Pulau Kematian

Pulau Kematian
Pisang ambon atau lilin


__ADS_3

Para pembaca, maaf sedikit telat up. Bukan sengaja tetapi kesibukan di dunia nyata, silahkan membaca kembali. Happy Reading! Jangan lupa dukungannya, makasih!


——————————————————


Alberto Kuro dengan bangganya menyiarkan kembali keberhasilannya di dalam menangkap tawanannya.


Ia menyiarkannya melalui monitor virtualnya di angkasa, di dalam monitor sepuluh orang tawanan pion dan wanita beeluf terikat.


Alberto duduk di singgasananya dengan bangga, "Para Penonton yang budiman, lihatlah! Para pion yang begitu jagonya, kini mereka tidak berdaya di atas perapian!" ujarnya,


"tidak ada seorang pun yang akan pernah dan mampu, ke luar hidup-hidup dari Pulau Kematian. Ikuti dan pasanglah taruhan kalian setinggi-tingginya,


"Apakah para pion dan wanita beeluf yang berkhianat akan lolos dari maut kali ini? Itu adalah PR dan sebuah kunci taruhan untuk esok hari!" sambungnya.


Ia berusaha menggantung setiap kalimatnya, ia memperlihatkan cuplikan para pion yang begitu lemah terikat di tiang,


"Mulailah menekan tombol untuk jawaban:


A. Mereka akan mati


B. Mereka akan selamat


C. Mereka menyerah kalah dan menjadi pengikut setia dari


Alberto korps.


"Silahkan pilih, sesuai hati nurani dan pasanglah taruhan kalian!" ucap Alberto dengan gagahnya.


Zai, Toto, Will dan ke-7 wanita beeluf mulai tersadar. Mereka melihat siluet remang di angkasa, melihat foto mereka terpampang.


Mereka hanya terdiam, mereka mencoba melihat kelip lampu yang terbuat dari minyak tanah menambah cahaya remang malam sedikit terang di sekitar mereka.


Kepala mereka serasa mau meledak, belum lagi lapar yang mendera. Kesemuanya saling pandang ke samping kanan-kirinya, dan menggerakkan tangan mereka yang terikat di sebuah tonggak kayu sebesar pohon kelapa.


Mereka menggerak-gerakkan tangan mereka tetapi mereka terborgol satu dan yang lain di tiang, "Apakah ini akhir dari segalanya?" ucap Sukuna.


Ia menerawang memandang langit yang gelap tertutup lebatnya hutan, ia melihat ke depannya hanya siluet kegelapan tanpa cahaya.


Walaupun matanya sangat terang, memandang kegelapan. Akan tetapi, ia tidak dapat melihat apa pun di balik rimbunnya pepohonan tiada yang terlihat di sana.


Masing-masing dari mereka memandang di depan mereka, "Aku terikat bersama, siapa saja?" tanya Toto.


"Aku, Zai!" jawab Zai.


"Aku, Will!" jawab Will.

__ADS_1


"Aku, Sukuna!" jawab Sukuna.


"Aku, Rani!" jawab Rani.


"Bagaimana dengan ke-5 wanita beeluf lain?" tanya Zai. Ia sedikit khawatir mereka sudah di makan oleh hatter, "Mereka terikat di tiang di depanku," jawab Sukuna. Ia melihat ke-5 sahabatnya pun mulai menggerak-gerakkan tangannya,


"Sialnya, mereka mencuri semua senjata kita!" ucap Toto. Kesemuanya terdiam dalam keheningan, "Apakah kita harus mati terpanggang di sini? Sungguh ... kematian yang sangat tragis, sekali!" ucap Will.


Ia memandang tumpukan kayu bakar di bawahnya yang siap kapan pun terbakar, Will menggerakkan tangannya. Ia meraba-raba sesuatu di balik sakunya, tetapi terlalu jauh.


Ia menghela napas dengan dalam, "Andaikan, tanganku bisa meraih saku belakangku. Aku bisa memotong borgol ini," tukasnya. Ia bergumam kepada diri sendiri,


"Bukankah kita terikat berputar, kemungkinan yang tepat di belakangmu. Bisa meraba sakumu!" ujar Sukuna.


"Will, kamu di sebelah mana?" tanya Zai. Will memandang sekitarnya, "Aku berada di jam 2 pas dari depan rumah!" jawab Will.


"Toto, kami di mana?" tanya Zai.


"Aku tepat berada di Jam 4 sebelah, Will!" jawab Toto.


"Sukuna?" tanya Zai.


"Aku, di jam 6 pas!" jawab sukuna.


"Aku, di arah jam 9!" jawab Rani.


"Sukuna, kamu yang pas di belakangku. Tolong julurkan, tanganmu!" ucap Zai.


Sukuna berusaha meraba-raba bagian belakang sensitif tubuh Zai, ia berusaha untuk menemukan alat yang dimajsud oleh Zai.


Zai menahan sedikit geli saat tangan Sukuna mulai menggerayanginya, "Sukuna, tolong ... jangan terlalu bersemangat!" ucap Zai.


Ke-3 temannya yang lain tertawa, "Diam, kalian!" hardik Sukuna sedikit malu, "aku bukan terlalu semangat, aku tidak bisa melihatnya Zai. Jadi, wajar dong aku asal pegang!" jawab Sukuna membela diri.


Wajahnya sudah semerah tomat busuk. "Sudahlah, Zai. Nikmati saja, kapan lagi kamu dibelai wanita secantik Sukuna. Hahaha, aku juga mau, tuh!" celoteh Toto terguncang di borgolnya.


Mereka tertawa berbarengan, kematian begitu dramaris dan menegangkan tetapi sedikit terhibur akan hal-hal yang tidak terduga.


Sukuna masih saja berusaha menemukan, sebuah peralatan yang dimaksud oleh Zai di saku belakangnya. Tetapi ia sudah menggerayangi, semua tempat sensitif di bagian belakang tubuh Zai.


Ia sendiri pun bergidik membayangkan, bagaimana ia begitu mudahnya menggerayangi tubuh seorang pria, "Semua ini karena Alberto Kuro, sialan! Awas, bila aku menemukannya! Aku akan mencincangnya," umpatnya kesal.


"Sukuna, bila kau mengomel terus. Bisa-bisa peganganmu, semangkin ke depan tubuhku. Kau ingin memegang pisangku? Yang sudah matang ini!" umpat Zai sedikit tegang.


Ia sudah merasakan sensasi liar di nadinya, naluri kelelakiannya mulai menghentak-hentak meminta sesuatu yang lebih.

__ADS_1


Dan itu merupakan hal yang paling menakutkan, "Zai, aku pun tidak mau menggerayangi tubuhmu! Semua ini karena Alberto, sialan!" Hardik Sukuna kesal.


"Wow, pisangmu kira-kira pisang lilin atau pisang ambon, Zai?" tanya Will berkelekar.


Rani tertawa terbahak, "Yee, Rani. Kamu mulai bayangin pisang ambon atau pisang lilin, sih?" tanya Toto sambil terkekeh geli.


"Tahu, Akh. Gelap!" jawab Rani yang juga terkekeh.


Sukuna dan Zai semangkin malu, keduanya memerah menahan amarah dan malu. Dua hal yang sangat berbeda, "Kalian mau selamat ga, sih?" tanya Zai.


"Ya, maulah!" jawab ketiganya serempak. Sukuna sudah menghentikan aksinya, ia menarik tangannya dari bagian senditif tubuh bagian belakang Zai.


"Ayo, lakukan lagi Una!" teriak Zai.


Sukuna menarik napasnya, "Hadeh, baiklah!" balasnya. Ia kembali melakukan aksinya, tanpa sengaja ia meraih bagian terlarang milik Zai.


Si empunya sudah berkeringat dingin, Sukuna sudah mulai menarik-narik pisang ambon milik Zai.


Zai ingin mengatakan kepada Sukuna, ia salah pegang. Tetapi ia takut Sukuna malu, ia hanya meringis menahan suatu rada sakit dan mendamba.


Ia menggigit bibirnya, "Mengapa terlalu sukar diambil, Zai?" tanya Sukuna. Ia masih saja terus berusaha menariknya.


"Sukuna, itu salah! Tolong bukan itu, kamu salah pegang. Itu pisangku," cicit Zai sedikit malu.


Seketika Sukuna menarik kembali tangannya, "Hahaha!" ketiga temanya tertawa girang, "Apakah jenis pisangnya? Aku jadi penasaran? Aku yakin pisang ambon! Kalau kamu Will?" tanya Toto iseng.


"Aku pisang lilin, kayaknya!" jawab Will. Ia masih saja tertawa terbahak-bahak, "Kalau kamu, Rani?" tanya Will.


"Pisang lilin!" jawab Rani mengikuti permainan tebak-tebakkan.


"Sukuna, jadi pisangnya ambon atau lilin?" tanya ketiganya serempak.


"Pisang ambon, puas!" balas Sukuna tanpa sadar.


Ia masih merasakan panas dingin di sekujur tubuhnya, hingga tanpa sadar ia ikut dalam permainan ketiga temannya. Ia ingin meralat namun sudah terlanjur,


"Wow, ga nyangka. Kecil-kecil punya pisang ambon, ya? Apa rahasianya, Zai?" tanya Toto dan Will penasaran.


"Dasar, gila! Memang aku yang buat! Itu made in Allah, dodol!" jawab Zai malu. Ia merasa jadi bulan-bulanan ketiga temannya yang sudah rada gila,


"Sukuna, ayo! Lakukan lagi, kamu ga lihat, mereka ingin memanggang kita besok? Aku ga mau mati sia-sia di sini!" umpat Zai kesal.


"Zai, tolong pandu aku. Agar tidak salah jalan, lagi!" pinta Sukuna.


"Iya .... " lirih Zai.

__ADS_1


__ADS_2