
Alberto memandang semua pion dan tentara algojo bayarannya untuk membunuh semua pion,
Kabir dan semua pion memandang sekilas wajah Alberto Kuro, "Cuih!" Mona meludah saat ia melihat Alberto.
Ia begitu muak dan kesalnya akan semua hal yang sudah terjadi, karena ulahnya.
Sukuna melayangkan samurainya ke arah Akashi, ia begitu bencinya.
Akan pria yang sudah mengkhianati cintanya hanya karena sebuah gelar yakuza, "Kau tidak merindukanku, Sukuna?" tanya Akashi.
Kedua pedang sedang beradu di antara tubuh keduanya, Akashi melayangkan kecupan jarak jauhnya membuat Sukuna
semangkin sebal ia langsung mengangkat lututnya tinggi-tinggi menyerang pusaka saktinya, "Auh, kau gila!" umpat Akashi.
Ia masih mencoba meredakan rasa sakit akibat perbuatan Sukuna, "Bagaimana kalau pusakaku ini, hancur?" tanya Akashi.
Sukuna tidak peduli, "Itu urusanmu, bukan aku yang akan memakainya!" ucapnya kesal.
Akashi masih memegang pusaka saktinya terbungkuk-bungkuk,
Sukuna melayangkan tendangannya tepat ke wajah Akashi, "Dasar kau sialan! Bisa-bisanya kau ikut memburuku!" hardik Sukuna.
Ia terus melayangkan tendangan kakinya, Akashi hanya terkekeh. Tidak sedikit pun ia melawan Sukuna, ia sangat mencintai wanita kesayangannya.
Akashi menyadari karena kebodohannyalah segalanya harus berakhir, ia tak lagi mampu untuk berpikir lagi saat itu. Kini, ia tidak memiliki kemampuan untuk membunuh pujaan hatinya.
Ia tidak tahu, bila Sukuna berada di Pulau Kematian, ia berpikir selama ini bahwa Sukuna telah tewas akibat kerusuhan yang dilakukan Yamada pada Klan Yamamoto.
Ia hanya pasrah saat Sukuna dengan berlinang air mata terus memukul Akashi, Sukuna tidak menyangka pria yang sangat ia cintai tega ingin memburunya di Pulau Kematian hanya demi uang.
Ia terus melayangkan tinju dan tendangannya ke wajah, dada, dan pinggang Akashi.
Tubuh Akashi sudah babak belur
Sukuna benar-benar melampiaskan semua amarah dari hatinya, "Aku benci kepadamu, Akashi!" teriaknya.
Saat Sukuna ingin menghujamkan samurainya Akashi hanya tersenyum, ia rela mati di tangan pujaan hatinya
__ADS_1
"Aaaa!" teriak Sukuna. Ia benar-benar ingin membunuh Akashi yang sudah tergeletak di atas gurun pasir,
samurai hampir saja menghujam ke dada Akashi yang telah babak belur dihajar Sukuna.
Akashi yang telentang pasrah di gurun, tersenyum. Ia rela mati, untuk menebus semua luka yang ditimbulkan oleh dirinya kepada pujaan hatinya.
Sukuna terus berlari dan menerjang ke arah Akashi, ia ingin menancapkan mata pedangnya. Akan tetapi, karena ia melihat Akashi hanya pasrah Sukuna menarik pedangnya dan menghujamkan ke pasir gurun.
Mata pedang samurai milik Sukuna menancap tepat di sebelah leher Akashi yang hanya berjarak berapa inci,
"Hehehe, kau masih mencintaiku Sukuna. Aku mencintaimu!" ucap Akashi.
Di sela darah yang menyembur dari bibirnya, "Kasumi di Osaka, di rumah bambu milik Hiroshi. Ia sehat dan baik-baik saja," ujar Akashi.
Sukuna, yang terduduk di samping Akashi mendengarkannya dengan seksama, "Benarkah yang kau, katakan?" tanya Sukuna.
Akashi memandangnya, "Aku memang pernah mengkhianatimu, tetapi aku tidak pernah menipumu!" ujar Akashi.
Sukuna percaya, Akashi bukanlah pria yang suka menipu. Ia selalu jujur hingga sebuah kejujurannyalah hubungan mereka hancur, Sukuna memandang Akashi.
Ia menyindir Sukuna, yang disindir langsung mencebikkan bibirnya, "Ish, setelah sekian lama. Kau baru datang, dan kau meminta kecupanku yang paling berharga? Wani piro?" jawab Sukuna kesal.
Akashi tertawa, "Maafkan, aku Sukuna chan. Aku mencintaimu!" lirih Akashi.
"Lalu mengapa kau memburu kami?" tanya Sukuna.
Ia tidak mengerti bila hanya karena uang, Akashi memiliki banyak uang. Keduanya saling tatap, "Aku kira, kau sudah tewas. Jadi, aku berpikir untuk menyusulmu," jawab Akashi. Sukuna memandangnya, "Dasar tolol!" teriak Sukuna.
Ia memukul pelan dada Akashi, ia merasakan suatu kerinduan. Ia mengingat masa-masa ia masih berumur 20-an yang indah bersama Akashi, tetapi segalanya harus hancur.
Zai memandang sekilas, sedikit rasa kesal di hatinya. Namun ia melanjutkan pertempurannya, hampir saja tangannya tertebas pedang musuh.
Bila tidak Kirana menghujamkan samurainya ke punggung musuh yang hampir menebas tangan Zai. Betapa terkejutnya Zai, "Sial, apa yang kupikirkan?" batin Zai.
Ia sedikit cemburu melihat kedekatan antara Sukuna dan pria Jepang itu. Zai melanjutkan pertempuran dan berusaha untuk fokus,
Sukuna memandang Akashi dengan tatapan kerinduan, ia lupa bahwa di depannya adalah musuhnya. sebuah tombak melayang ke arah punggung Sukuna,
__ADS_1
secepat kilat Akashi menarik tubuh Sukuna, hingga tubuh Sukuna berguling telentang di bawah tubuhnya.
Hingga, jleb! "Huek!" Akashi memuntahkan darah segar dari mulutnya, "Akashi!" teriak Sukuna.
Ia melihat sebuah tombak menghujam tepat di punggung Akashi, menembus ke dada depannya. Darah terus merembes dari bibir Akashi,
Sukuna melemparkan sangkurnya tepat di dada si pelontar tombak, hingga jatuh ambruk. Sukuna memegang wajah Akashi, "Akashi! Akashi kun! Bangun, jangan pergi, lagi!" teriak Sukuna.
Sukuna membalikkan tubuh Akashi di gurun kini, ia melihat Akashinya tersenyum. Ia mengambil sesuatu dari lipatan kemejanya, sebuah diari.
Memberikannya kepada Sukuna, "Aisiteru, Sukuna Chan!" ucap Akashi membelai wajah cantik Sukuna, ia langsung memeluk dan mengecup wajah Akashi, kala ia melihat wajah Akashi ia sudah pergi selamanya.
Ia menangis tersedu, seorang pria bule ingin menebas leher Sukuna yang terduduk menangis memeluk kekasih hatinya, Zai melemparkan sangkurnya ke arah pria bule itu.
Ia berlari ke arah Sukuna, ia jngin melindungi wanita blasteran yang entah sejak kapan ia sukai. Si pria bule langsung bangkit dari jatuhnya,
menarik sangkur yang mengenai lengan atas tangan dan mencabut pedangnya yang tertancap di gurun, ia membabi buta menyerang Zai.
Zai membalasnya, serangan yang membabi buta dengan mudah. Zai menyudutkan pria itu di gurun, musuhnya sudah jatuh terjerembab, pria itu mengeluarkan pistolnya ingin menembak Zai.
Sukuna melemparkan samurainya, samurai melayang menembus tengkorak kepala si pria bule.
Sukuna berjalan dengan anggunnya, ia mencabut samurainya dari kepala musuhnya darah menyembur. Ia melihat Zai, "Terima kasih!" ucap Sukuna.
Zai memandang wanita yang entah berapa lama ini telah masuk di dalam mimpi dan pikirannya, melenggang pergi membantai dengan semangat yang luar biasanya.
Di dalam benak Sukuna ia ingin menyusul Akashi, ia menyerang setiap musuhnya dengan kekuatan yang ia punya, para tentara bayaran tidak menyangka musuhnya sangat luar biasa kali ini.
Badai pasir datang menggulung semua orang akan tetapi, para pion terlempar dari gulungan badai yang terus membubung tinggi menenggelamkan semua musuh mereka tidak tersisa.
Alberto terkesiap melihat semua itu, ia melihat bayangan Mano, Yahmen, Balian, dan Aoi. Alberto berdiri dari kursi kebanggannya, membungkukkan wajahnya menatap layar monitor di depannya.
Ia ingin memastikan jika yang ia lihat benar adanya, "Kau akan mati Alberto, tamak!" ucapan Yahmen mengiang-ngiang di telinga Alberto.
Bayangan saat Yahmen berhasil memojokkan dirinya di hutan bambu sekitar 20 tahun lalu, di saat Yahmen masih muda dan cantik dengan rambutnya yang tergerai panjang tertiup angin.
Ia hampir saja memenggal leher Alberto, bila tidak seorang beeluf pengkhianat menusuk Yahmen dari belakang membuat ia jatuh terduduk.
__ADS_1