
Kabir dan para pion berusaha untuk membantu sebaik-baiknya suku yang terlihat aneh bagi mereka. Suku itu memakai baju serba hitam dan penutup kepala yang sama hitam serta wajah yang dicat hitam, sehitam jelaga bokong kuali.
Kabir dan semua pion menolong mereka karena dorongan kemanusiaan, tidak berharap imbalan apa pun. Mereka melihat pertempuran yang tidak seimbang, "Suku berpakaian hitam terlalu primitif di bidang senjata," batin Kabir.
Hendro di sisi Kabir menoleh ke arahnya, "Sepertinya kelompok ini tidak begitu pengalaman bertempur dengan orang-orang Alberto," Teriak Hendro.
Ia masih menebas leher si hatter, dan menerjang melompatinya. Kepala hatter berjatuhan ke tanah. Para suku berpakaian hitam terperanjat melihat keempat orang di depan mereka yang begitu lihai dan cekatannya membantai hatter yang sulit dikalahkan,
Mereka sendiri sudah banyak yang jatuh berguguran karena si hatter robot. Mereka bukan manusia seutuhnya,
Mereka berhasil menyudutkan para tentara hatter, saat Kirana melawan hatter robot yang kuat, seorang hatter lain ingin menembakkan senjatanya.
Seseorang lria dari Suku Hideng melemparkan tombaknya ke pelipis hatter hingga ia jatuh terjerembab ke depan menghantam pepohonan perdu.
Kirana melihat ke arah si orang aneh tersebut, ia menganggukkan kepalanya dan kembali mereka melawan para hatter robot.
Sebuah sirene bergaung, para tentara hatter bergerak berkelontangan pergi menuju suara sirene yang bergaung seakan memanggil mereka berkumpul kembali.
Mereka meninggalkan begitu saja semua orang mereka tidak tertarik untuk bertempur lagi, semua pion dan suku berpakaian hitam hanya diam mereka saling memandang, "Terima kasih!" kata si pria yang menolong Kirana.
"Sama-sama, sebenarnya kalian ini penduduk mana?" tanya Kabir. Ia tidak tahu harus berkata apa, ia masih bingung di peradapan modern di luar pulau sudah memasuki tahun 2050.
Semuanya sudah canggih, tidak ada satu orang pun yang memakai baju tertutup hitam dan penutup kepala seperti tutup tudung saji bermotif kain shella hanya saja berwarna hitam juga, dengan kelopak dan bawah mata dicat berwarna hitam.
Si pria menatap tajam ke arah Kabir dan kawan-kawannya, "Kami asli penduduk pulau ini, suku kami bernama Hideng artinya berpakaian hitam. Kalian dari mana?" tanyanya.
Kabir bingung menjawabnya, hingga pada akhirnya ia menjelaskan asal usul mereka hingga mereka terdampar di Pulau Kematian.
Si pria memandang Kabir dan semua pion, "Pulau kematian? Pulau Beeluf maksudmu?" tanyanya. Kabir dan semua pion menganggukan kepala, ia masih memandang ke arah Kabir.
Ia memandang elang di angkasa raya berputar-putar, ia tahu itu adalah elang Yahmen, Ayesha, dan Mano yang mencari keberadaan mereka.
__ADS_1
Si pria memandang kembali ke arah Kabir, "Namaku Meang, kalau kalian percaya kepadaku. Ayo, ikutlah denganku. Di sini tidak, aman!" ujarnya.
Kabir dan yang lain mengikuti Meang, berlari secepat kilat memutari pepohonan dan berusaha untuk tidak menyentuhnya, mereka menuruni undakan terjal batu karang dan berjalan di pasir pantai, Meang membuka celah batu.
Sebuah terowongan gua terbuka yang hanya bisa dilalui seorang saja, mereka masuk ke dalam. Kabir dan semua pion berusaha untuk tetap waspada, mereka takut semua itu adalah jebakan.
Mereka terus berjalan menyusuri terowongan hingga berakhir di sebuah ruangan yang sedikit besar, mereka duduk beramai-ramai di sana.
Semua Suku Hideng berdiri melihat Meang membawa orang lain ke kelompok mereka, "Siapa mereka?" ujar seorang tetua mereka.
Seorang pria bongkok yang sudah uzur, "Mereka Kabir, Hendro, Mona, dan Kirana. Mereka dari Pulau Beeluf mungkin kelompok dari Tetua Yahmen," ujar Meang.
"Salam, Pak!" ujar keempat pion.
Si kepala suku memandang dengan tatapan menyelidik, "Baiklah, kalau benar kalian dari Pulau Beeluf, jawab pertanyaanku. Siapakah Ayah dari Yahmen?" tanyanya.
"Bahale!" jawab keempatnya. Si kepala suku, tersenyum, "Di manakah letak menara pasir?" tanyanya lagi.
Si kepala suku tersenyum, "Baiklah, berarti kalian memang dari Pulau Beeluf. Namaku Rayun, aku kembaran Rayan sepuh di Pulau Beeluf."
Rayun memandang ke langit gua dengan penuh kehampaan, ia memakai pakaian hitam sama dengan para anggota kelompoknya.
Janggutnya sepanjang dadanya berwarna putih, "Bagaimana bisa kalian sampai kemari? Bukankah pulau itu sudah ditembok oleh Alberto hingga semua jalur terputus?" ucap Rayun.
Kabir menceritakan semuanya, juga teman mereka yang berpisah bersama mereka di pulau tak bertuan.
Rayun terdiam, "Jadi, Alberto berniat menghancurkan segalanya dan kemudian ia beralih kemari karena adanya tambang di sini.
"Akh, andaikan kalian bangun pun pulau itu. Ia juga akan mengambil alih lagi," kata Rayun sembari memilin janggutnya.
Seorang wanita membawa buah-buahan dan ikan laut yang dikeringkan, dan minuman hangat. Mereka berbicara banyak hal, mereka mendengar deru heli di angkasa.
__ADS_1
Kabir berpikir mengenai sahabat-sahabatnya yang masih di luaran sana, "Bolehkah, kami menginap malam ini di sini? Besok kami akan mencari sahabat-sahabar kami," tanya Kirana.
Semua orang memandang Kirana dan Mona, "Tentu saja! Kapan pun kalian mau!" ujar Rayun.
Anak-anak mendekati Kirana dan Mona, "Cantik sekali!" ucap semua anak-anak wanita.
Mereka mengulurkan tangan mereka menyentuh wajah Kirana dan Mona, keduanya tersenyum, " Halo, aku Kirana dan ini Mona!"ucap Kirana.
Ia dan Mona menyalim tangan anak-anak, keduanua tersenyum dengan lembutnya. Anak-anak dengan malu-malu mengulurkan tangan dan tersenyum malu,
Kirana dan Mona begitu menikmati kebersamaan mereka dengan anak-anak. Mona dan Kirana duduk berdekatan dan bermain dengan anak-anak kecil,
Hendro hanya duduk melihat sebagian orang meraut bambu menjadi senajta, "Aku tidak menyangka Suku Hideng lebih tertinggal jauh dari Suku Beeluf," batinnya.
"Apakah kalian sudah lama putus hubungan dengan Suku Beeluf?" tanya Hendro. Meang memandang Hendro, putranya yang masih berumur 5 tahun duduk di pangkuannya.
"Sudah sangat lama, kami tidak pernah bertemu dengan mereka, semenjak tembok di bangun. Saat itu aku masih kecil," ujarnya,
"Suku Beeluf lebih lama menderita akibat Alberto, pulau itu lebih besar dari pulau kami," jawabnya.
Meang memandang semua orang, "Umurku jauh di bawah Yahmen, aku rasa tidak ada yang tersisa dari Suku Beeluf selain Yahmen, Muti, dan Rayan. Tetapi keduanya sudah meninggal hanya Yahmen yang masih hidup,
"Dulu sekali, kami pernah berkunjung dengan ayahku ke pulau itu. Aku masih berumur 7 tahun, ada acara syukuran. Aku tidak ingat syukuran apa?" ujar Meang.
Kabir memandangnya, "Sudah berapa lama Alberto menduduki pulau ini?" tanya Kabir.
Meang berpikir sejenak, "Sekitar 10 tahun terakhir, dulu kami selalu melakukan barter dengan orang-orang beelufdan suku lain di pulau sekitarnya.
"Akan tetapi, sejak Alberto menduduki Pulau Beeluf hubungan itu terputus sekitar 50 tahunan," ujar Meang.
Meang menerawang mengingat semua hal masa lalunya yang indah, berubah menjadi kehancuran dan tangisan.
__ADS_1