Pulau Kematian

Pulau Kematian
Beeluf merah dan putih


__ADS_3

Kedua bocah perempuan itu, diasuh oleh Sesepuh Rayan. Dia jugalah yang mengajari banyak hal tentang alam, kekuatan, ilmu bela diri.


Di sisa hidup Sesepuh Rayan ia banyak membantu Muti dan Yahmen bertempur melawan Alberto, Sesepuh Rayan meninggal karena sudah terlalu tua, ia mewariskan kepada kedua kakak beradik itu sebuah kitab sihir.


Keduanya memperlajarinya, hingga mereka meregrut orang-orang yang teraniaya oleh Alberto di pulau. Pada akhirnya mereka menjadi komplotan besar, mereka mengadakan kudeta dan Ketua Muti berhasil mencuri banyak dari kastil Alberto,


semua digunakan untuk kebaikan semua beeluf berpakaian merah.


Pada awalnya semua beeluf berpakaian merah, yang melambangkan keberanian dan sebuah dendam.


Salah satunya adalah menara pasir, mereka bisa hidup tanpa diketahui oleh Alberto dan teknologinya. Semua itu adalah sihir yang dilakukan oleh Ketua Muti, akan tetapi ia harus meregang nyawanya saat seorang yang berkhianat di kelompoknya, hingga mereka terpecah mereka saling tuduh.


Kelompok beeluf memecah diri menjadi dua kelompok beeluf yaitu, beeluf berpakaian putih dan beeluf lama berpakaian merah. Beeluf berpakaian putih yang merupakan anak dari beeluf berpakaian merah, pergi menghilang entah ke mana.


Mereka berseberangan jalan, sementara ketua mereka yang bernama Ketua Mano, bersumpah bahwa anak buahnya tidak akan pernah melakukan hal terkutuk kepada tetua tertinggi mereka, bahkan ia melakukan sumpah darah.


Akan tetapi Ketua Yahmen yang masih muda begitu murkanya, ia tidak terima satu-satunya keluarganya meninggal hingga ia mengusir kelompok Ketua Mano.


Sebelum kepergian Ketua Mano, "Aku berjanji kepadamu sesepuh Yahmen, kapan pun engkau akan membutuhkan bantuanku. Aku akan datang walaupun kau tidak mengizinkanku, membantumu!" janji Ketua Mano.


Ketua Mano meninggalkan menara pasir dengan deraian air mata, Ketua Yahmen memunggungi kepergian Mano dengan sebuah deraian air mata juga. Ia menancapkan belatinya ke telapak tangannya, "Aaa!" jeritnya dengan semua tangisan.


Mano adalah sahabat terbaiknya selain saudara kandungnya Muti, mereka bertiga membangun menara pasir dengaan megah dan hampir berhasil mengalahkan Alberto. Akan terapi kini ia harus kehilangan kakak dan sahabat terbaiknya.


Walaupun beeluf berpakaian putih yang asli masih sering muncul, membala kebenaran. Akan tetapi Alberto membuat duplikatnya beeluf berpakaian putih sebagai penjaga pasokan listrik miliknya.


Padahal itu bukanlah orang-orang beeluf berpakaian putih yang sebenarnya, Mano dan Yahmen sudah semangkin tua, umur mereka pun sudah memasuki 70 tahun.


Jauh di relung hati mereka kala purnama datang, Yahmen sering duduk menangis menatap rembulan di bawah menara pasir. Ia mengenang kakak dan Mano, ia menggenggam sebuah belati pemberian Mano.

__ADS_1


Jauh di Hutan Kegelapan, seorang wanita rua renta berpakaian beeluf putih duduk di salah satu dahan pohon memandang rembulan meniup seruling bambu, pemberian sahabatnya Yahmen.


Ia pun menangis mengenang Yahmen dan Muti sahabatnya, Yahmen tidak mempercayai bahwa ia tidak membunuh Muti.


Hanya saja, ada beberapa beeluf melihat ia membunuh Muti.


Ia semangkin bingung tetapi ia pasrah, ia yakin suatu saat kebenaran akan terungkap.


****


Masa kini ....


"Sesepuh Rayanlah, yang mengajari kami untuk bertahan hidup. Beberapa hari kemudian Alberto membangun tembok menutup semua pintu masuk dan ke luar dari pulau ini." Sesepuh Yahmen mengenang kisah pilunya.


Semua orang terdiam, "Jadi, sejak kapan Alberto membuat semua orang berada di sini?" tanya Kirana. Ia sudah duduk melingkar bersama para beeluf, semua pion mengikuti gerakan Kirana.


Sesepuh Yahmen tersenyum miris, "Awalnya Alberto membawa orang-orang hatter, awalnya mereka juga baik-baik saja.


"tidak ada yang tahu hatter asli masih ada atau tidak, ada yang bilang mereka lebih jauh ke hutan kegelapan menghindari pembunuhan yang dilakukan Alberto, mereka dipaksa bekerja dan tidak digaji hingga mereka melawan," sambung tetua Yahmen.


Semua orang terdiam, "Lalu para ninja?" tanya Mona.


Tetua Yahmen memandang Mona, "Awalnya yang datang para samurai yang mengawasi hatter, tetapi ntah apa masalah mereka hingga samurai pun memberontak. Ninjalah yang membantai samurai," Yahmen memegang belatinya,


"semua orang lama di pulau ini tiada tersisa. Sehingga para pion berdatangan dan menjadi ajang tontonan dan hiburan Alberto," sambung Sesepuh Yahmen.


Semua orang terdiam mendengar penuturan dari tetua Yahmen. Mereka mulai memahami semua kisah dan tragedi di balik semua malapetaka ini, "Sekarang mari kita lihat 200 orang yang akan membantu kalian." Sesepuh Yahmen bergerak dengan tertatih-tatih, tetapi jiwa dan keberaniannya masih terlihat.


Semua orang bergerak mengikuti Sesepuh Yahmen menuju lapangan yang sangat luas, mereka melihat 200 wanita sedang belajar memanah, menembak, dan bermain tombak maupun pedang.

__ADS_1


Para pion terkesima melihat semuanya, "Kalau kalian bisa mendekati Ketua Mano untuk ikut, itu lebih baik lagi. Sayangnya, ia entah pergi ke mana .... " ucap Tetua Yahmen.


"Maaf, Tetua. Siapakah ketua Mano?" tanya Hendro.


Ketua Yahmen memandang sejenak, "Ketua beeluf berpakaian putih, hanya saja dia bukanlah beeluf penjaga pasokan listrik. Itu adalah beeluf rekayasa ciptaan Alberto, kebyakan semua hal diciptakan oleh Albertto. Untuk tetap memenuhi keinginannya menyesatkan para pion," jawab Sesepuh Yahmen.


Semua orang terdiam, "Berarti Alberto membuat skenario bahwa para hatter, beeluf, ninja adalah orang-orang yang jahat? Padahal semua itu adalah kaki tangan Alberto!" ucap Nara.


Ia begitu kesal mengetahui sekelumit kisah Pulau Kematian, "Begitulah, tetapi begitu sulitnya untuk mengetahui di mana letak persembunyian Ketua Mano,


"Ketua Hatter yaitu Bailan, dan pemilik pedangmu, Nak! Ketua Aoy seorang samurai. Pedangnya bersamamu, kemungkinan ia sudah tewas," kata Sesepuh Yahmen.


Para pion mengajari beeluf, mereka berlatih pedang dan sangkur. Setelah makan malam,


semua melingkar di sebuah menara pasir. Sesepuh Yahmen membagi-bagikan sejumput madu hutan yang sudah diolah menjadi permen.


Ia tersenyum, "Makanlah, semoga kekuatan Allah dan alam Pulau Kematian bersama kalian. Jangan pernah lupakan rasa manisnya kehidupan, agar kalian tetap menjadi manusia kala kepahitan datang!" ucap Yahmen.


Ia menatap Ayesha dan para pion, "Apakah kalian akan membawa mereka esok bersama kalian?" tanya Ketua Yahmen.


"Tidak, Sesepuh. Nanti, bila tiba saatnya kami menyerang kastil. Aku akan memberitahukan lewat burung elangku dan nanyian angin!" jawab Ayesha.


Semua tetua mengangguk memahami semuanya, "Baiklah, Ayesha. Aku sendiri yang akan, melatihnya!" ucap Tetua Yura.


Pagi harinya Ayesha, Rani, dan semua pion menunggalkan merara pasir mereka kembali mencari komplotan Tetua Mano. Sesepuh Ayesha mengirimkan setabung bambu permen madu, dan secarik surat di tulis dengan darah.


Mereka terus berlarian menghindari, heli dan drone yang sering melintas di angkasa.


Di angkasa mereka melihat Kabir dan para pion lain sedang bertempur dengan para hatter barbar,

__ADS_1


kemenangan berada dipihak Kabir dan pion. Setiap para pion mengalami kemenangan layar monitor langsung mengilang, Kirana merasakan ada sesuatu di sana,


__ADS_2