Pulau Kematian

Pulau Kematian
Kembali ke Hutan Bambu


__ADS_3

Matahari pagi mulai bersinar cerah, secerah wajah Heru dan Ayesha. Semua orang begitu terperanjat mendapati Heru dengan penampilan barunya, ia tidak sekumal biasanya lagi.


Wajahnya bersih dan klimis dengan jambang dan kumisnya yang sudah lenyap, wajah Heru yang sangat tampan membuat semua mata para wanita melotot terpesona, "Benar ya, kalau ada istri kita terlihat lebih sempurna!" celetuk Kabir.


"Ya, jelaslah! Makanya harus sayang sama istri, jangan sayangi istri orang!" jawab Mona. Ia menatap Hendro, yang ditatap langsung menatap Zai, "Dengerin itu, Zai!" ucapnya.


Zai hanya mendengus, "Istri belum punya, masih tunangan. Nyantai, aku tipe setia," jawab Zai lugas dan tersenyum jail, "Setiap tikungan ada, gitu?" balas Marta. Semua orang tertawa,


"Rumput tetangga lebih menggoda, Mon!" sambung Junaid sambil memasukkan ikan bakar dan roti begelnya yang keras.


Nara menoleh ke arah Junaid dengan tatapan setajam silet, "Kamu pernah ngerasain dibedah ga, di bagian pisangmu. Kalau belum, coba saja. Kalau berani!" balas Mona mencincang rotinya dengan sangkurnya, semua pria memandang kelihaian Nara seperti seorang chef terkenal.


"Iya, kalau Kabir macam-macam. Aku gantung, entar!" balas Kirana di sudut ruangan menyeduh kopi pahitnya. Semua wanita beeluf tertawa, semua pion pria hanya garuk-garuk kepala memandang ke atas gua.


"Kirana sayang, aku akan selalu mencintaimu. Setia deh, sampai mati kalau ga bangun lagi, sih!" celetuk Kabir.


"Apa?" ketus Kirana sadis.


"Ada apa, masih pagi ribut?" tanya Heru duduk di lantai gua yang keras mengambil ikan untuknya dan Ayesha yang baru saja datang dari lorong lain.


Ia duduk di sisi Heru, mereka makan dengan mesranya. Semua orang melihat ke arah mereka dengan tatapan keirian, mereka merasakan suatu hawa kebahagiaan.


Mereka lupa untuk sesaat segala hal kepedihan yang mereka rasakan, "Menikah itu lebih indah, ya?" kata Hendro. Ia melihat kemesraan di antara keduanya. Ia sangat mendambakan hal itu,


"Iya, karena menikah adalah menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita, kita mencintainya dan mengasihinya dalam suka dan duka!" jawab Heru.

__ADS_1


Ayesha tersenyum memberikan makanan dan suapan kepada Heru, "Aku akan mengasihi Marta, dengan sepenuh hatiku!" ucap Darmanto mengelus punggung Marta.


Marta merona merah akan janji yang diucapkan oleh Darmanto kepadanya, membuat sebagian jiwanya melayang tinggi.


"Tuh, baru suami idaman. Betapa beruntungnya dirimu, Marta!" jawab Mona.


"Kamu juga beruntung dapat aku, percayalah kepadaku. Cintaku hanya untukmu, selama aku masih berada di hatimu!" celetuk Hendro.


"Hallah, kalau kamu sudah dipercaya. Secara playboy cap kapak," jawab Mona acuh. Semua orang tertawa, "Aoakah kita hari ini perginya? Tidak menunggu malam saja?" tanya Kabir.


"Aku rasa, pagi ini saja. Kita membagi dua kelompok kita agar tidak terlalu mengundang kecurigaan anak buah Alberto Kuro," jawab Heru.


"Baiklah!" jawab semuanya serentak.


Mwreka mebagi kelompok mereka menjadi 2 sebagian ikut Heru dan sebagian lagi bersama dengan Kabir, mereka bergerak cepat melewati air twrjun sedangkan kelompok Heru melewati bagian gurun yang dipandu oleh istrjnha Ayesha.


Kabir, Kirana, Mona, Hendro, Toto, Zai, dan wanita beeluf secepatnya menyusuri semak-semak hutan bambu. Mereka kembali ke arah wilayah para ninja, mereka melihat sisa-sisa reruntuhan yang pernah mereka lakukan. Kini sudah dibangun kembali, "Berhati-hatilah! Kemungkinan, para ninja sudah kembali. Lihatlah, rumah itu! Alberto sudah membangunnya lagi," ucap Kabir kepada semua orang.


Mereka menghindari bentrokan dengan ninja, sehingga mereka memilih jalan berputar melalui semak-semak hutan bambu yang belum pernah dilewati siapapun.


Mereka berlari secepatnya untuk mencapai hutan kegelapan, akan tetapi belum lagi mereka mencapai perbatasan antara hutan bambu dan hutan kegelapan.


Anak panah sudah menghujani tubuh mereka, kesemuanya berusaha untuk menghindarinya.


Mona benar-benar merasa kesal, "Tidak pernahkah mereka tidak menggunakan anak panah atau suriken? Ini sangat menyebalkan," umpatnya kesal.

__ADS_1


Wanita beeluf begitu lihainya memainkan tombaknya bak kitiran yang menghalau hujan anak panah dari atas pohon bambu, mereka tidak melihat seorang ninja pun di sana.


Namun, anak panah masih saja terus berjatuhan bak hujan yang terus melesat ke arah mereka, "Di mana mereka bersembunyi?" tanya Kirana yang terus menangkis serangan anak panah.


Ia bergerak ke sana kemari menghindari hujan anak panah,


Will mundur ke belakang mereka, menembakkan senjata lasernya ke arah datangnya anak panah hingga terdengar sebuah ledakan berjarak 10 merer di depan mereka. Will kembali menembakan senjatanya hingga ledakan beruntun, anak panah pun terhenti.


Mereka kemudian berlari secepat kilat membelah hutan bambu, di depan mereka sudah dihadang oleh ninja berpakaian merah. Para ninja melemparkan shuriken ke arah Kabir dan kawan-kawannya, Mona menangkisnya secepat dia bisa.


Will bosan bertarung. Ia merasa membuang-buang energi, hingga ia menembakkan saja senjata lasernya ke arah ninja yang masih bergelantungan di pohon bambu.


Wanita beeluf memiliki kemampuan yang luar biasa, mereka bisa mengimbangi pertempuran dengan para ninja. Gerakan mereka sangat cepat dengan tombak di tangan mereka meliuk-liuk mengenai samurai milik ninja, bunga api terpancar dari dentingan pedang yang sedang beradu.


Para pion berusaha untuk secepatnya menumbangkan para ninja merah, sebelum bala bantuan dari Alberto datang, akan tetapi lawan mereka para ninja berpakaian merah lebih lihai dari para ninja yang berpakaian hitam.


Mereka juga memiliki kecepatan yang sangat luar biasa mematikan, akan tetapi Kabir dan para pion lainnya sudah sangat terbiasa menghadapi segala kebrutalan dari anak buah Alberto Kuro.


Selama mereka berada di Pulau Kematian, dengan mudahnya mereka menjatuhkan para ninja di hutan bambu yang menjadi saksi pertempuran. Benerapa dari para ninja sudah terpotong-potong terkena sabetan pedang dan Samurai, juga terbelah dua oleh tombak para beeluf.


Para pion berusaha untuk tidak melepaskan satu orang ninja pun, karena mereka tidak ingin salah satu ninja yang selamat akan memberikan laporan kepada Alberto Kuro. Sehingga semua rencana mereka mengalami kegagalan, mereka telah menyusun semua rencana dengan sebaik-baiknya.


Mereka berharap tidak akan menemui kegagalan sedikit pun, dendingan pedang beradu di tengah hutan menyebabkan burung-burung berterbangan. Semua itu memancing para ninja lain semakin banyak berdatangan, dari segala penjuru hutan bambu.


Kesemuanya berusaha untuk mengalahkan para pion yang telah membuat kehancuran, di beberapa wilayah pulau kematian. Para pion telah menutup hidung dan mulutnya dengan pakaian yang mereka siapkan, dari dalam gua untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

__ADS_1


Mereka sudah belajar saat pertama kalinya mereka bertarung dengan para ninja, kemungkinan yang biasanya para ninja lancarkan adalah seperti asap bius dan serangan halusinasi.


__ADS_2