Pulau Kematian

Pulau Kematian
Menikahkan kedua adiknya


__ADS_3

Balian langsung mengetuk pintu asrama putri. Ia merasa ingin menembus dinding agar semua orang tidak memandang ke arahnya.


Mano membuka pintu, Balian langsung menyelinap masuk Seakan dikejar hantu. Di dalam Rasna dan Sanna dihias oleh Yura, Yahmen, Mano,


dan beberapa wanita beeluf yang tidak diketahui oleh Balian namanya.


Semua orang menatap Balian dengan takjub, "Wah, ternyata si Golok Hitam tampan juga!" celetuk Yura.


Balian semangkin membeku di tempatnya berdiri, ingin rasanya ia kembali melompat dari rumah pohon itu dan berlari bersembunyi ke gua di balik air terjunnya.


Rasna dan Sanna tersenyum memandang kekikukan abang dan ketua mereka.


Mereka tahu, pada dasarnya Balian adalah orang yang pemalu, dingin, cuek, dan pendiam.


Ia hanya berbicara seadanya saja. Keduanya berdiri dari kursi di depan cermin, kedua begitu cantik dengan pakaian merah dan hiasan mahkota terbuat dari perak.


Di rambut mereka juga terselip bunga-bunga indah dari lembah yang dipetik oleh pasangan mereka.


"Terima kasih, sudah mendampingi dan melindungi kami Kak!" ucap Rasna meneteskan air mata.


Ia berhamburan lari ke pelukan Balian yang tinggi besar bak beruang, Balian tak kuasa menahan air matanya ia pun meneteskan air matanya.


"Aku, minta maaf. Bila selama ini selalu membangkang kepadamu, Kak!" timpal Sanna yang turut berlari kepelukan Balian.


Balian mengecup puncak kepala keduanya, ketiganya saling memangis pilu. Ia membayangkan jika keduanya adalah adiknya Muna dan Bajee.


Tuhan masih sayang kepadanya memberikan Rasna dan Sanna kepadanya, "Terima kasi! Kalian mau menganggapku, Kakak kalian. Aku sangat senang.


"Maaf, jika selama ini aku tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada kalian sebagai seorang Kakak. Aku hanya mengajak kalian untuk berperang,


"Maafkan, aku! Aku tidak pantas dianggap seorang Kakak bagi kalian," ucap Balian memeluk keduanya dengan erat.


"Tidak! Kaulah yang terbaik buat kami. Kau selalu ada disaat kami terluka dan sakit, melindungi kami dari segala hal." Rasna menangis memeluk Balian dan Sanna.


"Aku bersyukur dengan adanya kalian berdua di kehidupanku. Aku, tidak kehilagan kasih sayang keluarga." Sanna menimpali.


Pintu terkuak ke-8 pria sahabat mereka yang sudah terlebih dahulu menikahi gadis beeluf masuk memeluk ketiganya, mereka saling peluk dan menangis.


"Kau harus jadi wanita yang kuat Rasna dan Sanna!" ucap Markam.


Kesemuanya memeluk kedua adik wanita dan sahabat wanita mereka dari kecil.


"Aku kira kalian akan menjadi pria seperti kami," ejek Solihin menyeka air matanya.

__ADS_1


Mereka baru saja memeluk Palki dan Ujang di rumah pria, mereka ingin memberikan sesuatu kepada kedua wanita yang mereka anggap adik mereka.


Masing-masing memberikan pakaian, dan banyak hal kepada keduanya.


Balian meraba saku celananya, mengambil emas yang ia sematkan kepada adik-adiknya.


"Aku tidak memiliki apa pun yang dapat aku berikan kepada kalian. Aku harap, ini sebagai tanda dariku sebagai Kakak kalian.


"Aku tahu seharusnya pernikahan kalian meriah dan mewah. Namun, aku tidak bisa memberikannya. Maafkanlah, aku!" ucap Balian.


"Dari mana kau dapatkan semua ini, Kak?" tanya Rasna dan Sanna. Mereka tahu Balian tidak pernah mencuri.


Aku menyimpannya dari warisan Ibuku, untuk pernikahan kedua adikku. Mereka tidak tahu di mana Ibuku menyimpannya," ucap Balian berbohong.


"Ini sangat indah, Kak. Terima kasih!" ucap keduanya.


Balian memeluk kembali adiknya menyeka air matanya, "Jangan menangis, nanti kalian tidak cantik lagi. Kalian tahu, aku selalu melihat kalian memakai pakaian kumal.


"Kini, baru kutahu. Jika adik-adikku sangat, cantik! Ujang dan Palki akan tersungkur melihat kalian, hahaha!" ujar Balian berkelekar.


Semua orang tertawa, Balian tidak ingin di momen bahagia ini mereka akan selalu menangis.


Kehidupan sudah begitu menyakitkan bagi mereka.


"Kau juga sangat tampan, Kak. Andaikan dari dulu kau cukur brewokmu. Kemungkinan kau tidak mendapatkan julukan Balian Si Golok Hitam Gila.


"Tetapi, Balian Si Tampan Penghuni Lembah." Goda Sanna.


Balian tersipu malu, semua orang tertawa. Balian menggandeng kedua adiknya menuju altar mengucapkan ijab kabul.


Sepanjang pernikahan, Balian tak henti-hentinya meneteskan air mata kebahagiaan.


Ia merasa ia tidak pernah memberikan kebahagiaan kepada keduanya, ia selalu saja keras kepada keduanya.


Mengajari mereka untuk bertahan di dalam kehidupan yang keras, bertempur dan bertempur lagi.


Ia hanya mengajak keduanya di dalam kubangan darah di dalam membunuh musuhnya. Ia tidak pernah memberikan pakaian yang cantik, makanan yang enak, rumah yang nyaman kepada kedua adiknya.


Namun, keduanya selalu menyayangi dan menghormati dirinya begitu besarnya.


Di saat Palki-Rasna dan Ujang-Sanna meminta restu kepadanya, semangkin rasa sedih di hati Balian.


Ia tidak menyangka keempat sahabatnya benar-benar menikah, dan ia pula yang menjadi walinya.

__ADS_1


Seharusnya kedua orang tua merekalah yang menikahkan anak-anaknya, bukan dia. Namun, segalanya adalah permainan nasib.


Balian bahagia ia masih mendapatkan hak untuk itu, acara dilanjutkan dengan tarian beeluf. Balian hanya terpesona melihat Mano menari dengan Yahmen dan wanita beeluf lainnya.


Mano menarik lengan Balian untuk menari, sementara Yahmen memainkan serulingnya yang indah.


Malam menjelang, semua orang kelelahan. Purnama indah datang, Yahmen sudah pergi ke Tebing Hatter untuk meniup serulingnya.


Semua orang memdengarkan dengan penuh kesedihan dan harapan.


Balian memanggul goloknya ke luar dari Menara Pasir. Ia ingin berpatroli dan melihat Aoi dan srigalanya, ia ingin mengundang Aoi.


Namun, ia takut jika Aoi tidak mengenalinya ia melihat sekelebatan bayangan putih berlari menuju gurun. Balian mengejarnya.


Ia melihat Mano sedang berlarian di sana dengan seekor rusa. Balian mengejarnya dan ia berhasil menyamai lari Mano.


Mano melihatnya sekilas, "Ada apa?" tanya Mano.


Balian hanya menggelengkan kepalanya, "Apakah aku harus memiliki suatu alasan untuk berbicara denganmu?" tanya Balian kesal.


"Kali saja, begitu!" jawab Mano ketus.


Balian sebal, dengan cara Mano mendengus. Ia menarik pinggang Mano hingga keduanya jatuh bergulingan di atas gurun.


Si rusa nakal berlari menjauhi keduanya memasuki Hutan Kegelapan berlarian dengan kawanannya.


Mano dan Balian saling pukul dan saling mengalahkan. Terkadang Balian di atas tubuh Mano menagkap kedua belah tangannya dan begitu juga sebaliknya.


Keduanya sudah bermandikan pasir gurun di tubuh keduanya, mereka terdiam melihat heli melintas di atas mereka.


Terbang begitu rendahnya, Mano dan Balian yang sama gilanya melompat ke atas heli menancapkan tombak dan golok mereka ke arah bawah tubuh helikopter.


Avtur berceceran dari heli, Mano menembakkan pistolnya membuat heli meledak.


Keduanya melompat menjauhi ledakan saling peluk dan tanpa mereka sadari keduanya saling memeluk dengan eratnya.


Kobaran akibat ledakan usai, keduanya saling mengangkat wajah. Mereka terkesiap, Balian merengkuh tengkuk Mano dan mengecup lembut bibir Mano.


Awalnya Mano sedikit meronta hingga pada akhirnya ia pun mengikuti irama yang terjalin.


Keduanya menyudahi kecupan indah mereka, sejak saat itu Balian mengikuti Mano bak anak kucing yang selalu mengangumi dan mencintainya sepenuh hatinya.


Mano pun begitu mencintai Balian, keduanya masih kerap bertengkar dan tertawa.

__ADS_1


__ADS_2