Pulau Kematian

Pulau Kematian
Mano dan kisah kelamnya


__ADS_3

Aoi dan Yahmen memandang ke seberang, pulau yang sedikit lebih kecil dari Pulau Kematian.


"Si Putih mengatakan, "Jika para pion dan Suku Hideng, akan melawan Alberto,' aku rasa inilah kesempatan kita untuk membantu mereka.


"Aku akan membicarakannya kepada semua orang! Aku harap mereka mendukungku," ujar Yahmen.


Dari balik tembok pembatas Mano dan Balian muncul dengan bergandengan tangan, di tangan mereka membawa sekumpulan ikan.


Semenjak Alberto meninggalkan pulau, mereka sedikit berani mencari ikan di lautan dan orang-orang yang terkunci di hutan kegelapan telah dibebaskan bersama mereka.


Namun demikian, mereka masih terus berlatih berperang. Mereka tahu perjuangan mereka belum berakhir, mereka telah pintar menutup pulau dengan ranjau-ranjau yang mereka curi.


Atas bantuan trio mekanik dan Kavin, juga Darmanto, Heru, Junaid dan Marta yang berlatar belakang tentara.


Mereka mulai memahami menggunakan semua itu, dan membuat pertahanan.


Anak-anak mulai bermain, dan mereka membagi kelompok di dalam beberapa orang untuk berjaga di pelabuhan dan tempat-tempat rawan yang selalu Alberto kuasai.


Mereka menggunakan bekas gua monitor Alberto, sayangnya mereka tidak sepintar para pion mengoperasikan semua alat canggih tersebut.


Mereka belum bisa menggunakannya untuk meminta bantuan kepada pemerintah Indonesia, semua karena jalur yang diputus oleh Alberto.


Akan tetapi, satu hal mereka semangkin pintar menggunakan senjata api. Menggunakan bom dan granat juga tembakan laser.


Mereka mengumpulkan semua sisa yang ditinggalkan oleh Alberto untuk dipergunakan oleh mereka.


Balian dan Mano memandang pasangan di depannya yang masih berpelukan mesra memandang ke lautan luas.


Elang masih menguik di angkasa, ketiga elang masih terbang mengitari Pulau Kematian dan Pulau Tak Bertuan.


Memberi informasi kepada si pemiliknya.


Mano memandang keduanya dengan seribu tanya, ia tahu. Jika sahabatnya diam seribu bahasa ada hal yang sedang ia pikirkan.


"Ada apa, Yahmen?" tanyanya duduk di atas batu cadas di sekitar tembok.


"Aku ingin kita membantu para pion dan Suku Hideng. Kau juga tahu, Si Abu pasti mengatakannya kepadamu juga Ayesha.


"Aku sudah lelah menunggu terlalu lama ... Jika Alberto menang maka mereka pasti sesuka hati memburu kita lagi," ujar Yahmen duduk di sisi sahabatnya.


Rambut Yahmen yang panjang tertiup angin, berbeda dengan Mano yang suka berambut pendek. Rambut mereka pun sudah memutih, tetapi guratan sisa kecantikan mereka masih terpancar.


Mereka berempat memandang lautan luas. Mano masih mengingat kala pertama kali ia menginjakkan kakinya di Pulau Kematian, ia melarikan diri dari ibu dan saudara tirinya saat ia masih berumur 15 tahun.


Ia dijual oleh ibu tirinya kepelacuran, hingga ia berlari menyelamatkan dirinya.


***


35 tahun silam ....

__ADS_1


Di pelabuhan di Kota A ia berlari dan memasuki sebuah kapal besar bersembunyi di ruangan mesin di balik tuas-tuas besar. Meringkuk kelaparan dan menahan hawa panas.


Mano baru saja membunuh seorang mucikari yang ingin menyeret dan menjambaknya.


Ia mengingat setiap detilnya, ia masih memandang tangannya yang berlumur dosa dan darah.


Ibu tiri dan saudara tirinya meninggalkannya setelah menerima uang segepok, ratusan ribu di sebuah club malam.


"Ibu, tolong! Jangan tinggalkan aku!" teriak Mano menangis. Berusaha untuk menggapai tangan ibu tirinya, berlutut di kakinya.


"Aku janji akan mematuhi semua perintah Ibu, jangan jual aku, Bu!" isak tangis Mano.


Si ibu memandang wajah Mano tanpa rasa kasihan, malah menendangnya dengan tumit sepatunya.


Mano tersungkur di lantai club remang-remang, semua mata memandang dengan tidak peduli.


Mano begitu takutnya, melihat semua orang seakan kelaparan ingin melahapnya. Ia masih belia berumur 15 tahun, ia memegang luka di wajahnya akibat tendangan si ibu tirinya yang kejam.


Ia butuh kasih sayang yang tidak ia dapatkan dari ibu kandungnya yang sudah meninggal. Malahan ia mendapatkan pukulan, teriakan, caci maki, dan cambukan tiap ia melakukan kesalahan.


Mano hanya memandang ibu tirinya pergi mengendarai mobil mereka, meninggalkannya di tengah harimau lapar yang ingin menyantap setiap inci dari tubuhnya yang ringkih dan lemah.


Seorang wanita menyeretnya, menarik tangan kirinya, ia tidak peduli dengan ketakutan di wajah Mano.


"Ayo, masuk! Layani semua tamu, aku sudah membayarmu dengan mahal!" hardik wanita bertampang menyeramkan, dengan dandanan menor di sebuah club remang-remang.


Mano berusaha untuk memeluk tiang penyanggah club, sebelah tangannya masih ditarik oleh si mucikari.


Akan tetapi, si wanita tidak peduli, "Pukul, dia!" teriak si mucikari.


Seorang pria memukul punggungnya dengan sebuah cambuk, "Aaa!" teriak Mano kesakitan.


Kesakitannya mengubah segalanya, ia menjadi marah di antara tangisannya.


Ia marah telah diperlakukan semua orang semena-mena, ia benci jika terlahir harus menderita.


Ayahnya tidak peduli dengan apa yang telah dilakukan oleh ibu tirinya, ibunya telah meninggal 10 tahun silam.


Membuatnya siang malam menderita di tangan ibu dan saudara tirinya, ia memandang geram dan penuh dendam. Ke arah mucikari dan pemuda yang masih melayangkan cambukannya.


Ia masih melekat di tiang, air matanya telah habis.


"Aku tidak akan menangis, lagi!" batinnya.


Ia menangkap cambuk si pria entah keberanian dan kekuatan dari mana ia mampu melakukan semua itu.


Di punggungnya pakaiannya yang sobek dan darah mulai merembes, rasa pedihnya berubah menjadi kebencian.


Semua orang memperlakukannya bak binatang, Ibu dan saudara tirinya juga ayahnya pun melakukan hal yang sama kepadanya.

__ADS_1


Seakan-akan ia tidak memiliki suatu harga diri dan tidak dibutuhkan lagi, ia benci akan semua itu.


Ia tidak melawan ibu dan ayahnya karena menghormati mereka tetapi kini, rasa hormat itu hilang lenyap entah ke mana.


"Jangan coba-coba melakukan hal itu, lagi!" geram Mano.


Kekuatannya bertambah dengan emosinya yang sudah di ambang normal, ia langsung menggigit tangan si mucikari, menendang ************ si pria.


Membuat pria itu terjatuh, semua pengunjung club menontonnya. Mano tidak peduli ia marah, ia mengambil cambuk dan mencambuk si pria.


"Tangkap ******, itu!" teriak si mucikari.


Semua algojonya berdatangan ingin meringkus Mano, ia menatap si mucikari penuh dendam.


Mano mengambil pistol yang terselip di pinggang si pria yang tersungkur di lantai yang masih ia cambuk.


Rambut panjang Mano terburai menutupi wajahnya yang mulai menyeramkan, kecantikannya berubah menjadi iblis.


Mano langsung menembak si pria hingga mati.


"Pergi atau kubunuh kalian, semua!" teriak Mano. Ia sudah gila dan kesurupan, ia tidak takut mati atau dipenjara.


Para algojo ketakutan, mereka seakan melihat bayangan lain di tubuh Mano, "Wanita itu seorang, iblis!" ujar salah satu pria mundur.


Algojo yang lain mencoba mendekat, Mano langsung menembak pinggangnya si pria terkapar membuat nyali mereka menciut.


"Aku tidak ada urusan dengan kalian! Pergilah," ujar Mano. Kekuatan lain meguasainya, emosi dan amarahnya.


Ia sudah lelah, Mano mendekati si Mucikari langsung, "Kau bilang aku ******?" teriak Mano.


Ia langsung menembak si mucikari di ***********, menyiksanya dengan tendangan.


"Kau menjual ******** wanita lain hanya untuk perutmu! Rasakan, hahaha!" Mano tertawa dengan gilanya.


Ia langsung menembak si mucikari tepat di kepalanya, membuat semua orang berhamburan pergi dan melarikan diri.


Mano pun berlari menjauhi kerumunan, ia ingin pulang ke rumah ibunya dengan pistol masih di genggamannya.


Di depan pintu ia melihat ayah dan ibu tiri serta adik tirinya menghitung uang hasil penjualannya.


Darah Mano semangkin mendidih dan semangkin murka, ia langsung menembak kepala ibu tiri dan adik juga ayahnya.


Rasa kemanusiaannya lenyap seketika, rasa belas kasih dan sayang kepada keluarganya hilang.


Si ayah yang terluka di bagian kakinya berteriak marah dan menyumpahi putrinya.


Mano menoleh ke ayahnya dan melemparkan senjatanya tepat di atas tubuh ayahnya. Si ayah mengambil pistol dan ingin menembak Mano.


Akan tetapi pistol itu kosong, Mano semangkin sedih. Ayah kandungnya pun benar-benar ingin membuangnya,

__ADS_1


"Kau tidak pantas disebut seorang, Ayah!" lirih Mano.


__ADS_2