
Darmanto mengeluarkan peluru dan menyemprotkan botol obat, ia sering melihat Nara melakukannya. Akan tetapi ia tidak selincah Nara,
ia hanya mengeluarkan tanpa memberikan kapsul pereda sakit, ia langsung saja mengoreknya dengan sangkur mengeluarkan peluru dan menyemprotkannya saja.
Membuat Junaid setengah mati menahan sakitnya, begitu botol obat disemprotkan barulah sedikit rasa dingin dan lega menyerang kulit dan daging Junaid, ia tidak lagi menggigit sebatang ranting kayu.
Menunggu luka Junaid pulih, keduanya bersembunyi di rumpun bambu. Seekor ular sawah menggerangi tubuh Junaid yang lagi memejamkan matanya,
Rasa dingin merayapi tubuh Junaid sementara Darmanto masih memunggunginya mengintai musuh mereka, Junaid membuka matanya melihat ular sedang merayap naik dengan kepalanya persis di wajahnya.
Secepat kilat Junaid menangkap leher ular dengan tangan kanannya, membuat Darmanto terkesiap menoleh ke belakangnya.
Darmanto secepat kilat memotong kepala ular dengan sangkurnya, mereka terdiam sejenak darah ular membasahi tubuh Junaid bau anyir semangkin parah.
Hari semangkin gelap, mereka masih belum meninggalkan persembunyiannya, perut mereka sudah berbunyi ingin minta diisi.
Darmanto mengambil bangkai ular mengulitinya dan membakarnya, dengan senjata laser keduanya makan dengan diam.
Suara burung malam mulai terdengar, "Ayo, kita pulang ke gua!" ucap Junaid. Ia sudah risih dengan bau anyir darah di tubuhnya bercampur darahnya dan darah ular.
Darmanto melihatnya dengan mengerutkan dahi, "Bagaimana dengan, lukamu?" tanya Darmanto.
Junaid menggerak-gerakkan kaki kirinya, "Aku rasa sudah sembuh, ayolah!" ajaknya. Keduanya merayap membelah pekatnya malam, berjalan mengendap-endap seperti pencuri membelah hutan bambu.
Suara burung hantu semangkin menambah angker dan seramnya suasana, keduanya berusaha secepatnya mencapai gua air terjun mereka.
__ADS_1
Keduanya merunduk melihat sekumpulan hatter, sedang berjalan membelah hutan bambu entah ingin ke mana. Darmanto dan Junaid tiarap di semak perdu mereka sudah lelah untuk bertempur lagi,
apalagi mereka hanya berdua melawan sekitar 30 hatter. Iringan hatter terus berjalan menuju kastil, atau ke arah Hutan Kegelapan, pulau itu bagaikan sebuah putaran dan selalu bertemu di titik yang sama.
Mereka hanya berlarian dan berputar di antara keempat wilayah dan berpusat kepada kastil Alberto, setelah merasa mereka aman dari musuh Darmanto dan Junaid berlari secepat kilat meninggalkan lokasi.
Keduanya berharap tidak akan bertemu dengan para hatter ataupun ninja lagi, mereka hampir menjangkau gua air terjun.
Akan tetapi di depan mereka, beberapa orang tentara sedang berjaga-jaga di depan air terjun. Keduanya hanya saling pandang, mereka mengurungkan niat untuk masuk mereka hanya menunggu di sela semak lain lagi.
Sementara Kabir dan Heru terlempar ke dalam lautan yang sangat dalam, keduanya mencoba untuk berenang mencapai tepian.
Mereka melihat sebuah kapal mendarat di pelabuhan yang sudah hancur berantakan, Kabir dan Heru menenggelamkan tubuhnya kembali.
Heru dan Kabir semangkin geram, keduanya berenang mendekati lambung kapal melemparkan beberapa granat membuat ledakan semangkin beruntun. Beberapa serdadu berhasil melompat ke lautan, dari dalam lautan keduanya membunuh serdadu-serdadu yang melompat ke air.
Kehebohan dan rentetan peluru bergema, keduanya berenang semangkin dalam menjauhi area pelabuhan. Mereka berenang di antara api yang masih menyembur di permukan laut, karena minyak yang berserakan akibat ledakan.
Berjarak 1 kilometer keduanya mencapai tepian pulau, mereka menyandar di antara ceruk-ceruk batu dan tebing. Mereka memandang pekatnya malam, suara heli masih sibuk mengitari lautan mencari keduanya.
Keduanya masih saja bersandar dengan separuh bagian pinggang sampai kaki masih mengapung di dalam air, mereka mencoba berpegangan di antara terjalnya batu karang di tepian pantai.
Memandang dari kejauhan suara heli yang masih menderu menyusuri setiap sudut pantai, saat cahaya dari heli mulai mendekat, keduanya kembali masuk ke dalam lautan.
Berusaha untuk mengindari cahaya dari heli, saat heli mulai menjauh kembali mereka muncul kepermukaan laut. Keduanya tidak mengindahkan dinginnya air laut ataupun santapan ikan hiu di tubuh mereka, kenyataannya Alberto lebih mengerikan dari seekor hiu.
__ADS_1
Mereka kembali menaiki bukit terjal batu karang dan dinding tebing berusaha untuk masuk kembali ke Pulau Kematian mereka ingin memberitahukan kepada semua orang apa yang telah mereka lihat.
Berlahan dengan sebuah tekad dan kegigihan mereka merayap naik, sesampainya mereka di dinding tembok Kabir dan Heru menembakkan laser mereka membentuk sebuah segi empat untuk pintu mereka masuk.
Keberuntungan berada dipihak keduanya, tidak ada satu heli pun yang mengelilingi pulau di pagi buta, mereka kembali masuk dengan berhati-hati agar tidak tersengat listrik.
Namun, karena pasokan listrik di gurun sudah hancur daya listrik tidak begitu kuatnya, keduanya berlarian kembali di dalam pulau mereka masuk ke dalam wilayah gurun pasir.
Panas sangat menyengat hingga keduanya begitu kelelahan dan amruk seketika di tengah gurun, burung-burung bangkai di angkasa bersorak girang mereka mengitari kedua tubuh yang sedang sekarat.
Burung-burung mulai hinggap di sisi keduanya berusaha untuk mencatuki tubuh mereka, akan tetapi beberapa wanita beeluf muncul membawa keduanya di sebuah tandu memasuki sebuah pohon gerowong.
Ayesha dan semua pion sedang makan siang dan istirahat, mereka melihat beberapa wanita membawa dua tandu dengan seseorang di atas mereka, Ayesha dan para pion berlari.
"Suamiku!" teriak Ayesha mendekati Heru, Kirana berlari mendekati Kabir. Wajah kduanya membiru dengan bibir pecah-pecah, mereka mengalami dehidrasi dan kedinginan akibat berendam hampir semalaman di lautan air garam tanpa makan dan minum.
Ketua Mano memerintahkan beberpa tabib untuk memeriksa mereka, memberikan madu yang diberikan Sesepuh Yahmen ke mulut keduanya. Keajaiban terjadi, seberkas cahaya mulai menyinari kedua tubuh di depan mereka, wajah dan tubuh mereka berubah kembali normal.
Kabir dan Heru terbatuk-batuk dan mencoba untuk duduk, "Kirana .... " lirih Kabir. Ia meraih tangan Kirana yang tanpa Kabir sadari sudah menggenggam eratnya, semenjak ia datang tanpa Kabir sadari.
Kabir menatap kirana, "Heru?" lirihnya. Kirana memandang ke sebelah Kabir, ia pun mengikuti ekor mata Kirana ia melihat Heru pun sudah siuman dan berada di pangkuan Ayesaha.
"Apa yqng sudah terjadi?" tanya Kirana. Ia masih menggenggam tangan Kabir menciumi setiap jemarinya, ia sudah berpikir yang tidak-tidak. Kini, suatu keajaiban membuat Kabir dan Heru sadar dan sehat wal'afiat tanpa kurang satu apa pun, "Bagaimana dengan semua, orang?" tanya Kirana.
Ia begitu khawatirnya, bila sudah terjadi yang tidak-tidak dengan semua sahabat mereka di gua. Apalagi Sukuna sedang sakit, "Kami menyelinap masuk ke kastil, akan tetapi Darmanto dan Junaid hampir saja tertangkap. Sehingga kami bertempur dan kabur," jawab Kabir.
__ADS_1