
Kabir dan semua pion bersyukur meraka belum ada kehilangan seorang pun di antara mereka, "Semoga Allah selalu menjaga kami semua, aamin! Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya bila kehilangan salah satu dari kami," batin Kabir.
Ia menatap semua pion yang sudah berjuang bersama semenjak mereka bertemu, mereka lupa sudah berapa lama mereka berada di Pulau Kematian.
Akhirnya acara ritual pelepasan kematian sahabat yang dilakukan oleh wanita beeluf pun selesai, mereka makan malam dengan diamnya. Sisa kesedihan masih membayangi mereka semua, akan tetspi mereja berusaha untuk tegar menghadapinya.
Terutama Ayesha ia begitu terpukulnya, ia sudah menganggap semua anak buahnya adalah adiknya.
Semua orang berpikir bagaimana rasanya kebebasan nanti, bila mereka berhasil keluar dari Pulau Kematian.
Mereka masing-masing menantikan bagaimana rasanya bila mereka mampu bertahan dan ke luar dengan selamat.
Heru memandang semua orang saru per satu, "Apakah kalian bertemu tentara gadungan Alberto Kuro?" tanyanya.
Kabir menyudahi memakan roti dan beberapa potong burung yang dipanggang yang mereka curi dari dapur Alberto Kuro di kastilnya, "Kami hanya bertemu dengan para ninja dan hatter, tidak jauh dari sini. Sekitar 30 orang mereka sedang memanggang potongan daging manusia," jawab Kabir.
Bayangan para hatter yang memakan daging manusia membuat sebagian pion menghentikan acara makannya, "Apa? Daging manusia?" tanya Darmanto.
"Iya, kami melihatnya mereka memanggangnya." Hendro meletakkan seiris daging burung daranya ia sudah tidak berselera lagi.
Ia bergidik membayangkan akan memakan dirinya sendiri, ia terpekur memandang semua temannya. "Aku tidak akan melakukan hal gila itu," ucapnya tanpa sadar.
Heru terdiam mencerna semua perkataan para pion, "Setahuku sebarbarnya mereka, belum pernah aku melihat mereka memakan daging manusia. Apa yang sebenarnya telah terjadi?" ucap Heru.
Ia telah banyak bertarung dengan semua kaki tangan Alberto, kecuali orang-orang beeluf. Namun, ia tidak pernah melihat mereka memakan manusia mana pun.
__ADS_1
Semua diam hingga hanya suara jangkrik yang terus bernyanyi juga lolongan srigala, menambah seram suasana pulau.
"Aku pernah mendengar, bahwa kemarin akan diadakan penyuntikan asimilasi yang ingin dilakukan oleh Alberto kepada semua tentara, ninja, hatter dan beeluf," jawab Ayesha,
"akan tetapi karena kami keburu pergi dan sampai sekarang kami bersama dengan kalian," sambungnya lagi.
Nara mendekati Ayesha, "Jangan-jangan para hatter yang kalian temui, mereka telah terkontaminasi dengan penyuntikan asimilasi yamg dilakukan oleh Alberto. Kalian tahu bagaimana seorang Crabs," kata Nara melihat sekelilingnya.
Semua orang terdiam, mereka mencoba memahami dari sudut pandang masing-masing, "Apakah itu artinya, mereka telah menjadi manusia kanibal?" tanya Mona.
"Mereka pasti memiliki kekuatan yang berbeda, juga tidak memiliki hati nurani lagi. Siapa pun yang tega memakan temannya sendiri berarti mereka adalah manusia yang mengerikan selayaknya binatang!" jawab Marta.
Toto, Zai, Will berkutat dengan laptop, senjata, dan beberapa alat senjata yang ingin mereka gunakan untuk bertempur.
Wanita beeluf mencoba untuk tidur, kecuali Ayesha. Ia, Nara, Mona, yang berbaring berbantalkan paha Hendro. Darmanto, Heru, Kabir, Junaid, Marta, dan Kirana membentuk lingkaran berusaha untuk menyusun strategi yang akan mereka lakukan.
Mereka bernapas lega, saat tidak merasakan suatu ancaman. Mereka mencoba untuk tidur dengan nyenyaknya, secara bergantian mereka berjaga di pinggir mulut gua.
Junaid dan Darmanto berjaga menggantikan Heru dan Kabir, keduanya memandang ke dalam pekatnya malam dan hutan kegelapan yang sangat lebatnya.
Berbagai jenis pepohonan yang belum pernah mereka lihat sebelumnya ada di hutan kegelapan, mereka mendengar beberapa langkah kaki mendekat. Junaid dan Darmanto mengeluarkan sangkur mereka, di depan gua mereka melihat beberapa hatter sedang berjongkok mengendus-endus seperti seekor anjing pelacak.
Mereka berbicara dengan suara halus yang tidak terdengar oleh telinga, para hatter mengeluarkan senjata mulai memasuki gua. Junaid dan Darmanto mundur ke dalam bersembunyi di salah satu akar pohon yang menjuntai di dalam gua.
Para hatter memasuki gua dengan gerakan yang tidak teratur dan terkendali, mereka berdesakan bagaikan kawanan raksasa. Junaid dan Darmanto menggorok para hatter di barisan paling belakang, keduanya tidak menyadari bahwa gua mereka telah terkepung puluhan hatter yang brutal.
__ADS_1
Suara yel-yel para hatter membahana di luar gua, suaranya sayup-sayup bergaung membangunkan para pion dan beeluf. Semuanya mengambil senjata dan mulai beringsut maju, akan tetapi sebuah kapak melesat membelah wanita beeluf yang terlambat menghindar.
Ayesha merapalkan sebuah mantra yang aneh, hingga ular derik memenuhi tubuh si hatter yang telah membunuh salah satu anak buahnya. Ular-ular itu langsung mematuk si hatter hingga ia menggelepar di lantai gua dengan busa ke luar dari mulutnya ular terus merayapi tubuhnya.
Heru terkesiap dengan perilaku istrinya yang sangat berbeda sekali, dari ia mengenalnya dulu. Ular-ular itu merayap mendekati para hatter di luar gua, mereka membelit dan mematuk tubuh hatter. Darmanto dan Junaid dengan mudahnya membunuh para hatter yang sudah tidak berdaya.
Zai, Toto, dan Will yang pernah tinggal di gua sempit itu memahami isi gua dan jalan ke luarnya, "Ayo, ikuti aku!" teriak Toto. Tubuh gempalnya yang sudah mulai menyusut menarik sulur akar pohon yang menembus gua.
Sebuah celah kecil terbuka, mereka ke luar secepat mungkin, Kabir, Kirana, Marta, sudah berjaga di mulut sulur akar di atas bumi. Mereka menjaga agar tiada hatter yang menyerang saat mereka ke luar dari dalam tanah,
Hendro menarik tangan-tangan sahabat mereka yang ke luar dari dalam tanah, untuk naik ke atas. Sebagian sudah naik dan bersiaga dengan samurai, tombak dan pedang mereka.
Marta sudah menggigit salah satu sangkurnya, di tangan kirinya sudah memegang sangkur yang lain, di tangan kanannya sebuah samurai tipis yang panjang.
Kabir hanya menggunakan satu samurainya yang lentur, Kirana menggunakan dua pedang di punggung mereka tergantung senjata laser yang sudah dimodifikasi oleh Zai, Will, dan Toto mereka bak trio mekanik.
Mona sudah ke luar dari dalam gua bersama yang lainnya, "Bagaimana Junaid dan darmanto?" tanya Hendro.
"Mereka masih bertarung di dalam gua, sebaiknya kita berputar untuk membantai hatter dari belakang mereka." Kirana sudah berlari menembus malam, semua orang mengikuti gerakannya berputar ke arah masuk gua.
Benar saja, puluhan hatter sudah bersiaga dengan senjatanya, mereka bertarung membantai para hatter. Akan tetapi hatter yang mereka hadapi kali ini berbeda dengan hatter yang dulu, mereka memiliki suatu kelebihan. Mereka tidak memiliki kelelahan di wajah mereka, mata mereka lebih awas dan tajam dan lebih brutal.
Mereka lebih bisa membaca setiap gerakan yang diberikan lawannya, Toto yang bertubuh gempal pun bisa di angkat seorang wanita mungil. Ia dilemparkan ke sebuah pohon hingga semua tulangnya patah, Mona melihatnya dengan tatapan jengkel.
Ia mengeluarkan pedang mematikannya, ia tidak peduli bila ia akan kehilangan kewarasannya, ia hanya ingin menolong Toto.
__ADS_1
Ia menerjang wanita mungil yang hanya mengenakan bikini bergambar salah satu kartun, Mona menyerangnya. Tetapi ia juga kewalahan, belum lagi bantuan hatter lainnya.