
Zai membopong Sukuna menembus lebatnya hujan, ia merasakan kesedihan yang dalam dari Sukuna, "Sukuna, bersabarlah! Kuatkanlah hati dan jiwamu," ucap Zai.
Ia berusaha untuk menghibur Sukuna, walaupun ia sendiri tidak tahu apakah ia mampu untuk memberikan kekuatan untuk membuat Sukuna bangkit dari keterpurukannya.
Mereka berjalan dengan sebuah keheningan, menikmati curahan hujan menerpa tubuh dan wajah mereka. Sukuna merasakan suatu kehangatan dari sebuah kasih sayang yang diberikan oleh Zai.
Sukuna membenamkan wajahnya di dada Zai, ia merasakan sebuah kedamaian dan kehangatan di sana. Lelehan air mata dan derai hujan bersatu membasahi tubuh keduanya, mereka hanya merasakan sebuah ikatan yang luar biasa di antara mereka berdua.
Keduanya terus meninggalkan pemakaman memasuki rumah-rumah pohon di atas dahan-dahan rindang di setiap pohon yang tua yang tidak mereka kenali.
Para pion melihat keduanya dari teras rumah pohon, Zai dengan baik dan perkasanya membawa tubuh Sukuna di dalam gendongannya, menaiki tangga yang terbuat dari kayu kuat yang keras dan liat.
Mona menatap keduanya dengan perasaan cinta, ia mendambakan sebuah keromantisan. Berbeda dengan tatapan Kirana dan Kabir, keduanya melihat mereka dengan penuh rasa duka dan kasihan, "Mereka adalah pasangan yang sangat, serasi!" ucap Kabir.
Kirana di sisinya mengangguk setuju, berharap segalanya menjadi baik-baik saja. Mereka ingin secepatnya bebas, hujan menyisakan duka dan sebuah pengharapan baru untuk kehidupan selanjutnya.
Mereka berharap, dan selalu berharap akan ada sesuatu kebahagiaan dan kebebasan dari Pulau Kematian. Zai membaringkan tubuh Sukuna di salah satu balai kayu yang nyaman,
Kirana dan para pion wanita merubunginya memberikannya semangat dan minum juga makanan, berusaha untuk menghiburnya.
***
Hari berganti dan mereka masih berlatih banyak hal di tanah tak Kasatmata, perlindungan semangkin kuat semenjak kedatangan Yahmen.
Mereka terus berlatih, terkadang Yahmen dan Aoi pergi ke menara pasir untuk melatih para tentara beeluf wanita berpakaian merah.
Kabir berlatih dengan ketua Balian, begitu juga semua orang berusaha untuk saling belajar dan mengajari.
__ADS_1
Mereka berharap bisa mengalahkan para hatter di ceruk tebing di lembah hatter, mereka berjalan merayap kala subuh berusaha agar tengah hari mereka dengan mudah menyerang para hatter.
Mereka menaiki tebing-tebing yang terjal memasuki gua-gua hatter, melemparkan granat ke dalam salah satu gua hatter. Membuat semua hatter kalang kabut berlarian, mengambil baju dan menyudahi hubungan suami-istri mereka.
Para hatter tidak menyangka jika mereka mendapatkan serangan dari para pion, Kabir dan semua temannya mulai membunuh para hatter yang mulai menyerang mereka.
Mereka sudah membunuh para hatter yang berusaha ke luar dari ceruk tebing untuk menyelamatkan diri mereka, hatter tidak menyangka jika
mereka akan mendapatkan serangan pagi hari di mana mereka sedikit kelelahan dan lemah. Para hatter seperti kalilawar yang selalu tidur, di siang hari dan berkeliaran jika malam hari.
"Suiiitt!" seorang ketua hatter membunyikan peluit, kawanan srigala berlarian mengepung para pion dari ceruk-ceruk tebing.
Kawanan srigala turun melompati semua ceruk dan batu-batu padas untuk menggapai musuhnya, seekor srigala melompat dari ketinggian ingin menyerang Kirana.
Ia langsung menembakkan lasernya, hingga srigala itu hancur menjadi debu.
Kawanan srigala berusaha untuk mengejar para pion menyerang secara bergerombol,
Darah berceceran memenuhi tebing-tebing mengalir membasahi ceruk-ceruk dan sekitarnya, tiada lagi hatter yang tersisa. Para pion benar-benar membunuh para hatter di sarangnya, mereka meledakkan tebing hatter bersama para mayat hatter.
Mereka tidak ingin Alberto akan menghidupkan kembali mayat-mayat, membuat mereka semangkin kesulitan untuk membunuh mereka lagi.
Para pion bergerak secepat mungkin meninggalkan lembah hatter, mereka tidak ingin segala perbuatan mereka akan diketahui oleh Alberto.
Mereka berlarian secepat kilat, para beeluf yang bersembunyi bergegas berlarian seperti angin bergerak di sisi yang memiliki jarak dengan para pion.
Mereka seperti malaikat pendamping pion untuk melindungi jika ada para pion kewalahan di medan pertempuran, ledakan tebing dan ceruk hatter mengundang para tentara Alberto untuk menyelidikinya.
__ADS_1
Deru heli berputar mengitari ledakan, seketika semua suara radio dari walkie talkie bergema membelah kesunyian tengah hari.
Drone mulai berpencar di setiap sudut pulau, berharap menemukan kawanan para pion sehingga memudahkan mereka untuk mengejar dan memburu mereka.
Para pion sudah berlari meninggalkan lembah hatter menuju ke hutan bambu, mereka ingin agar para kaki tangan Alberto juga drone yang berputar di angkasa mencari mereka di sekitar hutan bambu.
Hal itu untuk memudahkan mereka bersembunyi, hingga mereka bisa menghancurkannya Mona dan Hendro berlari paling cepat di antara mereka.
Apalagi, sejak Hendro berkejar-kejaran dengan rusa penunggu Pulau Kematian larinya melebihi seekor puma. Para pion yang lain selalu tertinggal dibelakangnya, ia
harus menunggu pion-pion yang tertinggal. Terkadang Hendro membuka jalan untuk para pion agar memudahkan perjalanan mereka, "Tidak kusangka, aku memiliki kemampuan berlari!" ucap batin Hendro.
Hutan bambu terlalu lengang sisa-sisa pertempuran yang telah mereka lewati di sini, sudah mulai tertutupi oleh rumput-rumput yang sudah mulai tumbuh,
rebung pohon bambu mulai bertunas menandakan pohon bambu baru akan muncul, burung-burung mulai bernyanyi riang akan tetapi ketenangan itu membuat para pion semakin waspada.
Mereka semakin takut akan sebuah ketenangan, di belakang mereka drone-drone masih mengejar hanya beberapa meter di atas kepala. Mencari dan terus berputar Kabir menembakkan senjata lasernya, untuk menghancurkan salah satu drone.
Akan tetapi, will berusaha menembakkan senjata lasernya sehingga membuat drone melayang pelan jatuh ke bumi. Secepat kilat Will mengambil drum tersebut dan mengutak-ngatiknya sekejap.
Ia mematikan sambungan drone dengan si pemilik, Will bersembunyi dengan drone yang ia tangkap di sebelah rumpun bambu yang luas Nara dan Junaid mengikutinya disamping dibelakangnya.
Will mengutak-ngatiknya sebentar kemudian ia meletakkan drone itu di tanah, mereka bertiga mengamati apa yang terjadi. Drone itu dengan berlahan bergerak naik ke angkasa dan terbang,
berlawanan arah dengan yang seharusnya mengejar pion akan tetapi kembali ke arah si penggerak. Mereka hanya mendengar sebuah ledakan yang sangat jauh Will tersenyum, "Yes! Berhasil juga ternyata," teriak Will girang.
Mereka kembali berlarian membelah hutan bambu, drone lain dengan sendirinya jatuh dengan berakhirnya sebuah ledakan yang terdengar dari kejauhan.
__ADS_1
Mereka mencoba untuk kembali ke tanah tak kasatmata, mencoba untuk mengecoh setiap pergerakan yang dilakukan oleh Alberto dan kaki tangannya, akan tetapi baru saja mereka ingin bergerak meninggalkan hutan bambu.
Sebuah boomerang melintasi mereka mencoba untuk melukai salah satu dari mereka, boomerang berputar ke sana kemari menuju setiap pion.