
Yahmen terkesima, ia tidak pernah menyangka ia akan menikah. Ia pernah bersumpah tidak akan menikah bila ia tidak berhasil membunuh Alberto,
kini kekasih hatinya mengajaknya untuk menikah. Kebingungan menderanya, "Menikahlah, Yahmen. Aku juga ingin menikah!" teriak Mano.
Semua orang serempak berteriak, "Terima! Terima!" suara bergema membuat Yahmen semangkin malu, ia melihat Aoi sudah berlutut di depannya, dengan mengangsurkan seutas cincin emas mungil.
Yahmen meneteskan air matanya, "Aku mau menikah denganmu, Aoi!" lirih Yahmen di sela derai air matanya.
Semua orang bertepuk tangan dan bahagia, Mano memeluk Balian dengan tawa seperti mereka masih berumur 20-an. Bayangan kebahagiaan mereka kembali hadir,
di kala mereka berempat sedang jatuh cinta yang dalam, sebelum malapetaka Alberto mengirim pembunuh Muti yang berwajah sama dengan Mano dan merayu Ambah.
Mereka berjanji akan menikah dan memajukan pulau dengan kebahagiaan dan harapan, kini 25 tahun berlalu sudah, cinta tak jua lekang. Aoi sudah memeluk Yahmen yang terisak di pelukannya.
Kenangan mereka, di saat masih muda berlarian memanggul senjata mengalahkan semua tentara Alberto masih terkenang, begitu indahnya.
Berlari menuruni undakan tebing dan stepa, membelah gurun, bergelantungan dari pohon ke pohon, menatap rembulan kala purnama, di saat mereka terluka.
Aoi selalu saja ada menemaninya melewati semua waktu, menggendong dan menyelamatkannya dari luka parah dan banyak hal lucu dan sedih yang mewarnai selama kebersamaan mereka.
Hanya karena seorang Alberto Kuro segalanya menjadi hancur tak tersisa, mereka melewatkan kesendirian selama 25 tahun memendam kerinduan dan kasih, impian mereka membangun sebuah keluarga pun kandas.
Balian dan Mano merangkul kedua sahabat mereka, saling menangis mengenang segala hal yang pernah mereka lewati bersama dan sesuatu yang tak terlewati oleh mereka.
Waktu sudah tidak bisa diputar kembali, "Dari mana kau mendapatkan cincin ini, Aoi?" tanya Yahmen.
Saat Aoi melingkarkan seutas cincin tipis di jemari manis ya,
"Sejak 25 tahun yang lalu, aku sudah menyimpannya. Aku kira, saat pertempuran kita usai merebut kastil dan membunuh Alberto, aku akan menikahimu. Ternyata takdir berbicara lain," ujar Aoi.
Wajah Aoi yang menua terlihat masih tampan dan masih tersenyum kekanak-kanakan.
__ADS_1
Yahmen memandang cincinnya, "Aku, ingin menikah. Jika kalian berdua juga, menikah!" ujar Yahmen.
Ia menatap Mano dan Balian, keduanya tertawa dan berpelukan, "Tentu, saja! Kami, juga akan menikah. Sudah terlalu lama menunggu semua ini," ujar Balian dan Mano berbarengan.
Akhirnya pada senja yang bersinar indah di kala bias jingga menyusup indah di antara dedaunan, kedua pasangan kakek dan nenek itu pun menikah, tiada pesta yang meriah hanya mengucap ijab kabul seadanya.
Pernikahan pun dilakukan secara khidmat dan indah, semua orang begitu bahagianya. Burung elang milik Yahmen dan Mano juga Ayesha menotol riang di pinggan-pinggan tembikar, Anak-anak begitu riangnya bermain dengan kawanan rusa.
Semua pasangan menari riang, Kabir dan Kirana tertawa di sela semua orang, saling berangkulan tangan di pinggang berlawanan arah.
Mona dan Hendro selalu saja saling menginjak kaki, karena kesal Hendro menggendong Mona dengan menari.
Mona begitu tertawa riangnya,
Nara dan Junaid menari dengan gaya khas suku Papua membuat Junaid kebingungan mengikutinya. Will sibuk bernyanyi-nyanyi lagu yang ia ingat semasa masih di dunia peradapan modern, Sukuna dan Zai menari.
Sukuna nenari dengan tarian Jepang bak seorang geisha yang membuat Zai klimpungan kebingungan harus bagaimana.
ia hanya ingin memenuhi kampung tengahnya, ia selalu kelaparan bila berhari-hari terjebak di suatu pertempuran dan persembunyian tanpa makanan.
Marta dan Darmanto menari dengan bergandengan tangan ala tentara, Heru tertawa melihat adik letingnya yang kaku menari dengan hentakan yel-yel mau berjuang perang.
Heru dan Ayesha sendiri hanya duduk melihat keramaian, Yahmen dan Mano begitu lihainya menari adat Klan Beeluf yang indah dengan pakaian khas beeluf berwarna merah dan putih.
Sementara Balian dan Aoi menatap dengan penuh cinta dan kasih sayang, kepada pasangan mereka pemujaan yang luar biasa yang mereka jalani dan berikan sepanjang perjalanan hidup mereka.
Di tengah malam, Yahmen, Aoi, Balian, dan Mano ke luar dari kamar mereka. Mengajak beberapa anak dan lansia juga yang cacat, akibat pertempuran yang selama ini mereka lakukan dan sebagian pion.
Memasuki Hutan Kegelapan bagian yang lebih dalam,
Mereka menyusuri hutan kegelapan bagian dalam, Ayesha dan Heru mengikuti dari belakang para ketua dan Sepuh Yahmen.
__ADS_1
Mereka berjalan dengan menggunakan cahaya yang berpendar dari tangan Yahmen, awalnya para pion ingin menggunakan cahaya laser,
"Jangan, cahayamu akan memantul ke angkasa. Membuat tempat ini diketahui Alberto," ucap yahmen.
Mereka berjalan menyusuri pekat malam dan hutan yang menyeramkan, mereka terus bersiaga. Berlahan di antara tunggul pohon mati, mereka berhenti.
Yahmen mengajari Ayesha cara membuka sebuah pintu tersembunyi, dengan sebuah kidung aneh.Tiba-tiba di depan mereka sebuah jalanan yang licin penuh bunga terpampang,
Yahmen masuk begitu juga dengan semua orang. Mereka melihat banyaknya rumah kayu yang bercahaya lampu teplok di sana pekarangan dipenuhi oleh berbagai tanaman ubi, dan sayuran.
Yahmen mengajak mereka masuk dan menyuruh mereka memilih rumah, "Untuk sementara di sinilah, kalian. Berdoalah, agar kami di luaran sana selamat. Jika tidak, kalian akan selamanya di sini. Aku tidak tahu lagi, bagaimana jalan terbaik untuk menyelamatkan kalian," ujar Yahmen.
Semua orang menangis pilu, "Hanya Ketua Ayesha dan Herulah yang tahu membuka kunci ini. Mereka sudah bersumpah darah untuk selalu menjaga dan melindungi kalian, walaupun nyawa mereka taruhannya.
"Bila kelak, aku tidak ada lagi, Ayeshalah penggantiku. Hormatilah! Anak keturunannya seperti kalian menghormatiku dan sebelumku," sambungnya menatap semua orang di sana.
"Sepuh, bagaimana jika kami ikut membantumu berperang melawan Alberto?" ujar seorang anak lelaki berumur 15 tahun. Ia maju dengan gagahnya, Yahmen mengelus kepalanya.
Memandangnya lekat, "Perjuanganmu, belum dimulai. Kelak, bantulah Heru dan putrinya Nisa untuk memajukan pulau ini menjadi sebuah peradapan modern. Belajarlah yang giat," ucap Yahmen.
Heru dan Ayesha menatap bingung, tetapi tiada seorang pun yang berani bertanya.
Yahmen memandang semua sukunya, "Hiduplah dengan damai, jangan menyalahi aturan alam dan Tuhan, bekerjalah sesukamu di sini," pesan Yahmen,
"hanya saja ... Kalian tidak bisa ke luar dari sini, sebelum Aku ataupun Ayesha yang membuka pintunya. Berdo'alah agar semua orang yang berjuang selamat," sambungnya.
Yahmen memandang semua orang, ia melihat ke Ayesha dan Heru, "Tepatilah, sumpah dan janji kalian! Jagalah, keturunan Suku Beeluf dan peradapannya," ucap Yahmen.
Heru dan Ayesha maju, "Kami bersumpah, akan menjaga dan melindungi Suku Beeluf. Walaupun nyawa kami taruhannya," ucap keduanya.
Mereka pun berpelukan menangis dengan semua orang yang ditinggalkan di sebuah tempat asing dan penuh sihir.
__ADS_1
Yahmen dan semua pion meninggalkan mereka yang masih melihat ke arah kepergian semua orang, Yahmen kembali melantunkan sebuah kidung.