Pulau Kematian

Pulau Kematian
Rahasia Ayesha


__ADS_3

Nara dan Kirana begitu syok dan terpukul dengan apa yang terjadi, mereka masih saja menggengam kedua belah tangan mayat wanita beeluf, darah masih merembes di gurun dan pakaian keduanya.


Darah pun sudah membasahi baju bagian depan Nara dan Kirana, "Sadarlah! Jangan sia-siakan pengorbanan, keduanya!" teriak Marta. Ia berada tidak jauh dari kedua sahabatnya yang masih terpukul dengan kematian para beeluf.


Marta dengan lihainya membantai musuhnya dengan sangkur dan terkadang bergulingan di gurun, mengelak dari tembakan peluru dan mengambil senapan yang tergeletak.


Akibat si pemilik sudah meregang nyawa, Marta kembali memberondong para tentara gadungan. Marta dengan mudahnya mengalahkan mereka karena pengalamannya sebagai Marinir, mereka bukanlah apa-apa baginya.


Ayesha masih melemparkan tombak boomerangnya membunuh para tentara, bantuan tentara Alberto berdatangan dari kamp-kamp tenda berlarian dan berbaris ingin menembakkan peluru mereka.


Akan tetapi, dari balik tanah gurun dari dalam perut bumi berdatangan para wanita beeluf berpakaian merah dan putih. Mereka menembakkan senjata M60 mereka dan anak panah yang terbuat dari bambu tajam,


mereka membalas serangan para tentara. Membuat Ayesha bersyukur, ia terus bertempur dengan sekuat tenaga membantai semua tentara yang sudah kurang ajar kepada kaumnya.


Setiap mereka melewati perbatasan mereka selalu saja berbuat kurang ajar kepadanya dan kaumnya, tetapi kini ia dengan beringasnya membantai semua kawanan tentara.


Ia sudah muak dengan semua kebejatan para lelaki di gurun yang selalu semena-mena kepada kaum wanita kini, ia membantai dan membalaskan dendamnya. Alberto sendiri menutup mata dengan semua tingkah tentara miliknya, ia selalu menghukum beeluf untuk semua itu.


Ia selalu menyalahkan mengapa terlahir menjadi wanita, dan tempatnya wanita adalah sebagai pemuas hasrat bejat mereka. Ayesha dan para beeluf sangat dendam dan murka, tetapi mereka tidak memiliki kekuatan untuk melawan.


Kini, sudah tiba saatnya bagi mereka untuk memperlihatkan siapa mereka dan kekuatan mereka. Mereka sudah lelah ditindas dan dianiaya, mereka sudah tidak peduli lagi dengan keluarga mereka yang disandera.


Ayesha melihat kedua bawahannya sudah tergeletak tidak bernyawa lagi di tanah, kesedihannya semangkin memuncak. Dari 50 orang bawahannya yang kesemuanya adalah wanita, yang selama ini ia asuh dan didik kini hanya tinggal Rani dan Sukuna yang masih terbaring tidak berdaya di antara hidup dan mati di dalam gua.

__ADS_1


Ia mencari bayangan Rani, yang masih bertempur di sisi Marta. Ia sedikit lega, Ayesha masih membabi buta menyerang para tentara yang tidak bisa menggunakan senjata lagi.


Mereka terdesak oleh serangan para beeluf yang tiba-tiba muncul, sedetik kemudian para beeluf yang menolong kembali lagi ke dalam tanah gurun. Mereka menghilang, karena di angkasa layar monitor virtual monogram Alberto tiba-tiba terpampang. Menampilkan adegan pertempuran para beeluf, pion, dan tentara.


Kini Alberto dengan murkanya melihat tentaranya di perbatasan beeluf dan Hutan Bambu sudah tewas, ia melihat beberapa orang tentaranya yang terluka.


Ayesha yang begitu marahnya menarik 2 orang tentara yang terluka, ia menunjang kedua tentara itu tepat di tulang lutut belakang tentara hingga keduanya jatuh terduduk di depan Ayasha,


"Kau lihat ini! Aku bersumpah demi anakku dan semua wanita beeluf ..., aku akan memeggalmu sebelum aku mati!" teriak Ayesha.


Ayesha bergerak dengan secepat kilat ia mengayunkan tangannya dengan sekali tebasan ia memancung keduanya hingga kepala mereka menggelinding di tanah.


Darah menyembur ke mana-mana, Ayesha menyarungkan samurainya meletakkan telapak tangannya di darah kedua musuh dan menyapukan di wajahnya.


Di mana Alberto sedang duduk di singgasananya, Hendro dan semua pion memgumpulkan semua mayat. Para pion membakar mereka dengan senjata laser, Rani memandang asap tebal membubung tinggi, "Apa yangb kalian, lakukan?" tanyanya bingung.


Hendro menoleh ke arahnya, "Aku tidak ingin, Crabs akan menggunakan mereka sebagai tentara mayat setengah robotnya lagi. Itu sangat menyulitkan, kita!" ucap Hendro. Ia masih mengumpulkan geranat dari tumpukan mayat yang sudah mereka bakar.


Layar monitor seketika lenyap, mereka berlari ke arah gurun sebelah kiri. Ayesha membawa mereka berputar-putar sebelum berhenti di sebuah bukit gurun, "Cepat, masuk! Sebentar lagi badai pasir, datang!" ujar Ayesha.


Sebelumnya ia mengetukkan beberapa ketukan seperti bentuk bintang di bukit kecil gurun, sehingga sebuah dinding papan terbuka mereka masuk dengan cepat.


Tetesan darah dari baju dan pedang mereka, menetes memberi warna di setiap langkah tanpa mereka sadari. Namun, badai pasir menyapu semua jejak darah hingga tertutup badai pasir tidak tersisa lagi.

__ADS_1


Mereka menuruni anak tangga yang terbuat dari papan dan bambu yang sangat panjang, Kirana dan Marta menyadari mereka masuk ke dalam gua di dalam gurun.


Suara angin badai di permukaan bumi menderu-deru keras, membawa butiran pasir merayap masuk. Namun, hanya sedikit yang merayap masuk.


Di dalam gua mereka mendapati cahaya dari obor yang menyala, "Mengapa kalian tidak menggunakan, listrik?" tanya Hendro dengan suara wadamnya.


Mona menjambak rambutnya, "Sudah selesai, sandiwaranya! Suaramu membuatku menjadi hilang hasrat kepadamu," sungut Mona kesal. Hendro dan yang lain tertawa,


Ayesha hanya diam, "Karena ini, tempat rahasia kami. Untuk melakukan perlawanan kami selama ini," ujar Rani. Ia mewakili Ayesha yang sangat bersedih, akan kehilangan hampir semua anggotanya.


Ayesha masuk ke ke dalam ruangan yang dianyam dengan bambu, "Di sini sangat nyaman," ucap Marta.


Rani mempersilahkan mereka meminum air dari tong yang terbuat dari drum minyak, "Semua penghuni hanya wanita, kamulah ..., satu-satunya pria yang masuk, kemari!" ujar Rani.


Ia menoleh kepada Hendro, ia mencium air di dalam gayung. Sebelum ia meminum dan memberikan kepada semua orang, "karena kami wanita, semua peralatan dan kerapian. Kamilah yang membuatnya dan berbau, ciri khas wanita." Rani memandang semua orang.


Semua pion memandang ke dalam ruangan yang penuh dengan pernak-pernik kerajinan tangan wanita rapi, bersih, dan nyaman.


Mereka berusaha untuk duduk, ia membuka sebuah lemari dari bambu, ia mengeluarkan beberapa irisan daging asap, "Hanya ini yang ada," kata Rani. Ia berusaha mengiris-iris daging asap dan memasaknya di sebuah tungku batu di ruangan lain seperti dapur.


Mereka menyusuri ruangan yang lumayan luas, untuk menampung sekitar 50 orang, dengan bale-bale bambu tersusun rapi sebanyak 50 bale di sebalah kanan dan kiri ruangan.


Ayesha memiliki ruangan tersendiri di ruangan itu yang sama, menggunakan bale bambu juga. Peralatan perang sederhana seperti tombak, anak panah dan busurnya dari bambu, senjata M60 dan beberapa samurai tergantung di setiap dinding ruangan.

__ADS_1


Mereka menggunakan bambu dan batu seperti orang-orang pada zaman 1950-an, "Kalian masih menggunakan semua peralatan sederhana pada zaman dulu, secara pada zaman 2050 sekarang. Hal ini jarang di temui, lagi!" ucap Hendro.


__ADS_2