggunakan hipnotis!" teriaknya membantai salah satu ninja.


Mona bangkit dari jatuhnya, di atas semak-semak dan ketidakberdayaannya, ia menghunuskan pedangnya. Ia merasakan amarah yang terpendam, ia benci dimanipulasi.


Apalagi dengan menggunakan Hendro, Mona dengan beraninya mengiris luka di lengannya sedikit darah mulai merembes, "Kalian tidak bisa melukaiku lagi, karena rasa sakit ini!" sengalnya.


Ia kembali menggenggam erat pedangnya, ia mencabut salah saru samurai di punggungnya. Ia sangat takut menggunakan samurai itu, hingga ia selalu menghindarinya.


Mona merasakan aura membunuh dan haus darah, dari samurai yang ia curi dari salah satu ninja berbaju merah saat mereka bertempur di hutan bambu untuk pertama kalinya.


Kini ia memakai dua pedang dengan darah yang masih menetes membasahi samurai curiannya. Darahnya terus merembes membasahi mata pedangnya yang menjuntai menghadap bumi, darahnya terus mengalir laksana air di pedangnya hingga setetes jatuh ke bumi.


Mona menatap penuh kebencian kepada para ninja, ia melompat ke arah ninja yang sudah menyerangnya dengan kecurangan. Ia membabi buta menebas lengan salah satu ninja hingga terputus, ia benar-benar marah karena kecurangan yang mereka lakukan.


Luka di lengannya membuat kesadarannya semangkin hidup ia terus memutarkan kedua pedangnya menembus tengkorak musuhnya, membuat wanita beeluf yang menolongnya terkesima.


"Apakah kau salah satu, yakuza?" tanya wanita beeluf. Mona hanya memandangnya, tersenyum dengan manisnya, "Sial, ternyata kau ... seorang artis terkenal! Aku menyukai semua film dan gosipmu," teriak wanita beeluf.


Wanita beeluf itu tertawa dengan riangnya, ia menemukan salah satu artis idolanya di tempat yang tidak pernah ia bayangkan, Mona hanya tersenyum.


Ia mengerti gosip yang selalu menerpanya, sederetan pria yang pernah ia kencani. Mereka salah menafsirkannya hanya Hendrolah yang pernah menciumnya, akan tetapi gosip fake lebih dipercaya dari sebuah fakta.


Namun, ia tidak peduli dengan semuanya. Ia hanya mencari makan dengan menjual bakatnya, bukan tubuhnya. Sekarang pun ia membunuh untuk membela dirinya, bukan untuk sebuah kesenangan gila mengambil nyawa orang lain, "Aku bukanlah psikopat gila seperti Crabs," batinnya.


Mona terus mengayunkan kedua pedangnya, ia sudah membunuh sepuluh ninja dengan kesadaran diambang normal. Ia seperti terkena dopping yang mengerikan, ia tidak lagi merasakan sakit di lengannya.

__ADS_1


Ia merasakan sesuatu kesenangan yang mengerikan, saat darah musuhnya menyembur dari tubuh si empunya. Ia merasakan kehidupan lain, ia seperti bukan dirinya.


Ia sudah menjadi seorang monster pembunuh, Hendro di sisi lain memperhatikan Mona dengan tatapan yang sulit diartikan.


Mona menggunakan sakitnya untuk bertahan dari serangan hipnotis ninja, "Aku suka tatomu, aku berencana membuatnya. Bila keluar dari sini, hidup-hidup!" ucap Mona di sela dentingan pedang dan darah yang menyembur.


"Hahaha, kau akan mendapatkannya! Bila engkau menjadi salah satu yakuza sepertiku!" jawab wanita beeluf.


"Kau seorang yakuza? Aku kira yakuza itu hanyalah dongeng masa lalu, aku Mona dan siapakah namamu?" tanya Mona di sela pertempuran. Keduanya saling bersisian membantai musuh mereka.


Saling menyerang dan melindungi, "Aku Sukuna Fong Ling!" jawabnya. Ia merasakan aura berbeda dari tubuh Mona,


"Kau bukan orang, Indonesiakah!" tanya Mona,


"Bukan, aku dari jepang! Aku anak blasteran Jepang-Hongkong, Alberto mengumpulkan semua orang di dunia ini." Sukuna terus memainkan pedangnya.


Mona mencerna dan menyimpan semua hal yang ia dengar,


"Selamat datang, di Pulau Sialan ini!" balas Mona.


Sukuna tersenyum dengan manisnya, "Terima Kasih!" jawab Sukuna.


"Aku suka Indonesia, dan selalu berlibur kemari. Gara-gara Alberto sialan, membuat masa liburanku kacau!" umpat Sukuna.


"Sudah berapa lama engkau, di sini?" tanya Mona. Ia terus menghunuskan mata pedangnya di perut musuhnya, "Aku baru setahun, Ayesha lebih lama. Ia sudah 3 tahun, suaminya malah 5 tahun," ucap Sukuna,


"aku tidak bisa membayangkan, bagaimana mengerikannya. Cara mereka bertahan hidup," ucap Sukuna.

__ADS_1


Keduanya masih saja mengobrol, "Dasar wanita, obati dulu lukamu. Aku yang mrnggantikan," sela Hendro di sisi kanan Mona.


Hendro melihat darah Mona sudah bercampur dengan darah musuhnya melumuri pedang, ia merasakan sesuatu ketidakwajaran pada Mona.


__ADS_2