
"Sebaiknya, kau mengambil milik si hatter mayat yang tadi. Tubuhnya hampir sama bongsornya denganmu," ujar Nara.
Nara berkomentar di belakang Toto, dan Darmanto yang sedang memapah Toto di belakang mereka. Marta dan Junaid di belakang Nara,
Heru dan Will di depan Darmanto dan Toto, si pria berbaju hitam berjongkok menantikan mereka hingga sampai di dekatnya.
Deburan ombak memecah batu karang, mereka tiba di tempat si pria berbaju hitam. Ia melangkah mendekati sebuah batu dan membukanya, sebuah lorong gua panjang menganga.
Si pria masuk dan diikuti para pion, Kirana dan Mona berdiri menyambut mereka.
"Kalian sampai juga kemari! Ada apa dengan Toto?" tanya Kirana.
"Aku tertembak, Kiran! Akh, syukurlah tempat ini sangat hangat," ujar Toto.
Wanita dan anak-anak Suku Hideng dengan malu-malu mengintip, dari balik dinding batu gua mereka tersenyum dengan malu-malu.
Istri Meang membawa beberapa pakaian bersih untuk para pion dengan warna yang sama yaitu hitam, Nara mengeluarkan peluru di lengan Toto membersihkannya dan menyemprotkan botol obat.
Anak-anak meringis ketakutan saat darah ke luar dari luka Toto, ia menggigit sangkurnya untuk menahan sakitnya. Seorang wanita hideng yang masih belia yang cantik, walaupun ia mengenakan penutup kepala dan cat hitam di matanya.
Kecantikannya jelas terpancar memberikan secangkir minuman hangat kepada pion dan Toto,
Ia terkesiap melihat wajah si gadis.
Deg! Toto meraba jantungnya. Ia merasa jantungnya runtuh seketika, Nara menatap Toto.
"Apakah sekarang kau sakit jantung?" tanya Nara. Toto memandangnya, "Tidak! Hanya ... sedikit dingin saja. Kau lihat aku tidak memakai baju," ujarnya.
Nara tertawa melihat perut buncit Toto sudah mulai langsing dan sudah menjadi kotak-kotak, "Sebaiknya, jika kita kembali ke peradapan. Aku ingin menjadi salah satu foto model majalah bergambar, kelinci itu!" ujarnya.
Ia melihat ke perutnya yang sudah sangat maskulin dan jantan, semua orang tertawa,
"Hadeh! Keinginan kok aneh," ujar Mona. Ia meninju bahu kiri Toto yang bebas luka, "Kau lihat, Mon! Wajahku lumayan bagus dan tubuhku tidak gendut lagi, hahaha. Kali saja didekati Tante-tante kesepian," tukas Toto.
__ADS_1
Semua pion tertawa, Suku Hideng hanya diam. Mereka tidak mengerti apa yang pion bicarakan, Sepuh Rayun datang.
Kabir memperkenalkan semua sahabatnya, "Di luar masih ada 4 orang lagi Sepuh. Yaitu, Sukuna, Rani, Zai, dan Kevin. Aku harap mereka juga selamat," ucap Kabir.
Sepuh Rayun tersenyum, "Berdo'alah semoga semuanya selamat, aku sudah mengirimkan kabar kepada Yahmen melalui elangnya. Jika kalian baik-baik saja," ujar Rayun.
"Terima Kasih, Sepuh!" balas Kabir.
Beberapa orang wanita hideng membawa nampan kayu, yang berisi minuman dan makanan. Semua pion sudah berganti pakaian, mereka bercerita banyak hal.
***
Sementara jauh di arah barat, Sukuna, Zai, Rani, dan Kevin. Mereka berdua berlindung di bawah batu yang menjorok di pantai, hujan begitu derasnya.
Keemlatnya hanya diam tak bergeming, sekali-kali cahaya kilat membiaskan wajah mereka. Keempatnya hanya diam, Sukuna membaringkan kepalanya di bahu Zai.
Ia selalu nyaman berdekatan dengan Zai sejak kematian Akashi sebaliknya Zai pun sebenarnya sangat menyukai keintiman yang tercipta di antara mereka, hanya saja ia masih takut melukai Sukuna karena ia memiliki tunangan di dunia peradapannya.
Sukuna terdidur di bahu Zai, ia hanya memandang wajah cantik Sukuna menggenggam erat tangannya yang dingin akibat hujan deras.
Rani sendiri dan Kevin hanya saling diam tanpa bicara, keduanya masih saja canggung dan selalu adu mulut.
"Bila kau mengantuk tidurlah," ujar Kevin. Ia melihat Rani sudah mulai terkantuk-kantuk dan hampir saja ia tersungkur ke tanah jika tidak tangan Kevin menamoung wajahnya.
Rani melihatnya sekilas, "Awas, jangan macam-macam! Zai, cincang dia jika ia berani macam-macam!" sungutnya.
Akan tetapi, sedetik kemudian ia sudah tertidur di pangkuan Kevin. Guntur masih saja membelai angkasa, hujan belum juga berhenti. Gulungan ombak memecah pantai dan batu karang, keduanya masih terdiam.
Kevin tanpa sadarnya membelai lembut rambut Rani, ia pun sedikit demi sedikit tertidur dengan menundukkan kepalanya, hanya Zai yang masih antara sadar dan tidak.
Hujan mulai berubah menjadi rintikan, kabut mulai datang. Suara seseorang berlarian di rerumputan dan tembakan terdengar di sekitar mereka,
Keempat pion langsung tergagap bangun Rani dan Kevin saling memegang kepala, karena sama-sama terbentur kepala masing-masing hingga keduanya mengaduh.
__ADS_1
Rani ingin marah tetapi ia melihat ia berada di pangkuan Kevin, hingga ia mengurungkan amarahnya.
Mereka bersiaga, menggenggam erat senjata mereka. Keempatnya melihat seorang wanita berpakaian hitam berlarian menghindari tembakan, sementara ia hanya melawan dengan panah bambu.
Keempatnya saling pandang dan tersenyum, mereka melihat kegigihan si wanita dan seorang anak kecil berlarian.
Rani menarik si wanita dan Sukuna menarik si anak kecil masuk ke dalam ceruk batu, si wanita melihat keempatnya dengan perasaan sedikit takut.
Sukuna meletakkan jari telunjuknya di bibirnya, si wanita dan anak kecil itu terdiam mengerti.
Beberapa tentara belarian di sekitar pantai, Sukuna melemparkan pisaunya tepat menembus leher si tentara. Kevin menembak tentara di belakang si tentara yang jatuh tersungkur akibat sangkur dari Sukuna.
Adu tembak terjadi, mereka berhasil melumpuhkan 5 tentara di sekitar pantai. Mereka berlahan ke luar dari ceruk dan berusaha berlari secepatnya ke arah pantai,
si wanita dan anaknya berlari paling depan, mereka mengikuti si wanita dan anaknya.
Mereka terus berlarian hingga, "Aakhh!" si ibu jatuh tersungkur, bahunya tertembak.
Rani mendekati si wanita berusaha untuk memapahnya Zai, Sukuna, dan Kevin menembak si tentara yang mengejar mereka di atas tebing pantai.
Rani membawa si wanita ke balik ceruk, membersihkan lukanya. Memberikan kapsul dan membebat luka si wanita, "Sabarlah, aku tidak bisa mengeluarkan pelurunya sekarang!" ucal Rani.
Ia kembali menenteng senjatanya, si anak lelaki yang berumur 10 tahun mencoba memanahkan anak panah bambunya, "Jagalah, Ibumu! Biar, aku saja."
Rani memegang bahu si anak, ia mencoba menembakkan lasernya ke arah tentara. Seorang tentara hancur berkeping. Sukuna, Zai dan Kevin pun di dalam persembunyiannya ikut menembakkan senjatanya.
Para tentara berjatuhan dengan tiba-tiba, mereka terkena panah bambu beracun. Entah dari mana datangnya segerombolan orang-orang berpakaian hitam menyerang tentara.
Para pion sedikit lega, mereka dapat bantuan lagi. Akan tetapi, keempatnya masih tetap waspada, mereka takut jika semua itu adalah jebakan.
"Aku harap mereka ini adalah orang yang baik bukan orang jahat." Sukuna memandang kepada orang-orang berpakaian hitam di atas tebing, "Kak Dara! Mereka adalah orang-orang baik," teriak si anak kecil tadi.
Semua orang berpakaian hitam menurunkan senjata mereka, berjalan menuruni undakan tebing batu ke arah para pion dan anak kecil.
__ADS_1