
Rembulan sudah mulai menampakan wajahnya di balik Awan yang pekat, gemintang mulai bersinar di angkasa yang luas.
Kesunyian yang mencekam diiringi suara jangkrik, Kabir dan seluruh pion mulai bersiap-siap untuk melakukan penyusupan, mereka ingin menyusup ke tempat orang-orang beeluf.
Mereka menjadi dua kelompok salah satunya dipimpin kabir dan salah satunya dipimpin Heru, pion yang dipimpin Heru.
Mereka keluar melalui lorong panjang sebelah kanan kemudian berbelok ke lorong sebelah kiri perlahan-lahan mereka membuka gua dengan sebuah tuas.
Krieeett!
Suara pintu berbunyi seketika pasir mulai memasuki ruangan namun hanya sedikit, mereka ke luar dari dalam gua satu demi satu.
Para pion naik ke permukaan bumi Kabir, Kirana, Darmanto dan Marta mereka berlari ke arah sebelah kanan dengan cara satu per satu berlarian di tengah gurun,
dan bersembunyi di balik undakan-undakan bukit pasir yang sedikit lebih tinggi akibat badai pasir.
Mereka menenteng senjata senjata M-60 yang berhasil mereka jarah, beberapa malam sebelumnya. Kabir yang mengomandoi Pion yang bersamanya,
Mereka berlahan membaringkan diri di hamparan gurun pasir yang luas di balik undakan bukit pasir dengan cara menelengkupkan tubuh mereka mengawasi keadaan.
Kabir mengeluarkan sebuah teropong untuk melihat keberadaan orang-orang beeluf di pos penjagaan masuk.
“Mereka berjumlah 10 orang.” Kabir terus mengawasi pos penjagaan.
Dengan jarak 50 km, mereka melihat bangunan dari batu yang tertutup rapat tanpa celah, di kanan-kiri di atas bangunan yang digunakan untuk pagar yang terbuat dari batu.
Terdapat dua pos penjagaan yang dijaga 5 orang di setiap pos, dengan senjata laras panjang, “Di antara kedua pos itu adalah pintu gerbang masuknya!" bisik Kabir.
Kabir mengubah posisi pandangannya ia melihat ke arah pion yang dikomandoi oleh Heru, yang berlarian di samping kanan mereka dengan jarak 50 meter juga.
Kabir melihat Heru berlarian terlebih dahulu, disusul oleh Nara, junaid, Mona dan Hendro. Mereka sudah menghilang di balik tembok masuk orang beeluf menuju pos paling samping.
Sementara Will, Toto, Dan Zai mereka mengawasi dari depan pintu masuk yang berjarak 50 meter juga, untuk menembakkan laser bila terjadi kerusuhan ke arah gardu-gardu listrik.
Orang-orang beeluf ditugaskan oleh Alberto untuk menjaga persediaan listrik di Pulau Kematian, Heru pun tidak pernah mengetahui bagaimana sepak terjang orang-orang beeluf.
Ia hanya pernah mendengar selentingan saja, namun tidak pernah berhadapan langsung dengan mereka. Heru hanya mendengar bahwa orang-orang beeluf adalah orang-orang yang sangat kejam,
__ADS_1
mereka adalah orang gurun pasir yang terkenal sangat barbar dan cekatan, orang-orang beeluf juga terkenal dengan racun dan kelicikannya.
Orang-orang beeluf menggunakan bisa ular derik dan ular kobra juga beberapa ular berbisa, yang sangat mematikan yang mereka gunakan untuk meracik racunnya.
Orang-orang beeluf berbeda dengan para ninja yang menggunakan racun dari tumbuh-tumbuhan,
orang-orang beeluf juga terkenal dengan strategi perangnya yang luar biasa.
Dari keempat wilayah yang dibagi oleh Alberto Kuro, yang paling berbahaya adalah orang-orang beeluf. Mereka terkenal sangat lembut namun licik.
Tiada seorangpun yang mengetahui dari mana asal usul orang beeluf, yang dikumpulkan oleh Alberto Kuro.
Mereka hanya mendengar selentingan saja, Alberto Kuro adalah orang-orang yang benar-benar memahami semua kaki tangannya yang dikumpulkan di Pulau kematian.
Dan tiada seorangpun yang pernah selamat dari orang-orang beeluf, sehingga tidak ada yang mengetahui asal-usul dan kepiawaian mereka.
Orang-orang beeluf biasanya bergerombol dan tinggal di suatu tempat dengan seorang kepala suku, yang memimpin kelompoknya.
Kelompok Kabir sudah melintasi gurun sebelah kiri menuju pos penjagaan listrik, mereka melihat dari jauh gardu-gardu dan trafo dari pasokan listrik yang sangat luas dan besar.
Wayar-wayar yang terus sambung-menyambung ke kastil Alberto kuro yang jaraknya berpuluh-puluh Mil, Kabir melihat dari menara yang dibangun orang beeluf beberapa orang sedang berjaga-jaga di setiap pos.
”Tembok pagar terus menyambung mengelilingi gardu pusat listrik. Lihatlah! Cara mereka berjalan mengitarinya.“ Kirana memperhatiakan gerakan mereka.
Orang-orang beeluf saling memutari hingga mereka berpapasan dan kembali di titik utama ya itu bagian gerbang belakang dan depan seperti lingkaran.
”Iya, benar Kirana!" balas Kabir.
“Ayo, kita lakukan sekarang!" ucap Darmanto mengambil aba-aba dan mulai berlari sekencangnya, berusaha untuk menghindari para penjaga.
Apalagi daerah gurun pasir tidak memiliki satu batang pohon pun. Berlanjut Marta, setelah Marta berguling di undakan pasir yang sedikit dekat dengan tembok dinding pos.
Kirana berlari secepat kilat menuju undakan di samping Darmanto, kemudian disusul oleh Kabir.
Mereka menunggu kesempatan, seperti yang diperkirakan Will Toto dan Zai menembakkan laser dari 3 arah yang berbeda ke arah dinding batu.
Membuat suatu celah yang lumayan besar dan memancing sebuah keributan, hingga semua orang beeluf berlarian dan menghadang dengan senjata mereka menembak ke arah Will, Toto dan Zai.
__ADS_1
Konsentrasi orang-orang beeluf buyar terpecahkan akibat serangan mendadak tembakan 3 arah laser, yang mengakibatkan pos-pos hancur para penjaga pun sudah jatuh tewas dengan hancur lebur.
Kabir dan ketiganya menerobos masuk dan menanamkan bom di setiap gardu listrik dan trafo, mereka memasuki bangunan batu yang seperti rumah.
Seorang wanita beroenampilan gipsi menyerang mereka, Kabir menyerang si wanita tua berpenampilan gipsi.
Akan tetapi wanita gipsi itu begitu gesitnya laksana kera berlompatan dari meja, kursi dan tiang-tiang batu di ruangan.
Tangan-tangannya yang runcing berwarna hitam, wanita berpakaian serba putih itu menutup seluruh tubuhnya dan wajahnya dengan kain berwarna putih,
dan belahan roknya terbuka hingga memperlihatkan sebelah pahanya, rambutnya yang hitam bercampur warna putih tergerai panjang.
Marta menyerang wanita tersebut dengan kedua sangkurnya di kedua belaha tangannya, Kirana menyerang wanita yang lain yang masuk dengan bergerombol memakai tombok.
Semua wanita beeluf memakai pakaian serba putih, menutup seluruh wajah dan tubuh mereka. Akan terapi di bagian bawah tubuhnya terdapat belahan yang panjang untuk membuat mereka leluasa bergerak.
Kirana menerjang wanita-wanita beeluf dengan pedang samurainya namun berulang kali mereka mencoba mengalahkan, berulang kali juga gagal.
Mereka sangat lihai dengan kuku-kuku panjang yang beracun, Marta berhasil membunuh wanita beeluf yang tua. Ia kembali membantu Kirana dan Kabir,
Mereka berhasil membunuh semua wanita beeluf yang ada di ruangan itu, namun sayangnya Kirana terluka.
Kabir memanggul Kirana yang terluka, melompati batu-butu yang mulai berserakan akibat kedakan gardu dan trapo listrik.
Di belakang mereka Darmanto dan Marta menembak semua orang-orang beeluf yang melancarkan serangan.
Sebuah bom mendarar di tengah mereka, mengakibatkan Kabir dan Kirana terpental jatuh jauh bergulingan ke tempat lain.
Darmanto terluka Marta meraihnya, ” Ayo, Kak!“ Marta memapah Darmanto melewati ledajan-ledakan geranat dan ranjau darat.
Sementara Heru dan yang lainnya sudah menyabotase dan mrnghancurkan kelompok beeluf, korban berjatuhan di mana-mana.
Will, Toto dan Zai berlari menyelamatkan Darmanto dan Marta yang terluka. Membawa keduanya ke dalam gua dan mengobati luka,
”Bantu mereka! Aku melihat Kirana dan Kabir terlempar, cepat. Selamatkan mereka!“ perintah Darmanto kepada Zai, Toto, dan Zai.
Ketiganya berlari, ”Aku yang akan menjaga Kak Dar!“ ucap Marta melihat ketiganya.
__ADS_1
”Hati-hatilah di luar banyak ranjau, bila bertemu dengan mereka hati-hati dengan kuku mereka mengandung racun,“ pesan Marta.
”Baik, kami akan mengingatnya!“ ucap ketiganya serempak.