
Kabir dan Kirana saling pandang dan tersenyum, tekad mereka sudah bulat. Mereka akan melangkah bersama menerjang badai di depan dengan segala konsekuensi, walaupun nyawa taruhannya apa pun yang akan terjadi nanti.
"Terima kasih, I love You!" ucap Kabir, menci**m kembali bibir Kirana, "I love you, too!" balas Kirana dengan tegasnya.
Keduanya berpelukan dengan eratnya, saling pandang dan menganggukkan kepala, "Berhati-hatilah, Ibu dari anak-anakku!" ucap Kabir.
Ia percaya Kirana adalah salah satu wanita yang luar biasa yang dikirim Tuhan kepadanya, "Pasti, cepatlah kembali dengan selamat. Ayah dari anak-anakku, aku selalu menunggumu. Jangan biarkan aku sendiri!" pinta Kirana.
Jauh di dalam hatinya, air mata sudah membasuh sanubarinya yang terdalam. Namun, senyuman yang tersungging di bibirnya, Kabir menyentuh kepalanya melekatkan kening mereka.
"Aku, terlebih dahulu. Jangan gegabah," pesan Kabir. Ia melesat secepat kilat berlari meninggalkan Kirana.
Mereka berpisah jalan, Kabir berlari membelah malam mulai melakukan aksinya. Kirana masih terus mengamati Kabir, ia menguatkan hatinya kemudian ia bergerak berbeda arah dengan Kabir.
Kirana pun melakukan hal yang sama seperti yang Kabir lakukan, mereka menyergap tentara di depan mereka dengan hati-hati.
Keduanya berusaha untuk menjauhi Anjing-anjing pelacak, agar anjing tidak mencium bau mereka hingga mengundang para tentara mengetahui keberadaan mereka.
Kabir sudah mencuri beberapa geranat, dari tentara yang ia bunuh dan sudah melemparkannya sejauh mungkin, ke arah tentara di bagian arah utaranya.
Ia melakukan hal itu untuk mengindari, para tentara mengarah ke arahnya maupun ke arah Kirana. Sebisa mungkin ia melemparkan geranatnya ke arah kendaraan lapis berat, juga tentara yang berbaris di tengah gurun.
Ia juga menghindari lemparannya mengenai gua persembunyian mereka, "Aku berharap para pion memahami apa maksudku," batinnya.
Kirana pun melakukan hal yang sama, para tentara begitu kocar-kacirnya mereka berlari dan bertiarap. Mereka menembak membabi-buta ke arah ledakan-ledakan beruntun di bagian utara dan timur mereka.
Para tentara masuk ke dalam jebakan yang dibuat oleh Kirana, saat mereka sedang berpelukan. Ia mengutarakan niatnya, awalnya ialah yang ingin pertama menjadi umpan.
Namun, Kabir menyelanya, hingga Kabirlah yang mengambil alih segalanya.
Semua kendaraan lapis baja dan tentara yang berada di dekat kendaraan sudah terluka dan kebanyakan telah tewas, akibat ledakan dan berondongan teman mereka sendiri.
__ADS_1
Satu hal yang dipahami Kabir dan Kirana, para tentara gadungan ini. Bukanlah tentara yang sebenarnya, entah dari mana Alberto Kuro merengrut mereka. Akan tetapi hal itulah yang menjadi keberuntungan dipihak Kabir dan semua pion.
Mereka dengan mudahnya dimanipulasi, oleh Kirana dan Kabir, karena mereka sama awamnya dengan para pion yang berasal dari warga sipil. Kirana dan Kabir melihat Marta, Junaid, Darmanto dan Heru yang benar-benar alat negara.
Mereka begitu lihai dan sulit untuk dimanipulasi, karena pendidikan yang sebenarnya. Akhirnya mereka menggiring para tentara Alberto masuk kejebakan yang mereka buat.
Heru dan para pion lain di bawah tanah, merasakan kedakan yang luar biasa beruntun. Mereka saling pandang, "Kirana dan Kabir!" ucap Hendro.
"Aku yakin, itu pasti mereka. Ayo, kita bantu mereka!" balas Darmanto.
Semua pion bergerak ke luar dari gua dengan senjata di tangan masing-masing, mereka mengendap-endap dengan cara merayap di atas gurun bagaikan ular piton.
Dari kejauhan ledakan beruntun menyerang para tentara Alberto Kuro, para pion saling pandang dan membagi anggota mereka menjadi 2 kelompok.
Mereka secepatnya merayap mendekati Kabir dan Kirana, dari arah yang berbeda lagi. Sehingga mereka mengepung semua tentara Alberto Kuro.
Will menembakkan senjata laser ke arah tank yang masih menembak ke arah yang kosong, tanpa seorang pion pun. Semua itu hanyalah kamuflase sebagai pancingan Kabir dan Kirana, untuk menjebak mereka.
Ia sekuat tenaga menghajar dan membunuh para tentara gadungan, dengan segenap kemampuan dan keperkasaannya.
Kabir benar-benar begitu lihainya, seperti seekor singa di padang gurun. Kirana dibantu oleh Marta dan Nara juga Mona membantai semua tentara yang mencoba menjatuhkan Kirana.
Mereka benar-benar bahagia, tiada yang hilang dari komplotan para pion. Kirana begitu bahagianya, menemukan kembali sahabatnya.
Sebuah rasa yang sulit dijabarkan denan kata, membuncah di jiwa raganya, ia begitu senang dan bahagianya.
Mereka saling bahu membahu menjatuhkan lawan mereka, "Selamat datang kembali kawan! Kami kira, kami telah kehilangan kalian berdua," ucap Nara.
Saat pedangnya menghunus perut pria di sampingnya dengan santai, ia terus berjalan melewati musuh dengan kedua pedang di kedua tangannya.
Nara begitu lihainya memainkan pedang laksana ia memainkan pisau bedahnya,
__ADS_1
"Aku juga tidak menyangka, akan bertemu dengan kalian lagi. Aku rindu tahu!" balas Kirana.
Ia pun semangkin lihai, Marta benar-benar seorang guru yang luar biasa mengajari mereka. Ia menghujamkan sangkurnya ke ke leher musuh di bawah tubuhnya.
"Kau semangkin lihai, Kirana sayang!" kata Mona. Ia semangkin gilanya membunuh musuhnya seperti mencincang sepotong daging, Mona bukan lagi seperti artis papan atas.
Ia selalu merasa sedang shooting sebuah film thriller yang menegangkan,
"Cintamu benar-benar gila, Kirana!" teriak Marta. Ia begitu bahagia bertemu dengan semua orang, mereka menyangka telah kehilangan Kirana dan Kabir.
Namun, semua itu adalah suatu hikmah yang luar biasa. Kini mereka bisa menghancurkan semua musuh yang mendekat, hingga Alberto tidak lagi mampu memperbaiki pasokan listriknya.
Will, Zai, dan Toto sudah meluluh lantakkan kembali teknisi yang mencoba memoerbaiki pasokan listrik Alberto Kuro, hingga segalanya hancur tak tersisa kembali.
Gurun kembali bersinar terang oleh cahaya api, dari sebuah ledakan yang panjang, Alberto benar-benar berhasil menciptakan monster yang ia inginkan.
Keempat pendekar wanita cantik itu berjalan tanpa kenal rasa takut lagi, mereka benar-benar siap untuk mati. Mereka tidak rela Alberto akan berbuat sesuaka hatinya, mengacak-acak ketenangan, dan mengambil onderdil tubuh mereka dengan semena-mena.
Heru, Darmanto, Junaid, dan Hendro sudah bergabung dengan Kabir. Mereka tertawa membahana ke angkasa, mereka seperti laksana Iblis yang mengerikan.
Mereka benar-benar haus akan darah yang diberikan oleh Alberto Kuro, mereka hanya mengasihi yang perlu dikasihi. Mereka akan mengancurkan Alberto dan semua yang terlibat, hingga sebagai pelajaran untuk Alberto Kuro yang akan datang.
Mereka telah menjadi Iblis berhati Malaikat, mereka masih punya hati nurani, cinta, juga kasih sayang.
Mereka terus bergerak maju, nyalak anjing tidak lagi terdengar. Kemungkinan sudah tewas oleh ledakan dan tembakan beruntun yang diberikan tentara dan para pion.
Kesunyian kembali terjadi, para pion bergerak berlahan, "Ayo, mundur!" teriak Heru. Semuanya beringsut mundur, meninggalkan para tentara gadungan yang terluka.
Mereka berkumpul dan memutar arah menjauhi pertempuran, mereka melakukannya untuk kembali ke gua mereka. Mereka tidak mau meninggalkan jejak di gurun selain itu, badai belum tentu secepat itu datang menghapus jejak mereka.
Semuanya berjalan secepat kilat, berlomba dengan cahaya fajar yang mulai merayap di ufuk timur, mereka memasuki air terjun. Mereka mengilangkan jejak di dalam air, mereka bersyukur Allah berpihak kepada mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba hujan datang menghapus jejak mereka, sesampainya di gua, mereka terduduk dengan lemasnya. Mereka menyantap roti yang selalu mereka curi dari dapur milik Alberto Kuro.