Pulau Kematian

Pulau Kematian
Berjatuhan di ujung sebuah kemenangan


__ADS_3

Yahmen menurunkan pedangnya dari leher Alberto, ia sudah ingin menebasnya.


"Baiklah, semua orang berhak untuk menghakimimu bangsat!" teriak Yahmen.


Ambah berdiri sejajar dengan Yahmen, yang masih menghunuskan pedangnya. Ambah langsung melayangkan pedangnya ke tubuh Yahmen yang lengah.


Jleb! Jleb! Pedang di tangan Ambah menancap di pinggang Yahmen, dua kali Ambah menusukkan pedangnya di pinggang Yahmen.


Sehingga Yahmen jatuh tersungkur di tanah, darah mengucur deras, "Kau!" ucap Yahmen.


Ia tidak mempercayai segalanya, Ia tidak menyangka jika Ambah akan mengkhianati Klannya. Klan Beeluf yang telah menyelamatkan dirinya dari kejaran tentara Alberto dan memberinya rumah dan kasih sayang.


"Kau mengkhianati kaummu sendiri, Ambah!" teriak Yahmen,


"kau tidak lebih dari binatang, dan kau akan mati di tangan orang yang kau cintai sendiri!" sumpah Yahmen.


"Hahaha. Aku benci kepadamu dan semua beeluf, kau harus mati! Aku puas telah menyingkirkanmu hahaha.


"Aku bukan seorang beeluf, kaulah yang beeluf. Jangan mengajak semua orang menjadi sepertimu, sialan! Teriak Ambah.


Ia menendang luka Yahmen, elang Yahmen di angkasa menguik dan terbang mencakar wajah dan punggung Ambah.


"Sialan! Dasar elang berengsek! Kau pun harus mati!" teriak Ambah.


Ia menarik pedangnya di tubuh Yahmen dan menebaskan ke arah elang, darah membasahi tubuh Yahmen. Ia jatuh tak berdaya di rerumputan di Hutan Bambu.


Elang terbang menjauh ke angkasa, berputar dan menguik di sana. Kumpulan elang semangkin ramai mengitari Hutan Bambu.


Kumpulan elang menunggu kesempatan menyerang Ambah dan sebagian merubungi Yahmen seperti tameng.


Ambah membabi buta menyerang ke arah elang yang merubungi Yahmen. Beberapa elang sudah mati terkapar,


Yahmen masih merintih dan bersedih, melihat semua sahabat elangnya harus meregang nyawa untuk melindunginya.


Dari manusia tamak dan tidak tahu balas budi, "Kau mirip dengan Alberto si biadab. Kau tidak lebih sama seperti binatang, bahkan elangku yang binatang pun tahu dan memiliki rasa setia kawan,


"Kau akan mati dan dilupakan orang. Dan semua orang akan mengenalmu sebagai Ambah si pengkhianat!" cecar Yahmen.


Ia berusaha berdiri dengan bertumpu pada tombaknya untuk melawan Ambah. Ia tidak ingin melihat elangnya kembali terluka lagi, hanya karena dirinya.

__ADS_1


Ambah menerjang Yahmen dan ingin memenggal leher Yahmen. Akan tetapi, Jleb! Kres!


"Aaaghh!" teriak Ambah.


Yahmen melihat sebuah pedang menembus dada Ambah, ia memuntahkan darah dari mulutnya.


Ambah membalikkan tubuhnya melihat Alberto menusukkan pedangnya ke tubuhnya.


"K-kau!" teriak Ambah.


Ia tidak menyangka orang yang ia sayangi dan cintai, hingga membuat dirinya menjadi pengkhianat klannya telah membunuhnya.


Air mata mengalir di kedua pipinya, Ambah memandang Alberto yang terluka dan ambruk ke tanah setelah menghujamkan mata pedangnya ke tubuhnya menatap Yahmen.


Pandangan Alberto yang penuh cinta dan pemujaan kepada Yahmen, jelas terlihat.


"Aku mencintaimu, Yahmen!" ujar Alberto sebelum ia jatuh pingsan.


Ambah jatuh ke bumi, ia merasakan kehancuran. Ia harus mahal membayar untuk cintanya yang palsu dan penuh dengan kebohongan.


Yahmen memegang lukanya, "Malang sekali nasibmu, Ambah! Mencintai dan berjuang demi pria jahaman ini," ejek Yahmen,


"cintamu tidak sebesar rasa cintanya kepadaku, ia lebih mencintaiku musuh sejatinya. Kau hanya dipermainkan olehnya, malangnya nasibmu!" ucap Yahmen.


Yura tiba di Hutan Bambu, mendapati Ambah yang sudah meninggal dengan posisi berlutut ke arah Yahmen.


Dan Yahmen yang masih berusaha untuk berdiri dengan tombak di tangan kanannya dan memegang luka di pinggang kirinya.


Darah sudah membanjiri tangannya dan sebagian tubuh bagian samping kirinya.


Yahmen melihat Yura dan tersenyum jatuh pingsan di pelukan Yura. Ia memeluk Yahmen, meneteskan air mata.


"Bertahanlah Elang Beelufku!" bisik Yura.


Yura membopong tubuh Yahmen "Rusa, nakal!" teriak Yura.


Si rusa datang Yura menaikkan tubuh Yahmen, "Bertahanlah, Yahmen!" teriak Yura, "Bawalah Yahmen ke menara pasir!" perintah Yura.


Si rusa melesat secepatnya ke menara pasir dan membawanya ke hadapan Rayan. Ia dan semua orang yang tinggal di Menara Pasir merawat Yahmen.

__ADS_1


***


Muti masih bertempur di gerbang utama kastil, ia dengan gagahnya menghancurkan gerbang utama. Kastil Alberto sudah porak-poranda.


Mano berlarian mendekati Muti berjajar di sisinya membantai musuh. Kemenangan sudah berada di pihak mereka, di saat tentara sudah berjatuhan.


Keduanya memasuki kastil semua mayat tentara sudah bergelimangan bersama para hatter, samurai, dan beeluf.


Kesedihan di hati Muti, ia masih terus memasuki kastil ia ingin mencari Alberto. Muti naik ke lantai atas bersama wanita beeluf dan Mano,


mereka masih harus bertempur lagi mengalahkan tentara yang melindungi Crabs.


Si Crabs dengan membawa koper di tangannya berlari meninggalkan pulau, memasuki pintu rahasia di balik dinding.


Muti mengejarnya, sesampai di pintu rahasia. Jleb! Sebuah pedang menembus jantungnya, Muti terjatuh. Semua wanita beeluf kaget ia tidak menyangka jika Mano membunuh ketua mereka.


Mano yang selama ini mereka sayangi dan kagumi, ternyata berkhianat. Mereka menyerang Mano dan Mano membalasnya dan berhasil kabur, di tengah jalan Mano membuka topeng wajahnya dan tersenyum.


Ia menyusup ke pintu rahasia menemui Crabs dan berlari ke Hutan Bambu menyelamatkan Alberto. Mereka membiarkan mayat Ambah terbaring sendirian di sana.


***


Semua wanita beeluf membawa Muti yang sudah sekarat, "Jangan membunuh, Mano!" ujar Muti sebelum menghembuskan napas terakhirnya.


"Muti!" teriak Yura. ia berlari dan memeluk sahabat dekatnya dan menangis, "Muti, bangunlah! Jangan tinggalkan kami, aku berjanji akan melakukan semua pesanmu!" teriak Yura.


Ia menarik pedang yang berada di dada Muti dan menggendongnya pergi berlari ke Menara Pasir.


***


Aoi sudah berhasil melukai Yamada kembali ia berhasil mendesak Yamada dan sudah terluka di bahu dan sekujur tubuhnya.


Yamada sudah bersandar di salah satu pilar kastil hanya menunggu hukuman kematian dari Aoi.


Akan tetapi, Aoi melihat Yahmen terluka sebuah pedang telah menembus punggungnya. Aoi berlari menyelamatkan kekasih hatinya, membawanya ke luar dari pertempuran.


Ia tidak lagi berpikir untuk melanjutkan pertempuran, ia menggendong Yahmen ke arah tebing hatter. Ia ingin megobati luka Yahmen terlebih dahulu dan menyembunyikannya di salah satu ceruk tebing. Setelahnya ia baru kembali ke medan pertempuran.


Sesampainya di tebing hatter, Yahmen palsu di punggung Aoi menarik belati dari balik bajunya. Menikamkannya berulang-ulang ke bahu dan punggung Aoi, hingga Aoi jatuh berguling dan terlempar ke stepa hatter dari ketinggian tebing hatter.

__ADS_1


Tubuh Aoi yang penuh darah dan luka membentur segala batu dan rerumputan hingga jatuh ke tanah,Yahmen palsu membuka topengnya dan berlari kembali ke arah lain dari kastil.


Tubuh Aoi yang penuh luka dan sekarat, "Yahmen, apa sakahku?" lirih Aoi jatuh pingsan.


__ADS_2