
Mereka beriringan berjalan meninggalkan hutan bambu yang mulai terbakar, gemeretak pohon bambu yang terbakar dan asap mulai membubung tinggi.
Mereka secepatnya mencari tempat untuk bersembunyi dan menjauhi segala kemungkinan, karena deru suara heli mulai mendekat mereka menyiramkan air di atas hutan bambu untuk memadamkan api.
Kabir dan semua pion berlari secepat kilat tidak peduli bila mereka sudah mulai lelah dan letih, segala kepenatan hilang seketika entah ke mana.
Dari kejauhan mereka melihat asap semangkin mengepul beberapa heli hilir mudik mencoba untuk memandamkan api yang sudah melahap hampir seluruh hutan bambu.
Kabir dan pion berlari mencari kesempatan untuk mereka bersembunyi, beberapa heli mengejar mereka menembakan M-60nya, Will dengan cekatan menembakkan senjata lasernya.
Duar!
Beberapa heli terbakar meledak, “Mereka benar-benar ingin memburu kita sepertinya, selain beberapa dari mereka mencoba memadamkan api!” ucap Junaid membantu Will.
Semua heli yang mengejar habis terbakar, “Putar haluan!” teriak Darmanto.
Mereka berlari ke arah semak-semak, di depan mereka terlihat gurun pasir yang panas tanpa ada pepohonan, “Wah, gila! Kita bisa mati konyol secepatnya bila di sana?" teriak Mona memandang ke depan.
“Kita tidak memiliki persediaan air yang cukup!” jawab Nara, menggoncang tempat minumnya yang hampir habis.
Mereka saling pandang dan menggigit bibir, heli semangkin banyak mengejar mereka, seakan menggiring mereka ke gurun pasir.
“Aku takut di depan seperti jebakan, apa yang harus kita lakukan? Tidak ada pertahanan di sana?” Toto memandang lurus ke depan.
“Sepertinya, mereka ingin menghabisi kita di gurun, mereka dengan mudah menghabisi kita seperti hewan buruan,” jawab Kabir.
“Makanya, mereka berusaha menggiring kita ke sana!” balas Marta.
“Selain itu tidak ada pepohonan, untuk kita berlindung. Bagaimana menurut kalian?” tanya Heru.
Kirana masih melihat ke dalam peta, ia melihat ada air terjun di samping kiri mereka tidak jauh dari hutan bambu di antara gurun dan hutan bambu.
“Ayo, kita pergi ke kiri. Ayo, cepat!” Kirana berlari ke kiri. Semua pion bergerak secepatnya, hingga mereka sampai di bibir tebing dengan sebuah air terjun yang deras.
Helikopter terus saja berputar-putar di angkasa, terus menembak membabi buta. Berusaha mencari mangsanya di balik tingginya rumpun bambu yang sedikit gelap dan beberapa semak setinggi pion.
Kirana tanpa pikir panjang melompat ke air yang sangat jauh di bawah, di samping air terjun. Pion yang lain pun saling pandang dan ikut melompat ke dalam air.
__ADS_1
Helikopter masih terus saja menembak ke arah mereka, hingga mereka tidak mampu berkata apa pun lagi, “Di sini atau di sana sama saja! Aku juga akan mati, paling tidak mati secara terhormat.” Marta melompat ke dalam air terjun.
Air terjun terus mengalir dengan derasnya, menyembunyikan sosok Kirana dan Marta yang terlebih dulu melompat dan berenang menggapai batu di bawah air terjun.
Mona mundur beberapa langkah ke belakang dan berlari sekencangnya sambil berteriak girang,
“Aaaakkkgghh, gilaaaa!”
Ia mengejar tubuh Kirana dan Marta yang sudah berenang ke balik air terjun, “Aku datang!” teriak Nara menyusul dengan ranselnya.
“Wanita-wanita yang luar hiasa! Bila selamat dari sini, aku akan menikahi salah satu wanita itu!” teriak Hendro yang langsung menceburkan dirinya.
“Hahaha, sayangnya tunanganku sudah menantikanku!” teriak Toto.
Semua pion pun mengambil ancang-ancang dan menceburkan diri mereka seakan bunuh diri. Mereka tidak peduli apakah mereka akan hidup ataukah mati.
Perjuangan masih belum berakhir, ini masih pertengahan yang sangat rumit. Hanya sebuah harapan yang masih bertahan dan semangat untuk hidup, dan pulang dengan selamat memeluk orang terkasih.
Satu per satu mendarat ke air dari tebing yang sangat tinggi, beruntungnya tidak ada yang tidak mampu berenang. Kirana menunggu mereka di balik air terjun,
“Wah, idemu benar-benar brilian dan gila! Tapi aku senang, hahaha” teriak Marta, Mona memberikan jempolnya ke arah Kirana, Nara menyusul dengan seluruh tubuh dan ranselnya yang basah kuyup.
“Sial kita butuh cahaya!” umpat Heru, Zai menekan sesuatu di senjata lasernya.
Klik!
Sebuah cahaya terang berpendar memenuhi ruangan yang teramat gelap menjadi terang benderang, gua begitu lembab namun kering. Ribuan kalilawar berterbangan ke luar gua, mereka memasuki gua semangkin dalam.
Tetesan air jatuh dari langit-langit gua, menambah seram suasana. Namun mereka lebih seram bila di luar, hantu tidak seseram dari seorang Alberto Kuro. Manusia berwajah Iblis.
Mereka terus berjalan dengan berhati-hati, “Waspadalah siapa tahu ada jebakan lain lagi?” ucap Kirana memperhatikan peta.
Tapi sepertinya aman, di sini tidak ada tertulis ada gua. “Mungkin kita adalah orang pertama yang menginjakkan kaki di sini.” Kirana masih terus memperhatikan petanya.
Mereka sampai ke sebuah aliran air yang mengalir deras di antara bebatuan dan dinding gua, Toto menghampirinya dan menangkupkan tangannya mengangil air dan meminumnya.
Mereka berhenti dan meminum air, guntur berteriak di angkasa dan tetesan air semangkin deras merembes. Mereka menyusuri gua hingga ke sebuah sungai yang luamayan lebar dengan banyak ikan.
__ADS_1
Mereka saling pandang dan menangkap ikan, memakannya mentah-mentah tanpa jijik. “Masa bodohlah! Aku sudah lapar,” lirih Toto menikmati ikannya.
Semua pion memakan ikannya ada rasa jijik, namun keadaanlah yang membuat mereka terpaksa melakukannya.
Suara heli sudah menjauhi tempat mereka. Petir masih terus bergema di angkasa, Kirana masih saja memperhatikan peta.
Heru, Darmanto dan Zai mencoba menyusuri gua semangkin ke dalam.
Mereka menemukan jalan gua semangkin panjang dan dalam,
semangkin dalam mereka berjalan mereka mendapati keadaan gua semangkin kering dan nyaman juga hangat. Ada berbagai lorong di dalam gua.
Mereka saling pandang, “Aku panggil mereka semua kemari,” usul Zai.
“Pergilah! Sebaiknya kita berteduh di sini saja, di sini lebih nyaman.” Heru memperhatikan sekelilingnya.
Zai melesat secepat kilat, memanggil Kabir dan lainnya.
Hanya butuh beberapa menit mereka sudah tiba,
“Wah, keren! Kita tidak butuh api untuk menghangatkan tubuh kita,” ucap Mona girang langsung membaringkan tubuhnya di lantai gua untuk tidur, ia tidak peduli dengan semua orang.
Hendro menggelengkan kepalanya, “Sepertinya banyak lorong di dalam gua ini? Besok kita bagi kelompok untuk nenyusuri gua ini,” ucap Hendro.
Kabir mendekati Kirana, “Apakah kamu mendapatkan petunjuk lain lagi Kiran?” tanyanya.
“Belum, sepertinya gua ini tidak ada yang pernah memasukinya. Baru kita dan kabar baiknya, Alberto mungkin tidak mengetahui tentang gua ini,” Kirana menatap Kabir.
Detak jantung mereka masih terus bergemuruh, semenjak mereka bertemu untuk pertama kalinya.
“kabar buruknya, kita tidak tahu apa yang ada di dalam gua ini!” lanjut Kirana yang masih memperhatikan wajah Kabir.
Kabir mengulurkan tangannya menyelipkan surai Kirana ke balik telinganya, sentuhan Kabir membuat desir indah di sana.
“Ehm, ehm!” Darmanto berbatuk kecil menghampiri keduanya.
“Maaf, mengganggu. Aku hanya ingin mengatakan sepertinya ada jalan lain menuju kastil Alberto dari sini,” ucap Darmanto lagi.
__ADS_1
Membuat semua pion bergambung merubungi mereka bak semut mendapatkan sebuah makanan.