Pulau Kematian

Pulau Kematian
Badai sihir


__ADS_3

Beberapa menit kemudian badai pasir berlalu, "Sebenarnya berapa jam sekali sih, tuh badai datang?" tanya Mona.


Semua wanita beeluf tersenyum, "Badai pasir yang nyata datangnya tidak tentu, biasanya sehari 2 kali saja, atau sekali maupun sama sekali tidak ada," jawab Rani.


Para pion melongo, mereka sudah merasakan sekitar 5 atau 7 kali badai semenjak mereka masuk ke dalam gua, "Tetapi sejak kami berada di sini, badai pasirnya semangkin parah saja? Entah sudah berapa kali, pun!" jawab Kirana.


Marta diam dan menyimak dengan suatu pemahaman, "Semua itu, Ayeshalah yang melakukan badai pasir itu." Marta memandang ke arah Ayesha.


Ayesha hanya diam, ia tidak mengatakan apa pun karena semua itu memang benar adanya. Ia tidak menampiknya, ialah yang telah melakukannya agar semua musuh tidak mengetahui di mana keberadaan mereka.


Nara di sisinya bergitu girang, "Wah, kamu hebat sekali!" ucap Nara memuji. Sebuah kesedihan tertera di sana, "Sudahlah, tidak perlu membahasnya. Malam ini, kita istirahat dengan tenang. Besok kita mencari beeluf di bagian gurun utara aku harap mereka mau menolong kita," ucap Ayesha.


Tetua Yura tersenyum, "Besok, kita akan berkumpul di menara pasir!" jawab Yura.


Ia meninggalkan gua dengan para bawahannya, mereka pun kembali mendengar deru badai.


Semua orang berusaha untuk tidur dan mencoba melupakan banyak hal, setiap beberapa menit badai selalu menerjang di permukaan bumi di atas mereka.


Nara memandang Ayesha yang berbaring di antara kedua bale mereka, ia tidur dengan nyenyaknya. Walaupun tangannya masih terus saja mengepal,


"Betapa malangnya Ayesha, ia harus melakukan semua ini. Untuk menjaga semua keluarganya selamat," batin Nara.


Untuk pertama kali para pion tidur dengan nyenyaknya, mereka merasa terbuai oleh sebuah mimpi yang indah. Mereka mencium aroma ikan di masak dengan berbagai rempah, seakan di sebuah restauran semua pion melompat bangun.


Mereka mencoba membersihkan diri dengan air dari dalam tong, "Rani ..., dari mana kalian mendapatkan air?" tanya Marta.


Rani hanya twrsenyum, "Kami mengambilnya di danau ase, tidak jauh dari sini, hanya saja. Kami mengambilnya malam hari," jawab Rani.

__ADS_1


Mereka melihat di sebuah meja bambu sudah terhidang ikan-ikan yang lezat yang masih panas, mereka begitu herannya dari mana para beeluf mendapatkan semua rempah, "Dari mana kalian mendapatkan semua, ini?" tanya Marta keheranan.


Ayesha memasuki ruangan dari dapur ia membawa seikat tumisan kangkung, "Makanlah, nanti kalian akan tahu!" ucapnya.


Mereka makan dengan lahap sayur-mayur dan ikan, tetapi mereka tidak melihat ada sebutir nasi pun. Akan tetapi tidak seorang pun yang berani bertanya, semua beeluf makan dengan teratur dan tanpa suara.


Pas tengah hari mereka ke luar saat suara burung elang berbunyi melengking di atas gua mereka, Ayesha kembali mengetuk dindingnya dan mereka keluar dengan berlahan satu per satu hingga seluruhnya sudah ke luar dari dalam gua.


Para pion mengikuti para beeluf menyelinap di antara gurun-gurun dan berlari sekencangnya, "Mengapa kita berlari terlalu kencang, Rani?" tanya Marta.


Rani menoleh sekilas, "Untuk menghindari heli Alberto, kita tidak tahu kapan saja heli itu akan mengitari gurun. Selain itu, di sini tidak ada tempat berlindung." Rani terus berlari,


di barisan paling belakang Ayesha pun berlari, dengan badai yang menggulung di belakangnya ada 3 gulungan badai yang mengejar mereka.


Semua pion menoleh ke belakang, "Maju dan terus berlari, jangan hiraukan aku!" teriak Ayesha.


Semua orang melihat mereka, "Apakah saat penyerangan pasokan, listrik?" tanya Marta. Kirana menganggukkan kepalanya.


Ayesha maju ke depan mereka, kembali ia mengetuk sebuah batu di danau, sebuah dinding dari balik bebatuan muncul, mereka satu per satu masuk secepat kilat. Badai pun menghilang,


"Ayesha sangat pinter mengelabui Alberto dengan badainya, hingga Alberto tidak bisa melihat jejak beeluf saat keluar dan masuk ke gua dan gurun mereka," ucap Kirana.


Para pion menganggukkan kepala, mereka menyusuri gua yang sangat hijau. Di dalam mereka menemukan hamparan petak tanaman yang tumbuh subur, berbagai jenis sayuran mereka tanam. Semuanya wanita berpakaian mereh, "Salam, tetua!" sapa seorang wanita saat berpapasan dengan Ayesha.


Ia hanya menganggukan kepala dan tersenyum dengan lembutnya, "Dari sinilah semua sayuran dan ikan yang kita makan, tetapi hanya ini yang bisa kami lakukan. Kami belum bisa menanam padi karena tidak adanya bibit padi," ucap Ayesha.


Mereka terus berjalan menyusuri petak sayuran, di dalam gua mereka melihat dengan jelas matahari. Para pion begitu takjubnya, "Apakah ini tidak terlihat dari luar?" tanya Mona.

__ADS_1


Ayesha tersenyum, "Semua itu karena kekuatan dari do'a-do'a dan juga ilmu sihir yang dipadukan dengan ilmu teknologi yang dicuri tetua Muti,


"Sayangnya ..., ketua Muti tidak sempat menikmatinya, ia dibunuh Crabs." Ayesha memandang tanaman jagung dan beberapa palawija.


"Dari mana kalian mendapatkan bibit semua ini?" tanya Hendro.


"Di dalam kastil Alberto kami memiliki beberapa kaki tangan sebagai juru masak dan pelayan Alberto, mereka selalu memberikan biji-bijian kepada kami. Tetapi .... " Ayesha hanya diam tidak melanjutkannya.


Para pion pun tidak memdesaknya, "Ayo, kita masuk!" ajaknya. Di sebuah gua lain, para wanita beeluf lebih tua sudah berkumpul. Ayesha dan Rani membungkuk sedikit para pion melakukan hal yang sama, "Silahkan, duduk!" ucap tetua Yura


Yura sudah mengumpulkan semua tetua beeluf dari klan pakaian merah yang paling tua dan pakaian putih, "Aku hanya bisa mengumpulkan, sekitar 2 ratus orang. Untuk membantumu, Ayesha!" ucap Yura.


"Aku, sangat berterima kasih! ketua Yura, Yahmen, dan Ketua Mahya. Ini sangat membantu," balas Ayesha.


Salah satu ketua mengunyah sesuatu di mulutnya, ia sudah sangat renta. Para pion tidak bisa membayangkan berapa lama ia terkurung di Pulau Kematian.


"Bolehkah saya bertanya?" kata Hendro. Semua para wanita memandangnya, ia sedikit grogi dipandang dengan begitu minat, "Berapa lamakah para tetua berada, di sini?" tanyanya pada akhirnya.


Mona menyikutnya, "Sangat, tidak sopan!" gerutu Mona.


Hendro menggaruk-garukkan kepalanya, "Aku penasaran, dari pada aku mati penasaran. Alangkah baiknya aku bertanya," jawab Hendro lugas.


Tetua Yahmen yang paling tua terkekeh, "Anak muda, kau tahu. Dulunya pulau ini, adalah pulau yang sangat cantik dan unik. Kau bisa bayangkan banyaknya hutan bambu," ia membuang sesuatu ke dalam bambu dari mulutnya


"hutan kegelapan, gurun, dan stepa. Akan tetapi, sejak ke datangan Alberto. Semuanya jadi sirna, aku adalah salah satu kunci hidup penduduk asli dari pulau ini." ucap ketua Yahmen.


Semua orang begitu terkejut dan terpananya, tiada seorang pun yang berani bertanya selama ini kepada para tetua mereka yang sudah sangat uzur.

__ADS_1


__ADS_2